
Fanita Cassius mengajukan diri untuk ikut dalam ekspedisi ke Kerajaan Kirkuz.
“Aku ingin melihat salju,” Fanita berkata padaku sebelum dia menutup pintu kamarnya.
Kami berpisah sebelum matahari terbit. Aku menyuruh mereka untuk segera membasuh diri agar bau alkohol yang kami minum tidak menyebar dan aku terhindar dari masalah minum minuman keras di bawah umur. Aku tidak menyangka bahwa sebelum kami berpisah Fanita berkata dia akan ikut ke utara. Dan ketika kutanya alasannya, begitulah jawabannya.
Ketika matahari sudah meninggi, aku keluar dari kamar dan berpapasan dengan Grace yang sedang berjalan menuju kamarku. Fanita tampak berada di belakang Grace. Dia mengenakan gaun.
“Wah…,” mulutku mengangga. “Mengejutkan,” ucapku.
Selama di akademi, aku tidak pernah melihat Fanita berpakaian seperti perempuan. Bukan berarti aku tidak menganggapnya perempuan, tetapi rasanya aneh melihat dia berubah menjadi cantik (aku jadi merasa rendah diri). Rambut Fanita yang terurai hampir sepanjang rambut Grace.
Pasti sulit merawat rambut sepanjang itu.
Aku melirik rambut pendekku di pantulan jendela. Aku sengaja tidak memanjangkannya dan memotongnya secara rutin.
“Sisi karismatikmu jadi hilang,” aku tertawa kecil. “Tidak terlihat menyebalkan lagi.”
Fanita memalingkan wajahnya dariku dan berkata, “Berhentilah berkomentar selagi aku masih bersabar.”
Aku langsung mengangguk. Bagaimana caraku untuk berhubungan baik dengannya masih menjadi misteri yang sulit. Grace menceritakan asal gaun yang Fanita kenakan. Ibuku yang memberikannya. Kemudian aku mengajak mereka ke taman.
Disana, Haley sudah menyiapkan peralatan memanah. Busur, anak panah dan papan target. Mengandalkan Haley untuk tugas berbelanja merupakan tindakan yang benar.
“Kalian akan berlatih memanah?” tanya Grace bingung.
Dia pasti mengira kami datang berkunjung untuk beristirahat dari aktivitas menjenuhkan di akademi.
Semalam, aku membuat kesepakatan dengan Fanita.
“Aku ingin mengajarimu memanah, Grace. Panahan itu menyenangkan,” kataku sok manis.
Fanita menatapku dengan pandangan menyebalkannya sambil mengambil busur panah itu dan memberikannya pada Grace. “Mulai hari ini aku akan mengajarimu.”
“Bisakah kau lembut sedikit,” bisikku pada Fanita. “Jangan galak, oke?”
Aku mengkhawatirkan Grace. Demi prioritas keempatku, aku tidak menemukan guru lain yang memenuhi syarat selain Fanita. Dia akan segera lulus dari akademi dan punya waktu luang, aku juga memohon padanya karena dia punya sifat tegaan. Puppy eyes Grace tidak akan menggerakkan hati Fanita.
“Diamlah, Brooke,” perintah Fanita.
Fanita menarik tangan kiri Grace dan memasangkan arm guard lalu menarik telapak tangan kanan Grace dan memasangkan finger tab. Fanita mengenakannya juga setelah memasangkannya pada Grace lalu mengenakan chest guard.
“Yang menyenangkan dari panahan adalah kau bisa melakukannya sambil mengenakan gaun.”
Fanita menembakkan panah dan mengenai bulatan kuning yang terletak di bagian paling dalam dari papan target.
Aku bertepuk tangan tanpa sadar. “Aku ingin mencobanya.”
Fanita berdecak kesal padaku. “Ini bukan giliranmu. Menjauhlah.”
Aku berjalan lesu dan berdiri di samping Haley. Haley juga tampak kagum pada kemampuan memanah Fanita.
“Tunggu…” Grace menoleh ke arahku dan Fanita bergantian. “Aku harus belajar memanah?”
Aku, Fanita dan Haley mengangguk serempak.
“Dulu kau pernah berkata kau takut jika tidak bisa mengendalikan emosimu, bukan?” tanyaku. “Kau bisa mengeluarkan emosimu lewat tembakanmu. Jika ada yang membuatmu kesal, lampiaskan dengan anak panah. Bagaimana? Aku sudah bersusah payah memikirkan ini, lho.”
“Alasan payah,” komentar Fanita.
Rencana awalku saat pulang ke rumah adalah membujuk Grace dengan alasan payah itu.
Saat kami hampir mencapai kata sepakat, Fanita menanyakan alasan kenapa dia harus membantu Grace belajar memanah. Aku memberikannya penalaran masuk akal dengan berkata Grace bisa terluka sama seperti aku yang sakit karena racun yang ditujukan untuk Lucas. Kami sepakat dengan syarat aku menceritakan secara jujur alasan kenapa aku memilih Gordon Fichser (sampai membahayakan diri sendiri untuk pergi ke utara) sebagai pengganti Shaeviro alih-alih memilih orang terpercaya lain yang berpihak pada keluargaku.
