
Tidak mudah meredakan minat orang lain terhadap rumor buruk tentangmu.
Aku berjalan lurus ke depan tanpa memperhatikan sekitarku. Aku mengabaikan mereka yang melihatku dengan tatapan menjengkelkan. Ini dimulai ketika aku mendapatkan kabar dari Fanita bahwa Carlo tengah mencariku dan menungguku di sebuah bangunan lama akademi yang biasanya digunakan untuk tempat penyimpanan senjata dan peralatan pelindung kami. Sialnya, Darshan memilih buku dibandingkan menemaniku bertemu Carlo. Lucas dan Alex juga sedang ada di kantor administrasi Kerajaan untuk memulai tugas baru mereka. Mereka yang sudah lulus akan menjalani pelatihan selama satu tahun di banyak posisi sebelum diresmikan terbebas dari segala urusan di akademi.
“Kalau bukan karena omong kosong itu, aku tidak akan merasa canggung menemui Carlo,” gumamku pelan sambil menghela napas panjang. Rasanya aneh menemui Carlo hanya untuk meluruskan salah paham yang dituduhkan padaku.
Aku menerka-nerka apakah Carlo akan bertanya hal itu padaku nanti.
Dari kejauhan, aku melihat Carlo melambaikan tangannya padaku. Kami sudah cukup akrab beberapa bulan terakhir dan aku tidak ingin rumor konyol itu membuat usahaku jadi sia-sia. Aku berniat membuat negosiasi dengannya setelah mendapatkan kepercayaannya. Setidaknya, itu adalah prioritasku yang kelima.
Senyuman Carlo membuat dadaku berdebar-debar.
“Dia harus berhenti tersenyum,” kataku pelan sambil melangkah lebar mendekatinya. Aku tidak mau dianggap tidak sopan karena terlalu lama membuat seorang Putra Mahkota menunggu lama.
“Kenapa kau lama sekali?” Carlo bercanda sesaat setelah aku memberi hormat padanya. “Kau lebih sibuk dariku.”
“Jangan mencariku di jam sibuk,” ujarku santai. “Ada urusan apa?” tanyaku blak-blakan setelahnya sambil mengamati sebuah pintu yang kuncinya dipegang oleh Sir Oswald.
Biasanya, kami tidak diizinkan menyimpan peralatan latihan kami tanpa pengawasannya atau asistennya.
“Sifatmu mirip seseorang yang kukenal,” Carlo tersenyum lagi dan membuka pintu itu. Aku agak terkejut saat tahu pintu itu tidak dikunci. “Kalian sama-sama tidak suka berbasa basi.”
“Sir Oswald memberikan kuncinya padamu?”
“Tentu saja,” jawab Carlo singkat. “Ayo masuk. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Fanita juga ada di dalam.”
“Fanita?”
Seingatku, Fanita menghilang begitu saja dari ruang makan sesudah memberitahu soal Carlo yang mencariku. Dia pergi tanpa rasa bersalah setelah menempatkanku dalam kekacauan. Bagaimana bisa dia mengatakan kabar itu dengan suara kuat tanpa peduli respon orang-orang disekitarku. Dia benar-benar tidak bisa menjadi temanku.
Aku mengikuti Carlo masuk ke dalam ruangan itu. Carlo lalu mengunci pintunya dari dalam. Mendadak, aku merasa curiga dan ragu untuk mengikutinya.
“Ini sangat rahasia, jadi tidak ada yang boleh tahu.”
“Masalahnya orang-orang sudah tahu,” kataku dengan raut wajah sedikit kesal. “Fanita seolah mengumumkan kedatanganmu.”
Carlo tertawa kecil. “Lain kali aku harus memberi sedikit perintah untuk merahasiakan tempat pertemuannya.”
Kemudian aku melihat Carlo menurunkan sebuah lukisan bergambar kuda dan pedang sesaat setelah kami tiba di sebuah ruangan yang terhubung dengan pintu masuk tadi. Dia mengetuk-ngetuk dinding di balik lukisan itu dan memukulnya hingga muncul sebuah pintu rahasia
“Ruangan rahasia?” tanyaku terkejut. Carlo mengangguk pelan.
Aku mengikuti Carlo memasuki ruangan itu. Ada cahaya yang terlihat di dalam ruangan itu. Carlo menutup pintu ruangan itu sebelum aku menyadari siapa yang tengah duduk di dekat cahaya lilin itu.
“Brooke,” Fanita memanggilku.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk menembus kegelapan ruangan itu. Ruangan itu tidak jauh berbeda dengan tempat penyimpanan barang ekspedisi rahasiaku di rumah. Aku lalu melihat Levin samar-samar.
“Levin,” ucapku spontan.
