Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 19



Suasana berat begitu terasa di ruang makan malam itu. Aku bersikap acuh terhadap mereka yang melihatku menarik tangan Darshan menuju ruang makan dan memilih duduk untuk makan bersama dia. Darshan tampak gugup dan tidak berani melihat sekeliling. Biasanya, aku selalu duduk bersama tiga lagenda akademi di satu meja makan, jadi mereka pasti beranggapan ini pemandangan ajaib.


“Aku tidak ingin makan,” Darshan berkata pelan, lebih terdengar seperti berbisik. “Biarkan aku keluar.”


“Tidak. Kau harus mulai makan di jam yang seharusnya. Mulai sekarang!”


Ketika Darshan masih berusaha untuk membujukku agar melepaskan dia, dua orang murid mendekati kami dan seorang diantara mereka menaruh tangannya di atas kepala Darshan. Aku mengenali mereka. Kami berada di kelas yang sama. Mereka sering bertingkah jika Lucas atau Alex tidak ada di dekatku.


“Kau pacaran dengan si lemah ini?” si brengsek Jean mengejekku.


Sementara itu, si brengsek Ron mengambil air dan menuangkannya ke makanan Darshan. “Kita harus makan berempat.”


Aku tidak tertarik melewati masa ini lagi. Seperti kembali ke masa sekolah menengah dimana merundung temanmu itu tampak keren bagi sebagian orang (gila).


“Kau sudah siap bicara?” tanyaku dingin. “Boleh aku bicara?”


Aku mengeluarkan senyuman palsuku.


“Kau mau mengeluarkan kata-kata kasarmu lagi?” Mereka berdua tertawa.


“Tidak. Itu nanti saja.”


Aku melemparkan nampan makananku ke wajah Jean dan segelas air ke wajah Ron. Sebelum mereka berteriak marah padaku, aku menendang bagian bawah mereka yang berharga.


“Kau…. gila..,” Ron merintih kesakitan dan Jean menatapku takut. Takut aku menendang bagian itu untuk kedua kalinya.


“Aku benci sekali dengan situasi seperti ini,” aku berteriak frustasi. “Kalau kalian mengganggu dia lagi, akan kupatahkan leher kalian. Kalian hanya bocah yang bahkan tidak berani mengangguku di depan kakakku.”


Kemudian aku menyuruh murid lain untuk membawa mereka menghilang dari hadapanku tetapi Lucas, Alex dan Fanita muncul di saat bersamaan.


“Keributan apa ini?” Alex melihatku dan kedua berengsek itu. “Mereka cari masalah denganmu?”


Pertanyaan Alex pasti terdengar menakutkan di telinga Jean dan Ron. Bagaimanapun, pertanyaan itu diucapkan oleh Alexrod Bartos yang menempati peringkat pertama di akademi. Di luar dugaanku, Alex ternyata pintar dan kuat. Tidak perlu kupertanyakan lagi kenapa dia bisa bolos dengan seenaknya. Dia punya julukan murid yang tidak tersentuh aturan (guru-guru tampak sudah menyerah menasehatinya agar berhenti datang dan pergi sesuka hati).


Hampir di semua cerita heroik, sosok pahlawan selalu datang terlambat. Mungkin ada masalah pada jam tangan mereka.


Aku lalu tersenyum senang melihat ketiga lagenda akademi untuk pertama kalinya di ruang makan.


“Brooke, kau tidak apa-apa?” Lucas menghampiriku dengan wajah cemas.


Aku senang karena dia menunjukkannya. Wajah cemas itu. Sejujurnya aku masih kecewa saat dia membiarkanku pulang di hari ujian masuk tanpa memberikanku kesempatan untuk berpamitan. Dia juga sempat mogok bicara padaku. Itu memang salahku. Tapi aku tetap kecewa karena dia saudara laki-laki pertama yang aku miliki.


“Dia mengganggu temanku,” aku mengadukan mereka dengan nada suaraku sedih dan memasang wajah pura-pura cemberut. “Dia menaruh air di makananku.”


Sebenarnya itu makanan Darshan.


Yang lebih penting lagi, tiba-tiba aku ingin bertingkah seperti adik yang manja.


