Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 26



Sehari setelah acara berburu, aku menghabiskan waktu bersama Darshan di perpustakaan.


“Tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya,” kata Darshan.


Kami sedang membahas apa yang terjadi pada acara berburu kemarin.


Kabar mengenai beberapa murid yang diserang oleh orang tidak dikenal menyebar dengan cepat. Saat itu, aku bersusah payah menemukan jalan keluar dari Hutan Tasi. Aku berhasil keluar saat matahari hampir tenggelam. Aku melihat raut cemas Lucas dan Alex yang mencariku menyusuri hutan.


“Aku bersyukur mereka tidak terluka parah.”


Levin mengarahkan pedangnya kepada mereka untuk memisahkanku dari Lucas. Aku merasa bersalah pada murid-murid itu.


“Kudengar Fanita menamparmu.”


“Jangan membahas hal itu,” kesalku.


Aku berdalih bertemu dengan orang tidak dikenal itu, ketakutan, berlari dan bersembunyi hingga tersesat. Fanita tidak peduli dengan alasanku dan menamparku sampai aku terjatuh (pipiku masih terasa sakit sampai sekarang). Dia mengatakan aku seharusnya tidak membuat siapapun khawatir.


“Semua murid heran karena kau tidak membalas Fanita.”


“Reputasiku sangat buruk ya,” celotehku. “Tapi aku memang bersalah.”


Fanita memang kejam tapi dia tidak salah dengan ucapannya. Aku membuat Lucas berwajah sangat pucat, beberapa murid terluka dan murid lain menghabiskan banyak waktu untuk mencariku. Kekacauan yang sebenarnya disebabkan oleh perintah yang diterima Levin. Dari sudut pandangku, aku memang pantas diberi pukulan.


“Aku merasa Fanita sedikit berlebihan,” Darshan melanjutkan. “Bukan salahmu jika tersesat di hutan yang belum pernah kau masuki. Kalau Lucas yang marah, kami semua tidak akan merasa aneh.”


Kata ‘kami’ yang Darshan pakai merujuk kepada semua orang yang ikut dalam acara berburu. Baik yang langsung berburu, menunggu para pemburu dan yang tidak ikut tapi mendengar desas-desusnya.


“Itu karena mereka saling memahami,” cetusku walaupun aku tidak begitu mengerti hubungan pertemanan kakakku. Belum lama aku juga tahu mereka bertiga berhubungan baik dengan Carlo yang lebih muda dari mereka.


“Aku butuh alkohol,” gumamku sambil menghela napas panjang.


Aku tidak bisa tidur semalaman. Aku memikirkan Lucas. Memikirkan kisah cintanya itu. Terkesan keren alih-alih berbahaya. Layaknya Romeo dan Juliet, kisah cinta Lucas mempunyai banyak rintangan. Bagian terkerennya adalah aku yang merasa seakan sedang membaca sebuah novel (tokoh utamanya Lucas).


Apa Alex dan Fanita tahu Lucas punya hubungan rahasia dengan Josephine?


Aku mulai mempertanyakannya.


Aku ingin membicarakan hal tersebut dengan Fanita dan Alex tetapi aku masih mempertimbangkan apakah tindakanku tepat atau tidak. Jika mereka tidak tahu, aku malah akan menyeret mereka berdua dalam masalah ini dan masalahku dengan Levin. Levin adalah orang yang tidak bisa dihilangkan dari cerita Lucas.


Orang yang menyuruh Levin memisahkan Lucas dari Josephine pasti adalah Shaeviro. Dia butuh Josephine untuk menjerat leher Carlo dan memasangkan benang untuk menggerakkannya. Shaeviro ingin Carlo yang lemah dan mudah diatasi menjadi boneka selanjutnya.


Dan, ada satu hal lagi. Hubungan Brooke dan Levin. Menurut pendapat pribadiku, Levin hampir sembilan puluh persen menyukai Brooke sebagai wanita. Sisanya, dia tidak memiliki keraguan untuk membunuh Brooke.


Dia berlagak seksi lagi.


Jadi beginilah hidupku sebagai Brooke yang dikelilingi orang-orang berbahaya. Mungkin ini adalah karakteristik keluarga baruku dimana kakakku menyukai wanita dengan ayah mertua yang bersifat licik, saudara kembarku menyukai pria dengan banyak musuh dan Brooke sendiri berteman dengan pembunuh bayaran. Menyuruhnya memulai hidup baru.


Ini sebabnya aku tidak menemukan uang yang disimpan oleh Brooke.


Darshan menepuk pundakku dan aku tersadar dari lamunanku.


“Aku menemukan informasi mengenai racun yang kita bicarakan.”


“Oh, benarkah?” aku melihat Darshan dengan mata berbinar-binar. Darshan memberiku selembar kertas yang terlipat menjadi empat bagian. Aku membuka dan membacanya dengan seksama.


“Racun itu membuat pembuluh darah pecah,” bacaku dengan suara sangat pelan. “Kau yakin ini racun yang diminum oleh Pangeran Carlo?”


Darshan mengiyakanku. “Ratu terdahulu tewas akibat racun yang sama. Itulah yang dipercaya oleh semua orang. Anehnya, Pangeran Carlo yang usianya lebih muda selamat tetapi fisiknya menjadi lemah.”


“Masalah dosis?” celetukku sok tahu.


“Tidak. Aku tetap menganggapnya aneh,” Darshan berbisik. “Aku memikirkannya dan sepertinya Carlo menerima racun yang berbeda.”


“Kau yakin?”


Darshan mengangguk. “Jika racunnya sama, tidak akan ada masalah pada fisik Carlo. Kemungkinan paling buruk dia akan mati perlahan-lahan. Yang membuatku yakin adalah Pangeran Carlo yang selamat akhirnya mempunyai masalah jantung.”


“Dia mempunyai masalah pada jantungnya?” tanyaku terkejut.


“Setelah kejadian itu,” jelas Darshan. “Ini rahasia. Aku mendapatkan informasi ini dari pamanku.”


Paman Darshan adalah seorang tabib terkenal.


Aku lalu mengangkat tangan kananku sebagai bentuk sumpah bahwa aku tidak membahas hal tersebut sembarangan. Aku jadi mengerti alasan lebih tepat kenapa Carlo tidak bisa menjadi kesatria. Dia mungkin bisa melakukan gerakan dasar untuk mempertahankan hidup tetapi jantungnya tidak mengizinkannya bergerak lebih leluasa lagi. Orang yang memberi racun itu pasti sudah memperhitungkan kondisi ini.


Shaeviro brengsek.


Aku yakin ini adalah ulahnya. Lebih mudah jika boneka selanjutnya tidak mempunyai kekuatan fisik untuk melawan. Aku harus menawarkan sesuatu yang bagus kepada Pangeran Carlo agar dia mau membuat kesepakatan denganku. Aku butuh bantuannya untuk mengubah beberapa aturan di Kerajaan ini.


“Baiklah,” aku berdiri dari tempat dudukku. “Aku harus pulang ke rumahku.”


“Pulang ke rumah?”


“Prioritas keempat. Aku menunda terlalu lama. Waktuku tidak banyak lagi.”


Aku meninggalkan Darshan yang kebingungan memahami arti dari prioritas itu.


*****