
Bobby kini sedang berjalan menuju ke kebun dimana kakeknya berada.
Remaja itu kini mulai merencanakan untuk melarikan diri dari perbuatannya itu.
Saat sudah tiba di kebun kakeknya, Bobby langsung pergi ke pondok dimana kakeknya tinggal.
Bobby langsung melihat kakeknya yang kini sedang duduk di depan pondok tersebut sambil mempersiapkan sayur - sayuran untuk di jual ke pasar pada subuh nanti.
Saat Bobby mendekat, kakeknya langsung melihat dan menyapanya.
"Kenapa masih jam segini kamu sudah datang ke kebun!? Apakah kamu tidak masuk sekolah hari ini!?." Ucap kakek Bobby.
"Aku tadi pergi ke sekolah, namun aku mendapatkan masalah saat di sekolah, karena aku telah memukuli tiga siswa yang lain! Dan baru saja ada anggota dari kepolisian datang untuk menangkapKu!." Jawab Bobby jujur.
"Terus, mengapa kamu datang kesini!? Tidak lama lagi, pasti anggota kepolisian akan mendatangi juga tempat ini!." Ujar kakek Bobby.
"Kek! Aku membutuhkan uang untuk pergi dari kampung ini! Jika kakek memiliki uang lebih, tolong berikan kepadaKu!." Ujar Bobby memohon kepada kakeknya.
Mendengar suara dari Bobby, wanita paruh baya yang adalah isteri kedua dari kakeknya langsung datang ke pondok tersebut.
"Kenapa Bobby!? Apa kamu ada masalah!?." Tanya wanita paruh baya tersebut.
"Iya nek! Aku tadi di sekolah telah melakukan kesalahan! Dan orang tua dari anak - anak yang aku pukuli kini telah melaporkanKu ke kantor polisi! Dan baru saja anggota polisi datang kerumah untuk mencariKu!." Jawab Bobby lagi.
Wanita paruh baya yang mendengar penjelasan Bobby tersebut langsung tersentak dan berkata.
"Terus apa yang kamu butuhkan saat ini!?." Tanya wanita paruh baya tersebut sambil menatap Bobby.
Memang walau pun wanita paruh baya itu bukan ibu kandung dari ibu Bobby, namun dia sangat menyayangi Bobby, sehingga apa pun yang Bobby butuhkan, jika dia bisa memberikannya, pasti akan dia berikan.
Saat mendengar pertanyaan dari wanita paruh baya tersebut, Bobby langsung menjawab.
"Aku membutuhkan uang untuk pergi dari kampung ini!." Jawab Bobby.
"Tetapi kamu akan pergi kemana!? Usia kamu juga masih sangat muda!." Ujar wanita tersebut.
"Aku akan pergi ke kampung temanKu!." Jawab Bobby.
"Apakah kamu bisa menjalani hidup dengan baik disana!?." Tanya wanita itu lagi.
"Iya nek! Aku pasti akan melakukan apa pun yang mereka perintahkan agar supaya aku bisa mendapatkan makan setiap harinya!." Jawab Bobby lagi.
"Baiklah jika kamu sudah yakin dengan pilihanMu tersebut! Tunggu sebentar! Nenek akan mengambil uang untuk menjadi modal sementara untuk menjalani hidupMu di luar sana!." Ujar wanita itu sambil memasuki kamar yang ada di pondok tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, wanita tua itu kini sudah kembali dengan menggenggam sejumlah uang di tangannya.
"Ini, ambilah! Pergunakan uang ini sebaik - baik mungkin!." Tutur nenek Bobby tersebut sambil menyerahkan sejumlah uang kepada Bobby.
Bobby langsung mengambil uang tersebut.
Sebelum remaja itu pergi, neneknya itu terlebih dahulu menyuruhnya untuk makan agar remaja itu memiliki tenaga saat melakukan perjalanan nanti.
Kakek Bobby hanya bisa mengingatkan remaja tersebut untuk menjaga dirinya baik - baik dan juga jangan melakukan hal - hal yang bisa membuat hidupnya sulit saat berada jauh dari keluarganya.
Sama halnya dengan neneknya juga yang mengingatkan Bobby tentang hal tersebut.
Bobby pun mengiyahkan apa yang di pesan oleh kedua orang tua itu.
Setelah selesai makan, Bobby pun langsung berpamitan dengan kedua orang tua itu.
"Kakek! Nenek! Bobby pergi dulu!." Ucap Bobby sambil melangkahkan kakinya meninggalkan pondok tersebut.
Remaja itu berjalan dengan sangat berhati - hati saat dirinya sudah tiba di dekat permukiman warga.
Mata remaja itu bagaikan elang yang mengawasi setiap mangsanya.
Yang ada di benaknya saat itu hanyalah mewaspadai setiap orang yang menggunakan seragam berwarna cokelat dan juga yang memiliki guntingan cepak.
Namun setelah beberapa saat dirinya berjalan, tidak ada seorang pun yang di lihatnya memiliki ciri - ciri seperti itu.
