Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 13



Aku berhasil kabur tanpa menemui masalah yang berarti. Aku sudah membuat rute pelarian sempurna selama enam hari agar tidak ada yang sadar aku menghilang untuk bertemu pria berjubah hitam itu. Aku juga menugaskan Haley untuk pergi menemani ayahku yang akan menghadiri pertemuan di wilayah lain. Alasan yang kubuat masuk akal.


“Kau yang paling kuat diantara kesatria lainnya.”


Haley tidak bisa membantah fakta itu. Tugas utamanya adalah mengawalku, namun aku bisa mengubahnya sewaktu-waktu.


Aku sedang berjalan menyusuri pasar. Orang-orang masih berjualan dan beberapa dari mereka juga menawarkan permainan mendapatkan hadiah. Bagiku, tempat ini tampak sama seperti pasar malam di Korea. Aku membetulkan tudung jubahku sesekali, hampir terbuka karena angin dan dengan gelisah melirik sekitarku.


Aku berharap tidak ada yang mengikutiku tanpa sepengetahuanku.


Aku lalu tiba di toko buku yang pernah aku datangi dan menemukan jalan keluar lain dengan mudah. Pemilik toko itu tampak acuh dengan para pembelinya. Dengan cepat aku menutup pintu keluar itu dan menunggu di dalam kegelapan. Aku menyipitkan mataku menembus kegelapan di kiri dan kananku.


Apa dia akan datang?


Aku ingin percaya dia akan datang dan tidak mencoba menaruh pisau di leherku. Sebagai antisipasi, aku membawa pedang dari ayah dan belati yang kuikatkan di pinggangku. Aku memakai celana dan sepatu boot yang nyaman. Aku mengambil langkah itu, mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Apabila terjadi, aku juga akan melakukan gerakan berputar atau tendangan samping.


Ternyata, aku tidak perlu menunggu lama.


“Kau datang lebih cepat dari perkiraanku.”


Aku tersentak kaget.


Aku tidak mendengar suara langkah kakinya padahal aku yakin sudah berjaga dengan waspada. Pria itu membuka tudung jubahnya dan aku melihat wajahnya secara jelas dengan bantuan sinar bulan. Jika dia tidak menunjukkan wajahnya, aku mungkin berpikir dia hantu.


Dia bermata biru gelap dan berambut hitam pekat. Kulitnya begitu putih seolah tidak pernah terkena sinar matahari.


“Aku membutuhkan penjelasan,” aku berkata tanpa tahu bahwa aku tidak bisa menyembunyikan rasa gugupku.


“Jadi, kenapa kau datang dengan celana dan senjata di pinggangmu?”


Aku melihat raut wajah tidak senang.


“Aku ingin hidup.”


Kemudian dia tertawa. “Jangan menilaiku seperti itu. Aku mengajakmu bertemu karena merindukanmu.”


“Kau rindu padaku?”


Aku pura-pura terkejut. Dia mencoba menggodaku. Itu adalah kalimat paling membosankan yang pernah kudengar.


“Aku kecewa kau melupakan hubungan kita.”


Aku melihatnya memasang wajah berpura-pura kecewa. Efek Brooke hanya membuatku merasa terbiasa dengannya, bukan perasaan seperti orang yang merindukan kekasihnya.


“Aku tidak yakin sekarang kau sedang berkata jujur,” aku melangkah mundur karena dia berjalan semakin dekat denganku. “Beritahu aku siapa namamu.”


“Levin.”


“Brooke,” kataku setelahnya. “Mari kita anggap ini pertemuan pertama kita. Kita sudah berkenalan barusan.”


Aku melihat Levin tersenyum menahan tawa dan dalam sekejap mata, dia sudah memojokkanku ke tembok. Menahan kedua tanganku hingga terasa sakit.


“Aku lebih suka melihatmu mengenakan gaun saat menemuiku,” Levin berbisik di telingaku. “Tapi kau yang sekarang masih terlihat cantik.”


Maksud Levin adalah apapun yang kukenakan aku tetap cantik. Dan itu tidak penting untukku.


“Kau ini pria mesum ya?”


Aku berkata sambil menggerakkan kepalaku agar dia berhenti membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku merasa geli. Akhirnya, dia mengangkat wajahnya dan melihatku tanpa ekspresi. Seketika aku merinding di seluruh tubuhku. Perasaan itu adalah ketakutan, sama seperti saat aku berusaha menjauh darinya ketika pertama kali melihat dia di toko peralatan.


“Aku tidak suka dipanggil mesum,” jelas Levin. “Banyak wanita yang datang padaku dengan memohon.”


Apa aku perlu tahu tentang urusan pribadinya?


“Kalau begitu aku mohon padamu. Jelaskan maksud ucapanmu waktu itu.”


“Racun?” dia tersenyum kecil sambil memiringkan kepalanya. “Kau membelinya dariku. Aku tidak berbohong.”


