
“Aku melihat sesuatu bergerak di semak-semak itu,” Lucas menunjuk ke arah barat dan Alex dengan sigap mengubah arah kudanya.
“Akan kuperiksa. Tunggu disini,” kata Alex dengan suara tegas.
Lucas mengangguk setuju dan Alex meninggalkan kami.
“Rusa?” tanyaku.
“Kemungkinan besar,” jawab Lucas.
Aku berharap dapat melihat rusa dari jarak yang lebih dekat tetapi Lucas melarangku. Kemudian kami mendengar suara teriakan dari arah berlawanan. Itu bukan suara Alex. Aku melihat Lucas dengan siaga mengeluarkan pedangnya dan menyuruhku untuk tidak bersuara. Dan kami mendengar suara teriakan lagi.
Lucas menatap cemas padaku dan tampak menantikan Alex agar dia bisa meninggalkanku untuk mencari asal suara itu. Dalam selang waktu yang berdekatan, kami mendengar suara jeritan lagi. Aku merasa merinding karena suara itu terdengar seperti suara ketakutan saat hantu tiba-tiba muncul di hadapanmu.
“Oppa, kita harus memeriksanya.” Aku mulai tidak nyaman dengan suara yang kudengar tadi. Lucas lalu membuat tanda di pohon dan memintaku untuk naik ke atas pohon itu.
“Turuti perkataanku,” Lucas berkata dengan suara dingin yang tidak terbantahkan. Aku tidak punya banyak pilihan selain menurutinya.
Aku memanjat pohon dengan mudah dan Lucas pergi setelah memastikan aku bersembunyi dengan benar di atas sana. Dia menarik tali kekang Light dan membawanya pergi bersama kudanya sendiri ke arah suara itu muncul pertama kali.
Aku menunggu selama dua puluh menit.
Tiba-tiba aku merasa dahan pohon itu berguncang. Ada seseorang di belakangku. Sebelum aku sempat berteriak atau mengambil pedangku, dia sudah menutup mulutku dengan tangannya.
“Sstt, diamlah,” dia berbisik di telingaku dan aku langsung tahu siapa yang membekapku. “Aku pembunuh bayaran kesayanganmu.”
Levin melepaskan tangannya perlahan-lahan dan entah kenapa aku menghembuskan napas lega. Aku memutar kepalaku untuk melihat wajahnya. Dia memakai jubah bertudung hitam dan aku melihat noda darah di wajahnya. Seketika aku mulai merasa takut dan waspada.
Levin menyadarinya dan menggenggam pergelangan tanganku.
“Kau tidak boleh kabur.”
Levin menarik tubuhku masuk ke dalam dekapannya dan aku merasakan gerakan singkat tapi cepat yang akhirnya membuat dia sudah menggendongku di pundaknya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Diam atau aku akan membunuh Lucas.”
Mendengar ancaman itu, aku langsung menutup rapat mulutku.
Levin melompati beberapa pohon seolah itu sangat mudah dilakukan sambil membawaku seperti mengangkat sebuah karung beras. Posisi yang sangat tidak nyaman dan membuatku pusing.
“Sudah sampai,” Levin mencampakkanku dengan kasar ke tanah.
Badanku langsung terasa sakit.
“Argh.”
“Jangan manja,” Levin berjongkok melihatku yang terbaring di tanah. “Aku tidak terlalu terbiasa bersikap baik pada wanita.”
“Kau bicara omong kosong,” kesalku setengah meneriakinya. Aku segera bangun dan duduk di tanah. “Apa maumu?”
“Aku mau membunuhmu,” Levin menatapku lekat dengan wajah serius. “Tetapi melihat wajahmu aku jadi memikirkannya ulang.”
Aku menatap balik dan berkata, “Kau mau membunuhku karena aku tahu identitasmu? Harusnya kau tidak mengatakannya sejak awal. Dan dimana kita sekarang?”
Aku mengedarkan pandanganku. Kami masih berada di Hutan Tasi namun kami tampaknya sudah masuk sangat jauh ke dalam hutan ini.
Melihatku mengamati keadaan sekitar membuat Levin menunjuk ke sebelah kiri. “Disana adalah jurang. Aku bermaksud mendorongmu kesana.”
Pernyataan Levin membuatku tercengang.
“Kau serius?” mataku melebar. “Ada orang yang memerintahkanmu?”
Levin menatap sinis. “Kau akan segera mati jadi kau tidak perlu tahu.”
“Aku harus mendengar nama si brengsek itu sebelum aku mati,” aku merasa emosiku akan meledak dan aku juga hampir mengumpat pada Levin. “Shaeviro yang memberimu perintah?”
Levin tidak menjawabku tetapi dia terlihat tertawa geli dan mengulang kata brengsek yang kuucapkan. “Aku tidak mengharapkan ini. Kenapa kau jadi semakin lucu? Kau jadi pintar bernegosiasi.”
Aku tidak tahu Levin menganggap setiap kata yang keluar dari mulutku saat ini adalah sebuah negosiasi.
“Seperti sudah tiga bulan berlalu sejak aku meninggalkanmu.”
“Kau terdengar seperti mantan pacarku yang kurang ajar,” sindirku. “Bagaimana lukamu? Kau baik-baik saja?”
