
Matahari masuk melalui celah-celah kayu yang menyusun gudang penyimpanan jerami. Aku menghabiskan tiga hari terakhirku disini. Aku merasa tidak nyaman karena ini bukan gudang bawah tanah seperti yang kuharapkan. Alasanku menawarkan diri untuk dikurung disana adalah beristirahat tanpa ada kunjungan dari siapapun. Haley adalah pengecualian. Nyatanya, karena ibu tidak menyetujui tentang kurungan yang kuajukan maka ayah mengubahnya menjadi gudang penyimpanan jerami yang terletak agak jauh dari rumah utama.
“Ayah dan Ibu…”
Aku mulai membiasakan diri menyebut mereka, Duke dan Duchess Cohenherb sebagai orang tuaku. Melalui ucapan dan pikiranku. Sangat sulit untuk menganggap keduanya sebagai orang tua baruku. Di kehidupan lamaku, aku mulai hidup mandiri sejak awal sekolah menengah pertama dengan jumlah uang yang jauh dari cukup karena perceraian orang tuaku. Hari-hari sulit yang kulalui saat pekerjaan paruh waktu pertamaku, hari pertama di sekolah baru, ujian, teman dan tempat terakhir aku bekerja, semuanya terlintas di benakku. Wajah semua orang kini berputar di kepalaku.
Aku tahu aku tidak boleh lagi memikirkan mereka.
Aku pernah terluka karena mereka.
Tapi aku tidak bisa membenci mereka.
Aku penasaran, apakah mereka menangisiku yang pergi begitu saja?
Perpisahan tanpa ucapan perpisahan. Seberapa besar luka yang kutimbulkan? Mereka yang kumaksud tidak hanya merujuk pada orang tuaku, tetapi teman, rekan kerja dan orang yang mengenalku.
Aku berharap mereka bisa memaafkanku.
Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menerima dan menjalani kehidupan baruku.
“Aku akan baik-baik saja melewati setiap perubahan dan ketidakpastian,” ucapku pelan. Mencoba memberi semangat pada jiwaku yang gelisah.
Aku lalu berjanji akan mengusahakan yang terbaik untuk kehidupan baruku. Aku juga akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga baruku.
Saat aku tenggelam dalam pikiranku, terdengar suara ketukan di pintu masuk gudang.
“Boleh aku masuk?” Grace membuka pintu itu pelan dan mengintip ke dalam. Melihat apa yang sedang aku lakukan.
“Masuklah, Grace.”
Selama tiga hari belakangan ini, Lucas sudah mengunjungiku sepuluh kali, Grace mengunjungiku tujuh kali dan yang mengejutkan Alex datang untuk mengejekku sebanyak empat kali.
Aku ingin dikurung di gudang bawah tanah.
“Apa yang kau bawa?”
Aku melirik bungkusan kain yang dibawa Grace.
“Aku membawa beberapa cemilan.” Grace tampak bersemangat dan membuka bungkusan itu. “Pelayan di dapur menyiapkan banyak jenis cemilan untukmu, Brooke.”
“Aku akan berterima kasih secara khusus pada mereka nanti.”
Aku merasa terharu. Sebagai Brooke, aku sangat dicintai di rumah ini. Tanpa diduga, kabar mengenai nama baru Filley menyebar dan membuat diriku menjadi sangat terkenal. Mereka seolah-olah bercerita satu sama lain tentang seorang pahlawan baru, nona muda mereka yang melindungi orang biasa agar tidak dihukum.
“Apa kau tidak bosan disini, Brooke?”
Aku melarang Grace memanggilku kakak. Kami hanya terpaut lima menit.
“Tidak juga,” jawabku. “Disini sangat tenang dan sunyi. Aku bisa memikirkan banyak hal.”
Ketenangan selalu menyediakan ruang untuk kreativitas, pemulihan dan perenungan.
“Tidak kesepian?”
