Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 31



Carlo dan Grace berdansa diiringi suara musik yang indah namun aku melihat mereka dengan wajah tidak senang.


Aku yakin perasaanku saat melihat mereka bukanlah cemburu atau iri. Lebih seperti sebuah perasaan tidak nyaman karena merasakan ada bahaya yang datang. Sangat aneh sampai tanganku ikut gemetaran.


Alex menarikku lalu membawaku menjauhi orang-orang yang sedang berdansa.


“Ada apa?” tanya Alex khawatir. Dia memegang tanganku yang gemetaran.


“Aku merasa tidak sehat.”


“Kita pulang sekarang,” ajak Alex.


Alex mencoba menarikku dan aku menahan tangannya.


“Aku hanya perlu ke kamar mandi sebentar.”


Aku meninggalkan ruangan pesta. Sesampainya di kamar mandi, aku membasuh tanganku dengan air dan menarik napas dalam-dalam. Menarik napas dan menghembuskannya.


Di mimpiku, Brooke tersenyum pahit melihat mereka berdua. Bukan ketakutan, merasa tidak senang apalagi merasakan adanya bahaya.


“Sial,” aku mengepalkan kedua tanganku. Aku masih tidak memahami perasaanku yang tiba-tiba berubah.


“Bangsawan lain akan berpikir aku cemburu pada Grace.”


Aku tidak ingin rumor di masa lalu Brooke terulang kembali. Aku sudah bersiap untuk hari ini. Aku bahkan berencana untuk berdansa dengan bangsawan mana saja yang mengajakku (kecuali Alex) dan kabur saat Carlo berjalan mendekati Grace untuk mengajaknya berdansa (aku takut ada yang membuat rumor palsu jika aku tetap berada disana).


Tetapi lihat yang terjadi. Aku diam terpaku seperti patung saat mereka mulai berdansa. Rumor pasti sudah menyebar sekarang. Kalau aku kembali kesana, Alyson akan malu sepanjang acara berlangsung dan aku harus menghadapi secara langsung omong kosong para bangsawan wanita lain. Apabila aku tidak kembali, rumor akan bertambah buruk dan aku tidak bisa mengawasi Lucas.


Aku bahkan berencana untuk mendekati Josephine.


Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana kita.


Aku mencoba menguatkan diriku dan memutuskan untuk kembali ke ruangan itu. Di tengah jalan, aku melihat Josephine berbelok ke koridor yang ada di depanku. Aku memutuskan untuk bersembunyi sambil mengikutinya diam-diam. Aku mengikutinya hingga sampai di sebuah tempat yang sepi dan tersembunyi dari koridor utama. Aku melihat Lucas.


Mereka berpelukan.


Kemudian aku memastikan tidak ada penjaga yang berkeliaran di sekitar tempat itu dan beranjak meninggalkan mereka sebelum ketahuan. Aku mencari Fanita dan tidak menemukannya. Aku jadi kesal karena Fanita seharusnya mengikuti mereka jika salah satu dari mereka keluar.


Ketika aku memasuki ruangan pesta itu lagi, aku merasakan banyak pandangan menusuk yang ditujukan kepadaku. Di ruangan itu telah terbentuk dua kelompok. Yang pertama membicarakan hubunganku dengan Alex dan satunya lagi membicarakan hubunganku dengan Carlo.


Aku mematung selama beberapa menit lalu dengan susah payah aku bertekad untuk tidak mau ambil pusing dan segera mencari dimana Fanita berada. Aku menemukan Fanita berada di beranda bersama Alex. Aku mencoba melewati kerumunan orang sambil menegakkan kepalaku seolah menyiratkan pesan bahwa mereka boleh merendahkanku hanya dari apa yang mereka lihat dan aku tidak akan peduli omong kosong itu.


Aku berlagak sok kuat.


Apa yang terlihat di luar seringkali bukan kebenaran yang sesungguhnya.


Aku mengetuk jendela yang memisahkan ruangan itu dengan beranda tempat Alex dan Fanita berdiri. Mereka melihatku dan berhenti bicara. Suasana di antara mereka terasa berat saat aku menginjakkan kaki disana sehingga aku menebak keduanya baru saja bertengkar.


“Kalian sedang membicarakan apa?” tanyaku sambil memperhatikan raut wajah Fanita. “Ada hal yang harus kubicarakan dengan Fanita,” kataku pada Alex setelahnya.


Selama beberapa bulan terakhir, aku dan Fanita tampak akrab di mata orang-orang di sekitar kami. Kami belum berteman seperti yang mereka pikirkan. Kami hanya membahas masalah ekspedisi ke utara yang masih memerlukan banyak persiapan.


“Aku akan tinggalkan kalian berdua. Bicaralah,” Alex melangkahkan kakinya dan Fanita mencoba mencegahnya dengan cara menarik lengan kanan Alex. Aku melihat Fanita dengan wajah agak terkejut terutama saat menyadari ada air yang menetes di ujung mata Fanita.


Alex menghempaskan tangan itu dengan mudahnya lalu berjalan melewatiku.


Aku berbalik dan menatap punggungnya. Berbalik lagi dan melihat wajah kecewa Fanita. Aku ingin bertanya dan akhirnya mulai bertanya-tanya siapa pria yang disukai Fanita? Salah satu topik pembahasan dimana kami bisa terdengar seperti teman.


