Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 27



Fanita bersandar di dinding kamar kami, mengamatiku yang sedang mengemasi barang-barangku. Kami tidak bicara sepatah katapun sejak dia menamparku. Aku penasaran kenapa di siang hari dia ada di kamar bukannya mengerjakan sesuatu yang penting bersama Lucas atau Alex.


Suasana semakin tidak nyaman.


Kuputuskan untuk mengajaknya bicara duluan. “Aku akan pulang selama beberapa hari.”


Fanita tetap menatapku dalam diam. Aku lalu mengangkat ranselku dan tidak berharap banyak mengenai keramahannya. Sejak awal, kami sepakat saling mengacuhkan satu sama lain.


“Kau mau pergi ke rumahmu atau menemui dia?” tanya Fanita tiba-tiba.


Aku melihat Fanita yang menatapku penuh rasa curiga.


“Dia itu siapa?”


“Pria yang menggendongmu melompati pepohonan.”


Mataku mulai melebar.


“Kau….”


“Aku melihatnya,” Fanita memotong ucapanku dan berjalan perlahan mendekatiku. Mengambil ranselku dan mencampakkannya ke lantai. “Siapa dia? Kau harus berkata jujur.”


Fanita kemudian meraih pakaianku dan membuat napasku tercekat.


“Dia orang tidak dikenal itu, bukan? Kau berbohong untuk banyak hal kemarin.”


“Aku bisa jelaskan.”


“Jelaskan dengan kejujuran,” Fanita berkata dengan suara mengancam. “Aku bukan Lucas yang mencoba percaya tanpa bertanya apapun padamu. Aku bukan kakakmu, bukan keluargamu dan bukan temanmu.”


Cengkraman di pakaianku terasa lebih kencang.


“Aku tidak akan menipumu. Kita hanya tidak bisa membicarakannya disini. Dan sejujurnya aku tidak ingin melibatkanmu.”


“Aku sudah terlibat dan jangan membuang waktuku.”


“Baiklah. Tetapi kita harus bertemu Haley,” kataku. “Kita akan membahasnya bersama Haley.”


Fanita tidak melepaskan tangannya. Matanya seolah bertanya alasan Haley harus diikutkan dalam pembicaraan ini.


“Haley juga harus tahu. Kita bicara sambil minum.”


“Minum?” Fanita bingung. “Memangnya kau boleh minum?”


Sekarang dia terdengar seperti sedang meremehkanku. Jika aku bilang usiaku dua puluh delapan tahun, dia pasti berpikir aku sudah gila.


“Aku suka alkohol.”


Fanita menatapku dengan pandangan aneh untuk waktu yang lama sampai akhirnya melepaskan tangannya. Dia mengeluarkan tasnya dan memasukkan beberapa pakaian dengan acak. Aku bersyukur karena dia menyetujui permintaanku.


“Jika kau menghindar, aku akan segera memberitahu Lucas apa yang aku lihat di hutan waktu itu.”


“Tenang saja. Minum adalah keahlianku.”


Aku dan Fanita berjalan bersama tanpa bicara setelahnya. Aku ingin bertanya dimana Lucas dan Alex pada Fanita tetapi aku mengurungkan niatku ketika melihat dia menatapku seperti seorang penjahat. Kami menaiki kereta kuda yang kusewa dan sampai ke rumahku. Aku disambut baik oleh para pelayan dan juga kesatria yang tampak terkejut melihatku datang membawa seorang teman. Teman yang cukup terkenal (Fanita punya reputasi yang baik di antara para kesatria).


“Dimana Haley?”


“Mengawal Ayah anda, Nona,” jawab Jane.


Aku mengangguk.


“Fanita Cassius adalah tamuku. Dia akan menginap selama beberapa hari. Tolong perlakukan dia dengan baik.”


Aku menyuruh Jane mengantar Fanita ke kamar tamu dan berbisik pelan kalau aku akan bertemu Grace sebentar lalu bicara dengannya.


Ternyata, Grace sedang belajar bersama Nyonya Dusay.


“Maaf jika kehadiran saya mengganggu pelajaran anda,” kataku dengan sikap sopan.


Nyonya Dusay tidak menyukaiku. Dia tidak pandai menyembunyikan perasaannya.


Nyonya Dusay mengundurkan diri dari ruangan itu.


“Dia menyebalkan,” keluhku pada Grace. “Bagaimana kabarmu?”


“Aku sedikit merasa bosan,” jawab Grace sambil tersenyum. “Senang melihatmu pulang Brooke. Kau baik-baik saja? Kemarin pasti kau sangat ketakutan.”


Aku masih ingat Grace memelukku dan menangis setelah Fanita menamparku. Grace pasti sama terkejutnya dengan murid-murid lain.


