
Empat minggu berlalu sejak aku mengetahui bahwa Lucas adalah target sesungguhnya dari racun yang tidak sengaja diminum oleh Brooke. Aku sudah membiasakan diri dengan cara hidup yang berlaku di dunia ini. Lebih tepatnya di Kerajaan wilayah selatan bernama Morrow. Setiap hari, aku bangun dan makan bersama keluarga, memakai pakaian indah dan menata rambut, mencoba mengingat denah rumah Brooke yang sangat besar untukku dan aktivitas lainnya. Setiap hari aku mengunjungi perpustakaan untuk membaca semua buku terkait dunia ini.
Aku mendapatkan kesimpulan dan membuatnya menjadi sebuah daftar dengan judul Bagaimana cara menyelamatkan saudara kembarku. Aku mencoba menuliskannya dalam urutan prioritas menggunakan bahasa inggris sederhana sebab dunia ini punya bahasa tersendiri yang mereka sebut bahasa Izma yang dipakai daerah selatan dan bahasa Teezma yang dipakai daerah utara (anehnya terdengar seperti bahasa Korea dengan tulisan berbeda). Aku cukup familiar dengan kedua bahasa itu. Aku menyebutnya ‘Efek Brooke’ (aku meniru kutipan tokoh salah satu flim action favoritku. Aku menyebut diriku I am Brooke).
Terlepas dari efek Brooke yang membuatku kagum karena aku tidak perlu repot-repot lagi belajar bahasa, Brooke punya masalah soal stamina. Dia tidak melatih tubuhnya. Hal pertama yang ada dalam daftarku adalah melatih stamina dan belajar berpedang. Hal kedua adalah berusaha menjadi Brooke dan perlahan melupakan identitas lama sebagai Shin Yoo Ri.
Dua hal paling mendesak yang harus kulakukan.
“Filley!” panggilku.
“Ya, Nona?” Filley sedang menemaniku membaca buku di perpustakaan. Dia pengawal pribadiku.
“Pinjamkan aku pedangmu.”
“Tidak, Nona. Anda tidak pernah memegang pedang sebelumnya.”
Aku mendecak kesal. “Aku ingin belajar menggunakannya.”
Filley lalu menatapku dengan wajah datarnya itu. “Anda harus mendapatkan izin Duke terlebih dahulu, Nona.”
Tentu saja aku sudah meminta izin dari ayah Brooke sebelumnya.
Ayahku.
“Aku akan pastikan kau tidak dihukum karenaku. Ayolah Filley…”
Filley tidak bergeming walaupun aku sudah mulai merengek seperti anak umur lima tahun yang tidak dibelikan mainan.
“Bolehkan saya tahu alasan anda ingin belajar memegang pedang, Nona? Anda tidak pernah meminta hal ini sebelumnya. Anda tidak seperti orang yang dahulu saya kenal.”
Dia blak-blakan sekali.
Semua orang diam-diam berbisik dan berkata aku tidak seperti yang mereka ketahui dulu. Yang sama hanya kebiasaan menyendiri dengan buku.
“Anggap saja aku jadi punya banyak pemikiran baru setelah hampir mati.”
Raut wajah Filley berubah. Mungkin karena aku dengan mudah mengatakan soal ambang kematianku. Topik paling sensitif di rumah ini. Aku heran kenapa hal ini tidak boleh dibicarakan.
“Baiklah Nona. Saya akan meminjamkan pedang kayu terlebih dahulu.”
“Terima kasih, Filley.”
Membujuk Filley tidak sesulit dugaanku. Malah sangat mudah (aku sempat khawatir akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk membujuknya). Masalah lainnya adalah aku tidak bisa memakai pedang dengan pakaian sebagus ini. Pakaian yang seperti gaun dari desainer ternama. Aku harus mengenakan celana panjang seperti yang dipakai Lucas.
Hmm, apa aku ambil saja celana panjangnya dan mengembalikannya nanti?
“Nona, boleh saya tahu apa yang sedang anda pikirkan?” Filley tiba-tiba bertanya dengan raut wajah curiga. Dia pasti memperhatikan gerakan tidak sadarku dimana aku meletakkan tangan kiriku untuk menopang kepalaku. Sebatas kebiasaan saat sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
“Hmm, hanya sedang berpikir untuk meminjam celana panjang Lucas.”
Aku kemudian tertawa konyol.
“Anda ingin mencurinya?”
“Meminjam,” tegasku. Yah, walaupun yang ingin kulakukan hampir sama dengan mencurinya. “Temui aku di taman dengan pedang kayunya. Oke?”
Filley mengangguk lalu berniat mengundurkan diri. Aku mencegatnya karena merasa ada yang mengganjal pikiranku. Aku lantas bertanya padanya, “Kau tidak takut dihukum oleh Ayahku?”
Filley menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nona. Saya yakin Nona akan membela saya karena ini adalah permintaan Nona sendiri.”
Dia membuatku merasa bertanggung jawab.
