
Beberapa bulan berlalu. Aku sudah berumur enam belas tahun.
Aku menerima sebuah undangan pesta dari istana. Undangan itu ditulis di kertas berwarna emas, diberi stempel kerajaan dan ada bunga yang ditempel di amplopnya. Undangan itu berbau harum seperti sengaja disemprotkan parfum terlebih dahulu sebelum dibagikan. Undangan itu berisikan ajakan untuk menghadiri pesta yang diadakan minggu depan.
Aku menatap bosan pada undangan itu dan mencampakkannya sembarangan.
Aku membuka laci meja yang terdapat di perpustakaan rumahku dan mengambil tumpukan kertas. Jurnal Brooke. Aku membacanya kembali berulang-ulang dan mengingat mimpi yang juga kutambahkan disana. Mimpi tentang pesta dansa di istana ketika berumur enam belas tahun.
Tidak lama lagi, hari itu akan tiba dan aku sedang bersiap menghadapinya.
“Levin,” ucapku sambil menuliskan nama itu di kertas.
Aku tidak punya maksud tertentu saat menuliskan nama itu. Aku hanya berharap kami bertemu dan membicarakan beberapa hal yang masih mengganggu pikiranku. Walaupun aku takut dibunuh olehnya, aku tetap harus mengajaknya ke utara. Aku butuh pembunuh bayaran dalam ekspedisiku.
Rencanaku berbahaya dan aku butuh orang yang kuat.
Lalu, hari berganti dan malam pesta dansa pun tiba.
Acara resmi yang ditujukan untuk memperkenalkan para bangsawan dalam lingkaran status sosial mereka. Dengan kata lain, undangan sialan itu bertujuan untuk mencarikanmu pasangan. Bagian paling menyebalkan dari acara ini adalah setelah mengikuti pesta dansa, akan lebih banyak undangan pribadi yang datang.
“Anda cantik sekali, Nona,” Jane menyisir rambut pendekku. Dia menaruh beberapa hiasan permata di rambutku yang telah dikepangnya. Sejak pagi, Jane serta para pelayan lain sibuk mempersiapkan aku dan Grace yang akan menghadiri acara pesta. Aku dibuat lelah sebelum menginjakkan kakiku ke istana.
“Aku berharap Fanita tidak terlambat,” gumamku pelan. Aku dan Fanita berencana mengawasi Lucas di acara tersebut. Haley tidak bisa masuk ke ruangan pesta jadi kami tidak bisa mengandalkannya sementara Darshan memilih untuk tidak menarik perhatian dan kabur diam-diam dari acara tersebut.
Untungnya, Fanita berubah pikiran dan tidak jadi bicara empat mata dengan Lucas.
Setelah mendengarkan rencanaku ke utara waktu itu, dia berkata untuk tetap bersikap seolah tidak tahu apapun tentang hubungan Lucas.
“Anda akan bertemu dengan calon tunangan Tuan Lucas di acara tersebut, Nona,” Reevi berbisik di telingaku setelah Jane pergi untuk mengambil sepatuku. Reevi sudah mengetahui informasi yang kubagikan bersama Fanita dan Haley. Aku memutuskan untuk memberitahukan Reevi atas dasar pertimbangan keuntungan yang kudapat dibandingkan jika aku memberitahukan informasi itu kepada Darshan. Reevi bertanggung jawab mendengarkan segala rumor yang ada di rumah dan melaporkannya padaku secara rutin.
“Lucas akan mengacuhkannya,” bisikku pada Reevi. “Kuharap wanita itu tidak membuat keributan karena sikap dingin Lucas.”
Beberapa minggu yang lalu, wanita yang akan dijodohkan dengan Lucas, datang mencariku dan Grace. Dia bilang Lucas seharusnya tidak bersikap acuh padanya. Aku tidak tahu kenapa dia melibatkan kami dalam urusannya dengan Lucas, tetapi dia bersikeras bahwa Lucas akan mendengarkan nasehatku sebab wajah Lucas berubah lembut hanya saat bicara denganku dan Grace. Dari yang kulihat wanita itu sudah sangat menyukai kakakku yang tinggi dan tampan.
Lucas hanya bersikap baik pada wanita yang disukainya.
Diluar dugaanku, Lucas ternyata orang yang seperti itu. Karenanya, aku tidak berharap Lucas akan memilih seseorang selain Josephine. Dia bekerja keras untuk mengantikan posisi ayah dan menjadikannya alasan untuk mengulur waktu perjodohannya. Pernikahan di kalangan bangsawan tidak hanya berkaitan dengan ketertarikan kedua belah pihak namun status sosial dan keuntungan politik yang selalu terlibat.
“Kakakku yang malang.”
Aku keluar dari kamarku dan melihat Grace yang sedang mengobrol bersama Lucas dan Alex. Mereka sudah menungguku untuk menaiki kereta kuda yang sama.
“Kenapa kau ada disini?” tanyaku pada Alex. Dia terlihat hebat dengan setelan tuxedo hitam.
“Kita akan pergi bersama Alex,” sahut Lucas. “Dia tidak mau pergi kesana sendirian.”
