
Akan kuceritakan awal mulanya aku berteman dengan Darshan. Salah satu orang yang kupaksa ikut dalam ekspedisiku ke utara.
Hari pertama di akademi.
Aku merasa mengantuk mendengar penjelasan guru sejarah dan berharap waktu cepat berlalu karena aku lebih tertarik pada pelajaran geografi (aku harus mengingat letak pembagian wilayah di kedua Kerajaan) dan politik (ini juga berhubungan dengan daftarku). Aku lalu mengalihkan pandanganku keluar jendela dan tidak sengaja melihat bayangan seorang murid laki-laki yang menyelipkan sebuah buku lain di atas buku pelajarannya.
Aku pernah membaca komik dengan cara itu.
Dia membuatku mengenang kembali masa sekolahku dulu dan tiba-tiba aku menjadi penasaran tentangnya. Dia tidak termasuk orang yang sok akrab denganku saat aku tiba di kelas untuk memulai pelajaran pertamaku. Aku tebak dia tipe murid tidak terlihat di kelas. Biasanya selalu ada tipe populer, biasa saja dan tidak kelihatan.
Saat makan siang, Lucas dan Alex serta Fanita (tiga lagenda sekolah) sudah menungguku untuk makan siang bersama. Mereka ternyata teman akrab. Fakta itu membuatku mau tidak mau menghabiskan waktu makan siang bersama Fanita, teman sekamarku. Kami tidak bisa menghindari aturan dimana kami harus berbagi ruangan. Dia menggambar garis sebagai batas wilayah kekuasaannya.
“Kita harus akur,” saranku di hari aku pindah ke asrama. “Hanya ada kita berdua disini.”
Sayangnya, aku memang tidak punya teman wanita lain di akademi.
“Bersikap acuh akan membuat hubungan kita akur,” Fanita berkata ketus padaku.
Sejak awal, aku bukan orang yang akan cari masalah duluan.
“Tentu saja,” aku menyetujuinya.
Selama makan siang, aku tidak banyak berbicara.
Ketika aku akan bersiap mengikuti kelas Sir Oswald, aku tidak sengaja melihat murid laki-laki yang kini kujuluki hantu. Alasannya, dia menghilang saat aku berbalik ke belakang untuk berkenalan sesudah kelas dibubarkan. Aku sampai heran bagaimana dia menghilang tepat setelah guru keluar.
“Hei,” teriakku ke arahnya dan berjalan mendekatinya. Dia melihatku dan menghilang di balik belokan koridor.
“Dia kemana?” kataku sambil melihat kiri dan kananku. “Dia tidak ikut kelas berikutnya?”
Aku pun beranjak dari tempat itu.
Sir Oswald, guru yang kukenal melalui Lucas secara khusus memberi perhatian lebih padaku. Dia memberikan latihan tambahan hanya untukku.
“Stamina dan fisikmu tidak sebagus Fanita Cassius. Kalian berbeda dan butuh waktu bertahun-tahun bagimu untuk bisa sekuat dia,” Sir Oswald menjelaskan lebih lanjut. “Kau harus unggul dalam satu hal. Kecepatan berlari. Fisikmu cukup mendukung untuk bisa berlari lebih cepat dari rata-rata pria.”
Aku paham maksud dari Sir Oswald. Jika aku membandingkan diriku dengan Fanita, dia jauh lebih tinggi, punya otot lengan, postur tegak dan garis bahunya lebih lebar dariku. Sir Oswald mungkin khawatir denganku yang tampak mungil dan rapuh.
Oleh sebab itu, aku disuruh berkeliling lapangan latihan sebanyak dua puluh kali di sore hari.
Hari kedua.
Aku merasakan kram di betisku dan dibuat sangat menderita sepanjang malam. Aku memasuki kelas tanpa semangat, duduk lalu tersenyum seadanya pada murid lain yang mengajakku bicara. Aku tidak melihat si hantu itu. Di tengah-tengah pelajaran geografi, aku menjatuhkan kertasku dan mengambilnya, kemudian aku melihat si hantu. Aku merasa takjub karena tidak menyadari kapan dia masuk.
