
Selama beberapa hari kemudian, aku bermimpi mengenai Brooke Cohenherb setiap malam. Mimpi itu selalu sama setiap harinya. Brooke adalah seseorang yang berbakat dan pintar. Seorang anak dari Duke Jayden Cohenherb dan Duchess Francis Heider. Saudara kembar tidak identik dari Grace Cohenherb. Punya seorang kakak laki-laki bernama Lucas Cohenherb. Aku mengambil kesimpulan bahwa Brooke adalah seorang chaebol.
Aku seorang chaebol sekarang.
Di mimpiku, aku melihat masa depan Brooke. Dia dituduh membunuh Grace dengan cara menaruh racun pada teh yang diminum oleh saudarinya. Orang-orang beranggapan hal itu terjadi karena Brooke iri dengan Grace yang lebih cantik daripada dirinya (aku mengakui ini benar tapi aku tidak iri) dan Putra Mahkota yang lebih memilih Grace sebagai calon pendamping hidupnya. Brooke dan Grace memang jatuh cinta pada orang yang sama namun Brooke tidak berpikir Putra Mahkota lebih berharga dari saudarinya. Ini semua ulah penasehat kerajaan bernama Shaeviro. Dia tidak ingin musuh bebuyutannya, Duke Cohenherb menjadi lebih sukses secara strata sosial.
Aku ingin mematahkan kaki dan tangan Shaeviro sialan itu.
Aku bertekad untuk melakukannya. Aku lalu terbangun dengan rasa lelah dan juga sedih. Di satu sisi aku merasa kisah hidup keluarga Brooke sangat tragis dan tampak seperti dongeng pengantar tidur yang menyedihkan. Di sisi lain, aku bisa merasakan Brooke tidak ingin mengulang kejadian yang sama di masa depan. Dia ingin menghalanginya. Mimpi yang kualami seperti permohonan minta tolong darinya. Dia sudah meninggal dan yang kembali dari ambang kematian untuk menyelamatkan keluarga Brooke adalah Shin Yoo Ri. Diriku yang kemungkinan besar sudah tewas karena kecelakaan mobil.
“Waktu Brooke berputar kembali.”
Aku menghela napas pendek dan melihat matahari masuk lewat jendela kamar mewah Brooke. Aku belum bisa menerima takdirku sepenuhnya. Tetapi, mimpi Brooke memberikanku sedikit petunjuk bahwa aku memang bereinkarnasi menjadi Brooke di usia lima belas tahun. Setahun sebelum dia bertemu Putra Mahkota dan jatuh hati padanya.
Apa yang harus aku lakukan?
Suara ketukan pintu akhirnya menyadarkanku. Dua orang pelayan menunduk memberi hormat padaku. Mereka bertanya bagaimana perasaanku dan apakah aku lapar.
“Aku lapar.”
Bagaimanapun manusia pasti terjebak dalam sebuah kebingungan dan masalah hidup, karena itulah manusia harus tetap makan sesuatu yang lezat. Aku jadi penasaran apakah aku bisa meminta makanan tertentu kepada mereka.
“Kami akan membawakan Nona makanan. Tolong tunggu sebentar.”
Aku merasa bersyukur mereka tidak datang dengan perintah untuk mengantarku ke ruang makan agar bisa menghabiskan waktu bersama keluarga Cohenherb. Tak lama setelah salah seorang pelayan pergi dan satunya sedang menyiapkan sesuatu dikamar mandi, Duchess Francis, ibu Brooke datang dan tersenyum hangat padaku. Ada dua orang anak yang mengikutinya dari belakang. Lucas dan Grace.
“Sayang, bagaimana keadaanmu?”
Aku tidak segera menjawab pertanyaan ibu Brooke. Aku mengalami dilemma belakangan ini. Apakah harus berpura-pura sebagai Brooke yang hilang ingatan (mimpi yang aku lihat menunjukkan bahwa Brooke punya keluarga yang harmonis) atau pura-pura tidak mengerti apapun sampai aku bisa menerima kenyataan yang sedang terjadi padaku.
“Kakak…” Grace memanggilku dengan mata sembab.
Aku bisa menebak Grace menangisiku lagi. Sementara Lucas hanya menatapku cemas.
“Maaf.” Aku mengucapkan permintaan maaf. Aku belum bisa menjadi Brooke dalam waktu dekat. Belum saatnya.
Aku harus memikirkan sebuah cara untuk menyelamatkan keluarga ini terlebih dahulu. Aku hanya melihat apa yang terjadi beberapa tahun kedepan, aku tidak tahu secara pasti, siapa yang meracuni Brooke di usia lima belas tahun. Shaeviro sialan itu atau bisa jadi orang lain.
“Aku tidak bisa mengingat kalian. Maafkan aku.”
Duchess Francis memelukku sambil mengatakan tidak apa-apa. Grace juga memelukku setelah Duchess melepaskan pelukannya. Lucas tetap diam menatapku dan aku mulai mengagumi wajahnya yang tampan sekaligus imut dalam satu waktu.
Beberapa saat setelahnya, pelayan bernama Jane yang pergi mengambil makanan, mengetuk pintu dan mendorong sebuah troli yang membuatku terperangah. Aku mulai bersyukur dalam hati karena bertemu kembali dengan makanan-makanan lezat itu. Pelayan bernama Reevi bertanya padaku apakah aku mau makan atau mandi terlebih dahulu. Dalam mimpiku, Jane, Reevi dan seorang bernama Filley adalah orang yang membela Brooke atas semua rumor buruk dalam setiap kesempatan yang mereka miliki.
