
“Siapa yang harus kubunuh kali ini?”
Levin Stern menurunkan tudung jubah hitam yang dikenakannya dan melepaskan pedang dan belati yang dia ikat dipinggangnya. Dia tidak tersenyum melihat seseorang yang tengah duduk dengan santai di ruangan miliknya. Ruangan itu tampak gelap karena hanya ada satu lilin yang menyala. Levin terbiasa hidup dalam kegelapan.
“Jangan bilang kau datang hanya untuk minum dan mengobrol denganku.”
Levin berpura-pura ketus. Dia baru kembali ke ruangan miliknya yang tersembunyi di sebuah toko obat setelah meninggalkannya selama empat hari. Untuk masuk ke ruangan miliknya, kau harus melewati anak tangga menuju bawah tanah dan berbelok ke sebelah kiri. Ruang bawah tanah itu tampak seperti labirin yang hanya diketahui oleh Levin, pengelola toko obat dan lawan bicara yang sudah menuangkan minuman keras ke dua buah gelas.
“Haruskah kita membunuh Brooke Cohenherb?” lawan bicaranya tertawa. “Biar kutebak. Tidak sekarang. Kau masih ingin bermain dengannya.”
Mendengar kata ’bermain’ yang terlontar dari mulut Carlo membuat Levin melemparkan belati yang sempat diletakkannya di meja. Belati itu punya sebuah mainan permata biru.
“Haruskah kubunuh dia dengan belati itu? Dia memberikannya sebagai hadiah.”
Carlo tertawa lagi. “Dia menarik.” Carlo pertama kali mendengar nama Brooke lewat ayahnya. Salah satu putri kembar Duke Cohenherb. Dia tidak merasa asing dengan nama pemberi hadiah belati itu, dia hanya tidak pernah bertemu langsung dengannya.
“Hatinya lembut,” gumam Levin pelan. Levin teringat saat Brooke memberi belati itu sambil menyuruh Levin untuk mempertahankan hidupnya. Levin tidak pernah menyangka dia akan tertarik pada anak bangsawan yang selalu dianggapnya merepotkan. Kebanyakan dari mereka punya sikap sombong yang menjengkelkan. Terlebih lagi dia berasal dari keluarga Duke Cohenherb. Posisi yang cukup berpengaruh setelah keluarga Kerajaan.
“Dia mencoba menyelamatkan seorang pembunuh bayaran,” Carlo melanjutkan ucapannya. “Sampai kapan kau akan membiarkannya hidup? Dia tahu identitasmu.”
“Dia hilang ingatan.”
“Aku sudah dengar. Bunuh saja sebelum ingatan itu kembali.”
Untuk menghilangkan jejak, itu adalah rencana yang bagus. Levin selalu bergerak dalam kegelapan dan Brooke berada di bawah sinar matahari. Setiap melihat hal itu, Levin penasaran kenapa Brooke memikirkan dirinya yang hidup dalam kegelapan. Levin juga merasa konyol karena sudah memberitahukan namanya kepada Brooke. Dan hari ini, dia juga memberikan ciuman selamat tinggal.
Levin menggelengkan kepalanya. “Aku merasa dia akan berguna ke depannya. Lebih baik membunuh saudara kembarnya.”
Levin pernah mengamati Grace saat mengintai rumah Duke Cohenherb. Setiap melihat Grace, Levin merasa suatu saat Brooke akan mendapatkan masalah karena saudarinya itu. Tidak karena sifat jahat Grace, melainkan sifat terlalu baik yang bisa membuatnya terbunuh kapan saja.
“Gadis polos yang tidak tahu hidupnya sewaktu-waktu bisa berada di medan peperangan,” batin Levin.
Carlo mengangkat gelas berisi minuman keras dan meminumnya, lalu berkata, “Aku tidak sependapat. Lebih baik membunuh orang yang sulit dikendalikan.”
