
Hal terakhir yang aku lakukan adalah berlari dengan seluruh tenagaku yang tersisa. Perasaan itu masih begitu melekat hingga aku merasa kesulitan bernapas. Seperti habis bermimpi buruk.
“Kakak...”
Aku mendengar suara yang sangat pilu seolah membangunkanku dari mimpi buruk itu. Mataku juga sangat sulit terbuka dan tubuhku terasa berat. Ada sesuatu yang mendadak muncul dipikiranku.
Aku ini anak tunggal.
Jadi, siapa yang sedang menangisiku? Di satuan polisi tempatku bertugas, aku tidak pernah dipanggil kakak perempuan. Senior-senior menyebalkan itu sepakat memanggilku kakak laki-laki.
“Itu karena kau pemegang sabuk hitam beladiri judo.”
Alasan konyol. Aku masih merasa kesal dengan atasan langsungku di divisi penanganan kejahatan dan kekerasan. Sebenarnya, aku seorang polisi yang hebat dan berdedikasi.
“Brooke..”
Ah, nama itu lagi.
Mereka memanggilku dengan nama Brooke. Aku tidak terlalu yakin itu ditujukan untukku, mungkin saja untuk pasien yang tidur di sebelahku. Tapi ada banyak suara sedih lainnya di sekelilingku.
Kamar berisi enam orang?
Aku benar-benar berusaha membuka mataku dan berpikir positif. Ingatan terakhirku adalah saat aku berlari mengejar seorang pelaku percobaan pembunuhan (korbannya masih hidup) dan berakhir dengan tertabrak sebuah mobil. Aku tidak waspada terhadap sekitarku. Aku berharap tidak kehilangan salah satu bagian tubuhku.
Semoga tidak ada yang perlu diamputasi, Tuhan.
Lalu, aku berusaha membuka mataku perlahan-lahan.
Aku melihat langit-langit. Aneh sekali. Tidak seperti langit-langit yang umum ditemui di rumah sakit.
Aku menoleh ke samping.
Dia sedang menangisiku?
Seorang perempuan muda. Usia sekitar empat belas sampai lima belas tahun. Rambut coklat keemasan yang panjang bergelombang. Wajahnya…
Astaga, dia benar-benar cantik.
“Kakak...”
Tangisannya semakin kencang. Kuakui anak perempuan ini sedikit berisik. Dan siapa mereka, anak laki-laki di belakangnya, dua orang dewasa yang tampak lega, kakek tua yang aneh, orang-orang yang berpakaian seperti seorang pelayan dalam komik-komik yang biasa aku baca.
Cosplayer?
Pakaian mereka semua aneh. Aku teringat sesuatu tapi kepalaku terasa sakit. Rasanya sangat sakit hingga tiba-tiba semua mulai berubah menjadi gelap. Aku tertidur lagi.
Saat kesadaranku kembali, aku mendengar suara-suara lagi. Aku benar-benar kebingungan. Aku ingin membuka mataku tapi sepertinya ada banyak orang disekitarku. Aku tidak mengenali suara mereka. Tidak ada yang bersuara keras seperti Kim In Ho atau berbicara seperti Jin Hwa yang terdengar bernada satu oktaf di bawah rata-rata orang pada umumnya. Kemana perginya semua teman-temanku? Kurang ajar sekali mereka tidak menjengukku.
“Penawar racunnya, apakah tidak mempan?”
“Karena usia Nona Brooke masih sangat muda, kita tidak bisa memperkirakan seberapa efektif pengobatan ini, Tuan.”
Percakapan yang terdengar aneh bagiku. Mereka hanya perlu membawa sampel racun itu dan mengeceknya di laboratorium. Penawarnya pasti ada. Mereka juga perlu membuat laporan ke kepolisian.
Seseorang kemudian mengelus-ngelus kepalaku dengan lembut sambil terus menyebut nama Brooke. Aku ingat dengan jelas namaku adalah Shin Yoo Ri dan aku hampir mati karena tertabrak mobil saat menjalani aksi heroikku. Ini sudah terasa begitu aneh dan sepertinya aku harus meluruskan semuanya. Beruntungnya, kepalaku tidak terasa sakit lagi seperti sebelumnya.
Aku membuka mataku perlahan. Dan yang pertama kulihat adalah langit-langit kamar yang kulihat sebelumnya. Ternyata, aku tidak sedang berhalusinasi.
“Brooke..”
Seseorang segera menggenggam tanganku. Anak laki-laki yang kulihat semalam.
Mendadak aku merasa semua orang menghela napas lega dan mendadak bersemangat berkerumun di sekitarku. Aku agak terkejut.
Ah, suaraku benar-benar sulit keluar. Ayolah, Shin Yoo Ri.
“Siapa kalian?”
