
“Masalah sepenting apa yang membuatmu datang kemari?” Carlo menatap Levin dengan wajah datar ketika Levin membungkuk hormat padanya.
Carlo tidak bisa menyambut hangat kedatangan Levin sebab dia tahu ada hal sangat mendesak yang membuat Levin sampai datang ke Istananya.
“Lebih tepatnya sebuah informasi penting,” Levin melangkah dan langsung duduk di sebuah sofa di ruangan Carlo. Dia merentangkan sebelah tangannya di sandaran sofa dan menegadahkan kepalanya ke atas. Menatap langit-langit kamar Carlo. Tak lama setelahnya, Carlo sudah duduk bersebrangan dengan Levin sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Katakan,” perintah Carlo.
Levin berhenti menatap langit-langit dan menatap balik Carlo sambil merapatkan kedua tangannya. “Gordon Ficsher. Pria itu punya bukti bahwa Shaeviro yang merencanakan pembunuhan ibumu.”
Wajah Carlo mengeras. “Bukti?”
“Secara jelas aku tidak tahu bukti seperti apa itu,” Levin melirik tangan Carlo yang mengepal. “Tapi aku memilih mempercayai informasi ini. Kita sudah lama menebak bahwa Shaeviro adalah orang yang meracuni ibumu.”
Carlo mengetahui Levin tidak sengaja melihat Shaeviro meracuninya dulu. Hal itu terjadi saat Levin masih bersembunyi di Istana dan belum menemukan tempat tinggal setelah dibebaskan oleh Carlo dari penjara.
“Jadi pria itu masih hidup?”
Levin menggelengkan kepalanya. “Seseorang sangat yakin dia masih hidup.”
“Siapa?”
“Shaeviro,” Levin menarik napas sebentar. “Dan Brooke.”
Levin memperhatikan raut wajah Carlo saat dia menyebutkan nama Brooke. Sama seperti dirinya yang bisa menyembunyikan raut wajah terkejut saat membaca kertas yang diberikan Brooke padanya, Carlo juga bisa menutupi perubahan ekspresi di wajahnya. Levin tidak bisa memberitahu Carlo darimana Brooke mendapatkan informasi itu karena Brooke menjelaskannya sebelum Levin sempat bertanya dan saat itu Levin memilih mempercayai Brooke.
“Dia menawarkan pekerjaan padaku. Dia ingin aku ikut dengannya dalam perjalanan menembus Hutan Sebenius. Dia ingin menemukan Gordon Fichser.”
“Menembus hutan berbahaya itu? Dia ingin memulai peperangan?”
“Dia berkata Shaeviro lah yang akan memulai perang cepat atau lambat. Dia memikirkan hal yang sama dengan yang kita khawatirkan.”
Carlo menghela napas kasar. “Jadi dia mau mengorbankan banyak nyawa untuk mencegah Shaeviro?”
“Aku akui dia tidak memperhitungkan banyak hal,” kata Levin. “Sangat beresiko dan aku juga tidak sepaham dengannya.”
Carlo tampak sedikit lega melihat Levin tidak membela Brooke. “Kita harus mengubah rencana kita.”
“Tentu. Sebelum itu, kau harus tahu dia mendukungmu untuk naik takhta,” jelas Levin. “Dia ingin kau menjadi Raja dan Gordon mengantikan posisi Shaeviro.”
“Dia melakukannya untukku?”
Levin mau tidak mau mengangguk pelan. Brooke sempat membuatnya senang karena dengan wajah kesal dia berkata tidak akan menyukai Carlo dan semua itu hanya rumor belaka. Levin juga sudah mendengar rumor itu. Sayangnya, dia tidak melihat kejadiaan itu secara langsung. Yang terlihat bagi Levin setelahnya adalah Brooke yang ingin melakukan segalanya demi Carlo yang dia cintai.
Rumor itu mungkin benar.
Levin membatin. Sampai kapanpun, Levin tahu Brooke hanya akan mencintai Carlo.
