Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 34



Aku berusaha keras memilih tiga pertanyaan terpenting dari banyak pertanyaan dalam benakku. Jumlah yang diizinkan Levin terlalu sedikit dan aku tidak bisa membantahnya karena aku juga tidak tidak suka menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Aku mencoba menempatkan diriku dalam posisinya. Begitulah caraku memahami jumlah pertanyaan yang dia hadiahkan untukku.


Levin membuatku teringat saat-saat dimana aku hidup sebagai Shin Yoo Ri, rekan kerjaku yang bersimpati tetapi penasaran bertanya tentang ayahku yang telah membunuh seseorang, sementara rekan kerjaku yang lain menunggu tersebarnya cerita versi diriku.


Bagaimana rasanya hidup sebagai pembunuh?


Tanpa sadar aku menatap Levin lekat-lekat dan membuatnya memiringkan kepalanya.


“Kau tidak bisa memilih tiga pertanyaan?”


“Ah, sebentar,” jawabku. Aku sudah memutuskan satu dari tiga pertanyaan itu. “Bisa ceritakan pertemuan awal kita?”


Aku tidak mendapatkan gambaran jelas mengenai diri Levin yang sebenarnya. Terkadang dia membuatku takut setiap sikapnya berubah-ubah dengan cepat. Tiba-tiba melihatku penuh cinta lalu melihatku dengan tatapan dingin mematikan.


Levin tersenyum samar. “Bagimu itu pertanyaan yang penting?”


Aku mengangguk yakin.


Aku kemudian melihat Levin tampak tersanjung.


“Kita bertemu di pasar,” kata Levin sambil terkenang masa lalu. “Kau berhenti di sebuah toko buku, membeli buku dan berjalan lagi ke toko bunga. Kau hanya melihat bunga-bunga itu terpajang lalu kau pergi. Kau berjalan terus kesana kemari hampir dua jam lebih saat cuaca benar-benar panas. Aku sangat kesal hari itu karena lelah mengikutimu.”


“Mengikutiku?” tanyaku heran. “Kau mengawasiku sebelumnya?”


“Ya. Aku mengawasi kediaman Duke. Hampir enam bulan kalau tidak salah,” Levin berujar santai. “Aku pembunuh bayaran. Lucas adalah targetku sebelumnya,” jelasnya lagi.


Aku menghela napas berat. Aku jadi tahu bagaimana Levin mendapatkan informasi mengenai hubungan rahasia Lucas dengan Josephine. Sesuai dugaanku, pengintaian adalah cara terbaik mendapatkan informasi.


Levin melanjutkan. “Mendadak, kau  menghilang dari jangkauanku penglihatanku dan secara mengejutkan kau menarik lengan bajuku.” Levin menunjuk lengan kanannya. “Kau tahu aku mengikutimu. Sejak saat itu kita terus berhubungan.”


“Aku menyadari keberadaanmu?” aku terkagum sendiri.


“Kau bahkan membelikanku sebuah buku,” Levin masih mengingat judul buku itu. “Kau menyuruhku membaca jika aku bosan saat bersembunyi.”


“Serius?”


“Aku juga sangat kaget.”


“Wah, pertemuan pertama yang berkesan,” komentarku. “Selanjutnya bagaimana?”


“Selanjutnya, kita berciuman,” Levin menaruh telunjuknya di bibirnya. “Kau ingat?”


Aku menatapnya sedikit kesal. “Kita tidak mungkin berciuman begitu saja. Pasti ada prosesnya kan?”


Ayolah, ini tidak seperti malam yang kau habiskan karena terlalu banyak minum alkohol.


Aku melihat Levin terbahak. “Proses?”


“Kau sangat suka padaku ya?”


“Itu pertanyaan kedua?” Levin mengangkat sudut bibirnya. “Akan kujawab jika itu adalah pertanyaan kedua.”


Aku sudah mempertimbangkan pertanyaan ketiga setelah mendengar jawaban dari pertanyaan pertamaku namun aku belum menentukan pertanyaan kedua ku. Menurutku, akan bagus jika aku bertanya apakah dia mengetahui rencana selanjutnya yang dibuat oleh Shaeviro untuk memisahkan Lucas dari putrinya, alasan dia menyelamatkanku dari musuhnya dan mau membunuhku di acara berburu atau dimana dia mendapatkan racun itu. Pertanyaan tersebut begitu berguna, hanya saja aku juga penasaran dengan satu hal. Bagaimana perasaan Levin yang sesungguhnya pada Brooke? Dan apa yang akan dilakukannya jika tahu Brooke ternyata mencintai seorang Putra Mahkota.


