Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 23



Hari yang aku nantikan tiba.


Aku sedang menyisir bulu Light, kuda jantan yang akan kutunggangi saat berburu nanti. Aku bersenandung dengan riang dan mengajak Light berbicara.


“Kita tidak perlu menang. Kita hanya perlu bersenang-senang,” celotehku pada Light.


“Kau hanya perlu mengikuti kami dari belakang,” Alex muncul dan menggerutu padaku. “Kau tidak mau berubah pikiran?”


Alex dan Lucas menyarankanku untuk berkuda bersama mereka.


“Tidak mau,” kesalku. “Aku sudah lama membayangkan berjalan-jalan di hutan sambil menunggang kuda.”


Aku terinspirasi dari flim-flim action yang dulu kugemari. Berkuda di hutan, menyusuri sungai dan memandang pepohonan terasa begitu menyenangkan di flim. Aku mau mencobanya.


“Menyusahkan saja.”


“Aku tidak menyuruhmu menjagaku.”


Kami akhirnya berdebat seperti hari-hari biasa.


Aku kemudian melihat Grace dan Alyson datang menghampiri kami. Acara berburu biasanya dihadiri oleh bangsawan wanita dan menjadi salah satu acara sosial populer setelah pesta dansa.


Alyson tampak bersembunyi di belakang Grace.


“Hoo, Alex. Calon tunanganmu datang,” kataku dengan niat menggoda Alex sambil menyikut lengannya.


Sebelumnya, aku sudah mendengar kabar perjodohan Alexrod Bartos dengan Alyson Chamberlain. Saat aku memperhatikan lebih serius kedua orang itu, aku tidak menemukan kecocokan di antara mereka. Aku merasa kasihan kepada Alyson.


“Alyson ingin memberikan sesuatu,” ujar Grace pada Alex sambil melirikku.


Grace adalah orang pertama yang memberitahuku kabar mengenai perjodohan itu. Dia khawatir karena Alyson tidak merasa nyaman berada di dekat Alex. Alex bersikap dingin pada Alyson, berbeda jauh dari sikapnya terhadap aku dan Grace.


“Saputangan?” cetusku saat melihat Alyson perlahan keluar dari balik punggung Grace. Dia mengulurkan saputangan itu dengan tangan gemetar.


Alex adalah harimau dan Alyson adalah kelinci.


Aku teringat pada Darshan yang tidak berpartisipasi dalam acara berburu hari ini. Darshan menghindar dan aku menghormati keputusannya itu. Dia lebih memilih belajar di perpustakaan. Mengenai respon ayahnya, Darshan bilang dia dipukul beberapa kali. Aku kasihan pada Darshan.


Aku merasa kasihan pada Alyson dan Darshan.


“Indah sekali. Kau berbakat.” Aku memberi pujian tulus kepada Alyson. “Alex lihat ini.”


Alex menatap saputangan itu tanpa niat untuk mengambilnya dan berkata, “Terima kasih.”


Setelahnya, Alex pergi begitu saja. Aku ingin meneriakinya tetapi aku melihat Alyson bernapas lega hingga dia terduduk di rerumputan. Dia terlihat sangat takut pada Alex dan Grace menenangkannya.


“Apa perjodohan kalian tidak bisa dibatalkan saja?”


Aku tidak bisa membayangkan betapa canggungnya mereka berdua jika benar-benar menikah. Pasti sulit bagi Alyson hidup bersama Alex yang secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka padanya. Tentu saja, akulah penyebabnya. Aku merasa bersalah pada Alyson namun tidak bisa berkata jujur mengenai Alex yang sebenarnya menyukaiku (aku yakin Alex akan mengungkapkan isi hatinya suatu hari nanti).


“Brooke, kau tidak boleh berkata seperti itu,” Grace menasehatiku.


“Maaf.”


Grace memintaku untuk berhati-hati selama berada di dalam hutan lalu membawa Alyson pergi. Lucas dan Fanita mendekatiku tak lama berselang.


“Alyson baik-baik saja?” tanya Lucas. “Aku tidak mau mengganggu kalian tadi.”


“Seperti yang kita tahu, Alex membenci perjodohannya,” jawabku seolah tidak peduli. Aku tidak merasa berkewajiban untuk menjelaskan sikap Alex barusan pada Lucas dan Fanita. Biar mereka sendiri yang tanyakan.


“Kalau jadi Alex aku juga tidak akan menyukainya,” Fanita berkata sinis.


“Cih.”


“Lihat sikapnya, Oppa.”


Lucas hanya tersenyum. “Aku akan memeriksa tali kekang Light.”