Saat makan siang, aku memperhatikan sekelilingku sampai membuat Alex bingung.
“Kau mencari siapa?”
“Tidak ada,” jawabku singkat.
“Dia mungkin mencari orang yang bisa diajaknya bertengkar,” Fanita berkomentar tanpa melirik wajahku sama sekali.
Bersikap acuh apanya? Sialan.
Hari ketiga.
Aku berpapasan dengan si hantu dan secara otomatis lari mengejarnya.
“Hei,” panggilku.
Dia berlari tanpa menoleh ke belakang sehingga aku jadi memikirkan kesalahan apa yang pernah kulakukan terhadapnya. Aku tidak sembarangan menendang orang begitu saja.
Aku terus berlari dan tanpa sadar tersandung batu.
Aku terjatuh dengan suara yang cukup keras sampai beberapa murid berhenti untuk melihatku.
“Astaga, ini memalukan,” gumamku pelan.
Jatuh itu bukan soal rasa sakitnya tetapi rasa malunya. Kutipan paling berkesan dari kegiatan berkemah di alam terbuka yang dulu sering kulakukan di akhir pekan. Aku terpeleset di jalan tanah yang baru diguyur hujan.
Aku bangkit berdiri dengan segera dan menyadari lututku berdarah.
Aku berjalan terpincang-pincang sambil memikirkan apakah luka ini akan berbekas atau tidak. Tak lama, aku melihat Lucas datang tergesa-gesa seolah kabar soal aku jatuh sudah menyebar di seluruh akademi.
“Kau tidak apa-apa, Brooke?” Lucas memeriksa lututku yang berdarah dan segera menggendongku tanpa izin. Aku sangat malu digendong ala bridal style di keramaian.
Malamnya, Fanita bertanya padaku apa yang sedang kukejar sampai aku terjatuh.
“Teman sekelasku,” jawabku. “Dia seperti hantu.”
“Kau suka pada teman sekelasmu?”
Fanita membuatku kehilangan kata-kata.
“Ya! Tidak semua perhatian berarti perasaan suka,” kataku sungguh-sungguh. Aku sudah berpengalaman untuk tahu jatuh cinta dan putus itu seperti apa. “Aku hanya heran kenapa dia kabur saat melihatku. Dia menjauh seolah-olah aku penyakit berjalan.”
“Oh, dia,” Fanita menggelengkan kepalanya pelan. “Dulu dia juga kabur setiap melihatku. Namanya Darshan. Dia terkenal karena tidak mahir memegang pedang.”
“Tidak mahir?” aku bertanya karena aku merasa belum mahir dalam menggunakannya juga.
“Ayahnya kepala pengawal di istana.”
Fanita menjelaskan bahwa Darshan dianggap tidak mendekati ayahnya sama sekali dalam hal apapun. Dia menjadi bahan cemooh karena sifat pemalu dan fisik yang lemah.
“Dia sangat tidak beruntung.”
Aku merasa Darshan pasti kesulitan menghadapi tekanan-tekanan itu.
“Ngomong-ngomong,” Fanita menatapku dengan ragu. Ini pertama kalinya dia terlihat berpikir banyak sebelum berkata sesuatu padaku. “Jelaskan maksud ucapanmu tadi.”
“Ucapan mana?”
“Perhatian dan rasa suka,” aku melihat Fanita memalingkan wajahnya menahan malu.
“Siapa namanya? Pria yang kau sukai?”
“Aku tidak menyukai siapapun.”
Aku tersadar dia hanya anak perempuan berusia delapan belas tahun.
Hari keempat.
