
Aku menepati janjiku dan menjemput Fanita saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Dengan pencahayaan sebuah lilin, kami bertiga menuruni anak tangga menuju sebuah tempat yang tersembunyi di kediamaan Cohenherb. Haley menemukan tempat ini dua tahun lalu saat dia berkeliling karena tidak mendapatkan tugas apapun dari ayah. Terdapat sebuah jalan rahasia di ruangan penyimpanan anggur. Beruntungnya, ruangan ini hanya bisa diakses oleh kepala pelayan yang sudah berumur.
Kami berjalan lagi melewati sebuah lorong dan aku berhenti di depan sebuah pintu kayu yang digembok. Aku membukanya dengan hati-hati dan menyuruh mereka masuk terlebih dahulu. Bebauan khas ruang bawah tanah menusuk hidung kami. Aku memberi saputangan pada Fanita yang tampak tak terbiasa dengan hal itu.
Aku menghidupkan lilin lainnya. Ruangan itu kini terang.
“Apa ini?” Fanita dengan cepat beradaptasi dan sudah tidak membutuhkan saputanganku. Dia sedang mengacak-acak barang-barang yang kusimpan. “Peralatan masak darurat, pisau, selimut dan bubuk apa ini?” dia menciumnya. “Obat?”
Aku mengangguk dan berkata, “Haley membantuku membeli barang-barang itu. Kami bersiap pergi ke utara kurang lebih dua setengah tahun lagi.”
Fanita tampak terkejut sampai dia menjatuhkan bubuk obat itu. Aku bersyukur Darshan mengemas ulang bubuk obat itu dengan baik sehingga tidak jatuh berceceran di lantai.
“Kau mau ke kerajaan Kirkuz? Apa kau sudah gila?”
“Pelankan suaramu.”
Aku tetap takut ada yang mendengar kami walaupun itu terlihat mustahil. Kami jauh berada di bawah tanah.
“Aku harus menemukan Gordon Fichser.”
“Gordon Fichser?” Fanita menahan napasnya sesaat. “Keluarga Kerajaan sudah mengkhianatinya dan dia tidak akan pernah senang melihatmu. Ini bahkan bukan rahasia.”
“Aku tahu,” sahutku. “Tapi Pangeran Carlo bukan orang yang mengkhianatinya.”
“Jadi rencanamu membawa dia kembali kemari?” tebak Fanita.
Dia cepat tanggap seperti yang kuharapkan. “Itu mustahil. Tidak ada yang tahu keberadaannya di wilayah utara.”
Gordon Fichser menghilang setelah dia tiba di utara. Tidak ada yang tahu apakah dia masih hidup. Informasi yang sudah dipastikan kebenarannya sebab izin perbatasan yang sebelumnya diberikan pada Gordon telah dialihkan ke orang lain.
“Dia disingkirkan dengan dalih utusan diplomatik. Dia bisa saja sudah terbunuh saat berada di utara.”
“Dia masih hidup,” kataku dengan penuh keyakinan. “Mayatnya pasti sudah ditunjukkan ke publik jika dia benar sudah tewas.”
Shaeviro pasti gagal membunuhnya.
Brooke menuliskan hal itu dalam jurnalnya. Hipotesis Brooke mengatakan bahwa posisi Shaeviro akan semakin aman apabila dia bisa menunjukkan mayat Gordon Fichser, orang yang tahu bahwa Shaeviro adalah otak dibalik pembunuhan Ratu terdahulu. Aku tidak tahu darimana Brooke mengetahui informasi penting ini, dia tidak menuliskannya.
Tetapi aku tahu Brooke hanya pernah bertemu Shaeviro satu kali, saat berumur dua belas tahun. Dia bisa saja mendengar semuanya saat itu.
“Anggap saja dia masih hidup, bagaimana caramu menyakinkan orang yang memutuskan untuk menghilang?” tanya Fanita.
Pertanyaannya logis.
“Aku sedang memikirkannya,” jawabku jujur. “Karena itu aku tidak langsung pergi begitu saja.” Aku memberi waktu pada diriku sendiri yaitu tiga tahun. “Aku akan berusaha menyakinkan Pangeran Carlo.”
“Menyakinkannya soal apa?”
“Menganti posisi Shaeviro dengan Gordon Fichser.”
“Kau pikir Shaeviro tidak akan bertindak apapun untuk menyelamatkan diri?” Fanita mendengus kesal. “Kau belum mengenal dia dengan baik.”
Aku dan Haley lalu menatap Fanita penuh rasa penasaran. Kami tampaknya berpikiran sama sehingga mata kami bertemu pandang. Kami berpikir apa yang membuat Fanita begitu tampak membenci nama itu. Sorot matanya tajam sekali dan tangannya mengepal.
Dia terlihat punya dendam pada Shaeviro.
Entah hal itu baik atau tidak untukku, aku sedikit bernapas lega karena tahu dia akan segera memihakku yang akhirnya punya satu kesamaan dengannya.
Fanita menutup matanya sebentar kemudian berkata lagi, “Pria yang mengendongmu di hutan, siapa dia?”
Fanita mengubah topik pembicaraan.
Aku melirik Haley.
“Namanya Levin. Dia orang yang sudah menolongku waktu aku kabur ke pasar malam dan diserang beberapa orang yang tidak kukenal.”
