Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 17



“Berani sekali kau memanggilku begitu!”


Fanita berteriak balik padaku.


Dia tidak tahu jika bicara soal adu mulut, tidak ada yang bisa mengalahkanku.


“Aku memang memanggilmu begitu. Perlu kuulangi?” aku mencoba memasang wajah paling menyebalkan. “Ah, benar juga. Apa kau sedang iri dengan gaunku?”


“Gaun?” Fanita melotot padaku. “Kau sudah gila?”


“Tidak.” Aku tertawa mengejeknya. “Bukankah kau lebih gila berharap menang dari seseorang yang mengenakan gaun? Sialan.”


Terima itu.


Aku merasa telah memberinya pukulan telak.


“Aku tidak menyangka kau bermulut sampah,” Fanita lalu menatapku dengan pandangan tajam karena tidak terima dengan perkataanku. “Siapa yang menyuruhmu datang memakai gaun? Kau mengira ini tempat untuk minum teh dan mengobrol?”


Aku juga tidak akan mengenakannya kalau bukan karena Grace. Ini pakaian kembar yang kami beli bersama. Grace berkata dengan mata bulat besar yang bersinar agar aku memakainya sebagai bentuk jimat keberuntungan. Dan pakaianku jadi kotor sekarang.


Alex kemudian muncul sebelum aku sempat membalas kata-kata Fanita. Kemunculannya membuat keheningan yang mendalam sebab dia menatap semua orang seperti sedang menembakkan laser dari matanya.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Alex sambil berjalan ke arahku.


“Aku sedang memberinya pelajaran berharga,” jawab Fanita sambil mengikuti arah pandang Alex yang hanya tertuju padaku.


“Kau sudah keterlaluan.”


“Keterlaluan?”


Aku merasa mereka akan segera bertengkar.


“Alex,” panggilku. “Dia memang memberiku pelajaran.” Aku menatap wajah Fanita dan tersenyum. “Biasanya orang membicarakan dirinya sendiri. Tahu kan maksudku, menunjuk dirinya sendiri. Dia baru saja menegaskan kalau dia bermulut sampah.”


Tampaknya, Fanita belum pernah berinteraksi dengan orang yang punya lidah lebih tajam darinya.


Dibandingkan Fanita dan murid-murid lain yang terkejut mendengar ucapanku, Alex malah tertawa dan menutup mulutnya dengan siku kirinya. Aku memandang dia dengan pandangan aneh.


“Percuma aku mengkhawatirkanmu,” kata Alex.


Dia berjongkok dan menunjukkan punggungnya padaku. “Biar kuantar ke klinik. Tanganmu terluka.”


Aku melihat tangan kananku yang lecet akibat terjatuh ke tanah.


Dia romantis juga.


Alex membuatku tidak tega menolak tawarannya dan membiarkan diriku digendong olehnya. Aku mencari keberadaan Lucas dan akhirnya bertemu pandang dengannya. Lucas benar-benar membiarkanku melawan Fanita. Aku agak kecewa. Aku berharap Lucas melakukan apa yang Alex lakukan sekarang.


“Alex!” Fanita berteriak kesal pada Alex yang sudah mengendongku.


“Jangan ganggu dia lagi,” Alex berkata dingin. Fanita tidak berkata apapun setelahnya.


Hanya Haley yang mengikutiku dan Alex ke klinik. Alex juga tidak bicara apapun sampai kami tiba di klinik.


Aku menghela napas panjang.


“Sifatnya benar-benar tidak bisa dipercaya.”


Alex sedang menyiapkan pembersih luka dan kapas. “Sifatmu juga bermasalah. Kau lupa?”


“Tidak,” jawabku malas. Aku tidak perlu tahu hal itu dari Alex yang menurutku punya sifat bermasalah juga. Dia tidak ramah pada semua orang. Kesan pertamaku juga jelek padanya.


“Apa menurutmu Lucas tidak terlalu kejam? Dia jelas membiarkanku. Dia juga tidak kemari. Dia membuatku kesal.”


Alex mengelengkan kepalanya. “Diam sebentar. Aku akan menaruh ini, jadi tahan sedikit.”


Tanganku terasa perih.


“Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu pada adiknya? Aku tidak habis pikir. Sebelumnya dia begitu peduli padaku dengan wajah khawatirnya,” keluhku.


“Itu salahmu sendiri,” Alex menutup lukaku dengan perban. “Dia trauma melihatmu pingsan dengan berlumuran darah. Dia hanya ingin memastikan kau tahu keadaan sesungguhnya dari tempat ini.”


