Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 4



“Brooke!”


Lucas benar-benar tampak marah. Ada anak lain yang tampak seumuran dengannya berdiri tak jauh dari Lucas. Aku tidak mengenalinya.


“Oppa sudah kembali?”


Aku berusaha mengucapkannya dengan nada manis dan imut seperti Grace.


“Kau! Kemarikan pedang kayu itu.”


Lucas mencoba merampasnya dariku. Namun, Filley segera menghalangi tangan Lucas.


“Filley! Beraninya kau menghalangiku.”


Filley menoleh ke arahku dan aku mengangguk pelan. Filley segera menyingkir dari hadapan Lucas dan berdiri di belakangku. “Filley adalah pengawalku dan aku memerintahkannya untuk menghalangi siapapun yang mendekatiku tanpa izin, Oppa.”


“Izin?” Lucas tercengang. “Dia harusnya tahu aku kakakmu dan tidak perlu izin untuk mengambil pedang kayu itu,” Lucas berbicara dengan nada tinggi. Dia benar-benar tampak marah.


“Aku juga tidak perlu izin untuk belajar memegang pedang.”


Aku membalas ucapan Lucas dengan tegas dan menatap lekat matanya. Kami berlomba saling menatap. Ada keheningan yang menyelimuti kami sebelum akhirnya anak yang datang bersama Lucas mengucapkan salam padaku.


“Selamat siang, Brooke.”


Dia tersenyum. Senyum mengejek yang langsung membuat tekanan darahku naik.


“Siapa?” tanyaku dengan suara lembut, berusaha tetap bersikap sopan.


“Ternyata benar. Lucas mengatakan kau hilang ingatan dan jadi aneh.”


Dia tersenyum di sudut bibirnya. Benar-benar menjengkelkan.


“Lucas, tenanglah. Kau hanya perlu melaporkan ini pada Ayahmu dan Brooke akan dikurung di kamarnya sepanjang hari sampai dia sadar.”


Sadar katamu? Dasar bocah sialan.


“Brooke,“ Lucas memanggilku dengan suara pelan. Tatapannya mulai melembut. “Pedang hanya akan menyakitimu. Memegang pedang berarti kau siap untuk melihat darah.”


Benar. Di dunia ini, pedang digunakan untuk berperang. Pedang adalah pelindung dan senjata untuk membunuh. Bangsawan bisa membunuh orang yang melawan perintahnya atau berkhianat padanya. Eksekusi. Mereka menyebutnya begitu. Tidak ada batasan hukum yang jelas yang mengatur kekuasaan bangsawan.


“Aku butuh pedang untuk melindungi hidupku, Oppa.”


“Aku yang akan melindungimu,” Lucas menunjuk dirinya sendiri. “Aku bersumpah akan melindungimu, Grace dan keluarga ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menaruh racun bahkan menggoreskan luka padamu.”


Terdengar mengesankan namun aku menggelengkan kepalaku. “Tidak. Kita akan melindungi semua hal penting bersama-sama.”


Prioritas pertama yang ada dalam daftarku bertujuan untuk melindungi hal yang berharga bagi Brooke. Yang tidak lain adalah diriku sekarang. Dan juga berharga bagi Grace. Yang tidak lain adalah orang yang ingin aku selamatkan. Aku tidak bisa hanya mengandalkan Lucas atau Filley.


“Kau bicara seperti seorang pahlawan hebat.” Anak yang menyebalkan itu kini menunjukkan raut wajah masam. “Kau menghina kami yang belajar berpedang. Kau pasti menganggap ini mudah. Sebagai informasi tambahan, di Kerajaan ini, hanya ada sepuluh kesatria wanita. Kau tau alasannya?”


“Mereka mati. Hampir semuanya mati karena wanita pada dasarnya tidak sekuat pria. Pada akhirnya, sepuluh kesatria wanita yang masih hidup itu berhenti menjadi kesatria saat perang telah usai. Mereka menjadi gila karena melihat begitu banyak darah teman seperjuangannya.”


Aku kemudian melihat dia menatapku dengan wajah seolah aku tidak tahu apa yang dinamakan kenyataan dalam hidup.


Alexrod Bartos.


Aku baru ingat nama lengkapnya. Lucas berkata akan pergi menemui teman dekatnya, anak dari Marquess Herry Bartos.


Aku menatap pedang kayu di tanganku. Kemudian menatap Alex dengan penuh amarah. Aku sengaja menunjukkan wajah marahku padanya. Aku melemparkan pedang kayu itu tepat di depan kaki Alex.


“Kau menyerah?” Alex menyeringai.


“Tentu saja tidak,” jawabku sambil berjalan mendekati Alex.


Baiklah. Aku akan memberinya pelajaran berharga.


Tendangan samping.


Aku menendang wajahnya.


“Dengar, jangan pernah mengatakan mereka gila walaupun itu yang terjadi,” kataku dengan nada mengancam. Aku menunduk menatap Alex yang terbaring di tanah. Terkejut sampai tidak bisa berdiri. Lucas juga tidak membantunya berdiri karena dia membeku melihat apa yang telah terjadi. Aku masih ingat gerakan judo yang kulatih bertahun-tahun dan tubuh Brooke menuruti kehendakku untuk melakukan gerakan itu (aku cukup beruntung kali ini).


Bagus juga. Gerakan judo dan kemampuan menggunakan pedang akan jadi kombinasi yang hebat.


“Orang yang maju untuk berperang adalah orang-orang hebat yang meninggalkan segalanya untuk melindungi orang yang tinggal.” Aku mendekati Alex dan berjongkok di sampingnya. “Aku juga tidak menyebut ini mudah. Tidak ada yang mudah bagiku. Jadi, berhentilah mencoba menyelesaikan masalah dengan cara mengadu pada orang tua. Bocah sialan.”


Dia pasti tidak tahu istilah PTSD.


Aku yakin para kesatria wanita itu hidup dalam penderitaan karena stress pasca trauma dan Alex membicarakannya seakan itu bukan masalah serius.


“Oppa, kita akan bicarakan masalah ini dengan Ayah,” kataku pada Lucas dengan tetap menatap tajam mata Alex. “Aku akan tetap pada keputusanku saat ini.”


Aku berdiri dan berjalan mendekati Lucas. “Oppa, aku menyayangimu. Tetapi kau harus biarkan aku melakukan ini untuk diriku sendiri.”


“Brooke..” Lucas tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia masih menatapku tidak percaya karena baru saja menghajar Alexrod, teman dekatnya dan menyebutnya dengan sebagai bocah sialan. Lucas tidak percaya adiknya mengumpat pada temannya.


“Oppa, aku akan memanggil tabib untuk mengobati lukanya,” ujarku. Setelahnya, aku berjalan beberapa langkah melewati Lucas.


“Filley!” teriakku kemudian. “Kau tidak mengikutiku?”


Filley mengangguk. Dia juga terkejut hingga ragu apakah dia harus mengikutiku atau tidak. Aku merasa sudah menimbulkan masalah besar hari ini. Aku menghajar anak kedua dari keluarga Bartos. Sayangnya, aku tidak menyesal. Dia pantas mendapatkannya setelah semua omong kosongnya mengenai loyalitas para kesatria wanita. Prioritas ketujuh dalam daftarku. Mencoba mengubah pandangan terhadap kesetaraan dan tugas seorang wanita.


Aku lalu berbalik karena ingin mengatakan sesuatu.


“Oh ya, Alex Oppa. Ngomong-ngomong, jika aku dikurung nantinya, aku hanya tinggal kabur saja.”


*****