Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 32



Levin memasuki sebuah toko obat milik pasangan suami istri Freud dan Laurie Landheer. Dia mengenal mereka sejak Carlo memerintahkan keduanya untuk merawat Levin. Levin kecil yang tidak bisa mengingat identitasnya lalu menjadi anak kedua pasangan yang sudah berumur lima puluhan tahun itu. Dia menyapa mereka sebentar kemudian membuka pintu rahasia menuju ruangan bawah tanah pribadinya.


Laurie Landheer dulunya adalah seorang pelayan di istana. Di akhir masa tugasnya, Carlo membawa dan menitipkan Levin yang dibebaskannya diam-diam dari penjara istana. Tindakan berani Carlo itu membawa sebuah petaka yang menjadi alasan bagi Levin untuk setia seumur hidup pada Carlo. Carlo harus kehilangan kekuatannya sebagai bayaran atas kebebasan Levin. Levin kecil melihat Shaeviro meracuni Carlo.


“Aku jadi mengingat masa lalu,” Levin mengeluh pelan dan melepaskan jubahnya. “Aku paling benci harus mengintai istana.”


Sayangnya, aku tidak punya bukti mengenai kejadian itu.


Levin mengenang dirinya sendiri yang sangat muda, kurus dan rapuh, terkurung dalam jeruji besi tanpa sinar matahari. Suatu hari, dia melihat tangan Carlo terulur padanya. Dia ragu apakah dia harus meraih tangan itu. Dia mencurigai perawakan Carlo yang mirip dengan Raja yang pernah mengunjunginya satu kali setelah dia berada di tempat itu berbulan-bulan. Raja yang memandangnya dengan tatapan bengis. Besoknya, Carlo datang lagi dan datang terus menerus selama enam hari. Levin akhirnya meraih tangan itu tanpa ragu.


Carlo berbeda dari keluarga Kerajaan lainnya.


Levin menghempaskan diri di kasur dan tertidur pulas.


Tidak ada yang bisa memastikan pukul berapa saat Levin terbangun karena merasa lapar. Dia membuka lemari kayu dan memeriksa persediaan makanan yang dimilikinya. Dia segera memakan sepotong roti dan menuangkan segelas anggur yang dibawakan Carlo saat terakhir mereka bertemu.


Dia sedang menunggu Carlo.


Kemudian, Levin memilih sebuah buku catatan dari rak miliknya. Di kegelapan, Levin bisa melihat lebih jelas dibandingkan Carlo. Penciumannya tajam dan dia tidak bisa terlalu lama berada di bawah sinar matahari. Levin juga mudah merasa kepanasan dan lelah di siang hari yang terik. Oleh sebab itu, Carlo dan orang tua angkatnya menyuruh dia untuk tidak berinteraksi dengan siapapun. Dia orang dari utara. Tidak ada orang yang berasal dari Kerajaan kirkuz yang berkeliaran bebas di selatan setelah peperangan beberapa tahun silam. Jika ada, Levin hanya tahu satu nama. Pengawal pribadi keluarga Cohenherb. Filley Strauss.


Brooke memberinya nama baru.


Levin membaca ulang hasil pengintaian yang dia tuliskan di catatan pribadinya. Levin lalu tersenyum dan menuliskan apa yang dia dapatkan dari pengintaian hari ini.


Brooke mengendap-ngendap mengawasi Lucas dan Josephine. Sayangnya, dia pergi dan melewatkan ciuman mereka.


Dia tersenyum karena itu lucu baginya. Levin juga menuliskan nama sebuah hari dalam seminggu ke depan. Hari itu adalah hari festival yang dipilihnya sebagai hari dimana dia akan bertemu Brooke. Levin yang mengintai acara pesta di istana berhasil menyelipkan sebuah surat untuk tangan Brooke di tengah keramaian. Brooke yang menyadari ada surat di tangannya langsung mencari Levin tetapi tidak menemukannya.


Levin mendengar suara pintu dibuka dari luar.


Dia menyimpan catatan itu dan menyambut Carlo yang tersenyum ramah padanya.


“Aku membawa anggur yang kau sukai,” kata Carlo.


“Hanya anggur? Aku pikir bayaranku akan lebih mahal.”


