
Prioritasku yang kedua. Aku adalah Shin Yoo Ri yang bereinkarnasi menjadi Brooke Cohenherb. Aku memutuskan mengubah prioritasku dengan menghapus ‘melupakan identitas sebagai Shin Yoo Ri’ dan menggantinya menjadi ‘menjalani hidup sebagai Brooke yang sesuai kehendak Shin Yoo Ri.’
Ada alasan kenapa sejarah tidak pernah lepas dari keseluruhan hidup manusia.
Aku berpikir akan lebih baik jika aku melupakan kehidupan lamaku dan memulai hidup baru. Tanpa penyesalan dan tanpa rasa ingin kembali. Aku akhirnya tahu itu mustahil untuk kulakukan. Aku tetap akan bergantung pada hidup lamaku, itu yang membuatku kuat sampai sekarang.
Terdapat kehidupan dalam tahun-tahun yang kulewati sebagai Shin Yoo Ri.
Demi menjalani hidup baru yang lebih baik dari hidup lamaku, kuputuskan mencari pria yang sesuai dengan seleraku tanpa memperdulikan debaran jatuh cinta yang tertuju hanya pada Carlo. Pikiranku jauh lebih kuat daripada tubuh Brooke yang jadi milikku. Aku akan berjuang melawan kutukan cinta ini (begitulah aku menyebut situasiku yang sekarang).
“Anda terlihat senang,” Carlo menghentikan langkah kakinya. “Apa anda memikirkan tugas dari Sir Frank lagi?”
Aku sedang mengantar Carlo berkeliling.
“Ah, tugasnya rumit,” jawabku. Aku heran bagaimana Carlo bisa berpikir bahwa tugas dari Sir Frank adalah sesuatu yang membuatku bahagia. Namun, dia juga pasti heran karena aku terus menerus melamun dan mengabaikannya. “Maaf, tampaknya saya sedang banyak pikiran.”
“Banyak pikiran? Aku juga,” Carlo tersenyum kecil dan aku merasa mulai gugup kembali. “Aku iri denganmu yang bisa ikut acara berburu.”
“Anda bisa bergabung bersama kelompok hamba. Saya akan melindungi anda, Yang Mulia.”
“Wah, aku senang sekali mendengarnya,” Carlo melepaskan senyuman mautnya lagi dan mulai berjalan.
Berhentilah tersenyum, kumohon.
Senyuman Carlo membuatku tersiksa. Aku seakan terpesona olehnya setiap dia tersenyum dan terus berusaha memegang kendali atas rasionalitasku. Aku mengakui Carlo sangat tampan dengan rambut pirang terangnya itu, bibirnya sempurna, tinggi badan di atas rata-rata dan bahunya lebar.
“Anda bisa mengandalkan saya, Yang Mulia.”
Carlo tersenyum lagi. Kali ini, senyumannya terlihat sedikit menyimpan rasa sedih yang tidak bisa ia gambarkan. Carlo mengingatkanku pada kisah mengenai dirinya yang diracuni saat berumur sepuluh tahun. Sejak saat itu, Carlo tidak dapat berlatih fisik yang berat seperti kebanyakan anak laki-laki. Carlo punya fisik lemah yang sama dengan Darshan.
“Aku sangat iri denganmu,” ucapnya. “Lucas juga hebat.” Aku lalu membiarkan Carlo berbicara sambil menyesuaikan langkah kakiku dengannya. “Aku tidak pernah menerima saputangan saat acara berburu. Mereka takut membuatku tersinggung.”
Carlo tidak diizinkan mengikuti acara berburu dan menerima pendidikan formalnya di istana.
“Saya akan meminta Grace membuatkan satu untuk anda,” tawarku.
“Tidak perlu sampai seperti itu,” Carlo menolak tawaranku. “Bagaimana kalau anda saja yang menyulamnya?”
“Hamba tidak pandai menyulam, Yang Mulia,” jawabku jujur.
“Panggil aku Carlo.”
“Baik, Pangeran Carlo.”
Carlo tersenyum senang ketika aku memanggil namanya. Aku mengamatinya sebentar kemudian menghentikan langkah kakiku.
“Maaf jika saya lancang,” kataku setengah ragu-ragu untuk melanjutkan perkataanku. “Tapi apakah Pangeran tidak lelah tersenyum terus sepanjang hari?”
Di mata rakyat, Carlo dijuluki Pangeran yang murah senyum. Dan tidak tahu kenapa aku tidak nyaman melihat itu walaupun hatiku senang (ada dua perasaan berlawanan dalam diriku yang kuyakini adalah perasaan Brooke dan rasionalitasku).