Haley melotot padaku. Wajar saja, aku belum pernah membahas soal Levin dengannya.
“Apa maksudnya menggendongmu di hutan?” tanyanya. Haley sudah mendengar kabar mengenai acara berburu dan langsung tersadar bahwa Fanita sedang membicarakan hal yang terjadi saat itu.
“Kami membahas sesuatu hal yang penting. Aku akui dia terkesan gila mengingat murid-murid yang dilukainya hanya untuk mengalihkan perhatian Lucas dariku.”
Aku tidak berencana mengungkapkan identitas Levin yang sebenarnya.
“Dia memang agak kasar.”
Aku menatap Fanita ragu-ragu.
“Cepat katakan,” ucap Fanita tegas.
“Lucas menyukai Josephine Spitz.”
Aku mengatakannya dengan wajah datar.
“Apa?” Fanita menatapku tidak percaya. “Putri penasehat kerajaan? Orang yang akan dijodohkan dengan Carlo?”
Haley tampak menunjukkan ekspresi yang sama dengan Fanita. Mungkin aku juga berwajah seperti mereka saat Levin mengungkapkan kebenarannya padaku.
“Lucas pasti menyimpan rahasia ini dari semua orang. Aku tidak ingin dia dalam bahaya. Kau tahu, Shaeviro itu agak…”
“Dia berbahaya,” Fanita menyahutku dan aku melihat dia mengepalkan tangannya lagi. “Aku tidak suka pria itu.”
Aku jadi penasaran. Tetapi bukan saatnya bertanya masalah pribadinya.
Kemudian, aku membuka botol anggur yang dibawa oleh Haley. Menuangkannya dan meminumnya tanpa memutar gelasku (aku dan Haley menyimpan beberapa gelas anggur di ruangan ini. Kami suka minum).
“Kita sudah terlalu lama bicara serius. Aku merasa sesak,” aku menuangkan anggur dan memberikannya pada Fanita dan Haley. “Ayo minum dulu sebentar.”
Kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
Haley lalu buka suara, “Kau harus menasehati kakakmu.”
“Aku tidak mau jadi orang jahat.”
“Kau juga tidak bisa membiarkannya dalam bahaya,” Haley memicingkan matanya. “Rahasia ini adalah penyebab ada racun dalam teh yang seharusnya diminum Lucas.”
Semua orang berpikir musuh ayah yang sengaja melakukan hal itu terhadap Lucas.
Tidak sepenuhnya salah. “Ya. Levin memberitahuku tentang racun itu. Jangan bertanya lebih banyak lagi karena aku tidak ingat apapun termasuk bagaimana kami dulu berkenalan.”
Aku lupa menanyakan hal itu.
“Kita harus mencegah Lucas. Dia tidak boleh menyukai wanita itu,” Fanita mendecak kesal sambil menuangkan anggur ke gelasnya lagi. Dia tidak sabar menungguku menuangkan anggur itu untuknya. “Aku akan bicara empat mata dengan Lucas.”
“Jangan,” cegahku cepat. “Tidak boleh. Tega sekali kau memisahkan mereka?”
“Kita sedang tidak bicara tentang perasaan. Kita bicara tindakan yang benar.”
“Memangnya ada tindakan yang tidak benar kalau bicara soal perasaan?” lanjutku. “Kau tidak tahu rasa cinta akan semakin kuat saat banyak yang menghalangimu.”
“Kau bicara omong kosong.”
“Kau tidak tahu yang disebut perasaan tersiksa?” kataku sewot.
“Kau bicara seolah sudah pernah merasakannya.”
“Hmm…”
Memang pernah tapi aku memilih menyerah dibawah tekanan. Jujur saja, aku menyesalinya sampai saat ini. Aku tidak ingin Lucas merasakan hal yang dulu kusesali. Terkadang aku berandai-andai bagaimana jika waktu itu aku tetap bertahan dan bersama dengan dia? Aku tidak akan bertemu dan merasakan sakit hati yang sangat dalam akibat dikhianati oleh mantan pacarku yang lain.
“Aku hanya ingin Lucas bahagia dengan pilihannya. Dia pasti akan memilih jalan yang benar. Jangan pernah memaksakan pendapatmu padanya. Kalau mereka mau berpisah biarkan itu jadi keputusan yang mereka buat berdua. Kita dukung saja Lucas dalam situasi apapun.”
Aku yakin mereka tidak pernah membaca kisah Romeo dan Juliet.
Dipaksa berpisah oleh orang lain itu sangat menyedihkan.
“Aku lebih memusingkan cara menjatuhkan Shaeviro. Aku tidak ingin Carlo menjadi bonekanya.”
Fanita menghela napas. “Pengamatanmu bagus. Namun aku juga tidak percaya pada Pangeran Carlo seutuhnya.”
“Bukankah kalian berteman?”
“Temanku hanya Lucas dan Alex.”
Aku tidak terkejut mendengarnya. Aku hanya merasa Fanita tidak mudah mempercayai orang lain. Dia punya sikap waspada yang tinggi.
“Tidak ada alasan untuk mencurigai Carlo.”
“Cukup soal itu.” Fanita meletakkan gelasnya. “Ceritakan lebih detail soal rencanamu ke utara.”
*****