Saat Filley keluar dari ruangan penuh buku itu, aku berjalan dan mulai menyusun kembali buku-buku yang kubaca kembali ke tempatnya. Dalam daftarku, prioritas ketiga yang kutetapkan adalah mengumpulkan beberapa orang yang bisa dipercaya dan diandalkan untuk pergi ke daerah utara, mencari seseorang bernama Gordon Fichser, orang yang punya cukup pengaruh untuk dapat mengantikan posisi Shaeviro di Kerajaan Morrow. Aku harus bisa menyakinkan Gordon kembali ke daerah selatan setelah semua yang dilaluinya. Shaeviro menyingkirkannya dari daerah selatan melalui sebuah konspirasi. Aku mendapatkan informasi ini dari catatan terakhir yang ditulis oleh Brooke. Brooke sangat cermat hingga menyadari bahwa Shaeviro adalah orang yang mencurigakan saat bertemu dengannya di umur dua belas tahun.
“Filley adalah salah satu orang yang harus kubawa dalam ekspedisi ke utara.”
Aku lalu bergegas menuju kamar Lucas untuk melancarkan misi mencuri celana panjang miliknya. Aku beruntung tidak bertemu Grace dalam perjalanananku.
Sepertinya Grace belum kembali dari pasar.
Dia pergi berbelanja bersama Ibunya Brooke.
Ibuku. Ingat, Prioritas kedua.
Sesuai prediksiku, Lucas tidak ada di kamarnya. Aku langsung menggeledah lemari pakaian mewah miliknya dan menemukan satu celana panjang yang bisa kupakai. Aku hanya perlu menggulung bagian bawah celana itu sekitar tiga kali lipatan. Untuk anak berumur delapan belas tahun, Lucas lumayan tinggi. Tidak lama lagi aku akan melihat dia sebagai pria dewasa yang tinggi dan tampan.
Tidak ada yang menyadari aku memakai celana Lucas di balik gaunku. Saat tiba di taman, Filley berdiri di dekat sebuah pohon besar dengan pedang kayu di tangannya. Tanpa sadar aku tersenyum lebar.
“Berikan padaku.”
Filley menyerahkannya. “Kesabaran adalah salah satu kunci belajar memegang pedang, Nona.”
“Ya, aku tahu,” sahutku.
Aku sudah pernah melewati masa-masa sulit saat berlatih judo, ujian masuk kepolisian dan berlatih menembak. Yah, walaupun itu tidak sebanding dengan ikut wajib militer.
“Nona.,” Filley memanggilku sambil melirik Jane dan Reevi yang mendekatiku serta beberapa pelayan yang menatap aneh padaku.
Aku menghela napas panjang. “Hai, Jane. Hai, Reevi,” sapaku dengan wajah pura-pura polos.
“Nona, apa yang sedang anda lakukan? Anda tidak diizinkan memegang pedang. Jika Tuan tahu…”
Jane tampak takut dan khawatir padaku. Reevi tidak mengatakan apapun tapi aku tahu dia khawatir pada Filley.
Reevi suka pada Filley.
“Aku tidak butuh izin siapapun untuk melakukan apa yang aku suka,” aku menaikkan nada suaraku. “Semua akan baik-baik saja. Aku tidak ingin melihat siapapun di taman kecuali pengawalku. Kembalilah mengerjakan pekerjaan kalian.”
Pengamatanku memberikan keyakinan bahwa tidak ada yang akan menyanggah perkataanmu selagi status sosialmu lebih tinggi dari mereka. Mereka akan lebih berhati-hati. Di dunia ini, baik daerah selatan maupun utara, hidupmu bergantung pada gelar bangsawan yang sudah melekat sejak lahir. Hal yang justru membuatku sangat kesal. Aku seperti hidup di zaman jauh sebelum Napoleon menemukan benua Amerika dan Raja Arthur belum mencabut pedang lagenda.
Setelah mereka pergi, aku kembali memusatkan perhatianku pada pedang kayu di tanganku.
“Bentuk fisikku adalah masalah terbesar,” gumamku pelan.
Aku lalu merobek bagian bawah gaunku sehingga celana Lucas yang kupakai terlihat lebih jelas. Aku pernah melihat In Ho berlatih dengan pedang kayu. Dia belajar kendo dan judo. Dari pengalaman melihatnya, penting bagiku untuk berlatih mengayunkan pedang ratusan kali.
Jadi, aku mulai merengangkan badanku, melakukan beberapa gerakan pemanasan dan bersiap mengayunkan pedang kayu itu.
“Koreksi gerakanku.”
Filley mengangguk.
Aku mencoba untuk menargetkan seratus ayunan hari ini. Di awal aku memulainya, tanganku terasa akan copot dari persendian bahuku.
“Brooke,” teriak seseorang. Aku menoleh ke arah suara itu dan menemukan Lucas setengah berlari dengan wajah marah. Aku berhenti dan mendengus kesal.
“Apa yang sedang kau lakukan, Brooke?”
Ayolah, aku baru mulai. Bahkan belum sampai tiga puluh kali.
Sejujurnya, aku berharap ayahku yang datang berteriak, bukan Lucas.
*****