Pertanyaanku tampak mengejutkan mereka. Terutama dua orang dewasa dan kakek tua yang menatapku saat ini. Berbeda dengan anak laki-laki disampingku yang langsung menggenggam tanganku sampai terasa sangat sakit.
“Brooke, aku Lucas. Kakak laki-lakimu. Lucas Cohenherb.”
Tunggu sebentar. Cohen apa katanya?
“Lucas?” tanyaku dengan mata membulat. “Brooke?”
Sesaat setelah mendengar ucapanku, kakek tua itu maju dan mengamatiku lebih dekat lagi. Kemudian dia segera memberi tanda agar semua orang keluar termasuk Lucas. Pria yang dipanggil ‘Tuan’ olehnya, memberi perintah dengan nada tegas seolah mengerti maksud dari si kakek tua itu.
“Tuan, Nona Brooke sepertinya kehilangan ingatannya.”
“Kenapa hal ini bisa terjadi? Seharusnya racun hanya mempengaruhi tubuh secara fisik.”
“Tuan, sejujurnya saya merasa ini semua terjadi karena Nona Brooke mengalami trauma hebat. Hanya hal itu yang paling mungkin terjadi saat ini, Tuan.”
Walaupun aku belum sepenuhnya memahami apa maksud si kakek tua dan tuannya tersebut, aku merasa mereka sedang membicarakan tentang diriku. Tidak ada orang lain yang sekarat di ruangan ini. Wanita yang berada di samping pria itu, kemudian mendekat dan memelukku sambil menangis. Aku jadi benar-benar yakin mereka sedang membicarakan diriku. Diriku yang mereka panggil dengan nama Brooke.
Kakek tua itu menyuruh kedua orang tua Brooke untuk membiarkanku istirahat dan tidak mengajakku bicara karena aku berpura-pura mengantuk. Setelah mendengar suara pintu ditutup sempurna, aku segera bangkit dari tempat tidur dengan usaha yang cukup besar.
Kamar yang sangat luar biasa. President suit room.
Aku hampir lupa mencari cermin karena terpukau dengan kamar mewah yang tampak seperti kamar President suit untuk tamu negara penting yang melakukan kunjungan kerja.
Akhirnya, aku menemukan sebuah cermin di kamar mandi.
“Ini…., aku?”
Rambut pendek di atas bahu berwarna coklat keemasan dengan mata coklat terang. Aku tampak seperti anak usia empat belas sampai lima belas tahun. Aku memperkirakan usiaku sama dengan anak perempuan cantik berambut panjang kemarin.
“Tunggu sebentar…”
Jantungku tiba-tiba berdetak sangat kencang. Apakah ini masuk akal? Ini benar-benar tidak logis. Aku terbiasa membuat penalaran logis untuk menganalisis kejahatan yang terjadi, tapi ini bukan sebuah tindakan kejahatan. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
“Aku adalah orang yang ada di cermin saat ini?”
Aku mengambil nafas dan menghembuskannya kasar. Mengacak-acak rambutku bahkan berjalan mondar mandir di sekitar kamar mandi.
“Aku harus tenang.”
Ada satu hal yang mengangguku saat ini. Ingatanku. Jika benar aku memang Brooke seperti yang dikatakan anak bernama Lucas itu, kenapa aku mempunyai ingatan saat bekerja di Korea? Di kepolisian? Kenapa aku mengingat hari dimana In Ho sialan itu memanfaatkanku sebagai alasan untuk putus dari pacarnya yang posesif? Aku benar-benar ingat ditampar oleh wanita gila itu dan aku melampiaskan kekesalanku dengan menjambak rambut In Ho karena masih membutuhkannya dalam keadaan sehat untuk membantu pengintaian tersangka kasus judi. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?
“Reinkarnasi…”
Kata itu lalu muncul di pikiranku. Alasan sementara yang terlintas agar semua ini terasa masuk akal. Aku bereinkarnasi menjadi Brooke setelah mati sebagai Shin Yoo Ri. Yang paling aneh bagiku saat ini adalah kenapa aku bereinkarnasi di dunia yang tampak seperti tidak punya eksistensi di dunia nyata? Maksudku Korea. Semua tampak sangat kuno dan pakaian cosplay yang kulihat kemarin menjelaskan ini dunia yang aneh.
“Terlempar ke dunia lain. Dunia yang sepertinya hanya ada di buku dongeng.”
Aku berlari menuju jendela yang tampak begitu besar bagiku. Aku melihat ke arah luar. Ada sebuah taman besar dengan air mancur sebagai pusatnya. Ada orang-orang yang berkeliaran dengan pakaian pelayan dan orang-orang yang tampak seperti pengawal atau kesatria. Aku mundur beberapa langkah dari jendela. Berjalan sempoyongan ke tempat tidur dan menenggelamkan wajahku ke bantal.
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.
“Apa yang harus kulakukan?”
Aku memikirkan banyak hal setelahnya lalu tertidur dengan pulasnya.
*****