Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 25



Levin memandang dirinya di cermin. Dia tampak mengangkat sebelah alisnya. “Aku harus membunuh Brooke saat acara berburu?”


Di cermin itu ada bayangan orang lain yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya. “Aku tetap tidak setuju.” Levin lalu melirik bayangan Carlo dengan ujung bola matanya. Carlo hanya tersenyum.


“Dia semakin mirip dengan Ayahnya. Aku benci itu.”


“Itu karena mereka memang keluarga.”


“Keluarga ya?” Carlo mendengus kesal. Dia sangat membenci kata itu dan Levin tahu alasannya membenci kata itu.


Levin memutar kembali kenangan dimana dia melihat Raja Kerajaan Morrow untuk pertama kalinya. Kejam dan tamak adalah kata yang cocok untuk mengambarkannya. Tidak heran jika Carlo membenci ayahnya yang seorang Raja dan adik laki-lakinya, Pangeran Harville yang semakin mirip dengan ayah mereka. Kedua bukan saudara kandung, ibu Carlo adalah Ratu terdahulu yang tewas akibat racun yang sama dengan yang diminum oleh Carlo.


“Lebih baik membunuh Grace Cohenherb,” saran Levin.


“Dia tidak memberi banyak pengaruh.”


“Baiklah.”


Levin menyerah pada perdebatan itu kemudian melihat Carlo pergi setelah dia menyetujui permintaannya. Levin menghela napas panjang dan mengambil belati dari sebuah laci.


“Kenapa dia bodoh sekali,” gumam Levin pelan. “Aku jadi teringat sepatu sialan itu.”


Hari sudah gelap. Aku dan Brooke tengah berjalan-jalan di pasar.


Mata Brooke tertarik mengamati sebuah toko yang menjual sepatu anak-anak.


“Sepatu dengan pita? Kau suka yang seperti ini?”


Brooke mengangguk.


Dia membuatku tersenyum. “Tapi ini untuk anak-anak.”


“Aku tahu.”


Brooke tampak sangat menginginkannya.


Aku menanyakan harga sepatu itu.


“Kenapa kau membeli ini?”


Dia merasa tidak enak padaku.


“Aku punya uang,” kataku. “Sebenarnya apa yang kau suka dari sepatu kuning dengan pita panjang ini?”


Aku mengamati sepatu itu dengan serius. Tidak ada hal yang menarik dari barang jelek itu.


“Dulu aku memakainya,” Brooke tersenyum. “Waktu itu Pangeran Carlo mengikatkan pita di sepatuku. Simpul pita berbentuk kupu-kupu.”


Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba merasa kesal.


“Pangeran Carlo? Kau menyukainya?”


“Ya.”


Aku marah.


Levin menghela napas lagi. Dia menyimpan belati itu dan keluar dari ruangannya.


 


Ketika memasuki Hutan Tasi, Levin mengintai Brooke yang menunggang kuda bersama Lucas dan Alex. Levin menjauh dan melihat kelompok berburu lain. Dia mengeluarkan pedangnya dan memberikan mereka luka sayat di bagian punggung.


“Tenang saja, kau tidak akan mati karena luka ini,” ucap Levin dengan tenang di balik tudung yang menutupi wajahnya.


Sesuai harapannya, Lucas berpisah dari Brooke. Sebuah kesempatan untuk membawa Brooke menjauh. Levin lalu melakukannya sesuai yang dia rencanakan.


“Aku mau membunuhmu.”


Levin memperhatikan raut wajah Brooke. Dia tidak terlihat takut.


Levin kemudian berkata dia akan mendorong Brooke ke jurang. Dia mulai berpikir aku serius dengan ucapanku.


Brooke bertanya siapa yang memberi perintah pada Levin. Orang yang kau sukai sejak dulu. Si brengsek itu Carlo.


Levin melihat Brooke memohon untuk dibiarkan hidup. Lantas kenapa kau memutuskan untuk minum racun itu, Bodoh!


Levin akhirnya memutuskan untuk memberitahu Brooke. Dia selalu membuat hatiku goyah.


“Josephine Spitz.”


Levin memberikan satu nama. “Lucas menyukai putri dari Shaeviro Spitz.”


“Apa?” Mata Brooke melebar. “Jangan bilang, kakakku pacaran diam-diam dengannya.”


Brooke memandang Levin tidak percaya dan berkata lagi, “Kau disuruh membunuh Lucas karena Josephine dan aku mengetahui hal itu. Aku memintamu untuk memberikan racun itu padaku. Demi melindungi Lucas dan dirimu, aku meminumnya.”


“Kau membelinya.”


Levin masih menyesali hari dimana Brooke secara tidak sengaja melihat dia sedang mengintai Josephine. Hari itu adalah awal dari serangkaian perasaan tidak nyaman yang dia rasakan berbulan-bulan lamanya. Menurut Levin, hanya Brooke yang bisa langsung mengenalinya dimanapun dia berada.


Levin membenarkannya. “Kau meninggalkan setumpuk koin emas dan menyuruhku pergi memulai hidup baru.”


Brooke tampak tercengang mendengar penjelasan Levin.


“Aku mencurinya ya.”


Levin melihat Brooke menekan-nekan pelipisnya. “Wah, Lucas sudah gila.”


“Lucas?” Levin menatap heran. “Bukankah kau yang gila sampai mengorbankan dirimu sendiri demi Lucas karena tidak mau memisahkan mereka?”