“Alyson bagaimana?” Aku menatap Alex dengan raut wajah kesal. “Awas saja kalau kau tidak mengajaknya berdansa nanti. Akan kuinjak kakimu,” aku berkata dengan nada mengancam sambil menunjuk kearah sepatu hak tinggiku.
Alex menutup mulutnya dan hanya menatapku.
Lucas menyuruh kami untuk bergegas agar tidak terlambat.
Suara musik yang indah terdengar di seluruh ruangan. Aku melihat dekorasi pesta yang luar biasa dengan mata melebar dan mulut yang hampir ternganga.
Fanita menyikutku dan aku merasa malu atas sikap norakku tersebut. Aku tidak menyadari Fanita sudah berdiri di dekatku dan aku melihatnya mengobrol bersama Lucas dan Alex seperti yang biasa mereka lakukan di akademi.
Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Grace ternyata sedang berusaha membujuk Alyson agar dia mau mendekati Alex. Aku juga melihat bangsawan wanita lain yang berbisik satu sama lain sambil menatapku iri dan mereka juga menatap Fanita. Aku pikir mereka juga tidak suka dengan Fanita yang akrab dengan dua pria bangsawan tampan dengan status yang tinggi. Pandangan mereka membuatku jijik.
Pintu kemudian terbuka.
Raja dan Pangeran Carlo memasuki ruangan itu dengan jubah merah milik Kerajaan. Shaeviro mengikuti mereka di belakang bersama bangsawan lain yang tidak kukenal.
“Josephine,” kataku dengan suara pelan ketika seorang wanita dibawa masuk oleh Shaeviro tak lama setelah Raja selesai memberikan kata sambutannya.
Aku mengenali Josephine berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh Reevi. Josephine yang digambarkan Reevi berperawakan tinggi dan langsing dengan rambut berwarna coklat gelap yang berkilauan. Sifatnya rendah hati dan dia tidak suka bergosip. Dia anggun seperti ibu.
Shaeviro mengenalkan Josephine pada Pangeran Carlo. Itulah yang aku dan semua orang lihat saat ini. Setelah itu, Raja dan Shaeviro meninggalkan ruangan itu. Suara musik semakin terdengar indah dan orang-orang mulai mengulurkan tangannya, mengajak partnernya berdansa.
Aku melirik Lucas yang tengah menatap Josephine dari kejauhan. Fanita lalu memberikan kode kepadaku untuk berpindah tempat ke sisi kiri ruangan sehingga dia bisa mengawasi Lucas dari sisi sebaliknya.
“Kau mau berdansa denganku?” Alex tiba-tiba mengulurkan tangannya padaku. Aku menatapnya dengan wajah terkejut.
“Kau sudah gila?” tanyaku dengan suara pelan. “Kenapa mengajakku bukannya Alyson?”
Alex tidak menjawabku.
“Ayo kita berdansa,” dia menarik paksa tanganku dan menciumnya. Aku tercengang oleh sikapnya itu. Aku menoleh ke samping kiri dan kananku dengan tidak nyaman.
“Hentikan.”
“Aku hanya ingin berdansa denganmu,” Alex berkata dengan tegas dan suaranya lumayan kuat sampai aku merasa jantungku akan copot. Bukan karena ajakan Alex, tetapi karena Carlo tersenyum ke arahku dan aku mulai berdebar lagi.
Carlo terlihat menahan tawa. Dia tahu aku tidak akan mau berdansa dengan tunangan temanku sendiri. Beberapa bulan terakhir, aku mencoba mengakrabkan diri dengan Carlo kapanpun dia berkunjung ke akademi. Hasilnya, dugaanku mengenai senyumannya dan perasaanku tepat seratus persen benar.
Alex menekan telapak tanganku seolah tidak mau aku memikirkan jawaban yang akan menolaknya. Jadi, aku terpaksa berdansa dengannya.
“Kau tega sekali pada Alyson,” bisikku di tengah-tengah putaran dansa kami.
“Aku tidak peduli dengannya,” kata Alex sambil menatapku.
“Berhentilah bersikap kasar padanya.”
“Aku mencintaimu.”
Aku menghela napas pendek. Alex sudah mulai menyatakan rasa sukanya padaku sehari setelah aku berulang tahun. Pernyataannya yang terus terang itu membuat Lucas memukulnya dan menyuruhnya menjauhiku. Bagaimanapun dia sudah bertunangan dan Lucas tahu aku tidak menyukai Alex sedikitpun. Namun Alex tidak pernah mendengarkan perintah siapapun secara sukarela. Demi persahabatan mereka, Lucas tidak berbuat apapun lagi.
Mencintai seseorang itu tidak mudah.
Aku merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan Alex dan membuat perasaan Alyson terluka. Alyson pasti malu di hadapan bangsawan lain karena tunangannya berdansa dengan teman baiknya.
Aku dan Grace tahu bahwa Alyson tulus menyukai Alex tapi dia takut dengan sikap dingin Alex.
Saat aku hampir menyelesaikan satu lagu bersama Alex, aku melihat Carlo mendekati Grace dan mengajaknya berdansa. Aku langsung menghentikan langkahku tanpa memperhatikan Alex yang hampir terjatuh tersandung kakiku.
Carlo dan Grace berdansa seperti yang kulihat dalam mimpiku.
*****