Lucas berbalik menatap Jean dan Ron dengan tatapan tajam yang menusuk. Mereka bergidik ngeri karena ada sebuah rumor terpercaya yang mengatakan jika Lucas marah bahkan Alex juga tidak akan mampu melawannya.


Di lihat dari sisi manapun, Lucas mirip dengan ayahku yang terkenal dengan sikap dinginnya.


Aku melihat Alex berjalan cepat, menarik kerah baju Ron dan berbisik padanya. Si brengsek itu berubah pucat pasi. Aku akan bertanya nanti pada Alex soal bisikan itu. Aku bertemu pandang dengan Fanita yang melihatku dengan wajah tidak suka. Aku bingung dengannya yang kadang bersikap biasa saja dan kadang bersikap seolah aku musuh lamanya.


Dia sedang dalam tahap awal Bipolar?


Aku dibuat merasa lelah olehnya.


“Ayo pergi,” aku menarik tangan Darshan. “Oppaharus makan malam,” kataku kepada Lucas sambil menarik Darshan pergi. Aku kehilangan selera makanku dan berharap Lucas tidak merasakannya juga.


Aku menghela napas panjang sesaat setelah kami sudah cukup jauh dari ruangan makan itu. Darshan lalu menghempaskan tanganku dan mengepalkan kedua tangannya.


“Kau.., seharusnya tidak memaksaku kesana.”


Aku melihat tubuhnya bergetar hebat dan menunduk sangat dalam.


“Kau membuatku dalam masalah. Aku tidak ingin berteman denganmu. Aku tidak ingin..…”


“Kau konyol sekali.”


Aku berkomentar pedas.


Dia mendongkakkan wajahnya menatap mataku.


“Kau tahu apa tentang hidupku? Kau pikir aku mau hidup seperti ini?”


Aku tidak bisa menyalahkan Darshan. Rasa percaya dirinya pasti hancur karena mendengar setiap omongan buruk itu dan membenarkannya tanpa dia sadari. Yang menyedihkan dari korban penindasan adalah mereka tidak akan pernah melupakan kejadian itu seumur hidup mereka. Makanya, pelaku penindasan yang minta maaf sekalipun sulit untuk dimaafkan.


“Psikologi kriminal.”


Darshan tidak pernah mendengar kata itu.


“Aku belajar itu,” lanjutku. “Aku juga mempelajari hal berbeda dari murid-murid lainnya. Kau tahu kenapa? Karena aku bukan orang pada umumnya. Jadi, mulai sekarang kita akan mengabaikan mereka.”


“Mengabaikan mereka?”


Aku melipat kedua tanganku tanpa niat menjabarkan cara terbaik untuk mengabaikan omongan orang lain. “Kau suka mempelajari tanaman obat kan?”


Darshan tidak menjawab dengan kata-kata tetapi raut wajahnya menujukkan dia menyukai hal itu.


“Mulai sekarang, tunjukkan buku yang kau baca kepada semua orang. Tunjukkan kau meminati hal itu. Lalu, ikutlah denganku untuk sebuah ekspedisi.”


“Aku tidak mengerti.”


“Aku tidak bisa jelaskan detailnya. Itu masih rahasia.”


Darshan mencoba memahami ucapanku dan bertanya, “Ekspedisi apa? Kenapa aku?”


“Kau seorang ahli pengobatan. Kau harus jadi ahli pengobatan seperti yang kubayangkan.”


“Apa?” Darshan tampak terkejut.


“Aku butuh ahli pengobatan. Bersiaplah belajar. Aku memaksa.”


Akan lebih baik membawa ahli pengobatan yang tidak terlihat seperti Darshan. Dia pandai menyembunyikan diri. Jika sesuatu terjadi pada kelompokku nantinya, dia bisa bersembunyi selagi kami bertarung dan keluar untuk mengobati luka kami. Aku merasa dia pilihan terbaik. Instingku berkata demikian.


Waktuku untuk mempersiapkan ekspedisi ke utara tinggal tiga tahun lagi. Sejauh ini Haley dan Darshan sudah resmi bergabung.


Bicara soal daftarku, aku merasa sangat kesulitan melakukan prioritas kedua. Hidup lamaku sebagai Shin Yoo Ri masih terus membayangiku.


Aku ingin sebotol soju.


*****