Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 35



Levin mencintai Brooke.


Aku menambah alasan itu sebagai pendukung dalam keputusanku mengajak Levin dalam ekspedisiku.


Aku tidak bermaksud memanfaatkan dirinya yang mencintai seseorang, aku hanya mau dia punya alasan kuat untuk ikut denganku. Dia tidak butuh uang, maka dia butuh dorongan yang sama kuatnya dengan uang.


Dorongan itu adalah aku.


Aku membutuhkan pengalaman dan insting Levin dalam membunuh. Dia akan jadi pelindung dalam kelompokku. Sejauh ini, aku sudah menetapkan tugas spesifik pada ketiga anggota lainnya. Haley akan menjadi penunjuk arah dan pelindung barisan depan, Darshan menangani pengobatan dan Fanita bertugas untuk berburu serta mengawasi sekitar dengan keahlian memanahnya. Levin akan melindungi kelompok di barisan paling belakang.


“Aku mau kau ikut denganku ke utara. Kita akan melewati Hutan Sebenius.”


Tangan Levin yang masih menyentuh wajahku terasa bergetar. Raut wajahnya berubah lagi. Terlihat sangat dingin dan serius. Lalu dia menurunkan tangannya dan mencengkram kerah pakaianku.


“Kau ingin memulai perang?” suara berat Levin terdengar begitu seram di telingaku.


“Aku tidak bermaksud begitu,” suaraku tercekat karena Levin semakin menguatkan cengkramannya. Jika aku tidak bisa menjelaskan tujuanku dengan baik, kakiku mungkin tidak akan menginjak tanah lagi.


“Perang bisa terjadi kembali jika ada yang menginjakkan kaki ke Kerajaan Kirkuz selain utusan diplomatik.”


“Tapi aku harus menemukan seseorang di utara.”


“Siapa?”


“Gordon Fichser,” aku meraih tangan Levin dan berusaha melonggarkan cengkramannya. “Kita butuh sebuah perubahan di Kerajaan ini.”


“Perubahan? Kau pikir seorang pembunuh bayaran peduli dengan nasib Kerajaan ini?”


“Ya,” teriakku. “Kau peduli. Melihat tanggapanmu barusan aku sadar kau sangat peduli.”


Aku tidak berharap banyak padanya. Aku tidak peduli apabila Levin bukan orang yang mencintai tempat dia hidup atau dia bisa saja berkata ‘apa urusanku sehingga repot-repot memikirkan kedamaian kerajaan ini?’. Tetapi dia menarik kerah pakaianku. Sorot matanya berubah, ekspresinya juga berubah bahkan aku merinding saat bertatapan dengannya. Dia ternyata sangat peduli pada wilayah selatan dibandingkan diriku. Dia mengingatkanku pada tujuanku utamaku yaitu menyelamatkan Grace dan sisanya mengikuti di belakang. Aku merasa buruk karena aku tampak seperti orang yang peduli padahal aku punya maksud lain.


“Baiklah, anggap saja aku peduli,” Levin semakin menarik kerah bajuku dan kakiku mulai terangkat dari tanah. “Shaeviro juga mencari pria itu,” Levin menatapku tajam. “Apa alasanmu mencarinya?”


“Hanya dia yang bisa mengantikan posisi Shaeviro di Kerajaan.”


“Darimana asal pikiran gilamu ini?” Levin kemudian menghempaskanku ke tanah dan berbalik menjauh dariku. Aku mengambil napas dalam sambil melihat punggung Levin dan tangannya yang mengepal.


“Kau tahu betapa berbahayanya Hutan Sebenius?” tanya Levin. “Bahkan Shaeviro mengutus orang-orangnya secara teratur untuk mencoba menembus hutan itu.”


“Shaeviro berencana ke Kerajaan Kirkuz?” tanyaku balik tidak percaya. “Apa informasimu benar?”


Levin tidak menjawab.


“Pria tua licik itu,” kesalku. “Dia tidak boleh menemukan Gordon duluan.”


Aku berdiri tanpa bantuan.


Aku mengambil sebuah kertas yang kusembunyikan di saku pakaianku. Aku berjalan mendekati Levin tanpa peduli bagaimana dia menatapku sekarang.


“Apa yang diberikan Shaeviro sebagai bayaran untuk mengintai rumahku dan mencoba membunuh kakakku? Aku akan memberimu penawaran yang lebih baik.”


Levin tetap menutup mulutnya.