“Kau sangat suka padaku sampai tidak bisa membunuhku kan?”


“Aku tidak akan membunuh sekarang tapi nanti,” kata Levin dingin lalu dia mengubah nada suaranya dan berkata, “Aku memang suka denganmu tapi kau tidak suka padaku.”


“Kau menciumku walaupun tahu aku tidak suka padamu?” tanyaku heran. “Itu pelecehan namanya,” aku tanpa sadar meninggikan nada suaraku.


“Kau bicara mengenai sebuah hukum di Kerajaan ini? Jangan membuatku tertawa,” Levin menatapku remeh. “Kau tidak tahu banyaknya bangsawan yang melecehkan pelayan mereka? Jangan menyebut kata itu dengan mudah. Aku tidak suka disamakan dengan mereka.”


Aku melihat ada kemarahan yang tercetus dari ucapan Levin.


Aku juga tidak suka sikap para bangsawan itu. Masih banyak anggapan di masyarakat yang tidak menghormati seorang wanita. Yang jelas, di Kerajaan ini, seorang wanita terdoktrin untuk hidup tanpa punya hak bersuara.


Prioritas ketujuh. Mencoba mengubah pandangan terhadap kesetaraan dan tugas seorang wanita.


“Kau benci ketidakadilan,” sahutku kemudian. “Tetapi kau juga mengambil nyawa orang lain.”


“Sayangnya, aku tidak terlahir sebagai anak dari keluarga Duke Cohenherb,” Levin berkata sinis. “Aku menyukaimu karena kau tidak pernah menghakimiku soal pekerjaan ini.”


Aku sedang tidak berusaha untuk menghakimi Levin. Aku hanya ingin tahu apa dia pernah menyesal saat mengambil jalan itu. Hidup selalu memaksa kita untuk memilih. Pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan sebagai Shin Yoo Ri pada ayahku dulu tetapi aku hanya diam melihatnya dari balik kaca.


Ayahku mungkin menyesal, bagaimana denganmu? Membunuh adalah pekerjaanmu.


“Maaf menyinggung perasaanmu,” aku memutuskan mengakhiri pembicaraan kami yang membuat suasana menjadi tegang. “Aku tidak punya niat menjelekkanmu.”


“Pertanyaan ketiga. Katakan,” sorot mata Levin berubah tenang setelah aku minta maaf padanya. Bagiku, Levin tampak seperti tipe yang cepat merajuk tapi mudah dibujuk.


“Tunggu sebentar,” kataku cepat. “Kau bilang aku tidak menyukaimu bukan? Bagaimana kau yakin tentang hal itu?”


“Itu pertanyaan ketiga?”


“Pertanyaan ketiga sangat penting. Aku hanya tidak paham bagaimana kau bisa menyimpulkannya seperti itu.”


Levin meraih ujung rambutku. Memainkannya sebentar.


“Kau menyukai Pangeran Carlo.”


“Kau percaya rumor menyebalkan itu?” tanyaku spontan dengan mata melotot.


Hampir semua orang mempercayai rumor mengenai kisah cinta segitiga antara aku, Grace dan Carlo. Lebih gilanya lagi, ada dua kelompok yang terbentuk dari rumor itu. Kelompok kedua percaya pada rumor mengenai kisah cinta antara aku, Alex dan Alyson. Ini jauh lebih buruk dari yang Brooke alami dalam mimpiku.


“Dengar, aku tidak tertarik pada hubungan serius,” ucapku sungguh-sungguh. “Itu merepotkan, menyakitkan dan menyiksa.”


Levin tampak terkesan dengan perkataanku. Dia lalu menyentuh wajahku dengan telapak tangannya yang besar dan kasar. “Bagus sekali.”


Aku merasa ada makna lain dari ucapan singkatnya itu.


“Pertanyaanku yang ketiga akan kutanyakan sekarang,” aku mendadak khawatir Haley akan segera menemukan tepian sungai ini. Aku harus mengajukan pertanyaan yang lebih seperti sebuah tawaran pada Levin sebelum dia menghilang.


“Kau mau ikut denganku ke utara? Aku butuh bantuanmu.”


*****