“Cobalah mempertimbangkan rencana baruku,” saran Levin. “Lebih baik kau bertunangan dengan Brooke dibandingkan Grace. Rencana kita bisa tetap sama, hanya saja mereka bertukar peran.”
Carlo teringat saat Brooke memilih mengambil racun diam-diam dan meninggalkan uang untuk Levin, lalu meminumnya menggantikan Lucas. Brooke adalah orang yang senekat itu demi melindungi orang yang dikasihinya. Walaupun Carlo tidak mengakuinya secara langsung, dia juga terheran dengan wajah Brooke yang menatapnya di pesta dansa. Carlo bertanya-tanya apakah Brooke begitu terluka karena ia memilih mengajak Grace. Kemudian, Carlo mendadak penasaran apakah dia sangat dicintai oleh Brooke sampai terlintas di pikiran wanita itu untuk berpergian ke utara.
“Lebih baik membuat kesepakatan dengannya,” Carlo berkata dengan yakin. “Musuh bisa jadi teman asal punya satu tujuan.”
“Dia bukan musuh,” sanggah Levin. “Dia orang yang mau menyelamatkanmu.”
“Aku tidak minta untuk diselamatkan olehnya,” Carlo mendengus kesal. “Kita mau membunuhnya jadi kita adalah musuhnya. Tetapi musuh seperti dia punya tujuan yang sama dengan kita. Menyingkirkan Shaeviro.”
“Kesepakatan apa yang akan kau buat dengannya?”
“Kesepakatan untuk membawa Gordon kembali ke selatan.”
Levin menatap Carlo dengan pandangan serius. “Kau setuju untuk memulai perang?”
“Jangan berpikiran buruk. Aku hanya berupaya menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan.”
Levin menutup matanya dan memengangi keningnya. “Aku lebih suka cara yang lama. Kita juga tidak tahu Gordon masih hidup atau tidak.”
“Kita harus mencoba mempercayai keyakinannya itu. Selain itu, Brooke pasti punya cara untuk melewati hutan dan menghindari perhatian di utara.”
“Kau jadi sangat yakin padanya,” Levin menyindir Carlo. “Sejak kapan kau percaya padanya?”
Carlo hanya tersenyum. Dia merasa Levin cemburu padanya. Levin mungkin jujur padanya mengenai semua informasi yang dia dapatkan mengenai Brooke tetapi Levin tidak pernah jujur mengenai perasaannya pada Brooke. Bahkan saat Carlo memerintahkan Levin untuk membunuh Brooke, temannya itu tidak setuju dan mencari rencana lain. Carlo menebak Levin melakukannya untuk bisa membuat Brooke hidup lebih lama. Tetapi, tidak seharipun Carlo pernah meragukan loyalitas Levin padanya. Dia membiarkan Levin melanggar perintahnya asalkan dia masih berpegang pada tujuan awal mereka.
“Aku tidak percaya padanya. Aku hanya akan membuat kesepakatan yang lebih bersifat seperti mengancam.”
“Mengancam?”
Carlo sudah memutuskan untuk menunjukkan wajah aslinya pada Brooke.
“Kita harus membiarkan dia tahu bahwa bukan Shaeviro yang ingin membunuh Lucas melainkan aku. Jika dia gagal membawa Shaeviro, maka Grace akan dibunuh dan kalau dia berhasil mereka berdua akan selamat.”
“Dia akan balik menyerangmu,” kata Levin. Sejujurnya, Levin takut Brooke akan sedih saat dia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dan itu juga membahayakan posisi Carlo.
“Dia tidak akan melakukannya.”
“Dia bisa melakukannya.”
“Aku masih Putra Mahkota Kerajaan ini,” Carlo menatap dalam mata Levin. “Raja pasti senang jika putri keluarga Duke Cohenherb menuduh anaknya yang bukan-bukan. Dia bisa menjadikan itu alasan untuk menurunkan kredibilitas Duke.”
“Kau membuatnya tidak punya pilihan.”
“Itulah yang kuinginkan,” Carlo tersenyum senang. “Datanglah saat aku membuat kesepakatan dengan Brooke.”
*****