“Tindakannya sudah tepat. Aku memang pantas ditampar,” aku tertawa kecil. “Apa Ayah atau Ibu berkata sesuatu tentangku?”


“Mereka khawatir tetapi tidak menyalahkan Lucas.”


“Senang mendengarnya.”


Aku meminta Grace untuk memberi salam pada Fanita yang ada di kamar tamu. Aku menyakinkan Grace bahwa Fanita tidak bermaksud buruk padaku. Dia menamparku karena dia mengkhawatirkanku (awalnya aku pikir begitu).


Saat malam tiba, aku mengajak Fanita dan Haley berjalan-jalan di taman.


“Kau mau minum alkohol di taman?” tanya Fanita dengan nada sinisnya. “Jangan membuang waktuku. Ingat?”


Aku menghela napas pendek.


“Tidak bisakah kau sabar sedikit? Mana mungkin aku mengajakmu ke gudang rahasia begitu kita selesai makan malam bersama orang tuaku.”


Gudang rahasia adalah tempat aku dan Haley menyembunyikan barang-barang yang kami beli untuk rencana ekspedisi ke utara. Haley bertugas mengatur persiapan peralatan yang kami butuhkan untuk melewati hutan berbahaya itu. Tanaman obat yang dikumpulkan Darshan juga aku simpan disana. Haley dan Darshan sudah tahu tujuanku ke utara. Mencari seseorang bernama Gordon Fichser.


“Gudang apa katamu?” Fanita menatapku. “Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?”


“Kau akan mendengarkan semuanya.”


Aku sedikit menyesal tidak mengajak Darshan. Aku jadi harus mengulangi cerita yang sama kepadanya nanti. Prioritas keempat adalah alasanku pulang ke rumah. Aku harus mengajari Grace (memaksa boleh juga) menggunakan senjata. Aku semakin khawatir setelah tahu Carlo punya masalah pada jantungnya. Kalau aku tidak tahu wajahnya sejak awal, aku mungkin berpikiran dia hanya pria yang lebih cantik dari wanita (aku) bukan pria lemah (lemah karena masalah jantung).


Jantungku berdegup lagi mengingat senyuman Carlo.


Selera priaku tidak mendekati Carlo sama sekali. Masalahnya bukan diriku, melainkan Grace. Dia juga lemah. Pria yang tidak bisa melindungi kekasihnya dan wanita yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Rumit sekali.


Bukan keren tetapi tragis.


“Brooke,” panggil Haley. “Dia salah satu dari enam orang?”


Haley menyarankan jumlah maksimal orang yang bisa diajak untuk pergi ke utara. Akan sulit bergerak dalam kelompok besar.


“Belum pasti,” sahutku sambil tersenyum kecil padanya. Haley yang biasanya mencoba memahami semuanya sendirian akhirnya bertanya tentang Fanita.


“Kalian berdua mencurigakan,” Fanita menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Haley. “Kau orang utara.”


“Memangnya kenapa dengan orang utara?” kataku cepat dengan raut wajah marah. “Kau orang yang berpikiran sempit ya?”


Ini bukan pertama kalinya aku mendengar seseorang mempertanyakan wilayah asal Haley. Kemanapun Haley pergi bersamaku, orang-orang akan melirik tertarik padanya atau berbisik-bisik di depan wajahnya. Aku tidak menyukai orang yang membeda-bedakan orang lain berdasarkan ras atau asal wilayahnya. Kita tidak bisa menentukan dimana kita ingin lahir dan keluarga seperti apa yang kita mau, jadi konyol bagiku melihat orang yang berpikir orang lain lebih rendah darinya hanya karena mereka berbeda sejak lahir.


“Aku tidak seperti itu,” bantah Fanita tidak kalah cepat. “Dia pasti kesulitan hidup di selatan.”


“Kesulitan? Haley?”


“Kukira kau pintar,” sindir Fanita. Dia lalu menatap Haley dari atas sampai bawah. “Siang hari pasti membuatmu gila.”


Fanita menjelaskan padaku jika orang utara terbiasa hidup dengan cuaca dingin yang ekstrem. Aku pernah membaca hal tersebut di buku. Aku merasa tidak enak pada Haley.


“Aku tidak memperhatikanmu dengan baik, Haley,” sesalku. Sepertinya aku mengabaikan fakta itu dan memilih bersikap serius terhadap pemikiranku yang lain.


“Kau harus mulai mengeluh padaku.”


Haley menggelengkan kepalanya.


“Saya sudah terbiasa.”


Suasana diantara kami bertiga berubah canggung. Aku mengambil inisiatif dengan berkata agar kami kembali ke dalam rumah dan saat pukul dua dini hari, aku akan menjemput Fanita bersama dengan Haley. Aku akan memperkenalkan dia dengan gudang rahasiaku.


*****