Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 20



Tiga bulan berlalu begitu cepat.


Ini adalah rutinitasku. Aku menghabiskan pagi hari dengan memperhatikan serius pelajaran geografi dan politik, siang hari aku makan bersama Darshan sambil mendengarkan dia bicara soal tanaman obat lalu berlatih pedang di bawah pengajaran Sir Oswald. Di sore hari, aku dan Darshan akan berlari mengelilingi lapangan. Saat malam tiba, aku makan bersama tiga lagenda dan memaksa Darshan bergabung bersama kami.


“Wuahh, aku capek sekali,” aku merengangkan kedua tanganku. “Hari ini sangat panas.”


Darshan mengangguk setuju.


“Mau bolos latihan?”


“Kau ingin dihajar ya?”


“Tidak.”


Aku melihat Fanita berjalan ke arahku di sela-sela istirahatku dan Darshan. Wajahnya tampak kesal padaku. Aku tidak ingat apakah telah melakukan kesalahan padanya atau tidak.


Dia membawa busur panah.


Sementara aku melihat busur panah itu dengan pandangan kagum, Fanita sudah berdiri di dekatku dan berkata ada yang mencariku.


“Haley?” tanyaku.


“Grace Cohenherb.”


“Dimana?”


“Mengobrol bersama kakakmu.”


Darshan mengamati kami berdua yang berbisik padaku. “Hubungan kalian memang buruk.”


Fanita mendengarnya dan menunjukkan wajah sinis lalu langsung meninggalkan tempat itu. Aku benci sekali setiap dia bersikap tidak karuan padahal sebelumnya kami mengobrol dengan baik-baik saja (tidak bisa dibilang akrab juga). Sebenarnya, dia ada masalah hidup apa denganku?


“Menurutku dia iri padamu,” kata Darshan.


“Menurutmu begitu?” tanyaku. Aku lebih iri pada Fanita yang mahir berpedang. Staminanya juga jauh lebih bagus dariku.


“Para wanita biasanya iri satu sama lain.”


“Ya! Kenapa aku harus mendengarkanmu?”


“Aku punya empat kakak perempuan.”


Aku tercengang. Pantas saja, Darshan mendapatkan beban berlebih dari keluarganya untuk menjadi kesatria yang hebat. Aku tidak pernah membahas keluarganya selama kami menghabiskan waktu bersama. Aku lebih berkonsentrasi untuk memberikan motivasi pada Darshan agar menjadi tabib yang sesuai dengan harapanku.


“Aku mendengarkanmu.”


Darshan tampak berpikir sejenak lalu berkata, “Kakakku pernah berkata dia tidak suka saat temannya dekat dengan orang lain. Rasanya seperti mereka merampasnya dengan paksa.”


Perasaan wanita memang rumit.


“Aku mengerti,” kataku. “Aku memang tampak merebut waktunya dengan teman-temannya.”


Kemudian, aku mengajak Darshan pergi bersamaku untuk menemui Grace. Aku ingin mengenalkan mereka karena Darshan sudah menjadi teman baikku. Meskipun dia masih bersikap pemalu tetapi dia jauh lebih normal dan lebih bersemangat dalam kesehariannya sekarang.


Aku melihat Lucas dan Alex sedang mengobrol dengan Grace.


“Grace,” aku setengah berlari padanya meninggalkan Darshan di belakangku. “Senang melihatmu datang kemari.”


“Brooke,” Grace memengang kedua tanganku. “Aku merindukanmu.”


“Aku juga,” lanjutku. “Aku mau mengenalkanmu pada Darshan. Saat kau berkunjung bulan lalu, kalian tidak bertemu.”


Aku membalikkan badanku.


“Darshan,” panggilku. Aku menoleh ke kiri dan kananku. “Ya! Darshan Wilder,” teriakku kesal. Darshan sudah menghilang. Aku tidak menyadarinya sama sekali.


Aku menghela napas panjang. Darshan tidak berani melihat Grace dari dekat. Dia melakukannya dari kejauhan saat pertama kali Grace mengunjungiku. Dia bilang Grace sangat cantik. Kecantikan Grace menjadi buah bibir baru di akademi setelah dia mengunjungiku pertama kali sekitar dua bulan yang lalu. Aku tidak heran mengapa Lucas selalu melarang Grace mengunjunginya dulu. Dia tidak bisa menghalangi Grace lagi karena aku memperbolehkannya.


“Dia menghilang lagi?” tanya Lucas tidak heran.


“Jangan berteriak, kau berisik,” Alex berkata setelahnya.


“Pergilah. Jangan mengganggu reuni kami,” balasku kepada Alex. Dia tidak akan pergi walaupun kuusir.


Grace mencoba mendamaikan aku dan Alex yang berdebat singkat lalu memberikan hadiah saputangan untukku dan Lucas. Alex dan Fanita juga mendapatkannya.