Fanita tidak berbohong ketika dia bilang mereka berteman karena saling memahami.


“Aku tidak membenci semua wanita. Hanya yang spesifik saja,” Fanita mengajakku bicara setelah kami melihat Lucas sudah memegang tali kekang Light.


“Spesifik?”


Fanita menatapku dari atas sampai bawah. Tidak menjawab pertanyaanku dan menganti topik pembahasan.


“Carlo menitipkan sesuatu untukmu.”


Fanita mengeluarkan saputangan dari sakunya. “Dia memberi perintah supaya aku menyerahkan ini kepadamu secara diam-diam.”


Aku menerimanya dengan ekspresi wajah terkejut. “Kenapa dia memberiku saputangan?”


“Kau tanyakan saja sendiri,” Fanita berujar ketus. “Aku memperingatkanmu untuk tidak menimbulkan masalah apapun hari ini. Jangan hilang dari pandangan Lucas maupun Alex.”


Sehabis mengancamku demi kebaikanku, Fanita berjalan melewatiku menuju tempat Lucas berdiri. Sesaat aku bersyukur kami berada di regu yang berbeda sehingga aku tidak perlu bersiap menghadapi sifat emosiannya itu.


Aku mengamati saputangan itu dengan seksama. Anehnya, aku tidak merasa berdebar-debar atau senang.


Aku punya sebuah dugaan.


Selama ini, aku bermimpi tentang ingatan Brooke di beberapa tahun ke depan dimana Carlo, sang Putra Mahkota selalu tersenyum pada Brooke (atau aku melihatnya tersenyum pada Grace). Dan aku melihatnya menangisi Grace yang sudah terbunuh. Tidak ada yang istimewa seperti mimpiku mengenai Levin.


Ada perasaan tertentu yang kurasakan hanya pada Carlo dan Levin.


Bagiku ini seperti sebuah pesan rahasia dari Brooke (aku berhenti menyebutnya kutukan cinta dan kembali menggunakan istilah efek Brooke).


Yang menjadi dugaanku adalah Aku berdebar-debar seolah jatuh cinta hanya saat Carlo tersenyum.


“Itu sebabnya aku tidak nyaman melihat Carlo tersenyum terus menerus,” gumamku. “Selain karena aku merasa senyuman itu palsu.”


Senyuman palsu Carlo terlihat menyedihkan di mataku.


Di kehidupan lamaku, aku berbagi banyak cerita bersama teman-temanku sambil minum soju. Kami sering memperagakan bagaimana kami pura-pura tersenyum di hadapan atasan atau rekan kerja kami yang menyebalkan.


Apakah Brooke mengharapkan sesuatu dari senyuman Carlo? Cinta seperti apa yang sebenarnya dia rasakan?


“Aku harus membuktikan dugaanku,” tekadku sambil memandang saputangan dari Carlo. “Harusnya dia meninggalkan sebuah jurnal atau bertemu saja denganku dalam mimpi,” keluhku kemudian. Aku tidak tahu hidup bereinkarnasi ternyata sesulit ini.


 


Suara terompet dibunyikan, tanda acara berburu resmi dimulai.


Aku, Lucas dan Alex memasuki hutan. Kami berpisah dengan Fanita yang bergerak dalam regu yang dipilihkan Sir Oswald. Saat masuk lebih dalam, aku merasa tenang memandangi pepohonan sambil berbincang dengan Lucas yang berkuda di sampingku sementara Alex yang berada di belakangku hanya diam mendengarkan kami. Aku menebak mood Alex berubah menjadi buruk karena bertemu dengan Alyson.


Hutan Tasi mempunyai pepohonan tinggi berimpitan dan jalan tanah yang basah. Aku sempat bertanya pada Haley apakah Hutan Tasi mempunyai kemiripan dengan Hutan Sebenius dan Haley menjawab keduanya tidak mirip sama sekali.


Hutan sebenius mempunyai pepohonan yang jauh lebih tinggi dan tanah yang lebih basah. Jika kau tidak beruntung, kau akan bertemu dengan lumpur hisap. Hutan itu terletak di antara wilayah utara dan selatan. Jaraknya sekitar enam hari dari ibukota Kerajaan Morrow. Jika sudah berada sekitar dua hari dari Hutan tersebut, kau akan melihat dengan jelas pohon kehijauan dan pohon tertutup salju. Oleh sebab itu, Hutan sebenius disebut hutan empat musim karena hanya hutan itu yang mengalami total empat musim dari masing-masing wilayah.


Kurang dari tiga tahun lagi aku akan melewati hutan itu.


*****