Levin masih ingat saat Brooke memaksanya untuk memberikan racun itu. Brooke tidak ingin Levin dianggap tidak menjalankan tugas dan dibunuh. Di sisi lain, Brooke tidak mau sesuatu terjadi pada Lucas. Saat Levin bersikeras melarangnya, Brooke mengatakan dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Lucas. Dia tidak berniat memisahkan mereka.


“Dia yang gila,” teriak Brooke kesal. “Ada banyak wanita di dunia ini. Kenapa dengan putrinya Shaeviro? Dia mau membunuhku ya?”


“Kau berubah,” kata Levin seolah takjub. “Kau mengucapkan sesuatu yang mirip dengan yang kuucapkan dulu.”


“Itu berarti kita satu pemikiran sekarang.”


“Kurasa racun itu mempengaruhi isi kepalamu.”


Brooke mengabaikan ucapan Levin barusan. “Aku tidak bisa membiarkan hal ini. Tidak boleh.”


“Kau mau memisahkan mereka?”


“Mana mungkin,” jawab Brooke tegas. “Ini tidak semudah menuangkan isi gelas ke wajah Josephine dan memintanya putus dengan kakakku. Perasaan cinta dalam keadaan sulit atau ditentang biasanya yang akan bertahan lama tetapi realitasnya kebanyakkan selalu berakhir tragis.”


“Aku tidak mengerti.”


“Kau masih terlalu muda,” Brooke mengepalkan tangannya. “Ini membuatku sangat kesal sekarang.”


“Aku seumuran dengan Lucas.”


Tidak terima, Levin menarik tangan Brooke untuk membuatnya memusatkan perhatian pada Levin. “Kau tidak lupakan aku kemari untuk membunuhmu?”


Brooke mengangguk. “Kau belum boleh membunuhku. Kita harus bertemu lagi agar aku bisa mengabulkan keinginanmu.”


Dia memintaku memikirkannya untuk mengulur waktu. Tawarannya tidak buruk.


“Baiklah.” Levin mencium telapak tangan Brooke. “Aku akan menantikan saat itu.”


“Terima kasih.”


Levin tersenyum melihat Brooke bernapas lega. “Kau mengucapkan terima kasih pada orang yang mau membunuhmu?”


“Kau belum membunuhku.”


“Kau benar.”


Levin bangkit berdiri dan mengulurkan tangan pada Brooke. Brooke menyambut uluran tangan itu dengan wajah biasa saja. Levin lalu berkata, “Kuharap kau bisa menemukan jalan keluar tanpa bertemu binatang buas.”


Levin mendekatkan wajahnya pada Brooke. “Hati-hati.”


Levin mencium pipi kanan Brooke.


 


Sehari setelah acara berburu, Carlo membuka pintu ruangan bawah tanah tempat Levin berada dan menatap Levin dengan raut wajah tidak senang.


“Dia masih hidup,” kata Carlo.


“Dia salah paham. Dia berpikir yang memberiku perintah adalah Shaeviro.”


Levin membiarkan Brooke berpikir bahwa Shaeviro adalah dalang dibalik percobaan pembunuhan kepada Lucas. Sama seperti sebelum Brooke kehilangan ingatan, Levin ingat Brooke mencurigai orang yang sama. Seakan tahu ada sesuatu yang sangat salah dari penasehat licik itu. Apa yang sesungguhnya diketahui oleh Brooke masih mengganggu pikiran Levin.


“Dia ingat sesuatu?” tanya Carlo curiga. “Kau harus membunuhnya sebelum menjadi masalah.”


Carlo menarik kursi lalu duduk di samping Levin. “Dia akan mengangguku seperti Lucas.”


“Kita biarkan saja mereka,” cetus Levin. “Membunuh keduanya juga akan mencurigakan. Ada rencana lebih bagus untuk menyingkirkan Shaeviro dan Duke secara bersamaan.”


Rencana awal Carlo adalah menghancurkan Shaeviro. Dia akan bertunangan dengan Josephine dan membuat Josephine terjebak dalam situasi seakan dia mau membunuh Carlo. Dengan begitu, Shaeviro bisa disingkirkan. Rencana tersebut punya resiko besar apabila Shaeviro bertindak untuk membunuh Carlo terlebih dahulu, tetapi Levin sudah bersumpah akan mencegah hal itu terjadi.


“Bertunanganlah dengan Grace. Raja tidak akan bisa menentangnya.”


Raja tidak begitu suka dengan Duke Cohenherb yang mempunyai pendukung lebih banyak dari pengikutnya dan Shaeviro.


“Dari awal, Ayahku tidak mau memberinya gelar Duke. Apalagi berbesan dengannya.”


“Kita tidak butuh pendapat Ayahmu,” lanjut Levin dengan penuh penekanan. “Bertunanganlah dengan Grace dan sebarkan rumor bahwa Brooke iri pada pertunangan kalian. Racuni Grace dan tuduh Brooke. Aku akan membereskan Brooke seakan dia bunuh diri.”


Setidaknya, Levin ingin memberi waktu lebih lama untuk dirinya sendiri. Waktu untuk bersama dengan Brooke.


“Aku paham maksudmu,” Carlo tersenyum puas. “Rumor baru muncul dan Shaeviro akan menjadi orang paling bertanggung jawab dari peristiwa menyedihkan itu. Dengan begitu, aku bisa menyingkirkan dua pengaruh besar sekaligus dan membuat pengikut mereka tidak punya pilihan selain memihakku.”


*****