Yang Grace maksud adalah acara berburu yang akan diadakan minggu depan, acara berburu yang menjadi simbol kebanggaan di Kerajaan (konon kabarnya, acara ini dibuat untuk menunjukkan kemampuan rakyat Kerajaan Morrow kepada Kerajaan Kirkuz yang terkenal punya banyak pemburu handal). Para murid akan berburu dan yang mendapatkan tangkapan besar akan diberi penghargaan langsung oleh Raja.


“Kami tidak akan terluka,” Lucas mengelus-ngelus kepala Grace. “Aku akan menjaga Brooke.”


Berbeda dengan Lucas dan Grace, aku merasa bersemangat menanti hari berburu. Aku bersemangat karena belum pernah melakukannya. Aku turut ambil bagian dalam acara itu. Tidak peduli Lucas dan Alex yang menentangku dengan keras. Kami akhirnya membuat kesepakatan yang berisikan ‘aku tidak akan menghilang dari jangkauan penglihatan Lucas dan Alex’.


“Fanita yang akan menang,” Alex berkata seolah-olah itu sebuah kebiasaan. “Aku tidak tertarik dengan acara berburu.”


“Dia pernah menang?”


“Selalu,” jawab Alex. “Dia yang paling baik dalam memanah.”


“Soal panahan, kenapa kita tidak diajarkan memanah?”


Aku belum pernah melihat ada yang belajar memanah di tempat latihan.


“Orang-orang menganggap memanah itu mudah, jadi tidak ada yang tertarik melakukannya. Kita juga memakai pakaian pelindung,” Lucas memberikan penjelasan.


Tetap saja kalau panah menembus jantung, itu bisa berakibat fatal.


“Aku ingin melihatnya memanah,” kata Grace.


“Aku juga.”


Aku merasa Fanita akan tampak hebat dalam acara berburu nanti.


Ketika aku membayangkan Fanita dan anak panahnya serta membayangkan diriku menunggang kuda menyusuri hutan, aku mendengar suara yang memanggil Lucas dengan sebutan Hyung.


“Hyung,” sapanya lagi. Aku menoleh ke arah suara itu dan mundur beberapa langkah secara otomatis.


Aku melihat Putra Mahkota Carlo Joines Barner.


“Yang mulia,” Lucas menunduk hormat begitu juga dengan Alex dan Grace. Hanya aku yang diam terpaku tanpa bisa melakukan apapun.


Hatiku bergetar seakan sangat merindukannya. Perasaan senang dan juga salah tingkah di saat bersamaan.


“Hyung, mereka adikmu?” Carlo tersenyum ramah.


Dia membuat jantungku berdebar-debar.


Alex lalu menyikut lenganku dan bertanya, “Dimana sopan santunmu?”


Aku tersadar dan menyapa Carlo dengan suara gugup. “Diberkatilah anda, Yang Mulia.”


Di mimpiku, Brooke dan Grace bertemu Carlo di pesta dansa yang akan berlangsung kurang dari setengah tahun lagi. Jadi, aku belum sepenuhnya mempersiapkan mentalku untuk bertemu dengannya langsung.


Dulu hanya memikirkannya saja sudah membuat hatiku terasa aneh.


Efek Brooke membuatku seakan sedang jatuh hati pada Pangeran Carlo. Aku belum bisa mengendalikan perasaanku. Perasaan Brooke masih begitu melekat padaku yang hidup di tubuhnya.


“Brooke. Itu namamu, kan? Hyung pernah menyebutkan nama kedua adiknya padaku.” Carlo tersenyum lagi dan aku menutup mata menahan debaran jantungku.


Ah, sial. Aku tidah tahu wajahnya luar biasa jika dilihat secara langsung.


Diriku sebagai Shin Yoo Ri berkata aku harus segera melarikan diri. Aku tidak ingin merusak suasana yang seharusnya menjadi milik Grace dan Carlo. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama, membiarkan Brooke yang tersenyum pahit saat melihatnya.


“Anda sakit?” Carlo sekarang menatapku dengan wajah serius. “Anda baik-baik saja?”


Aku pura-pura batuk.


“Brooke, kau sakit?” Grace menepuk punggungku dengan khawatir. Alex juga memegang keningku dan berkata suhu tubuhku normal.


Aku berpikir untuk pura-pura pingsan.


“Sepertinya anda harus istirahat,” saran Carlo. Aku melirik sekilas wajahnya yang tampan. Dia bermata biru terang dan berambut pirang. Ciri khas keluarga Kerajaan. “Sepertinya aku harus pergi. Aku hanya ingin menyapa Hyung.”


Aku baru tahu Lucas berhubungan baik dengan Pangeran Carlo.


“Semoga anda cepat sembuh, Nona Brooke.”


*****