Aku tertegun melihatnya. Levin meninggalkanku begitu saja setelah mengantarku kembali ke pasar malam itu. Dia berkata tidak akan membiarkanku pergi ke utara dengan tegasnya. Semenjak itu, aku jadi berpikir untuk merubah rencanaku dimana dia tidak diikutsertakan lagi (kesabaranku terbatas dalam hal membujuk orang lain).
Aku berbalik mencari Carlo. Dia sudah berada di belakang sebuah kursi tepat di samping Levin.
Dia tidak tersenyum.
“Senang rasanya melihatmu kebingungan,” Carlo terlihat angkuh di mataku. “Duduklah, kita tidak bisa berada lama disini karena pengumuman dari Fanita.”
Bagiku, saat ini Carlo terdengar seperti sedang menyindir Fanita. Mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah meja persegi empat yang berdebu.
“Apa yang sebenarnya terjadi disini?”
“Kesepakatan genjata senjata,” balas Carlo. “Duduklah.”
Seketika aku merasa suara Carlo bersatu dengan udara dalam ruangan itu dan membuatku merinding. Akhirnya, aku duduk di samping Fanita.
“Sebaiknya kita mulai pembicaraan mengenai rencanamu mencari Gordon Ficsher,” kata Carlo.
“Apa?”
Aku memandang Carlo dan Levin bergantian.
Dalam beberapa detik, aku tersadar tentang hubungan mereka. Aku lalu memandang Fanita yang tengah menatap salah satu lilin di meja yang berdebu itu. Dia hanya diam dan tampak berpikir. Tidak punya inisiatif untuk menjelaskan apapun padaku.
“Sial,” aku mengepalkan tanganku dan memukul meja. “Yang memerintahkanmu adalah Carlo?” tanyaku sambil menatap Levin tajam.
“Benar,” jawab Levin sambil menatapku balik dengan wajah seriusnya. “Aku sudah jelas mengatakan aku menolak tawaran pekerjaan darimu. Aku tidak suka ide yang bisa memprovokasi peperangan.”
Sekarang, aku tidak peduli apakah dia menolak atau menerima tawaran itu. Aku lebih peduli pada rasa marah dan kecewa yang kurasakan setelah tahu Levin adalah suruhan Carlo. Rasanya seperti membeli sebuah barang dengan harga tiga kali lipat dari yang ada di pasaran dan mengetahuinya belakangan. Aku juga merasa bodoh karena tidak memeriksa Carlo dan memilih mempercayainya saja sesuai penglihatanku lewat mimpi.
“Shaeviro?”
“Aku tidak akan menerima perintah apapun dari ******** itu.”
Aku melihat ada kemarahan yang lebih nyata di mata Levin. Aku terdiam dan sampai pada sebuah kesimpulan.
Aku menarik napas dalam. Aku ingin membalikkan meja dan membuat keributan tetapi aku kembali teringat pada kondisi khusus yang kusebut efek Brooke. Aku selalu bertanya-tanya kenapa aku merasa terbiasa di dekat Levin dan merasa jatuh cinta melihat senyuman Carlo.
Mungkin dia sudah tahu. Tapi Brooke tidak bisa membenci mereka.
Jadi, kuputuskan untuk tidak terbawa emosi sesaatku. Aku mau mendengar dahulu apa yang ingin mereka bicarakan. Kalau tidak masuk akal, aku berjanji akan memukul mereka sampai babak belur.
“Mengawasi kediaman Duke dan mencoba membunuh Lucas adalah perintahmu?” tanyaku pada Carlo.
“Kau memang cepat tanggap seperti yang kuharapkan,” jawab Carlo. “Akademi ini punya dua murid perempuan dengan insting yang luar biasa.”
“Tutup mulutmu,” suara Fanita terdengar mengerikan. “Katakan apa kesepakatan yang ingin kau buat.”
“Kau bukan bagian dari mereka?” tanyaku heran.
Fanita melirikku dengan ujung matanya.
“Kau menuduh orang yang mendukung rencanamu sampai sejauh ini?”
“Kalau begitu jelaskan,” kesalku. “Aku tidak bisa membaca pikiran dan hati seseorang. Aku bukan peramal.”
Fanita kemudian menggerutu pelan. “Aku sudah mencurigaimu sejak awal.” Fanita menunjukkan jarinya pada Levin. “Rasanya kau sangat familiar. Orang yang pernah kulihat bersama Carlo secara tidak sengaja ternyata adalah seorang pembunuh bayaran. Aku beruntung menyadari sosokmu saat menggendong Brooke di hutan. Kalau tidak, aku tidak tahu sejauh apa kebusukan ini akan terus berlanjut.”
Carlo tampak tidak menyukai pilihan kata Fanita.
“Kebusukan? Itu bukan kata yang pantas untuk diucapkan di hadapan Putra Mahkota.”