Karena saat itu sudah jam pulang sekolah, Bobby langsung menuju ke rumah Vence untuk menanyakan perkembangan di sekolah tentang apa yang telah dia lakukan itu.
Saat tiba di rumah Vence, remaja tersebut kini sedang makan.
Vence sendiri adalah anak tunggal, ayahnya bekerja sebagai tukang kayu, sedangkan ibunya bekerja sebagai karyawan di sebuah rumah sakit, sehingga saat pagi sampai sore, dirumahnya hanya Vence seorang yang ada.
Bobby langsung melangkah memasuki pekarangan rumah Vence.
Vence yang melihat temannya tersebut langsung menyapa remaja yang baru datang itu.
"Ternyata kamu memang melakukan apa yang kamu katakan kemarin! Aku sama sekali tidak menyangkahnya!." Ujar Vence menyambut Bobby.
"Terus, bagaimana dengan sekolahMu!?." Tanya Vence.
"Sudahlah! Aku telah memutuskan untuk tidak akan bersekolah lagi!." Jawab Bobby dengan tenang.
"Ayo duduk!." Ujar Vence mempersilahkan Bobby untuk duduk.
Bobby pun langsung duduk di kursi yang sudah tersedia.
"Apakah kamu sudah makan!?." Tanya Vence.
"Sudah! Aku sudah makan!." Jawab Bobby.
"Terus bagaimana dengan rencanaMu kedepan!?." Tanya Vence lagi.
"Aku akan pergi dari kampung ini dan akan kembali saat situasinya sudah membaik!." Jawab Bobby.
"Bob! Aku memiliki tabungan di dalam celenganKu! Aku akan membuka celengan tersebut dan akan memberikan kepadaMu tabunganKu itu! Semoga bisa membantuMu!." Ujar Vence dengan bersemangat.
"Sudahlah Ven! Aku sudah memiliki uang kok untuk perjalananKu nanti!." Tutur Bobby menanggapi perkataan Vence.
"Tidak apa - apa kok! Ayah dan ibuKu tidak mengetahui tentang tabunganKu itu!." Ujar Vence lagi.
"Ven! Bagaimana situasi di sekolah setelah kamu pulang tadi!? Apakah mereka masih berniat untuk mendekatiMu!?." Tanya Bobby.
"Tidak! Sepertinya mereka sangat terpukul saat mengetahui apa yang baru saja menimpa pemimpin mereka!." Jawab Vence dengan wajah yang senang.
"Baguslah! Kalau begitu aku pergi dulu yah!?." Ucap Bobby yang ingin berpamitan dengan Vence.
"Bob! Tunggu sebentar!." Tutur Vence mencegah Bobby untuk pergi.
Remaja itu langsung masuk ke kamarnya dan tidak lama kemudia, bunyi benda yang pecah terdengar dari dalam kamarnya.
Beberapa saat kemudian Vence telah keluar dari dalam kamarnya dengan menggenggam sejumlah uang dan langsung menyerahkannya kepada Bobby.
Karena Vence sudah melakukan hal itu walau pun sempat di tolak oleh Bobby, akhirnya Bobby langsung menerima uang yang di berikan oleh sahabatnya itu.
Remaja itu pun kemudian melangkah pergi meninggalkan kediaman Vence untuk kembali ke kediamannya.
Namun sebelum itu, Bobby juga mengajak Vence dan menyuruhnya untuk pergi ke kediamannya agar bisa mengambil beberapa pasang pakaian miliknya.
Vence pun menuruti apa yang Bobby perintahkan tersebut.
Saat dirinya merasa aman, Vence langsung menuju ke rumah Bobby dan meminta ijin kepada ibu Bobby untuk membawa pakaian Bobby.
Ibu Bobby pun langsung mengijinkan Vence.
Saat selesai, kini Vence sudah keluar dari kediaman Bobby dengan sebuah tas yang berada di punggungnya.
Bobby pun langsung menuju ke tempat yang sudah di tentukan untuk mereka bertemu.
Setelah merasa aman, keduanya langsung bertemu.
Vence pun langsung memberikan tas punggung yang berisi beberapa potong pakaian kepada Bobby.
Bobby langsung meraihnya dan langsung berpisah dengan Vence.
Remaja itu langsung menyuruh Vence untuk memesan ojek agar menjemput dirinya di tempat tersebut.
Vence pun kembali melakukan apa yang di perintahkan oleh Bobby.
Tidak lama kemudian, bunyi mesin sepeda motor terdengar sedang mendekat ke tempat dimana Bobby berada.
Bobby pun langsung keluar dari persembunyiannya dan berkata.
"Apakah anda yang di pesan oleh Vence untuk menjemputku!?." Tanya Bobby.
"Iya! Kita akan pergi kemana!?." Tanya tukang ojek tersebut.
Bobby pun langsung menjelaskan tujuan mereka.
Tukang ojek yang mendengar tempat tujuan yang di ucapkan oleh Bobby langsung memberitahukan biaya yang harus di bayarkan oleh Bobby.
Bobby pun langsung menyanggupinya.
Kini keduanya langsung menuju ke tempat tujuan yang Bobby maksudkan.
~Bersambung~