Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 36



Levin termenung dalam kegelapan di ruangan pribadinya. Dia terus mengulang-ulang sebuah kata di dalam benaknya.


Utara.


Levin sudah lama membuang keinginannya untuk kembali ke utara. Dia tidak bisa mengingat apapun bahkan namanya sendiri. Levin Stern adalah nama lengkap pemberian Carlo untuknya. Carlo bahkan memberikan nama belakang ibunya untuk Levin. Jika saja Carlo dan orang tua angkatnya tidak memberitahu tentang sebuah Kerajaan di utara, dia tidak akan pernah tahu hal itu ada.


Sekarang, wanita itu mengajaknya ke utara.


Levin menjadi gelisah. Setengah dari dirinya ingin pergi kesana dan setengahnya lagi tidak. Dia tidak bisa meninggalkan Carlo yang sudah kehilangan banyak hal hanya untuk menyelamatkannya. Dia juga belum menemukan alasan ia berada di penjara istana tanpa mengingat apapun.


“Dia mengatakan sesuatu yang masuk di akal,” keluh Levin sambil menekan-nekan pundaknya. Sekembalinya dari pasar, dia merasa semakin lelah. Levin pikir bertemu Brooke akan membuatnya gembira tetapi dia salah kali ini. Wanita itu membuatnya stress.


Brooke pasti melupakan janji yang kami buat. Pergi ke festival lentera bersama-sama.


Levin mau tidak mau berkata jujur pada dirinya sendiri. Dia juga memikirkan hal yang sama dengan yang diucapkan Brooke. Harus ada sebuah perubahan di Kerajaan dan Levin percaya Carlo yang pantas ditunjuk untuk perubahan itu. Dirinya dan Carlo juga sepaham tentang kemungkinan perang meletus lagi. Itu sebabnya mereka sangat ingin menyingkirkan Shaeviro. Tetapi menyingkirkan pria tua itu sangatlah sulit.


Carlo membutuhkan sekutu dengan dukungan penuh.


Demi mencapai tujuan itu, Levin memikirkan rencana yang melibatkan Grace dan Brooke. Walaupun Levin seringkali berpikir apakah dia akan menyesal nantinya, dia tetap ingin membalas budi pada Carlo. Rela kehilangan seseorang yang berharga adalah bayaran yang pantas untuk menebus kelakuan baik Carlo padanya.


Jika saja Lucas tidak jatuh hati pada Josephine, semua akan berjalan lebih mudah bagi Levin. Namun, Levin tidak ingin terus mengkhayalkan sesuatu yang tidak mungkin. Dia harus menghadapi kenyataan dimana Brooke sudah melangkah jauh dan berpotensi mengganggu rencananya dan Carlo. Saat ini, Brooke membuat jalan yang dilewati Levin jauh lebih sulit sama seperti Lucas.


“Harusnya aku membunuh dia lebih cepat,” Levin bergumam. Levin teringat saat dirinya mengurungkan niat membunuh Brooke ketika wanita itu muncul pertama kalinya setelah kehilangan ingatan. Lalu teringat saat musuhnya menyergap mereka, harusnya dia membiarkan Brooke terluka bukan melindunginya. Dan dia teringat hari dilaksanakannya acara berburu. Hari dimana Carlo memerintahkan untuk menyingkirkan Brooke. Dia lagi-lagi mengurungkan niatnya.


Levin merasa hatinya jadi lemah.


“Resikonya sangat besar,” Levin mengambil secarik kertas dan menulis di meja yang hanya disinari sebuah lilin. “Pergi ke utara dan menemukan Gordon. Patut untuk dicoba tetapi aku tidak menyukai rencana itu.”


Ada dua hal yang membuat Levin ragu pada rencana Brooke.


Pertama. Bagaimana cara Brooke meninggalkan ibukota untuk waktu yang lama? Putri seorang Duke pasti harus menghadiri banyak acara sosial di kalangan bangsawan dan hal semacamnya yang tidak penting menurut Levin. Kedua. Melewati Hutan Sebenius bukan semata-mata hanya berbahaya saja tetapi setelah sampai di ujung hutan itu, bagaimana cara mereka keluar dan berbaur di utara? Jika mereka ketahuan, perang akan langsung berkobar seperti sambaran api.