Aku jadi penasaran apakah kamar president suit di Korea mendapatkan pelayanan seistimewa ini juga.
Dulu aku punya mimpi. Menginap sehari di kamar President suit. Impian konyol yang lahir karena dulu aku hidup seadanya di kamar sewa yang bahkan tidak sebesar kamar Brooke.
Duchess Francis masih tampak sangat sedih karena aku belum mengingat apapun seperti yang diharapkannya, ia lalu memutuskan untuk keluar sambil menyuruhku untuk menikmati makananku. Aku merasa dia pergi untuk menangis.
Grace mirip dengan ibunya. Anggun dan lemah lembut.
Tak lama berselang, Lucas menyuruh Grace keluar agar aku bisa makan dengan tenang. Grace terus memelukku seolah aku akan pergi jauh. Tipikal anak perempuan manja yang dekat dengan saudaranya. Lucas butuh usaha untuk membuat Grace keluar dari kamarku. Mereka beradu mulut. Sangat kekanak-kanakan. Tapi, mereka memang masih anak-anak di mataku.
Shin Yoo Ri berusia dua puluh delapan tahun sebelum mengalami kecelakaan. Cukup tua untuk memaklumi tingkah laku mereka berdua.
“Tidak masalah jika Grace ingin tetap disini. Kita bisa makan bersama,” saranku.
“Tidak,” kata Lucas. “Grace harus keluar supaya kau bisa makan dengan tenang.”
“Kakak!” teriak Grace kesal. “Aku mau bersama Brooke.”
Aku tahu Lucas bermaksud baik tapi lebih tepatnya dia ingin membicarakan sesuatu denganku. Hanya kami berdua saja. Aku sudah menyadarinya sejak dia masuk ke kamarku.
Mereka terlihat menggemaskan saat bertengkar.
Grace akhirnya keluar dari kamarku setelah perdebatan panjang dengan Lucas. Jane dan Reevi juga harus pergi atas perintah Lucas. Jane lalu menata meja makan dengan cepat dan Lucas menyuruhku duduk. Dia terus menerus meletakkan sesuatu ke piringku untuk dimakan.
“Kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, Oppa.”
Lucas melihatku dengan mata yang kini tampak hampir menitikkan air mata.
“Lucas Oppa?”
“Maaf. Racun itu ditujukan untukku. Teh yang disajikan hari itu, aku yang seharusnya meminumnya.”
Racun untuk Lucas?
“Kenapa seseorang menaruh racun itu?” Aku benar-benar terkejut. Di mimpiku, Lucas tidak meninggal. Lucas adalah orang terakhir yang memeluk tubuh dingin Brooke yang sudah tidak bernyawa. Brooke dibunuh lalu dinyatakan bunuh diri.
“Ayah sedang menyelidikinya. Maafkan aku, Brooke.”
Lucas terlihat sangat merasa bersalah. Aku bisa tahu dia adalah kakak yang baik bagi Brooke dari bagaimana dia merasa bahwa lebih baik dia yang terkena masalah dibandingkan adiknya sendiri.
Aku selalu ingin punya kakak seperti Lucas.
“Aku tidak merasa Oppa harus meminta maaf karena hal itu. Kita harus mencari orang jahat itu dan membuatnya meminta maaf.”
Aku akan memastikan hal itu terjadi.
“Oppa, bagaimanapun terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja. Walaupun aku tidak ingat apapun sekarang atau bahkan tidak bisa mengingatnya lagi, kita bisa membuat kenangan baru bersama. Oppa akan menjadi kakak terbaik yang pernah kumiliki.”
Aku berharap kata-kata kerenku cukup untuk menghiburnya. Tersentuhlah.
Lucas memandangiku. Raut wajahnya berubah dari sedih menjadi senang bercampur haru. Aku mulai menganggap hidup baruku tidak buruk. Beberapa hari terakhir, semua orang datang hanya untuk menyapaku atau sekedar melihat keadaanku. Kehadiran Brooke pasti sangatlah berharga. Aku ingin tetap menjaga perasaan ini walaupun tidak bisa menjadi Brooke yang dikenali mereka sebelumnya.
“Oh ya Oppa, dimana kita bisa membaca beragam buku?”
“Maksudmu perpustakaan?”
“Ya, perpustakaan. Boleh aku pergi kesana?”
Aku harus mempelajari seluk beluk mengenai dunia ini.
Lucas memiringkan kepalanya tampak bingung. “Perpustakaan di rumah atau di Kerajaan?”
“Kita punya perpustakaan sendiri?”
Lucas mengangguk.
Aku lalu tersenyum puas. Aku merasa semakin mencintai rumah ini. Beberapa hari terakhir, aku hanya diam di kamar karena memikirkan mimpi-mimpi tentang Brooke. Karena harus membuat rencana terutama untuk menyelamatkan Grace, aku harus belajar tentang dunia ini.
“Oppa bisa mengantarku ke perpustakaan kita?” Aku berdiri dari tempat dudukku.
“Sekarang?”
Aku juga memutuskan untuk berkeliling rumah Brooke hari itu.
*****