Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 7



Aku melihat matahari pagi yang indah dan lapangan hijau yang selama sepuluh hari hanya bisa kupandangi lewat jendela kecil di gudang. Aku senang bisa menghirup udara segar di pagi hari. Saat aku menikmati momen itu, aku melihat samar-samar Grace dan Lucas tengah berjalan menuju tempatku berdiri.


Hari ini adalah hari kebebasanku.


“Hanya pada hari ketiga aku mendapatkan kunjungan paling sedikit,” kataku dengan raut wajah kesal. Haley yang berdiri tak jauh dariku berusaha menahan tawa.


Aku selalu mengeluh mengenai mereka bertiga yang datang bergantian seperti tidak punya hal untuk dikerjakan. Demi ibuku yang sakit, aku mencoba memakluminya. Aku hanya kesal karena tidak bisa menyusun rencana padahal sudah meminta kertas dan tinta.


Aku lalu melihat Grace melambaikan tangan kepadaku.


“Selamat pagi,” aku membalas lambaian tangannya sambil berteriak. Akhirnya, aku memutuskan untuk membuat kesan dramatis di hari kebebasanku.


Mereka tampak sangat bahagia. Aku melihat Lucas bernapas lega dan memelukku. Dia seorang kakak penyayang.


Punya saudara tidak seburuk yang aku bayangkan.


Aku sempat berpikiran buruk karena In Ho pernah bercerita mengenai adik perempuannya yang suka memeras isi dompetnya.


Kemudian, kami berjalan bersama-sama menuju rumah utama. Aku menyadari ada banyak mata yang melihatku dari jendela rumah mewahku (aku senang bisa menyebut rumah itu sebagai rumahku). Para pelayan, tukang kebun dan kesatria lain yang berjaga di rumah tampak antusias melihatku. Aku berusaha tersenyum meskipun rasanya canggung sekali.


Aku segera menemui ibuku di kamarnya dan dia memelukku sambil menangis. Aku membuat dia sedih karena kurungan itu. Dia berkata untuk tidak melawan ayahku lagi. Aku tidak bisa berjanji mengenai hal itu karena sudah berencana membuat beliau marah lagi soal ekspedisi ke utara nantinya.


Setelah bertemu ibu dan pergi ke dapur sebentar untuk mengucapkan terima kasih atas semua perhatian yang kudapatkan, aku lalu masuk ke kamarku. Aku hanya mengizinkan Jane dan Reevi untuk mengurusku.


“Jane, aku pasti membuatmu sangat khawatir.”


Jane menunjukkan wajah penuh kekhawatiran berbeda dengan Reevi yang tampak tenang seolah yakin aku baik-baik saja.


“Saya akan menyiapkan makanan untuk Nona.”


Aku mengangguk.


Aku melihat Jane sudah meninggalkan kamarku dan Reevi tidak beranjak pergi. Tadi, aku sempat bertukar pandang pada Reevi. Uniknya, dia paham maksudku tatapan mataku yang menyuruhnya untuk tetap tinggal di sini.


“Kau sudah membelinya?”


“Sesuai pesanan anda, Nona.”


“Ada dimana?”


Reevi berjalan ke arah ranjangku dan mengambil sesuatu dari bawah sana. Aku memberi perintah kepada Reevi lewat Haley. Aku juga ingin sedikit membantu kisah cinta mereka. Aku punya pendapat tersendiri mengenai hubungan dalam tahap pendekatan. Pengalamanku berkata semakin sering berinteraksi akan semakin bagus.


“Saya memilih desain yang cantik untuk anda gunakan. Anda akan tampak sangat bergaya sambil memegang pedang.”


Aku terbahak. Aku tidak peduli apakah aku akan terlihat menarik saat menggunakan celana panjang dan sepatu boot. Kenyamanan adalah yang utama bagiku.


Saat Jane datang, aku menyembunyikannya terlebih dahulu di kamar mandi. Tak lama berselang, Grace dan Lucas juga datang untuk melihatku makan. Sebenarnya, aku heran kenapa mereka harus melihatku makan.


Prioritas keempat.


Aku membatin dengan mulut penuh makanan lezat.


“Menurutmu bagaimana, Brooke?” Grace bertanya padaku.


Aku menelan makananku buru-buru.


“Oh, aku setuju.” Aku tertawa pelan tanpa arti. Aku kehilangan fokus karena memikirkan cara untuk mewujudkan prioritas keempat.


“Aku senang mendengarnya. Mereka akan datang nanti siang. Alex Oppa juga datang.”


