
Ada banyak mata yang menatapku. Aku pasti mengambil perhatian mereka karena berjalan di koridor akademi didampingi seorang kesatria terkenal (Haley lebih populer dari perkiraanku). Aku sudah menyelesaikan ujianku dan secara ajaib prediksi Lucas masuk hampir sembilan puluh persen. Aku sangat berterimakasih padanya. Aku lalu berkeliling dengan rasa ingin tahu yang besar mengenai tempat itu sekaligus ingin bertemu dengan Fanita Cassius, satu-satunya murid perempuan di akademi itu.
Ketika berjalan-jalan, aku bertatapan dengan beberapa anak laki-laki yang seumuran dengan Lucas. Aku jadi teringat pada Levin. Aku tidak tahu dimana dia berada. Aku juga tidak bermimpi lagi padahal aku sangat mengharapkannya (aku hanya penasaran saja mengenai hubungan dia dengan Brooke). Bagaimana kalau aku tidak bertemu dengannya lagi? Aku pasti kecewa. Prioritas tambahanku adalah membuat Levin berada di pihakku.
Aku butuh pembunuh bayaran seperti dia. Maksudku, tidak mungkinkan aku disambut baik begitu saja di Kerajaan Kirkuz. Aku butuh orang yang punya insting tajam agar kelompokku tetap aman. Selain itu, dia juga memilih menyelamatkanku.
Aku yakin pertumpahan darah tidak bisa dihindari. Jika di Kerajaan Morrow saja ada Shaeviro, di Kerajaan Kirkuz pasti ada Shaeviro sialan lainnya. Makanya, tidak pernah ada kata damai.
Selagi aku merenungkan hal itu dengan sungguh-sungguh, aku mendengar suara Lucas. Dia sedang berdiri sendirian dan melambaikan tangan padaku. Aku melambaikan tanganku membalasnya kemudian berjalan mendekat sambil mengutuk gaun yang kukenakan.
Lucas sudah berhenti mogok bicara padaku.
“Bagaimana ujianmu?”
Aku mengatakan pada Lucas semua sesuai prediksi darinya.
“Itu dari Alex.”
“Apa?”
“Alex lebih pintar daripada dugaanmu, Brooke.” Lucas tersenyum geli. “Dia bertindak sesuka hati tetapi dia pintar.”
“Citra itu tidak sesuai dengannya,” aku memberi respon tidak percaya. “Dimana Alex? Aku tidak melihat dia. Apa dia sakit?”
Aku tidak pernah melihatnya lagi setelah dia mencium keningku. Aku heran apakah pantas setelah mencium keningku dia bisa pergi seenaknya begitu saja? Si sialan itu.
“Dia tidak sakit,” Lucas mengerutkan keningnya. “Aku juga heran kenapa dia tidak datang ke rumah kita lagi. Kalian bertengkar?”
“Aku tidak tahu itu bisa disebut pertengkaran,” kataku. “Lupakan soal dia. Aku ingin bertemu dengan Fanita Cassius. Dia biasanya ada dimana?”
“Mungkin di tempat latihan. Mau kesana?”
Lucas mengajakku ke tempat yang digunakan murid-murid untuk berlatih bertarung. Bertahan dan menyerang. Mereka berlatih berpasangan dengan seragam yang menurutku keren. Saat mereka menyadari kehadiranku yang sedang mengandeng tangan Lucas, latihan mereka menjadi berhenti secara serempak.
Ada apa dengan mereka?
Lucas menyapa dengan hormat seorang pria umur empat puluhan yang dia sebut Sir Oswald. Dia memperkenalkanku juga.
“Tolong ajari dia dengan keras, Sir.”
Aku mempertanyakan maksud kata ‘keras’ yang diucapkan Lucas. Dia tidak berharap aku berhenti karena tidak sanggup, bukan?
“Tentu saja.”
Pembicaraan formalitas yang membuatku kesal. Sir Oswald lalu membubarkan latihan hari itu.
“Lucas, dia adikmu?” salah satu murid disana bertanya dengan antusias. “Dia cantik seperti yang kudengar.”
Mereka tiba-tiba berkerumun di sekitarku.
“Kapan kau mulai belajar?” tanya si berisik satu.
“Mau kuajak berkeliling?” tanya si berisik dua.
“Kau tidak perlu khawatirkan soal makanan disini. Disini banyak makanan lezat,” kata si berisik tiga.
Dan seterusnya.
Aku lupa memberi perintah pada Haley untuk menghalangi murid-murid yang mendekatiku kurang dari satu meter. Bicara soal Haley, tampaknya dia tidak berniat membantuku keluar dari situasi ini sama seperti Lucas.
Mereka membiarkannya.
“Ya!” aku mendengar suara teriakan wanita.
Aku berjinjit untuk melihat asal suara itu.
“Kalian sedang apa? Dia juga akan berhenti dalam beberapa hari. Dia bahkan tidak cantik. Cih.”
Pendengaranku masih berfungsi dengan baik.
Dia punya masalah denganku ya?
Aku jadi mengumpat dalam diam karena mendengar ucapan wanita itu. Aku tidak terang-terangan mengatakan bahwa aku cantik karena tidak ingin menyombongkan diri tapi lihat dia, memandangku rendah dari atas sampai bawah. Lucas juga hanya tersenyum mengamati dan itu menjengkelkan.