Hal tersebutlah yang membuat Levin sangat tidak setuju. Perang bisa terjadi bahkan ketika mereka berhasil melewati Hutan Sebenius. Levin tidak mau mempertaruhkan hidup banyak orang hanya untuk menemukan Gordon yang belum bisa dipastikan masih hidup atau sudah tidak bernyawa lagi. Levin lebih suka rencananya sendiri dan merasa itu lebih aman dilakukan.


Levin kembali mengingat jawaban yang diberikan Brooke saat bertanya kenapa dia memilih Levin untuk ikut dengannya ke utara.


“Perubahan tidak bisa diterima begitu saja oleh semua orang. Selalu ada pertentangan di awal,” ulang Levin pelan sambil menuliskan kalimat itu dalam kertasnya.


Levin memahami apa arti ucapan Brooke. Levin tahu dirinya akan digunakan oleh Brooke untuk melindungi dia dan orang lain yang berperan dalam ekspedisi itu. Yang membuat Levin bingung adalah saat Brooke bersumpah bahwa dia akan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk Levin.


Dia seolah menyuruhku bergantung padanya.


Levin menghela napas panjang kemudian. Dia berhenti menulis dan melipas kertas itu lalu berdiri dan mengambil sebuah buku. Dia mengeluarkan kertas yang sebelumnya diberikan Brooke padanya dan tidak ia kembalikan, menyelipkannya bersama kertas yang dia tulis dalam buku yang dia ambil.


Levin menganti pakaiannya dan bergegas menemui Carlo. Levin tidak lupa membawa belati yang diberikan oleh Brooke padanya. Dia memilih membawa belati lama daripada belati baru pemberian Brooke. Levin merasa dia lebih menyukai belati itu meskipun orang yang memberikannya sama.


Hari masih gelap sehingga Levin bisa menyelinap dengan leluasa di Istana. Semua yang tertulis dari catatan Brooke harus ia beritahukan kepada Carlo.


 


Levin terbiasa berjalan tanpa menimbulkan suara langkah kaki. Dengan begitu dia bisa menyelinap sesuka hatinya di Istana. Istana Kerajaan sendiri terdiri dari empat Istana utama yang masing-masing dihuni oleh Raja, Ratu, Carlo serta adik tirinya. Levin melangkahkan kakinya menuju Istana Laine, tempat Carlo tinggal.


Istana Laine tidak sebesar istana milik adik tiri Carlo, Pangeran Harville. Levin berdecak kesal setiap kali mengingat perlakuan tidak istimewa yang didapatkan Carlo. Levin lalu mengetuk tiga kali jendela kamar Carlo. Dia sudah berhasil memanjat dengan mudah bangunan berlantai dua itu.


Levin kemudian mendengar suara ketukan jendela sebanyak empat kali. Levin paham arti ketukan itu dan memanjat menuju atap Istana. Dia berlari dan melompat turun, mencari sebuah jendela yang terhubung dengan kamar seorang pelayan muda. Pelayan laki-laki bernama Mavis. Mavis termasuk orang yang dipercaya oleh Carlo sama seperti Levin.


Mavis membuka jendela kamarnya saat Levin mengetuk sebanyak empat kali. Ketika Levin sudah masuk ke dalam ruangan itu, Mavis membungkuk hormat. Levin menepuk pundak Mavis satu kali dan membuka pintu lalu menyelinap menuju lantai dua. Mavis sudah mengerti jika Levin masuk ke Istana lewat kamarnya, berarti Carlo memerintahkan Mavis untuk mencegah siapapun mengganggu pembicaraan mereka berdua. Tidak ada yang boleh berada di sekitar kamar Carlo apalagi meminta izin untuk memasuki kamar Carlo bahkan untuk sekedar menyiapkan pakaian dan sarapan.


*****