“Siapa yang datang?”


“Alex,” Lucas menimbrung. “Jangan bertengkar lagi dengannya. Sikapnya memang menyebalkan tapi dia orang baik.”


“Oppa sudah memperingatkannya agar tidak bicara kasar padamu.”


Walaupun Lucas sudah memperingatkan Alex, aku tidak yakin dia orang yang akan melakukannya begitu saja. Dan ya, mereka itu siapa?


Ternyata mereka adalah anak-anak bangsawan lain.


Ah, tekanan darahku.


Aku ingin menghentikan waktu tetapi tidak bisa. Kami sekarang sedang duduk di hadapan meja melingkar yang terletak di taman. Ada banyak cangkir teh cantik yang masih saja membuatku geli. Lalu, aku memutuskan untuk berusaha tersenyum setulus mungkin.


Selain aku dan Grace, ada lima anak perempuan lain disana. Dan ada Alex juga.


Ketika aku menyumpahi Alex dalam hati karena dia ikut dalam perkumpulan tidak penting yang dilakukan anak perempuan sambil minum dari gelas cantik demi mengejekku, seseorang yang lebih tua dari kami semua (aku tidak peduli siapa namanya) terlihat memegang cangkir sambil tersenyum meremehkanku. Dari tadi dia hanya bicara omong kosong soal bagaimana seharusnya seorang bangsawan bersikap.


“Saya hanya berusaha agar Nona Brooke tidak ditertawakan ketika menghadiri pesta-pesta nantinya. Saya sangat peduli pada anda.”


Aku tidak paham kenapa harus mendengarkan ini di hari kebebasanku. Mereka mencoba mendesak Grace agar bisa bertemu denganku seakan mereka sungguh-sungguh peduli padaku (tujuan mereka hanya mencari bahan gosip saja).


Grace tidak bisa menolak permintaan orang lain.


Di dunia ini maupun di Korea, ada orang-orang yang tidak pandai menolak permintaan orang lain.


“Oh ya, terima kasih. Tetapi saran anda tidak begitu penting.”


Aku tidak berminat pada orang yang suka bicara omong kosong.


Mereka tampak terkejut. Aku tetap mencoba bersikap elegan sambil meminum tehku. Tidak sengaja aku bertatapan dengan Alex yang sedang menahan tawa. Dia pasti senang karena aku memberikannya tontonan yang menarik. Sepadan dengan waktu yang dibuangnya untuk duduk di perkumpulan payah ini.


“Bagaimana anda bisa berkata seperti itu!”


Aku menggelengkan kepalaku karena dia berteriak dan menggebrak meja.


“Lalu, kenapa anda berkata seperti itu? Anda terdengar secara tidak langsung sedang menertawakan saya,” kataku dengan suara tenang namun terdengar dingin.


Aku beruntung karena posisi ayahku paling berpengaruh di wilayah ini.


“Anda sombong sekali. Anda sudah dianggap sebagai orang gila karena hilang ingatan dan bertingkah aneh. Anda lupa posisi anda dan tata krama yang seharusnya.”


Anak bangsawan lain hanya diam saja. Mereka tidak mau ikut campur dalam perdebatan kami. Saat acara minum teh terakhir kali, hanya Nona Alyson dari keluarga Chamberlain yang menurutku punya sifat baik. Hanya Alyson yang tulus menatapku dengan raut wajah khawatir.


Ketika aku akan membuka mulutku untuk membalas omong kosong itu, Grace berdiri secara tiba-tiba. Hal itu mengejutkanku.


“Saudariku tidak gila!” Grace berteriak marah.


Pemandangan yang cukup langka untukku. Aku memperhatikan mata Grace yang sudah mulai mengeluarkan air mata. “Kenapa anda bilang begitu pada Brooke?”


Hmm, ini tidak buruk.


Aku memanggil Jane. “Bawa Grace ke dalam.”


Suasana menjadi suram. Alex menatap punggung Grace yang dibawa pergi oleh Jane. Sama sepertiku, Alex seolah baru tahu Grace bisa berteriak marah pada seseorang.


“Ada baiknya kita mengakhiri pertemuan tidak penting ini.” Aku berdiri dan melipat kedua tanganku. Menatap mereka dengan wajah sombong. “Ah, benar. Aku cukup bangga karena banyak orang yang membicarakanku. Disebut gila juga tidak buruk.”


Aku tersenyum secantik yang kubisa.


“Aku satu-satunya orang gila tercantik di wilayah ini, bukan?”


*****