“Brooke, aku tidak tahu apakah ini perlu. Ayah juga..”
Grace masih menatapku ragu. “Bukan soal izin. Aku hanya tidak suka hal berbahaya.”
Aku menghela napas panjang. Grace harus dipaksa.
“Lihat ini.” Fanita menggoreskan ujung panah yang tajam ke telapak tangannya.
Aku dan Grace terkejut melihat darah di tangan Fanita.
“Tanganmu berdarah,” Grace panik dan memegang tangan Fanita, menggunakan bagian dari gaunnya untuk menahan darah yang mengalir. Sementara itu, aku meminta Haley untuk mengambil perban luka.
“Kau tidak takut darah,” Fanita menatap dingin pada Grace. “Kau hanya tidak ingin keluar dari kenyamanan yang kau rasakan sekarang.”
“Aku…”
“Seseorang bisa mati karenamu.”
Aku memutuskan untuk diam dan melihat.
“Mati?” ucap Grace. “Aku tidak…,” Grace tidak menyelesaikan ucapannya. Dia menunduk menatap darah di tangan Fanita.
“Kau tidak suka hal berbahaya? Di dunia ini tidak ada orang yang suka hal berbahaya.” Fanita berkata dengan nada suara tinggi. “Di dunia ini, aku juga tidak mau mengangkat pedang. Jika BISA aku tidak mau melakukannya.”
Aku melihat Fanita menarik bahu Grace dan membuatnya tersentak kaget.
“Kau tahu bahwa seseorang bisa mati karenamu. Kau tidak takut darah, jadi apa masalahmu? Sialan.”
Aku yakin sudah meminta Fanita tidak mengucapkan kata-kata seperti sialan, brengsek atau ******** kepada Grace. Tidak masalah jika dia meneriakkannya padaku (aku tinggal membalasnya saja) tetapi itu terdengar sangat kasar apabila diucapkan kepada Grace.
Tak berselang lama, Grace menitikkan air mata. “Aku tidak berani. Aku tidak berani menghadapi dunia luar. Aku sudah nyaman dengan hidupku.”
Fanita lalu melepaskan pegangannya pada bahu Grace dan membiarkannya jatuh terduduk di tanah berumput.
Grace menangis sambil menutupi kedua matanya.
Kami mendengarkan suara tangisan itu.
“Rasa nyaman bisa membuatmu tersesat. Manusia harus punya ambisi. Jika tidak, dia tidak akan berjalan kemanapun.” Fanita menatapku dengan pandangan lebih bersahabat. “Kau tahu apa ambisi Brooke?”
Ambisiku?
Aku tidak pernah memikirkan kata itu.
“Ambisi Brooke adalah kau dan Lucas. Selalu seputar kalian berdua.”
Aku tersenyum. Aku tidak benar-benar memahami makna kata itu, tetapi yang kulakukan hingga sekarang memang berpusat pada kedua nama yang disebutkan Fanita. Semua yang ada dalam daftarku adalah wujud dari keinginan Brooke yaitu menyelamatkan keluarganya.
Prioritas kesembilan. Menemukan apa yang menjadi ambisi pribadiku.
Aku menambahkannya ke dalam daftarku. Hidup Brooke adalah hidupku dan hidupku adalah hidup Brooke. Selain menyelamatkan hidup baruku, aku juga harus mulai memikirkan keinginanku sendiri.
Aku melihat Fanita berjalan mengambil busur panah dan sebuah anak panah baru. Dia kemudian berjalan kembali ke tempat Grace dan memaksanya berdiri. Fanita menyerahkan kedua benda itu dan Grace menatapnya dengan wajah basah. Seperti yang kuharapkan, Fanita tidak menunjukkan belas kasihan di wajahnya. Kalau aku yang berada di sana, aku pasti akan langsung menghibur Grace.
Aku dibuat berpikir apakah Efek Brooke juga mempengaruhi perasaanku terhadap Grace. Apalagi, kami (Brooke) adalah saudara kembar.
“Kau akan mulai memanah hari ini,” suara Fanita terdengar seperti sebuah titah. “Aku akan terus mengajarimu sampai kau menemukan keberanian, menghilangkan rasa takutmu dan keluar dari rasa nyamanmu yang berlebihan.”
Grace menatap lekat busur panah di tangannya.
“Anggap saja ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Brooke.”
Hari itu, kami menghabiskan waktu untuk belajar memanah. Anak panahku selalu meleset. Fanita memukul kepala bagian belakangku sebab aku terus menerus memuji dia yang bisa mengatakan hal yang keren sekaligus menyentuh hatiku. Grace yang berwajah sembab menghapus sendiri air matanya dan mulai memanah sesuai arahan Fanita. Aku memeluknya beberapa kali karena dia menangis lagi ketika memanah. Haley membalutkan perban pada tangan Fanita dan tersenyum manis padanya. Aku tidak sengaja melihat wajah Fanita yang memerah dan tanpa sadar tertawa keras. Kami saling menjambak rambut satu sama lain dan Grace memisahkan kami. Hari itu, kami bertiga mulai tersenyum lembut dan saling bertatapan dengan hati yang lebih ringan.
*****