Aku mengakui bahwa aku mengkhawatirkan luka di punggung Levin. Bagaimanapun, aku orang yang tau berterimakasih.
Levin memandangiku dengan tatapan penuh tanya. “Mantan pacar? Siapa?”
Wah, aku salah bicara. Bisa-bisanya aku mengingat mantan pacarku yang datang untuk memperkenalkan calon istrinya.
Levin mengangguk paham.
Aku merasa dia menganggap hal itu penting.
“Bagaimana lukamu?”
“Aku baik-baik saja. Cukup sehat untuk datang dan membunuhmu.”
“Kau tidak mau memikirkannya sekali lagi? Aku pasti sangat berarti bagimu,” kataku dengan penuh percaya diri. “Itu alasan kau menyelamatkanku bukan? Walaupun aku tidak suka caramu membiarkanku begitu saja di depan rumah dan membuatku mendapatkan banyak masalah.”
“Berarti bagiku?” Levin tersenyum sambil menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. Aku berpendapat itu adalah kebiasaannya. “Kurasa kau benar. Orang yang tahu identitasku adalah orang yang sangat berarti bagiku.”
“Jadi kau akan melepaskanku?” tanyaku dengan penuh harapan.
“Tidak,” jawab Levin dingin. “Aku tetap harus membunuhmu.”
Aku terdiam selama beberapa waktu dan menatap dalam bola mata Levin yang berwarna biru gelap. Aku tidak menemukan keraguan sedikitpun. Aku jadi berpikir bagaimana caraku menyelamatkan diri. Apa yang harus aku katakan?
“Kau takut?”
Aku menundukkan kepalaku. “Kau tahu aku ingin hidup,” jawabku lirih. “Aku tidak tahu alasanku membeli racun itu darimu. Tapi sekarang aku ingin hidup.”
“Aku tidak suka wajah memelasmu.”
Aku melihat sorot mata Levin yang berubah seakan dia marah padaku.
“Dulu aku juga memohon padamu tetapi kau mengabaikanku,” lanjut Levin.
Dia memohon sesuatu pada Brooke?
“Dulu aku ingin kau hidup. Tetapi sekarang aku ingin membunuhmu.”
Levin mencengkram kerah pakaianku dan mengeluarkan belati dari dalam jubahnya.
“Aku tidak suka diabaikan.”
Levin menaruh sebuah belati ke wajahku. Aku bisa merasakan dingin dan tajamnya belati itu.
“Kau..,” aku merasa gugup. “Tidak bisakah kita bicara dulu. Aku sungguh tidak bisa mengingat apapun. Kumohon.”
Tubuhku gemetar.
Levin tahu aku tidak berbohong. Beberapa menit setelah kami hanya diam dan saling menatap, dia melepaskan cengkramannya dan aku tersentak jatuh ke belakang.
“Sudah kuduga aku tidak bisa melukai wajahmu dengan belati ini.” Levin melihat belati itu dan diriku bergantian. “Mendorongmu ke jurang jauh lebih mudah.”
Levin menyimpan belati itu dan dia menarik lenganku supaya aku duduk dengan benar. Dia lalu duduk di hadapanku dengan raut wajah yang lebih ramah.
Lama kelamaan aku merasa tingkah Levin mirip dengan Fanita. Emosi mereka cepat sekali berubah. Bedanya, raut wajah Fanita baik dalam keadaan biasa maupun menyebalkan tetap terlihat datar dan agak angkuh. Levin punya lebih banyak ekspresi.
Aku menarik napas dalam. “Kau tidak bisa menjelaskan apa yang dulu terjadi?”
“Kau menginginkan racun. Aku memberimu racun. Aku melarangmu meminumnya. Kau meminumnya. Selesai.”
Jadi Brooke meracuni dirinya sendiri?
“Apa aku mengatakan alasannya?” Aku mencoba memahami penjelasan singkat itu dengan cepat.
Levin terlihat tidak ingin memberitahuku.
“Aku akan memberimu uang. Oh, bukan,” koreksiku. “Aku akan melakukan keinginanmu.”
Levin mengangkat sebelah alisnya. Dia tertarik dan aku melanjutkan ucapanku. “Aku akan…. menciummu. Bagaimana?”
Aku berusaha menahan perasaan malu yang kurasakan dengan tetap mempertahankan raut wajahku. Saat ini, kesempatan hidup lebih penting daripada harga diri.
“Apa? Darimana pemikiran itu muncul?” Levin terlihat terkejut sekaligus antusias. “Astaga,” Levin menyentuh bibirnya lagi. “Kau sedang tidak berpikiran kotor kan?”
Wajahku pasti memerah menahan malu. Aku bersikap pura-pura tenang pada Levin yang telah menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Aku hampir lupa kalau dia sempat menodongkan belati tajam ke wajahku.
“Kita pernah berciuman. Aku hanya ingat itu.”
Aku menyerah dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Menyesali gagasan konyol yang terlintas di benakku.
Aku mendengar Levin terbahak. “Itu pasti sangat berkesan. Aku jadi terharu. Baiklah, Brooke. Akan kuberitahu.”
*****