“Saya tetap setia pada anda walaupun saya tidak begitu menyukai anda,” kata Fanita. “Kita sepaham dalam hal memperbaiki keadaan dan meniadakan perang.”
Aku melihat Carlo tersenyum puas saat Fanita mengucapkan janji kesetiaan padanya.
“Kau pernah melihat mereka bersama dan tidak berkata apapun padaku?” tanyaku lagi sambil menggelengkan kepalaku tidak percaya. “Baiklah, semua orang memang punya rahasia.”
Fanita memukul kepala bagian belakangku seolah berkata aku tidak berhak kesal padanya karena aku juga menyembunyikan fakta bahwa Levin adalah seorang pembunuh bayaran.
“Kau harus mendengarkan kesepakatan yang akan ditawarkan,” cetus Fanita.
Aku mengangguk mengerti. Aku bersyukur Fanita bukan salah satu dari mereka yang merencanakan percobaan pembunuhan terhadap Lucas.
Carlo menawarkan sebuah kesepakatan yang selalu menguntungkan orang yang menawarkannya.
“Dan aku tidak boleh menolaknya?” aku melotot pada Carlo. “Kau membuat hidupku dan Grace seperti berada sebuah papan permainan.”
Carlo bukan orang yang baik. Dia hanya sedikit lebih baik daripada keluarga Kerajaan lainnya. Dia tidak menginginkan perpecahan lagi dan akan menggunakan segala cara untuk mewujudkannya. Tidak heran jika dia merencanakan pembunuhan terhadap aku, Lucas dan Grace.
“Kau mendorongku pada titik krisis,” lanjutku. “Bertaruh apakah aku bisa berhasil atau tidak melewatinya.”
Aku sedang mencoba memahami pemikiran Carlo. Lebih mudah baginya jika dia melakukan rencana sebelumnya dibandingkan mengancamku untuk membawa Gordon kembali ke Kerajaan Morrow. Bagaimanapun dia mengancamku, aku tahu itu tidak akan terlalu mempengaruhiku. Aku punya banyak cara untuk menghindari salah tuduh itu.
Aku yakin dia sangat ingin mendapatkan keadilan untuk Ratu terdahulu.
“Aku akan menerima kesepakatan ini dengan satu syarat,” kataku kemudian. “Berjanjilah satu hal padaku. Jika aku berhasil membawa Gordon, kau tidak akan pernah bersama Grace seumur hidupmu.”
“Kau takut aku berubah pikiran dan membunuh saudarimu?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Aku hanya ingin kau menjauhi saudariku.”
Aku yang dahulu berpikiran bahwa menghalangi atau tidak, kedua pilihan itu akan berakhir tidak menguntungkan. Di saat situasi berbalik seperti saat ini, aku memutuskan untuk menjauhkan salah satu orang yang menyebabkan lingkaran takdir buruk pada Grace.
Carlo tertawa sinis. “Aku tidak berminat pada kalian berdua. Aku tidak tahu bagaimana denganmu. Aku jadi takut rumor itu benar.”
Aku bisa memastikan rumor itu tidak benar.
Aku menatap dalam mata Carlo. “Yang kutakutkan adalah perasaanmu. Menjauhlah darinya. Itu kesepakatan kita.”
“Perasaanku?”
“Kau sangat mencintai saudariku.”
Masa depan yang kulihat lewat mimpi Brooke tetap memberikanku keyakinan bahwa Carlo mencintai Grace bahkan setelah aku tahu dia merencanakan pembunuhan kami berdua. Firasatku berkata air mata Carlo saat itu bukan palsu. Aku juga pernah menitikkan air mata seperti itu.
“Aku mencintai dia?” Carlo menunjuk dirinya sendiri dan mendengus tidak percaya. “Lalu bagaimana denganmu? Aku juga punya kecurigaan terhadapmu. Kau merencanakan ekspedisi ke utara untukku? Kau mau mengakuinya?”
“Ya,” ucapku tegas. Awalnya, aku merencanakan perjalanan kesana untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan Grace yang akan hidup bersama dengan Carlo.
Mendengar jawabanku yang cepat, singkat dan tanpa keraguan, membuat Carlo terlihat bingung begitu juga dengan Levin dan Fanita.
“Baiklah. Kita sepakat,” Carlo mengangkat bahunya tidak peduli karena aku hanya diam saat dia bertanya lagi untuk mendapatkan jawaban lebih jelas mengenai motivasiku melakukan perjalanan berbahaya itu. “Kalau kau gagal, aku akan menyingkirkan keluargamu. Bukan hanya Grace saja.”
“Aku tidak akan gagal,” aku meletakkan tangan kananku di dada kiriku. “Aku bersumpah. Aku tidak akan menyerah.”
Menyerah akan menjadi hal yang paling sangat sulit kulakukan.
*****