Aku menemukan sebuah pembersih luka dan perban yang diletakkan di laci mejaku. Aku berpikir itu dari si hantu. Dan sepertinya benar. Aku bertemu lagi dengannya saat tidak mengikuti kelas berpedang Sir Oswald, di bawah sebuah pohon yang rindang.
Aku mencengkeram kerah bajunya.
“Darshan Wilder?”
Dia terkejut saat aku menyebut namanya.
“Lepaskan aku.”
“Ya! Apa aku pernah memukulmu? Kenapa kau lari setiap melihatku?”
“Aku.. aku,” Darshan terbata-bata, jadi aku melepaskan kerah bajunya. Lalu tidak sengaja membaca isi dari halaman bukunya yang terbuka.
Saat aku ingin bertanya mengenai isi buku itu, dia sudah kabur dengan cepat. Meninggalkanku sendirian dalam keadaan bingung.
Melihatnya membuatku teringat pada Alyson Chamberlain.
Hari kelima.
Aku menghabiskan sisa hari mengelilingi akademi mencari Darshan. Ketika aku kembali ke kamarku, Fanita mengajakku bicara duluan. Akhir-akhir ini, aku seperti penasehat hubungan percintaannya. Walaupun begitu, dia tetap tidak memberitahu nama pria itu dan aku juga tidak terlalu ingin tahu.
“Aku baru ingat,” aku berkata dengan wajah serius. “Jawablah dengan jujur. Apa Lucas menyuruhmu untuk merundungku agar aku tidak tahan dan berhenti dari akademi?”
Aku mengacu pada saat aku dan Fanita bertarung dan Lucas mengacuhkanku. Alex menemaniku sepanjang hari sampai aku naik ke kereta kuda yang membawaku pulang.
“Kau sebut itu perundungan?” Fanita balik bertanya padaku dengan wajah kesal. “Tidak. Itu murni karena aku tidak suka padamu.”
Dia memang menyebalkan.
“Aku adik sahabatmu tahu,” aku mengingatkan dia. “Aku heran kenapa kalian bisa berteman sampai sekarang.”
“Kami hanya saling memahami,” jawab Fanita. “Oh ya, kalau tidak salah, Lucas menolak gagasan tentang dirimu berkaitan dengan akademi karena berpura-pura hilang ingatan. Dia kecewa padamu. Kudengar kau terkapar tidak berdaya dengan darah di seluruh pakaianmu.”
“Dia belum melupakan masalah itu.”
Aku juga tidak bisa melupakannya. Aku masih bertanya-tanya bagaimana keadaan Levin. Bagaimana lukanya dan apakah dia mengobatinya dengan baik.
“Sampai kapan kau akan berpura-pura?”
“Tidak tahu,” jawabku. Di rumahku, hanya ayah, Lucas dan Haley yang masih mempermasalahkan peristiwa itu dan tidak percaya pada kebohonganku. Aku tidak heran sebab semua fakta jelas menunjukkan aku sendiri yang diam-diam keluar di malam hari.
Aku menutup pintu dan berkata ingin mencari udara segar.
Aku mengagumi matahari sore itu dan secara ajaib melihat Darshan yang kucari-cari. Kemudian aku mengendap diam-diam saat dia tengah fokus pada bukunya.
“Wah, bukankah itu buku yang sulit?”
Darshan tersentak kaget dan tidak sengaja melempar bukunya.
“Brooke Cohenherb?” dia terbata-bata dan mengambil bukunya. Memeluknya seolah itu hartanya yang berharga.
“Ternyata, kita tahu nama satu sama lain. Jangan kabur lagi. Aku memperingatkanmu.” Aku berdiri sebentar karena kakiku pegal lalu duduk di rumput agar bisa bicara nyaman dengannya. “Kau baca buku apa?”
Dia melihatku dan bukunya berulang kali lalu menyembunyikan di balik punggungnya. “Bukan hal penting.”
“Oh. Oke,” kataku tanpa rasa penasaran berlebihan. “Aku tidak melihatmu di kelas Sir Frank. Kau bolos?”
