
Semuanya baru saja dimulai.
Aku tahu aku sedang berjalan di atas tanah berbatu tanpa sepatu.
Rasanya melelahkan juga menyakitkan.
Aku ingin kabur.
Tapi mengambil jalan mudah tidak termasuk dalam pilihanku. Aku tidak bisa kabur.
Yang bisa kulakukan adalah memandangi matahari siang yang bersinar terik lewat jendela kelasku. Merenung. Sudah dua bulan berlalu sejak kesepakatan itu dibuat dan aku mencoba menyusun ulang rencanaku, melakukan pertemuan bersama dengan Fanita, Haley juga Darshan (aku memberitahukan semua hal yang kulewatkan darinya). Sesekali, Levin bergabung bersama kami.
Aku menatap benci padanya di minggu pertama pertemuan kami.
Di masa itu, setiap melihat Levin, aku sering bertanya pada diriku, kenapa aku melakukan hal ini. Sejak datang ke dunia ini, aku merasa melakukan semua hal bukan untuk diriku sendiri. Kalau saja aku kabur dan memulai hidup baru, mungkin aku sudah mencapai sesuatu saat ini.
Ternyata, aku mulai mencintai nama baruku.
Bukan hanya nama, tapi keluarga baru yang kudapat dengan memakai nama itu.
Aku mulai mencintai mereka.
Dan cinta ini menuntut sebuah pengorbanan dariku.
Jika kuingat kembali, hal semacam ini sudah pernah terjadi dalam hidupku sebelumnya sebagai Shin Yoo Ri. Singkatnya, aku memilih merelakan perasaanku demi kebaikan semua orang. Aku tidak tahan melihat rasa rendah diri yang timbul dalam diri mereka karena omongan orang lain. Kenyataannya, ayah Shin Yoo Ri memang membunuh seseorang. Orang lain tidak peduli itu sengaja atau tidak.
Aku berusaha menegakkan kepalaku dan menjalankan tugasku sebaik yang kubisa.
Jadi, aku sudah memantapkan hatiku untuk merelakan diriku sekali lagi. Bukan perasaan, tapi nyawaku. Sesekali aku gemetar ketakutan di malam hari, teringat pada Gordon, penasaran apakah kurang dari dua tahun lagi aku bisa bertemu dengannya atau tidak. Aku sangat khawatir. Aku menyesali keputusanku mengajak Levin ke utara.
Aku lalu mulai menatap Levin biasa saja, tidak membencinya sebesar pertemuan kami di minggu pertama.
Fanita merupakan alasan hatiku melunak. Fanita dengan wajah menyebalkannya, bertanya pada Levin mengenai kesetiaannya pada Carlo. Lebih tepatnya adalah sejarah dibalik terbentuknya sikap loyalitas itu.
Sebenarnya, hal itu tidak luput dari pengamatanku. Darshan juga pernah membisikkan hal itu padaku. Tapi aku tidak menanyakannya karena aku membenci dia dan Carlo.
Di ruangan pertemuan kami yang gelap tanpa pencahayaan cukup (kami sengaja berpindah-pindah setiap mengadakan pertemuan untuk menghindari kecurigaan), aku mendengar Levin mengucapkan kalimat dengan kata ‘penjara’ dan ‘utara’.
“Berarti rencana ini cocok denganmu. Kau bisa pulang ke kampung halamanmu,” ujar Fanita.
Levin melihat Fanita sebentar dan memalingkan wajahnya. “Aku akan melindungi Carlo di selatan.”
Levin tidak bermaksud untuk kembali dan menetap disana. Dia terdengar seperti Haley. Dulu aku pernah bertanya pada Haley kenapa dia tidak kabur saja jika dia tahu cara menembus Hutan Sebenius.
Semua orang punya kisahnya sendiri.
Setelah mendengarnya, aku tidak bisa membenci Levin sebesar hari yang sudah berlalu.
Kemudian, aku melihat Haley mulai akrab dengan Levin di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sedikit banyak aku lega melihat Haley punya teman dari utara. Aku memang menaruh curiga pada identitas Levin namun aku lebih suka tidak menuduh orang sebelum memastikannya. Fanita berpikir aku mengajak Levin sebab aku tahu dia adalah orang dari utara. Aku tetap membiarkan Fanita berpikiran begitu (demi harga diriku).
“Aku membawa sesuatu,” Darshan mengeluarkan dan memperlihatkan sebuah mangkuk yang di dalamnya terdapat krim putih.
Kami semua melihat benda itu dengan wajah bingung.
“Apa itu?” Levin bertanya lebih dahulu sambil menyipitkan matanya.
Darshan mulai nyaman bergaul dengan Levin semenjak dia membawa obat dari toko obat orang tua angkatnya. Darshan jadi punya topik untuk dibicarakan dengan Levin. Dia juga lebih terbuka dan santai dibandingkan kami semua yang ada di tempat ini.
“Hebat,” puji Levin.
Aku merasa bangga pada diriku yang sudah memaksa Darshan bergabung.
Tidak lama setelah kami membubarkan diri, Levin mengajakku bicara berdua. Haley tampak paham pada situasi itu dan menjauh dari kami.
“Kau tetap tidak berubah pikiran?” tanya Levin.
Aku lupa menghitung sudah berapa banyak dia menanyakan hal yang sama padaku semenjak kesepakatan itu dibuat.
“Aku tidak akan mundur,” jawabku. “Carlo akan kecewa jika tahu kau selalu menyuruhku untuk berubah pikiran.”
“Pasti ada cara lain.”
“Cara lain?” aku berkata tidak percaya. “Jangan libatkan orang tidak bersalah dalam rencanamu.”
Levin menghela napas panjang. “Permohonanku masih berlaku?”
Aku mendengus kesal. “Tiba-tiba kau membahas soal permohonan? Aku rasa itu tidak berlaku lagi.”
Aku ingat Carlo menyebut kesepakatan kami dengan nama kesepakatan genjata senjata dan aku menyebut dengan nama kesepakatan kartu kuning (karena setelah kartu kuning adalah kartu merah. Artinya, jika tidak hati-hati maka akan berakhir buruk).
“Ya!” teriakku. “Jangan melihatku dengan mata pura-pura sedih.”
Levin tampak murung mendengar jawabanku sebelumnya.
“Brooke…”
“Apa?”
“Jangan pernah menolakku.”
“Apa katamu?” tanyaku dengan wajah bingung.
“Saat waktunya tiba nanti, jangan pernah menolak kesetiaanku padamu.”
“Kau sedang bicara omong kosong apa sih?”
Aku lalu melihat Levin tersenyum manis dan mengucapkan salam perpisahan padaku.
Hari itu, aku tidak langsung sadar bahwa Levin sudah menyatakan permohonannya padaku.
Dua tahun berlalu dengan sangat cepat.
Season 1. Believability (END)