Brooke memang punya rasionalitas yang tinggi dan Levin menyukai hal itu. Levin tahu salah satu kebiasaan Brooke yaitu menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Wajah Brooke yang berpura-pura antusias terhadap perbincangan tidak penting saat acara minum teh kembali membuatnya tertawa di dalam hati. Levin sudah mengamati rumah Duke sekitar enam bulan dan menemukan banyak hal menarik.
Levin berdecak kesal kemudian. “Kau bicara seolah-olah sudah menyingkirkan penasehat licik itu. Shaeviro Spitz.”
“Tidak mudah menyingkirkannya. Jika salah sedikit, posisiku akan diambil alih.”
Levin bisa memahami hal itu. Jika Levin harus melindungi dirinya dengan menyembunyikan eksistensinya, maka Carlo harus melindungi diri dengan mempertahankan eksistensinya.
“Apa ada pekerjaan untukku?” Levin bertanya sambil meneguk minuman yang dituangkan Carlo. Carlo tidak akan menemui Levin jika tidak ada masalah yang mengganggu pikirannya.
Walaupun mereka bersikap seolah-olah mereka berteman, Levin tidak pernah menganggap Carlo adalah temannya. Dia menghormati Carlo lebih dari siapapun. Carlo telah menyelamatkan hidupnya.
Levin mengetuk-ngetuk jemarinya ke meja. “Mereka bergerak kemana?”
“Hutan Sebenius. Ke arah utara.”
“Apa?” Levin tersentak. “Dia ingin memulai perang?” Levin mengepalkan kedua tangannya. “Tidak ada yang bisa menembus Hutan Sebenius kecuali orang dari utara. Itupun hanya orang-orang tertentu.”
Levin juga tidak bisa melakukannya. Ingatan terakhir Levin kecil hanyalah terbangun di penjara bawah tanah. Carlo lah yang datang dan melepaskannya. Hutan itu pernah menjadi tujuannya. Dia pernah berharap bisa menemukan orang yang dapat membawanya melewati hutan itu. Dia pernah berharap mengetahui bagaimana dia bisa sampai ke daerah selatan. Sudah lama dia melupakan hutan itu. Saat ini, kepentingan Carlo menjadi yang terutama baginya.
“Jika terus mencoba, menurutku itu mungkin,” Carlo membayangkan peristiwa terburuk yang akan terjadi apabila Shaeviro berhasil menembus hutan itu.
Levin masih ingat alasan terakhir kali perang meletus. Perang itu hanya berlangsung tiga tahun dan menyisakan banyak luka bagi semua orang.
“Kita harus menghalanginya.”
Carlo mengangguk.
“Tangkap semua yang mencoba masuk dan penjarakan di tempat rahasia. Aku akan mengutus beberapa orang lagi untuk membantumu.”
Levin menyetujuinya. Dia tidak ingin ada perang yang terjadi lagi. Dia sudah siap membunuh siapapun bahkan jika itu adalah Brooke.
“Apa menurutmu mungkin anak dari Duke Cohenherb pernah bertemu Shaeviro?”
“Brooke?” tanya Carlo heran.
“Dia meminta informasi tentang Shaeviro.”
Levin mau tidak mau mencurigai hal tersebut. Levin masih bertanya-tanya apa alasan Brooke terlihat ketakutan hanya dengan mendengar nama penasehat licik itu.
“Kau tidak pernah menceritakan hal ini.”
Di antara hubungan akrab sekalipun, tetap ada rahasia.
“Aku tidak membocorkan informasi permintaan klienku begitu saja kepada Putra Mahkota Kerajaan ini.”
Carlo tersenyum kecil mendengar Levin yang menyebut Brooke sebagai kliennya. Carlo tahu dengan pasti Brooke adalah orang yang menarik perhatian Levin sejak mereka pertama kali bertemu di luar perintah Carlo.
Levin lalu berbicara seolah-olah itu bukan posisi yang penting di matanya. “Aku akan mengamatinya lebih lama lagi.”
Carlo menyuruh Levin melakukan apapun yang dia inginkan.
*****