Dia menggelengkan kepalanya. Aku merasa dia seperti kelinci dan aku adalah harimau yang akan menerkamnya.
“Jadi benar kau tidak terlihat ya,” aku tertawa kecil. “Menarik sekali.”
“Tak terlihat?”
“Aku hanya berpikir kau tak terlihat karena pandai kabur dan sembunyi.”
“Aku hanya tidak nyaman.”
Darshan memang terlihat seperti ingin menjaga jarak dariku. Tetapi, dia juga kabur dari Fanita menurut kesaksian teman sekamarku itu.
“Kenapa?”
“Orang-orang akan mulai membandingkan siapa saja yang berjalan bersamaku.”
“Hmm, jadi maksudmu adalah saat aku berjalan atau mengobrol denganmu, orang akan berbisik satu sama lain dan menertawakanmu, begitu?” aku tersenyum lega. “Baguslah, kupikir dulu aku pernah menghajarmu.”
Sejauh ini, beberapa murid sudah mencibirku di depan wajahku sambil mengatakan bahwa aku tidak lain hanyalah anak Duke yang dihormati dan adik Lucas yang menduduki peringkat kedua di akademi. Kasarnya, aku bukan siapa-siapa tanpa ayahku dan kakakku. Yang menjadi masalah bagi mereka adalah aku tidak terpengaruh omong kosong itu sama sekali.
“Kau suka buku-buku pengobatan?”
“Kau melihat bukuku?” Darshan tampak panik.
“Tidak sengaja,” cetusku. “Kau tampak tidak suka jika aku tahu.”
“Kau akan mengejekku seperti anak-anak lain.”
Posisi ayahnya pasti membuat dia harus tampak kuat bukan rajin membaca buku.
“Oh ya? Kebodohanku tidak setingkat dengan mereka.”
Aku bukan anak remaja yang suka pamer kekuasaan khayalan. Aku orang yang tahu bagaimana rasanya kehilangan harga diri demi memberi makan perutku. Aku jadi berpikir untuk membagi kisahku saat atasan pertamaku di kepolisian menyalahkanku atas sesuatu yang kuanggap tidak masuk akal. Aku sangat ingin melawan tapi aku harus menunduk menatap kedua ujung kakiku untuk bertahan hidup.
“Aku tidak akan membahas bukumu karena kau tidak suka.”
Darshan yang masih menatapku ragu-ragu kini menurunkan sikap waspadanya dan menaruh buku itu di pangkuannya.
“Kau mau jadi teman latihanku?”
Aku mencari Darshan dengan tujuan berteman. Aku tidak menemukan kecocokan diantara murid-murid lain yang kukenal sejauh ini. Mereka membosankan. Mereka sangat suka pamer kehebatan tapi itu memang tingkah kebanyakkan remaja.
“Teman?” dia menatapku bingung.
“Teman latihan. Aku bosan berlari sendirian.”
Tidak sepenuhnya bosan. Aku hanya rindu dengan penyuara telinga dan musik yang biasa kudengar setiap aku berlari demi menjaga fisikku dulu.
“Aku..”
“Kau harus setuju,” kataku, “Aku memaksa.”
“Tidak, itu… aku tidak suka latihan fisik.”
Ucapan Darshan membuatku menghela napas pendek.
“Kau harus tetap berlari walaupun tidak mahir menggunakan pedang. Kau harus bertahan hidup. Kau tidak tahu kapan perang mungkin terjadi.”
Aku berharap perang tidak terjadi lagi.
“Kau benar-benar serius?”
Aku mengangguk yakin lalu bangkit berdiri, mengabaikan ekspresi wajahnya dan menepuk-nepuk celanaku. “Kita harus makan malam.”
“Aku tidak makan malam sekarang.”
“Tidak sekarang?”
“Aku makan malam setelah yang lain sudah siap makan.”
Aku menepuk jidatku.
*****