Catatan itu adalah rencana terakhir yang kusiapkan bila Levin tampak tidak bisa dibujuk menggunakan kata-kata.


Aku memberikan catatan itu pada Levin tanpa keraguan karena yakin dia tidak terlalu menyukai Shaeviro, tuan yang memberi perintah padanya. Oleh sebab itu, dia membocorkan informasi sepenting itu padaku saat aku menyebut nama Gordon. Sejenak, Levin ragu untuk membuka kertas itu dan tampak ingin membuangnya. Dengan spontan, aku meraih tangan Levin dan menatapnya dengan mata paling jujur. Akhirnya dia membaca catatan yang ditulis Brooke yang menjadi peninggalan paling berharga bagiku. Tanpa catatan itu, aku tidak akan menyadari hidup baruku bisa diambil sewaktu-waktu.


Aku berniat untuk menghancurkan akar dari semua permasalahan.


“Jangan bertanya bagaimana caranya aku tahu,” kataku di sela-sela menunggu Levin membaca seluruh isi kertas itu. “Aku tidak bisa mengingatnya.”


Levin melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam sakunya sambil bertanya, “Tidak ada yang tahu dia masih hidup atau sudah mati.”


“Dia masih hidup.”


“Kau punya bukti?”


“Tidak,” jawabku. “Tapi informasimu barusan adalah salah satu bukti. Shaeviro pasti merasa tidak aman dan mulai mencari Gordon lagi.”


“Aku tetap tidak setuju,” Levin terdengar tegas. “Kau bisa tewas.”


“Tidak ada yang bisa memastikan kapan aku akan mati. Kau juga mau membunuhku kan?”


Aku tidak bisa bertanya alasan Levin menuruti perintah untuk membunuhku. Aku sudah menghabiskan kesempatanku untuk bertanya.


“Kau tidak akan membunuhku hanya karena aku tahu identitasmu. Kau pasti sudah melakukannya sejak awal kita bertemu kembali setelah aku kehilangan ingatan. Apapun rencanamu, dari awal kau adalah dewa kematianku. Jadi, aku tidak takut pada kematian.”


“Tidak bisakah kau mendengarkanku kali ini?”


“Tidak,” tegasku. “Tetapi perkataanmu yang dulu akan kulakukan sekarang. Aku akan tetap hidup dan memilih untuk hidup. Hidup yang bukan sekedar bernapas tetapi hidup untuk memperjuangkan sesuatu.”


“Brooke,” Levin memanggil namaku. “Aku tidak peduli dengan idealisme mu itu. Pikirkan perang yang juga bisa terjadi.”


“Shaeviro akan memulai perang kembali cepat atau lambat,” aku memberitahunya prediksiku. “Sebelum itu terjadi, Pangeran Carlo harus naik takhta dan Gordon harus menggantikan Shaeviro. Tidak ada yang bisa membuat pria tua itu melepaskan jabatannya begitu saja. Ayahku pasti mendukung hal itu terjadi asal kita menemukan Gordon.”


Keluarga Kerajaan sudah lama kehilangan martabatnya. Ini bukan rahasia lagi. Mereka sangat kacau dalam segala hal termasuk dengan tetap membiarkan orang sejahat itu berada di posisi tinggi selama bertahun-tahun.


“Bagaimana aku bisa yakin padamu?”


Mata biru gelap milik Levin menatapku sedih. Aku teringat saat Levin tersenyum tulus pada Brooke dalam mimpiku. Dia pasti sangat terpukul saat Brooke memilih menyelamatkan Lucas dan mengesampingkan hidupnya sendiri.


Aku bukan Brooke yang dia kenal. Aku tidak akan bertaruh dengan cara sepayah itu.


“Kau harus berpihak padaku terlebih dahulu,” aku mengeluarkan sebuah belati yang kuikat di pinggangku. “Jangan berkerja untuk Shaeviro lagi.”


Levin memandangi belati yang ada di tanganku.


“Berpihaklah padaku sepenuhnya dan waktu akan memberikanmu bukti dibandingkan ucapanku hari ini.” Aku menarik tangan Levin perlahan dan menaruh belati itu ke tangannya. “Ada dua cara untuk memberi tanda bahwa kau menjadikan seseorang sebagai tangan kananmu. Yang pertama, memberinya nama baru dan kedua memberinya senjata. Aku memilih cara kedua.”


Aku mengeluarkan belati lagi yang sama persis dengan yang kuberikan pada Levin barusan.


“Ikutlah denganku. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untukmu sebagai gantinya.”


*****