“Kau butuh uang?” tanya Carlo tidak serius. “Mintalah pada orang tuamu.”


Bagi Levin, pasangan suami istri Landheer adalah orang tuanya. Hanya pasangan itu yang tanpa pamrih merawat dan menganggapnya sebagai anak mereka dan tidak lagi menganggap hal itu sebagai sebuah perintah.


“Bagaimana hasil pengintaianmu?”


“Shaeviro menemui Ratu setelah Raja kembali ke kediamannya.”


Ratu yang dimaksud oleh Levin adalah Ibu tiri Carlo.


“Tepat seperti dugaanmu,” lanjut Levin. “Dia sedang menyiapkan rencana lain.”


Adik tiri Carlo mempunyai sifat buruk yang mirip ayah mereka dan ibunya yang juga hanya mementingkan dirinya sendiri. Carlo masih ingat perlakuan buruk yang diterimanya setelah ibu tirinya itu resmi menjadi Ratu.


“Itu kabar baik,” celetuk Levin. “Kau berhasil menipu mereka semua.”


Carlo sangat terpukul atas kematian ibunya. Saat dia tersadar setelah diracuni, ibunya sudah meninggal. Levin yang juga merasa itu tidak adil menyarankan Carlo untuk bersikap seakan dia lemah dan tidak berguna di hadapan semua orang di Istana. Meskipun begitu, Levin tidak suka Carlo tersenyum palsu kepada semua orang. Dia sangat ingat saran yang diberikannya adalah berpura-pura lemah bukan berpura-pura ramah.


“Aku mengenang masa lalu tadi,” kata Levin. “Hari dimana kau membawaku keluar.”


Carlo tertawa. “Aku pasti sangat hebat di matamu.”


“Aku hanya terpukau melihat keberanianmu.”


Levin pernah bertanya pada Carlo alasan dia berbuat senekat itu. Jika diingat lagi, usia Carlo bahkan lebih muda dari Levin. Levin jadi mempertanyakan dirinya sendiri apakah dia juga akan berbuat hal yang sama dalam posisi itu.


Matamu berteriak minta tolong padaku.


Itu yang diucapkan oleh Carlo.


“Aku hanya berhasil menangkap satu orang hidup-hidup. Sisanya tewas karena tidak mau membuka mulutnya,” suara Levin terdengar serius. “Shaeviro menyuruh mereka untuk melintasi Hutan Sebenius dan mencari Gordon Fichser.”


“Gordon?” mata Carlo melebar mendengar nama itu disebut. “Ternyata dia masih hidup.”


“Tidak ada tahu,” Levin menggelengkan kepalanya pelan. “Mereka disuruh memastikannya. Shaeviro membutuhkan sesuatu dari Gordon.”


“Pasti sesuatu yang sangat berharga.”


“Ya. Dia tidak bisa menyusupkan mata-matanya melewati perbatasan karena izin itu dipegang oleh orang kepercayaan Duke. Dia pasti sudah kehabisan akal.”


“Di saat seperti ini aku ingin berterimakasih pada Duke Cohenherb.”


Levin memperhatikan raut wajah Carlo. Dia tidak membenci Duke seperti membenci Shaeviro yang meracuninya. Carlo hanya telah kehilangan kepercayaan diri dan membenci semua orang yang membuatnya tampak rendahan. Perubahan sikap Carlo disadari oleh Levin ketika Carlo menyuruhnya membunuh seorang rakyat biasa yang menghinanya saat mabuk. Semakin hari, Levin merasa Carlo ingin menyingkirkan semua orang yang membuatnya rendah diri.


“Dia pasti akan terus mengirim orang lain secara teratur,” kata Levin. “Tidak mustahil jika suatu hari perang akan terjadi karena mereka berhasil menembus hutan itu.”


Carlo menghela napas pendek. “Aku akan menempatkan pasukan khusus untuk menghabisi mereka. Aku bersumpah pria itu tidak akan mendapatkan apapun yang dikehendakinya.”


Levin mengangguk setuju.


“Kita akan menghalangi terjadinya perang. Bagaimanapun caranya.”


Levin dan Carlo punya tujuan yang sama. Mereka tidak ingin melihat perang terutama tawanan perang.


*****