Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 15



Sejarah mencatat kebiasaan mereka yang hidup di utara. Mereka suka berburu, berkeliaran di alam terbuka dan memelihara serigala. Tidak ada yang salah dengan mereka. Itu pendapat pribadiku. Perang dipicu oleh keserakahan Raja terdahulu yang ingin merebut kekayaan tambang, sumber utama penghasilan Kerajaan Kirkuz.


Membaca buku sejarah itu membuatku mengantuk. Aku tidak pandai dalam hal pelajaran tetapi sekarang aku harus banyak belajar untuk bisa menyakinkan Gordon Fichser saat aku berhasil menemuinya kelak.


Aku mendengar suara ketukan pintu dan melihat Grace mengintip setelah membuka pintu kamarku.


“Aku belum tidur, masuklah,” aku meletakkan buku sejarah itu dan berniat untuk turun dari tempat tidurku.


“Bolehkah aku tidur disini?” Grace memelas. “Besok kau akan pergi.”


Besok adalah hari dimana aku mengikuti ujian di akademi.


“Tentu,” jawabku. “Ayo kemari,” aku membuka selimut yang menutupi tempat tidurku.


Aku melihat Grace memegang boneka beruang yang lucu.


“Kau tidur dengan boneka?”


Grace mengangguk, membuatku berpikir untuk kesekian kalinya kalau dia itu menggemaskan.


“Apa kau percaya diri untuk ujian besok?” tanya Grace.


“Kurasa begitu. Aku yakin tidak akan gagal. Lucas mengajariku dengan baik.”


Lucas memberikanku prediksi soal yang menurutnya akan keluar nanti.


“Kau tidak takut?”


“Kenapa aku harus takut?” tanyaku heran. “Apa kau sedang takut akan sesuatu?”


“Bolehkah ini jadi rahasia kita?” Grace menatapku sembari menyakinkan dirinya sendiri. “Ini tentang tahun depan.”


Kami akan segera berumur enam belas tahun.


“Kau takut karena akan mulai bersosialisasi secara resmi di kalangan bangsawan?”


“Aku takut tidak bisa mengendalikan kemarahanku.”


Aku memutar bola mataku mencoba mengingat hal salah yang pernah dilakukan Grace. Namun, aku tidak menemukan satupun. Jika dipikirkan, akulah yang sudah lepas kendali dengan seenaknya sejak hidup sebagai Brooke.


“Kapan kau marah? Aku tidak pernah melihatnya.”


Grace menghela napas pendek. “Aku marah dan membelamu.”


Dia jadi cemberut.


“Kau bilang itu kehilangan kendali atas amarahmu?” aku tertawa. “Kau sudah melakukan hal yang benar. Mereka memang harus mendapatkannya.”


Grace menghela napas lagi seakan aku tidak mengerti makna sesungguhnya dari apa yang ada di benaknya.


“Aku takut mempermalukanmu, Brooke,” lanjut Grace. “Aku hanya bisa berteriak marah tetapi tidak tahu bagaimana berkata-kata setelahnya. Aku berbeda denganmu yang bisa mengacuhkan mereka. Aku selalu berpikir akan membuat kesalahan.”


“Kita pasti akan berbuat kesalahan,” kataku dengan yakin. “Dan akan selalu ada yang berbicara di belakang kita.”


Orang-orang selalu suka bergosip.


“Aku sudah menduga kau akan berpikir begitu,” ucap Grace. “Tapi kita itu terlahir istimewa, Brooke. Karena istimewa ada beberapa hal yang harus kita taati walaupun kita tidak menyukainya.”


“Istimewa?”


“Terlahir sebagai bangsawan,” jawab Grace. “Ada hal yang tidak bisa kita ubah. Aturan sosial kita.”


Aku bisa memahami maksud ucapan Grace. Pasti ada banyak hal yang menjadi aturan boleh dan tidak boleh bagi seorang bangsawan. Didikan seperti itu membuat kebanyakan dari mereka mempunyai sifat sombong dan menyedihkan. Aku tidak tahu rasanya memperoleh pendidikan seperti itu sejak lahir, aku tidak mau memahaminya tetapi Grace tahu itu adalah beban.


“Aku tidak bisa berjanji soal menjaga mulutku ketika mereka bicara omong kosong,” aku menarik tangan Grace dan menyatukan jari kelingking kami. “Tapi aku bisa menjanjikan satu hal. Aku akan berusaha mengikuti acara yang harus kita ikuti. Hmm, seperti pesta dansa.”


Aku berniat menghindarinya tapi aku tidak yakin itu mungkin.


“Aku tidak memintamu berjanji seperti itu.” Grace mencoba menarik jarinya. “Aku yang harus berjanji untuk mengendalikan amarahku.”


“Ayolah, itu bukan amarah, Grace. Itu reaksi yang wajar,” jelasku. “Yang disebut tidak bisa mengendalikan amarah itu, seperti yang sudah aku lakukan. Menendang Alex atau melawan Ayah.”


Aku teringat perdebatan sengit dengan ayah beberapa hari lalu karena beliau berubah pikiran soal akademi setelah tahu aku pulang dengan tubuh dilumuri darah.


“Dengar, jika kau mendengar omong kosong tentang dirimu sendiri, kau bisa melawan mereka. Buat mereka terdiam dengan kata-kata menusuk. Kau harus berjanji untuk tidak mengabaikan omong kosong semacam itu lagi.”


Grace menatapku ragu-ragu. Aku jadi geram melihatnya karena dia terlalu polos hingga terkesan bodoh bagiku. Dia tipikal anak yang tidak akan melawan jika mendapatkan penindasan di sekolah.


“Grace, kau harus berjanji. Harus,” aku setengah memaksanya. “Jangan biarkan dirimu direndahkan orang lain.”


Perjalananku untuk membuatnya belajar melindungi diri masih panjang.


“Ya, aku berjanji.”


“Bagus,” aku bernapas lega. “Hmm, ngomong-ngomong kau bisa menunggang kuda?”


“Menunggang kuda tidak sulit,” lanjut Grace. “Dulu kita sering bermain dengan kuda poni yang dihadiahkan Ayah.”


Aku tidak mengetahui soal kuda poni. Tetapi, itu hadiah yang keren.


“Apa kau tidak tertarik belajar di akademi sepertiku?” aku lalu bertanya padanya untuk kedua kalinya.


“Aku tidak tertarik.”


Setidaknya Grace bisa menunggang kuda. Aku memikirkan kemungkinan situasi memburuk dan dia harus melarikan diri dengan cepat dan bisa mengendalikan tali kekang kuda akan menyelamatkan hidupnya. Meski begitu, dia tetap butuh senjata. Aku akan menemukan yang cocok untuknya.


“Pastikan kau mengunjungiku sesekali.”


“Kau tidak berencana pulang setiap pekan?”


Aku akan hidup di asrama. Aku cukup sadar bahwa aku harus mengejar ketinggalan dan pihak akademi memang menyarankan hal itu.


Aku hanya punya waktu empat tahun sebelum pengumuman pertunangan Grace.


Dia dibunuh tidak lama setelah pengumuman itu.


“Aku akan pulang akhir pekan,” kataku, “Ayo kita tidur. Besok aku ujian.”


“Aku ingin mengatakan satu hal lagi.”


“Apa?”


“Terima kasih sudah bangun, Brooke,” Grace menggenggam tanganku. “Terima kasih sudah jadi kakakku lagi.”


Dia membuatku terharu.


“Terima kasih sudah menjadi saudara kembarku.”


Aku tidak kesepian lagi.


Tidak lagi hidup sendirian di kamar sewa yang dingin.


*****