“Sedikit,” aku tertawa kecil. “Aku hanya berharap kalian tidak terlalu sering berkunjung. Ini tidak seperti yang aku tawarkan pada Ayah.”
Grace, Lucas dan Alex. Aku merujuk pada ketiga nama itu.
“Aku tidak bisa,” Grace mendadak murung. “Aku khawatir. Sangat khawatir sama seperti saat kau tidak membuka matamu berhari-hari.”
Kejadian itu terjadi sekitar sebulan yang lalu. Bukan hanya Grace, aku tahu semua orang yang mengenal Brooke masih memikirkan hari itu.
“Aku baik-baik saja. Kau harus lebih mengkhawatirkan Ibu.”
Haley mengatakan ibuku jatuh sakit karena tidak sanggup melihatku akan dikurung di gudang bawah tanah. Ayahku yang keras kepala akhirnya menyerah dan memindahkanku ke tempat yang menurut pandangannya tidak seburuk berada di bawah tanah.
“Ibu sudah jauh lebih baik karena kami sering mengunjungimu. Berjanjilah tidak terlalu marah pada Ayah.”
Aku menepuk-nepuk pundak Grace. “Aku tidak marah pada Ayah. Masih tersisa tujuh hari lagi. Aku sedang berpikir apa yang mau kulakukan setelah keluar dari sini.”
“Berlatih pedang?” tanya Grace.
“Itu sudah pasti kulakukan. Maksudku hal yang lainnya.”
Aku baru menyadari jika diriku hanya mengetahui dunia ini dari buku dan ingatan Brooke. Efek Brooke memberikanku sedikit gambaran tentang beberapa tempat. Bisa dikatakan aku seperti melihat foto tempat itu di ingatanku jika kau menyebutkan namanya.
“Bagaimana kalau kita pergi ke pasar? Sudah lama kita tidak membeli beberapa pakaian kembar.”
Aku suka dengan ide untuk pergi ke pasar tetapi membenci soal pakaian kembar.
“Menurutku akan aneh memakai pakaian kembar di usia kita saat ini,” kataku jujur.
“Kau tidak mau?” Grace memandangiku dengan mata yang jelas mengatakan dia sangat ingin memakai pakaian kembar.
Puppy eyes.
Aku jadi tidak bisa menolaknya.
Matahari kemudian terbenam dan Grace sudah kembali ke rumah utama. Haley selalu berjaga di depan pintu gudang. Ayah juga menaruh beberapa penjaga di sekitar gudang untuk mengawasiku. Aku berpikir ayah mungkin penasaran aku akan kabur atau tidak. Alex menjadikan ini bahan ejekan untukku.
“Haley.”
Semenjak aku memberi nama baru untuknya, Haley jadi jauh lebih bersahabat denganku. Dia lebih sering tersenyum walaupun aku merasa itu tidak sesuai dengan wajah datarnya. Aku memanggil Haley untuk masuk ke dalam gudang karena ingin mendengar kisah tentang daerah utara. Haley belum tahu soal rencana ekspedisiku ke utara dan aku belum ingin membagi rencanaku.
“Daerah utara jauh lebih indah karena tertutup salju hampir di sepanjang tahun,” celotehku.
“Anda berpikir daerah utara lebih indah?”
Aku mengangguk. “Aku suka salju.”
“Anda belum pernah melihatnya.”
Haley berkata demikian karena daerah selatan hanya punya dua musim. Musim panas dan musim hujan. Berbeda dengan daerah utara yang punya musim salju dan musim semi.
“Aku punya imajinasi untuk digunakan.”
Haley tersenyum. “Saya juga sangat menyukainya. Salju yang begitu putih menutupi daerah yang luas.”
Kami berdiskusi tentang tempat-tempat indah disana. Aku bisa merasakan Haley merindukan tanah tempat kelahirannya. Aku berharap bisa segera membawanya pulang ke utara.
“Apa ada jalan pergi ke utara selain lewat perbatasan?” tanyaku.
