
Shin Yoo Ri selama dua puluh delapan tahun hidupnya tidak pernah tertarik lagi menjalin hubungan serius dengan lawan jenis setelah dikhianati oleh mantan pacarnya.
Aku tidak tahu Alex bisa berekspresi seperti itu.
Aku jadi beranggapan kalau Alex itu imut. Alex membuatku menyadari hal yang sering kulupakan. Sesuatu berubah sangat cepat selama kita hidup. Artinya, ada banyak kemungkinan. Banyak hal yang mungkin terjadi dan merubah hidup kita dalam satu detik. Sama halnya dengan Alex, perasaannya mulai berubah terhadapku.
Hmm, dia tidak akan mengakuinya jika kutanyakan langsung.
Aku tertawa dalam hati. Aku menganggap Alex sama dengan Kim In Ho. Mereka menjengkelkan namun kehadiran mereka sudah seperti keluarga sendiri.
Tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri sampai melupakan alasan kenapa aku sudah berada di depan pintu masuk ruangan ayah. Aku berjalan santai walaupun tahu ada badai di depanku.
“Haley, jangan mendobrak pintu walaupun kau mendengar suara kegaduhan Ayahku.”
Aku berniat membuat kerusuhan agar bisa diizinkan belajar di akademi.
“Kau pasti mendapatkan izin,” ujar Haley.
Aku mengetuk pintu beberapa kali setelah menarik napas panjang. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan izin belajar selain bicara empat mata dengan ayahku. Ibu mengatakan ayah sudah tahu keinginanku dari Lucas yang mengungkapkannya saat mereka tengah bersantap pagi tadi. Aku tidak bergabung bersama mereka karena sibuk mencari jurnal yang mungkin ditinggalkan Brooke di sebuah tempat rahasia.
“Selamat siang, Ayah.”
Aku melirik ayah yang tidak menatapku dan masih belum membalas sapaanku. Dia membuat suasana di ruangan itu menjadi tidak menyenangkan. Sejak awal, aku merasa ayah seorang pria dingin yang membosankan. Dia tidak tahu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa sayang pada putrinya. Menempatkan banyak penjaga dari kejauhan adalah salah satu bentuk rasa sayang itu. Aku hanya berharap dia berkata ‘Ayah bertindak seperti ini karena tidak mau kalian terluka.’
“Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan, Ayah.”
“Akademi?”
Kali ini dia meletakkan berkas-berkas di tangannya dan melihatku dari balik kacamata kerjanya.
“Tentang akademi,” kataku.
“Apa tujuanmu masuk akademi?”
Aku tidak tahu ayah akan bertanya mengenai tujuanku. Aku merasa seperti sedang diwawancarai.
“Sesuatu berubah sangat cepat selama kita hidup,” aku mengingat perenunganku selagi berjalan kemari. “Jika kemarin aku diracuni, besok tidak ada yang tahu ada pedang menebas leherku.”
“Kau ingin belajar untuk bisa melindungi dirimu sendiri?”
“Ya,” aku berkata dengan penuh percaya diri. “Aku harus bisa melindungi diriku sendiri sebelum melindungi orang lain.”
Ayah menatapku cukup lama lalu berdiri dan mengambil sebuah pedang.
“Jika dulu aku punya pilihan, maka aku tidak akan memilih pedang ini,” Ayah memperlihatkan padaku sebuah pedang yang dibalut sarung berwarna hitam gelap. Aku baru pertama kali melihat sarung pedang berwarna hitam. Kebanyakan mereka membuatnya berwarna coklat agar cocok dengan bahan pembuatnya yang berasal dari kulit hewan.
“Ambillah. Aku memberikan pedang ini kepadamu.”
Aku menerima pedang itu dan memperhatikan wajah datar ayah. Aku tidak tahu akan mendapatkan pedang ketika aku hanya berharap diizinkan belajar di akademi.
“Apa alasannya? Aku berpikir Ayah akan menentangku. Ayah sangat marah karena aku berlatih pedang.” Saat itu, ayah lebih marah mengenai latihan pedang dibandingkan aku yang menendang wajah Alex.