Carlo tidak langsung menjawabku dan menatapku untuk waktu yang lama. Aku segera meminta maaf sekali lagi atas pertanyaanku yang tidak pantas.
“Aku hanya terkejut. Anda menanyakan hal yang sama dengan seseorang yang kukenal baik.”
“Pangeran pasti dekat dengan dia.”
Mendengar jawaban Carlo, aku menebak mereka pasti sangat akrab. Pertemanan antar pria bisa dinilai dekat apabila mereka terlihat seperti pasangan kekasih (sering menimbulkan kesalahpahaman) atau pasangan yang mau bercerai (sering menimbulkan keributan yang tidak perlu).
“Pangeran berteman dengan orang yang baik.”
“Kita anggap saja begitu,” Carlo berkata sambil menatap ke arah langit yang berwarna biru seperti bola matanya. “Aku sangat iri dengan Ayahmu yang hebat. Duke Cohenherb.”
“Apa?”
Sejak tadi, aku tidak peduli jika dia iri padaku ataupun Lucas. Wajar jika kita iri dengan orang yang umurnya tidak jauh berbeda dari kita. Carlo lantas membuatku kehilangan kata-kata saat dia berkata iri pada ayahku.
“Ayahmu adalah pahlawan perang. Orang yang mengakhiri peperangan. Dan coba tebak orang yang memulai peperangan? Itu Kakek buyutku.”
Aku jadi paham dan tidak berkata apapun selama beberapa saat. Aku merasa kurang ahli dalam hal menghibur orang lain.
“Anda tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena hal itu, Pangeran.”
Takdir yang memilih mereka sebagai orang tuamu. Jadi itu bukan kesalahanmu.
Aku tidak sanggup mengucapkan kata-kata penghiburan semacam itu secara langsung.
“Orang-orang yang membuatku begitu,” Carlo berkata dengan suara pelan seperti sedang bergumam tapi aku bisa mendengarnya. “Perang terakhir kali juga terjadi akibat keserakahan Ayahku. Aku iri karena Ayahmu berhasil mengatasi kekacauan yang selalu disebabkan keluargaku.”
Aku tahu Raja yang sekarang tidak kompeten dan tidak dihormati oleh rakyatnya. Shaeviro mengambil kesempatan ini untuk memperluas kekuasaannya sambil menjadikan Raja selayaknya sebuah boneka.
“Aku juga lemah. Rakyat pasti berharap aku tidak menjadi Raja selanjutnya.”
Entah bagaimana pernyataan itu membuatku sedih. “Anda salah, Pangeran Carlo. Jika anda berpikiran begitu, anda hanya perlu memenangkan hati rakyat. Saya tahu anda tidak akan menyebabkan peperangan seperti Kakek atau Ayah anda. Pangeran hanya perlu bertindak berbeda dari Raja sebelumnya. Saya akan terus mendukung anda.”
Aku teringat pada malam aku bermimpi pertama kali tentang kehidupan Brooke. Saat aku melihat Carlo menangis, aku seakan melihat diriku menangis di kehidupan sebelumnya. Menangisi garis kehidupan tragis yang ditakdirkan pada orang lemah seperti kami. Aku pun sadar bahwa kami punya satu kesamaan. Kami tidak diberi berkah untuk punya keluarga yang baik.
Ayahku di masa lalu memberi luka yang sama dengan yang diterima Carlo.
Setelahnya, Carlo tertawa kecil. “Kata-kata anda menghiburku. Terima kasih, Nona Brooke.”
Aku bersyukur karena Carlo menganggap loyalitasku sebagai kata yang dapat menghibur hatinya yang lelah. “Ya, Pangeran,” sahutku. “Saya juga ingin anda tidak iri pada Ayah saya, Pangeran. Jika saya adalah beliau, saya juga akan melakukan apapun untuk menghentikan perang. Saya dan Ayah saya tidak mempunyai ambisi terhadap kekuasaan yang memang bukan milik kami.”
“Aku paham, Nona Brooke.” Carlo lalu membalikkan badannya melihat kedua pengawal yang mengikuti kami sambil menjaga jarak tertentu. “Anda bisa meninggalkanku disini. Aku ingin jalan-jalan sendirian.”
Aku berpamitan sesuai perintah Carlo.
“Oh ya, Nona Brooke,” Carlo berkata tiba-tiba. Aku jadi berbalik setelah dua langkah kaki. “Di lain waktu, ada baiknya kita bicara santai alih-alih bicara formal seperti ini.”
Aku mengangguk setuju.
Carlo sedang melihat Brooke yang melangkah menjauhinya.
“Ternyata dia sangat berkarakter. Aku semakin ingin melenyapkannya.”
Carlo memegang sebuah prinsip. Bunuh sebelum menjadi lebih menyusahkan.
*****