“Aku juga punya penalaran. Aku sudah tahu.”


Aku sepenuhnya memahami makna dari kata keadaan yang diucapkan Alex.


“Ya, aku percaya kau tahu,” kata Alex. “Berhentilah mengeluh. Kau terlihat menyedihkan.”


Alex mengambil handuk basah dan memberikannya padaku.


Aku baru menyadari wajahku kotor terkena tanah.


“Lucas hanya khawatir. Tenang saja. Melihatmu tidak kenal takut seperti tadi akan membuatnya berpikir kalau kau akan baik-baik saja di masa depan. Cobalah untuk tidak mencari masalah dengan orang lain dalam waktu dekat.”


Aku bukan pembuat onar. Aku hanya sering terpancing saja.


“Terima kasih.”


Alex menatapku takjub. “Kau sudah bisa mengucapkan terima kasih.”


“Terserah,” lanjutku tidak peduli. “Dia Fanita bukan? Satu-satunya murid perempuan disini.”


Alex mengangguk.


Count Cassius tidak mempunyai anak laki-laki.


“Dia akan menjadi penerus di keluarganya?”


Alex tidak tahu. “Belum ada aturan yang memperbolehkan hal itu. Tapi tidak menutup kemungkinan.”


Hmm, menarik. Jika kelak Count Cassius mengajukan permohonan penerus wanita di keluarganya, ada jalan bagiku untuk mendapatkan jabatan secara mandiri.


Dengan begitu, prioritas keenam adalah hal yang mungkin bisa dilakukan. Mendapatkan kedudukan atau jabatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pernikahan. Yang membuat situasiku berbeda dengan Fanita adalah aku punya seorang kakak laki-laki. Tidak diragukan jika dia adalah penerus di keluargaku.


“Bagaimana jika Lucas menolak?” gumamku.


Aku butuh kekuasaan untuk melindungi keluargaku. Tidak masalah jika kekuasan itu tidak sekuat yang ayah miliki. Yang kubutuhkan adalah kekuasaan yang membuat suaraku bisa diperhitungkan dalam pengambilan kebijakan.


“Lucas? Lucas menolak apa?” Alex bertanya dengan wajah penasaran. “Kau sedang memikirkan apa?”


“Aku penasaran. Jika kakakmu menolak menjadi penerus keluarga kalian, apa alasan yang paling memungkinkan?”


“Pertanyaan macam apa itu?”


“Aku penasaran,” kataku.


“Membuatnya menikah dengan Putri Kerajaan ini?”


Raja tidak punya seorang Putri.


“Bisakah kau serius sedikit?” kesalku.


“Tidak ada pilihan lain selain membuat Ayahku memilih salah satu di antara kami.”


Pada akhirnya memang harus seperti itu.


Aku akan mencoba memikirkan solusi lain. Aku juga berpikir mengambil posisi Duke dari Lucas adalah tindakan yang tidak benar. Aku hanya belum memutuskan jabatan berpengaruh mana yang punya dampak besar untuk kuincar.


“Bicara soal rasa penasaranku, kenapa kau menghilang setelah mencium keningku, Alex?”


Aku melihat wajah Alex mulai memerah. Dia memalingkan wajahnya dan berniat untuk berdiri dari tempat duduknya. Aku langsung menahan dia dengan menempatkan kedua tanganku di pegangan kursi.


Dia tidak mungkin berpikir aku tidak akan bertanya, bukan?


“Kau…,” Alex terbata-bata saat aku mulai mendekatkan wajahku.


“Aku hanya penasaran,” jelasku. “Kau menyukaiku?”


“Siapa yang menyukaimu? Aku tidak gila,” Alex dengan cepat menyanggahnya.


Aku melepaskan tanganku dari pegangan kursi.


Alex segera berdiri membelakangiku setelah berpura-pura memperbaiki bajunya yang tampak baik-baik saja. Lalu dia berkata, “Kau hanya penasaran dan aku hanya menjawabnya.”


In Ho pernah bilang padaku bahwa tidak suka berarti sangat suka jika disanggah dengan cepat. Kalau aku tidak salah itu saat dia berencana menyatakan cinta pada adik kelas kami di sekolah menengah (kami satu sekolah).


“Oke,” sahutku. “Aku juga hanya menganggapmu sama seperti Lucas Oppa,” kataku dengan perasaan sedikit bersalah.


Mau bagaimana lagi? Aku memang menganggapnya begitu.


“Temani aku berkeliling. Aku belum melihat semua tempat.”


Alex menyetujui permintaanku.


*****