“Anggap saja Lucas berhasil menyakinkanku untuk memberimu izin.”
“Apa yang Lucas katakan?”
Ah, benar-benar.
Ntah kenapa aku merasa jengkel. Bukannya aku tidak senang karena Lucas sudah membantuku, hanya saja ini tidak seperti ekspektasiku. Aku tidak berharap mendapatkan izin karena orang lain. Aku ingin mendapatkannya karena usahaku. Usaha untuk membuat seseorang yakin padaku. Aku ingin mendapatkan izin karena sebuah kepercayaan. Dan sampai kapan ayah akan berpikir anak perempuan tidak bisa sehebat anak laki-laki?
“Pedang ini, kenapa Ayah berikan padaku?”
Aku menunggu ayah menjawabku.
Tapi, dia tampak tidak berniat menjawabku.
“Haruskah aku menjual pedang ini?”
Aku yakin pedang ini penting sampai dia memberikannya padaku. Jadi, tolong katakan saja alasannya.
“Putriku sudah tahu cara mengancamku?” aku melihat sudut bibir ayah terangkat. Aku tidak tahu perkataanku terdengar lucu untuknya.
“Sesuatu berubah sangat cepat selama kita hidup.” Aku mengucapkan kalimat itu untuk kedua kalinya.
Dengan wajah serius, ayah memikirkan kembali makna dari kalimat yang kuucapkan. Setelah beberapa saat, dia berkata, “Aku menggunakan pedang itu saat perang pecah untuk pertama kalinya.”
Ini adalah kisah ayah yang berjuang untuk bertahan hidup di medan perang.
“Pedang itu sudah membunuh banyak orang. Pedang itu juga membunuh teman terbaikku. Aku terpaksa membunuhnya karena dia seorang mata-mata.”
Ayah terlihat sedih. “Kau membuka banyak jalan untuk bertemu dengan orang baru saat memegang sebuah pedang. Sayangnya, keputusan yang dihadapkan padamu adalah melindungi atau membunuh mereka. Kau bisa salah membuat sebuah keputusan.”
Aku ingat Lucas pernah berkata padaku tentang pedang. Dia bilang aku harus siap melihat darah. Aku harus terbiasa dengan itu.
“Ayah menyesal karena bertemu teman Ayah itu?”
“Aku menyesalinya.”
Aku melihat sorot mata penuh penyesalan.
“Aku tidak seharusnya membiarkan dia mati hanya karena satu kesalahan.”
Teman itu telah menolong ayah yang hidup terpuruk dalam kemiskinan. Aku bisa paham alasan Shaeviro sangat membenci ayah yang tidak terlahir dengan darah bangsawan. Dia iri karena ayah merupakan orang yang sukses membentuk sebuah keluarga bangsawan baru. Mematahkan semua idealisme yang telah terbentuk selama ini.
“Ayah, kita semua merindukan banyak hal,” kataku sambil menggenggam erat pedang di tanganku. “Aku yakin Ayah pasti merindukan saat-saat bahagia ketika memegang pedang ini. Saat Ayah dan teman Ayah berlatih bersama. Saat kalian membayangkan hidup seperti apa yang menanti di tahun-tahun yang akan datang.”
Aku menatap ayah dengan sorot mata lembut. Saat datang kemari aku berniat membuat kegaduhan jika tidak mendapatkan izin. Pada akhirnya aku hanya anak nakal yang membuat orang tuanya khawatir. Aku berterimakasih pada ayah di dalam hatiku karena dia hanya ingin aku tidak melalui apa yang sudah dia lalui.
“Aku akan menjaga pedangnya dengan baik.”
Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menggunakannya dengan tujuan baik. Jika dulu aku memegang pistol untuk mencegah kejahatan, sekarang aku memegang pedang untuk mencegah nasib buruk di keluarga ini.
Sekarang aku adalah bagian dari keluarga Cohenherb.
“Dan Ayah, kuharap Ayah hidup dengan mengingat kenangan bahagia. Kita semua punya penyesalan dan akan terus menyesali perbuatan kita setelahnya.”
*****