“Alasannya?”


“Apa aku harus memberitahu alasannya?” Levin menyipitkan matanya. “Tidak semudah itu.”


“Aku tidak kekurangan uang.”


Mendengar hal itu aku jadi sangat kesal.


“Lantas apa maumu?” tanyaku tidak sabaran. Aku mulai memikirkan apakah mungkin prioritas baru yang kubuat bisa kuwujudkan. Bagaimana caranya agar aku bisa membuat dia berada di pihakku selagi yang dia butuhkan bukanlah uang.


“Hmm, bagaimana dengan pedang di pinggangmu. Pedang Duke Cohenherb bukan?”


“Darimana…”


“Simbolnya,” Levin memotong pertanyaanku. “Bisa berikan padaku?”


Aku terkesima dengan pengamatan cermatnya. Tidak kusangka dia bisa memperhatikan simbol itu ketika kami berdiri di tempat yang tidak mendapatkan pencahayaan semestinya.


“Tidak. Aku lebih suka kau meminta hal lain.”


“Apa lagi yang bisa diminta seorang pembunuh bayaran? Pedang itu pasti bagus untuk memenuhi permintaan klienku.”


“Pembunuh bayaran? Kau?” teriakku. Levin langsung menutup mulutku.


Aku merasa terguncang.


Sama sekali tidak terpikirkan olehku jika orang yang berbicara denganku adalah seorang pembunuh bayaran (aku merasa kurang tanggap). Aku tidak bisa menyalahkannya jika sewaktu-waktu dia membunuhku karena itu memang pekerjaannya. Sialnya, aku bukan seorang polisi sekarang. Terlebih lagi, tubuhku yang mungil jauh lebih lemah dibandingkan dirinya.


Brooke sudah gila.


Aku tidak tahu apakah berteman dengan seorang pembunuh bayaran adalah tren baru di Kerajaan Morrow.


“Kau tidak berniat membunuhku, kan?” tanyaku gugup saat dia sudah menjauhkan telapak tangannya dari mulutku. “Kau merindukanku.”


Levin lalu tertawa terbahak-bahak dan akhirnya melepaskan kedua tanganku. Aku ingin melarikan diri tetapi dia pasti dengan mudah mengejarku. Aku merasa malu karena melihatnya tertawa. Mungkin dia berpikir aku sungguh percaya bahwa dia merindukanku.


“Kau jadi lebih lucu,” perkataan Levin terdengar seperti pujian untukku. “Aku tidak bisa memberitahumu karena ingin bertemu denganmu lagi. Sebagai hadiah, aku bersumpah kalau aku tidak berbohong sama sekali soal racun itu.”


“Tidak bisakah kau beritahu saja yang sebenarnya terjadi?”


Levin menolak. “Aku ingin kau memikirkanku lebih sering lagi.”


Aku kehilangan kata-kata.


Dia keterlaluan.


Dasar. Beban pikiranku sudah banyak tahu.


Masalahnya, aku berada dalam posisi dimana aku ingin menghajarnya karena merasa dipermainkan tetapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa menghajar pembunuh bayaran semudah aku menghajar Alex. Aku pasti mati jika bersikap kurang ajar padanya.


Mendadak, Levin menarik tanganku dan aku terjatuh ke tanah karena kehilangan keseimbangan. Levin mengeluarkan pedangnya dan berdiri di depanku yang terjatuh. Aku bangkit dan menyadari ada orang lain disini. Levin telah memakai tudung jubahnya dan aku segera memperbaiki punyaku.


Naluriku untuk bertahan hidup membuatku memegang jubah Levin dan bersembunyi di belakangnya.


Mereka ada lima orang. Levin berdecak kesal karena dia tidak bisa bergerak leluasa jika harus melindungiku di balik punggungnya. Aku tidak yakin bisa membantunya menggunakan pedang asli sementara aku hanya berlatih dengan pedang kayu, jadi aku mengeluarkan belati.


“Bisa bertahan sebentar? Aku akan menghabisi mereka dengan cepat,” Levin setengah berbisik padaku.


Aku mengangguk paham.


“Siapa mereka?” tanyaku penasaran.


“Musuh.”


Levin bergerak maju ke depan dan aku mendengar suara pedang saling beradu. Gerakan Levin sangat cepat sehingga dia sudah menebaskan pedangnya ke tubuh dua dari lima musuhnya itu. Aku melihat darah mengalir dari pedang Levin dan mendadak merasa mual. Ini bukan darah yang biasa aku lihat di kasus pembunuhan. Darah yang kulihat adalah darah segar yang baru keluar dari tubuh seseorang.


Aku mendadak pusing.


Lalu, aku mendengar Levin berteriak dan berlari ke arahku. Aku tidak tahu salah satu dari mereka sudah mengayunkan pedang untuk menebasku.


Aku merasa duniaku gelap.


*****