“Kau baik-baik saja?”


Fanita menutup matanya sebentar dan mengusap air matanya. “Ya.”


“Kau yakin?”


“Ya,” ulangnya lagi.


Aku menghela napas pendek sebagai bentuk tanggapanku terhadap jawaban Fanita.


“Aku mengikutinya. Sesuai prediksi kita,” ucapku tanpa niat menjelaskan lebih lanjut. Aku merasa tidak aman menjelaskan secara detail apa yang kulihat. Ada terlalu banyak telinga disini. “Kau sungguh baik-baik saja?”


Aku mencemaskan Fanita. Yang aku lihat sekarang bukanlah wajah kesehariannya yang tangguh dan angkuh, yang aku lihat adalah wajah gadis yang patah hati.


“Pria itu ternyata Alex,” lanjutku sambil menatap wajahnya sedih. Aku merasa telah melakukan kesalahan terhadap Fanita dan Alyson. “Aku jadi orang jahat lagi hari ini.”


“Kau memang bukan orang baik sejak awal,” Fanita melihatku seperti seorang kakak melihat adik perempuannya. Terkadang, dia menunjukkan raut wajah itu di akademi kepadaku dan Darshan. Darshan sampai mengira Fanita ingin menghajarnya. “Tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini.”


Aku merenungkan kata-kata itu.


“Itu sebabnya kau tidak membagi masalahmu pada orang lain?”


Karena tidak ada orang yang benar-benar baik.


“Ya. Tidak bisa dipungkiri kita senang melihat orang lain susah. Kita pasti pernah melakukannya setidaknya sekali seumur hidup kita.”


“Kau benar,” sahutku. “Aku juga melakukannya. Aku masih merasa senang saat tahu kau dihukum Sir Oswald karena mengajakku bertarung padahal aku belum resmi diterima di akademi.”


“Kurang ajar,” Fanita tersenyum mendengarkan kisah lama itu. “Aku juga tidak menyesal sudah menghajarmu.”


“Baguslah. Kita impas.”


Aku lalu menempatkan diri di samping Fanita. Dalam diam, mataku menjelajahi langit-langit penuh bintang. Begitu indah sampai aku merasa tentram.


“Aku tidak membencimu.”


“Aku tahu,” ujarku tanpa melihat Fanita.


Jika dia benar-benar benci padaku, dia tidak akan bergabung dengan kelompok ekspedisiku.


“Kau hanya tidak suka padaku karena Alex.”


“Aku cemburu.”


“Kau jujur sekali,” aku memandangnya kagum. “Tidak mudah berkata kau cemburu pada saingan cintamu.”


“Kau tidak pantas disebut saingan. Kau tidak suka pada Alex.”


“Hmm, benar juga,” aku tertawa pelan. “Aku heran kenapa banyak sekali yang suka padanya. Menjengkelkan sekali. Apa yang bagus dari sifatnya itu.”


“Dia hebat.”


“Lucas juga hebat,” kataku sambil merasa sebal. “Ada banyak pria lain. Persahabatan kalian lebih penting.”


Persahabatan antara tiga lagenda selalu membuatku iri sekaligus kagum. Persahabatan mereka kuat hanya atas dasar saling memahami tanpa ada prasangka.


“Pernahkah kau bersikap tulus pada seseorang?” tanya Fanita tiba-tiba.


“Pertanyaan macam apa itu?”


Tentu saja pernah.


Dulu aku pernah bersikap tulus pada seseorang. Pertanyaan itu membuatku teringat kembali pada salah satu peristiwa yang kuanggap menyedihkan ketika hidup sebagai Shin Yoo Ri. Setelah menyerah pada orang yang kucintai, kupikir aku akan bisa bertemu seseorang yang baik. Dan saat itu aku bertemu dengan dia. Aku bahkan tidak ingin menyebutkan namanya dengan mulutku, waktu itu aku hanya tidak mau kesepian dan ingin mengandalkan seseorang. Pria itu berselingkuh dariku dan kumaafkan berkali-kali.


“Aku bersikap tulus pada Grace dan Lucas. Haley juga Darshan. Kau juga.”


“Kukira kau paham maksudku,” Fanita melirik wajahku. “Sepertinya pernah.”


Tebakan Fanita benar. Aku tidak berniat menceritakan kisahku padanya. Harga diriku tidak mengizinkanku mengatakan padanya bahwa aku pernah gagal menikah sebagai Shin Yoo Ri. Aku yang sangat bodoh dan kesepian berharap bisa menikah di usia muda tanpa pertentangan dari keluarga calon suamiku. Akhirnya, aku menerima penolakan dari keluarga pria yang kucintai dan dari pria yang berselingkuh dariku hanya karena latar belakang keluargaku. Di usia dua puluh dua tahun, ayahku, ayah Shin Yoo Ri membunuh seseorang secara tidak sengaja.


“Cobalah membalas sikap tulus seseorang padamu. Terkadang, saat kau melihat Alex, aku bisa merasakan ada kebencian di matamu. Kau membencinya seolah semua ucapannya bohong.”


*****