Perbatasan dibuat sebagai syarat damai pada perang yang terjadi beberapa tahun silam. Perbatasan itu hanya bisa dilewati utusan diplomatik. Izin yang hanya dimiliki oleh satu orang dari masing-masing kerajaan.
“Ada satu cara,” jawab Haley. “Lewat Hutan.”
“Hutan?”
Haley mengangguk. “Hutan Sebenius. Hutan empat musim.”
Aku ingat nama tempat itu sesaat setelah mendengarnya. Hutan yang mengerikan dan tidak ada yang pernah terlihat lagi begitu masuk kesana. Ada banyak rumor beredar hingga penduduk menutup akses masuk ke hutan itu supaya anak mereka tidak bermain kesana.
“Apa kau yakin? Hutan itu tampak berbahaya.”
Haley mengangguk. “Kabarnya, hanya orang utara yang sanggup melewati hutan itu dengan selamat.”
Aku tidak paham.
“Orang utara? Jika memang benar, kenapa kau tidak mencobanya?”
Kabur. Harusnya dia kabur jika memang ada jalan bukan?
“Saya tidak bisa.” Haley menundukkan wajahnya. “Saya tidak punya tempat lagi di utara.”
“Apa maksudmu?”
“Maaf, Nona. Saya tidak bisa mengatakannya.”
Aku melihat Haley tersenyum pahit. Aku memutuskan untuk tidak membahas hal itu lebih lanjut. “Tidak masalah jika kau tidak bisa membicarakannya. Ngomong-ngomong, aku sudah memberimu perintah untuk tidak memanggilku nona. Bicara santai saja.”
Aku memberi perintah pada Haley sejak hari pertama aku tinggal di gudang. Intinya, jangan memanggilku ‘nona’. Haley baru berusia sembilan belas tahun. Rasanya aneh mendengarnya memanggilku nona (umur asliku dua puluh delapan tahun). Haley masih menolak dan aku akan terus mendesaknya.
“Brooke. Panggil aku Brooke, oke?”
Haley mengangguk paham. “Akan saya usahakan.”
“Aku bisa lupa usiamu jika kau memanggilku nona terus.” Aku tertawa. Aku sungguh tidak menyangka Haley belum mencapai usia dua puluh tahun. Bagiku dia tampak sudah berusia sama dengan Kim In Ho, teman baikku di Korea. Usia akhir dua puluhan.
Samchon face.
Aku menyebut Haley begitu. Dia benar-benar kebalikan dari orang yang disebut baby face. Aku berpikir ini adalah penyebab aku suka melihat wajahnya. Bukan karena ketampanannya hanya saja dia tampak seumuran denganku (umur asliku).
“Kapan anda akan pergi ke utara?” tanya Haley kemudian.
“Hah?”
Aku tidak bisa menyembunyikan perubahan raut wajahku.
“Anda sudah merencanakan untuk pergi kesana.”
Niatku terlalu kelihatan ya?
“Saya menebaknya beberapa saat lalu.”
“Kau…, kau bisa baca pikiran seseorang ya?”
Aku jadi merinding. Haley seolah sedang membaca pikiranku atau mungkin saja aku mudah ditebak. Aku penasaran seperti apa wajahku sekarang. Aku berencana memberitahukan soal ekspedisi jika aku sudah berhasil membuat garis besar rencanaku dan menargetkan orang yang akan kuajak nantinya. Haley memang salah satunya.
“Saya hanya mencoba memahami pemikiran anda.”
“Caraku berpikir?”
Haley mengangguk. “Saya mencoba memahami apa yang ingin….”
Haley terdiam sejenak lalu menarik napas dalam. “Memahamimu, Brooke.”
Aku merasa Haley sedang tersenyum jauh lebih manis daripada sebelumnya.
“Baiklah. Ceritakan padaku bagaimana keadaan sebenarnya dari hutan mengerikan itu,” ucapku penuh semangat. Terbesit dalam benakku bahwa rumor bisa berlandaskan fakta atau kebohongan.
*****