“Kau adiknya Lucas?” Dia berkata dengan pedang kayu yang diletakkan di pundaknya. “Rambut pendek?”
Aku merasa tidak ada yang salah jika rambutku tidak sepanjang rambutnya.
“Selamat siang. Saya Brooke Cohenherb.”
Aku berusaha berbicara dengan sopan karena tidak mau terlibat pertengkaran yang mungkin akan mempengaruhi hasil penerimaanku. Melihat seragam yang dikenakannya, dia pasti murid perempuan itu. Fanita Cassius.
“Kami bahkan tidak seumuran.”
Fanita seumuran dengan Lucas dan Alex.
“Bocah pergilah sebelum menyesal,” dia tersenyum remeh padaku. “Lucas, segera antar adikmu pulang. Nanti dia menangis.”
Aku merasa ada kontak mata dengan maksud tertentu di antara keduanya.
“Dia akan pulang jika dia menginginkannya,” Lucas menjawab. Setelah itu, dia menunduk untuk berbisik padaku. “Kau tidak berpikir semua orang akan menerimamu begitu saja, bukan?”
Aku tertawa miris dalam hati karena ucapannya benar. Aku hanya berharap setidaknya Lucas bisa membelaku di depan teman-temannya.
Dia punya gen ayahku.
“Kita bertarung saja. Aku tidak suka harus berbagi kamar denganmu. Pergilah jika kau kalah dariku.”
Aku juga tidak menyukai ide berbagi kamar jauh sebelum aku mengikuti ujian masuk. Namun pihak akademi tidak mau repot menyediakan kamar baru untukku. Wajar saja, setiap kamar diperuntukkan untuk dihuni oleh dua orang murid. Aku tidak bisa protes pada keputusan yang dibuat petinggi tempat ini.
“Maaf, tapi sepertinya itu tidak baik untuk dilakukan.”
Aku tidak bisa berduel dengan memakai gaun.
“Ternyata kau seorang pengecut.”
Fanita memasang wajah remeh lagi. Aku hampir naik pitam.
Haley mendadak maju dan berkata, “Anda hanya akan menyakiti diri sendiri dengan mengajak Nona Brooke bertarung.”
Aku terperangah.
Haley telah menyiram minyak ke kobaran api. Aku menjerit di dalam benakku.
“Haley, kau sedang bicara apa?” aku berbisik pelan dan menarik lengan bajunya. Tetapi Haley mengedipkan mata padaku seolah dia sudah berjasa membantuku. Aku ingin mengutuknya.
“Dia ternyata seorang jagoan.”
Dari sudut pandangku, itu sebuah hinaan.
Fanita mengangkat pedang kayu di pundaknya lalu memutar-mutar dan menancapkannya ke tanah. “Pakai itu,” perintahnya.
Aku terjebak dalam situasi dimana aku harus melawannya. Banyak mata sedang memperhatikanku. Ada yang protes, ada yang diam saja, ada yang mengamati seperti sedang menonton sesuatu yang menarik dan ada yang mendukungku.
Saat aku memikirkan bagaimana bergerak dengan gaun yang kupakai, Lucas sudah berdiri menjauh mengambil posisi untuk menonton.
Dia masih tidak setuju ya?
Aku tahu Lucas berubah pikiran sama seperti ayah. Dia tidak mendukungku lagi tapi sudah terlanjur berjanji untuk membantuku. Dia mungkin berpikiran bahwa aku akan menyerah setelah dipermalukan (teknisnya, semua orang menganggap Brooke pintar jadi mereka yakin dia akan lulus ujian masuk).
“Cepatlah sedikit,” Fanita berteriak kesal.
Dia tidak sabaran sepertiku. Aku akhirnya tahu seberapa menyebalkannya diriku yang bersikap seperti itu. Aku menarik pedang kayu yang tertancap dan melihat Fanita sudah ada dalam posisi bertahan. Kakinya tampak bisa maju untuk menyerang dengan cepat.
Aku yakin Fanita tidak akan bertindak lembut padaku yang mengenakan gaun.
Orang-orang sudah mengosongkan area bertarung kami dan berdiri melingkari area itu. Aku merasa seperti seorang gladiator.
Aku hanya bisa bertahan dengan pedang dan menyerangnya dengan tendangan berputar.
Itulah rencanaku.
Tapi dia juga punya rencana. Fanita menyerang perutku di bagian bawah setelah membiarkanku menyerangnya terlebih dahulu. Aku tidak sempat bertahan.
“Kau kesakitan?” Fanita melihatku tanpa berniat membantuku berdiri. “Ini yang akan kau rasakan seterusnya jika berada di tempat ini, jadi pulanglah. Dasar anak manja.”
Aku mengepalkan tanganku.
“Kau marah pada anak manja?” kataku sambil berusaha bangun dan berdiri tegak. “Artinya kau juga manja. Kau iri sampai mulutmu tidak bisa mengatakannya.”
“Apa katamu!”
“Aku bilang kau manja, dasar kurang ajar!”
Aku berteriak dengan emosi. Sekali lagi, aku kehilangan pengendalian diri.
Persetan dengannya. Akan kulupakan niat baikku untuk bergaul dengannya.
*****