
Saat wajah Sintia terlihat sangat cemas, Natan pun langsung bertanya.
"Ada apa Sin? Apakah ada kabar dari Bobby?" Sambil menatap Sintia dengan penasaran.
Sintia tidak menghiraukan pertanyaannya dan langsung menghubungi nomor ponsel Bobby.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan...mohon periksa kembali nomor tujuan anda."
Itulah kata-kata yang terdengar setelah Sintia beberapa kali mencoba untuk menghubungi Bobby.
Natan merasa tidak senang saat Sintia terus tidak menanggapi perkataan serta pertanyaannya.
"Mengapa dia sangat memperdulikan pemuda miskin seperti Bobby itu?"
"Dibilang dia tampan...tidak tampan! Terus apa yang membuatnya begitu istimewa?"
Natan terus berpikir tentang sikap yang ditunjukkan oleh Sintia setelah dia tidak menemukan Bobby.
"Mungkin dia ada urusan yang sangat penting sehingga dia pergi tanpa sempat memberitahukannya kepada mu, jadi tidak perlu kau terlalu mencemaskan hal itu." Tutur Natan lagi mencoba menenangkan Sintia demi mendapatkan keuntungan bagi dirinya.
Kata-kata Natan kembali tidak ditanggapi oleh Sintia.
Setelah dia tidak bisa menghubungi Bobby, Sintia segera bergegas pergi ke kantin untuk membayar pesanan mereka berempat.
Setelah selesai membayarnya, Sintia pun kembali ke tempat dimana tiga orang lainnya berada dan berkata.
"Ayo kita kembali ke kota!" Ujar Sintia mengajak Siska dan dua orang lainnya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Natan.
"Apakah sudah ada kabar dari Bobby?" Tanya Siska.
"Iya!" Jawab Sintia singkat.
"Jadi Bobby sudah lebih dulu kembali ke kota?" Lanjut Siska bertanya.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Sintia lagi sambil berjalan menuju ke tempat dimana mobilnya diparkir.
Setelah tiba di mobilnya, Sintia pun segera berkata.
"Lin, kau duduk didepan saja." Sambil masuk ke kursi sopir.
"Sin, biar aku saja yang menyetir." Natan kembali menawarkan dirinya.
"Sudahlah, biar aku saja yang menyetir." Jawab Sintia datar.
"Benar-benar bodoh! Mengapa aku tidak memahami situasi yang Bobby rasakan sejak datang dan tiba di tempat ini!?"
"Sepertinya Natan selalu merendahkannya. Dan bodohnya lagi aku juga ikut menertawakan lelucon itu."
"Seharusnya aku yang berusia lebih tua darinya, bisa menjaga perasaan pasanganku, tetapi yang terjadi malah sebaliknya."
Sintia terus membantin karena apa yang mereka perbuat.
"Menurutku, kau itu adalah pacar Bobby, tetapi kenapa dia tidak memiliki rasa tanggung jawab sedikitpun?"
"Sebagai seorang pria, sudah seharusnya menjaga perasaan serta keselamatan pacarnya, bukan pergi begitu saja tanpa pamit."
"Benar-benar pria yang tidak bertanggung jawab karena tega meninggalkan wanita yang dia cintai."
"Tetapi jika dipikir-pikir, berarti Bobby tidak mencintaimu jika dia tega meninggalkan mu seperti ini."
Disepanjang perjalanan untuk kembali ke kota, Natan terus berkata-kata untuk menjatuhkan Bobby didepan Sintia.
Akan tetapi Sintia tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi perkataan Natan yang terus berusaha menjatuhkan Bobby.
Siska sendiri sebagai pacar Natan, kini mulai merasa risih dengan setiap kata yang pria itu lontarkan.
Begitu juga dengan Linda. Gadis itu kini sudah tidak respek lagi terhadap Natan, karena apa yang dia lakukan.
"Jika dia sudah kembali ke kota, pasti dia akan menumpang sebuah Bus penumpang untuk bisa tiba...aku harus memperhatikan setiap bus yang bisa aku susul." Pikir Sintia yang sangat bersemangat menginjak pedal gas mobilnya.
Siska dan Linda mulai merasa takut dengan cara menyetir Sintia, sebab kecepatan mobil yang mereka tumpangi itu sudah diatas batas kenyamanan mereka berdua.
***
Di tepi pantai yang terdapat sebuah rumah makan, bus yang Bobby tumpangi mampir di tempat itu.
Sehingga para penumpang yang ingin mengisi perut mereka, segera turun dari bus dan masuk ke rumah makan itu untuk memesan makanan.
Hampir sekitar 45 menit mereka berada di rumah makan sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Itu karena tinggal 30 menit lagi waktu yang mereka butuhkan untuk bisa tiba ditempat tujuan.
Kurang dari 10 menit lagi untuk sampai di tujuan, sebuah mobil berjenis Hatchback langsung menyalip dan menghentikan bus yang ditumpangi oleh Bobby.
"Sin! Kenapa kau menyalip bus itu?" Tanya Natan merasa heran dengan tindakan Sintia.
Sopir bus itu merasa sangat geram dengan tindakan mobil tersebut, sebab hal itu bisa mengakibatkan kecelakaan sehingga membahayakan keselamatan penumpangnya.
"Brensek! Mengapa dia menghentikan kami? Sebenarnya apa yang dia inginkan?" Tutur sopir bus tersebut.
Tidak hanya sopir bus yang merasa geram, melainkan seluruh penumpang didalam bus itu ikut juga merasa geram. Tidak terkecuali dengan Bobby.
Sopir bus dan Bobby sudah saling mengenal satu dengan yang lain, sebab sebelumnya Bobby memang selalu bergaul di terminal yang akan mereka tuju, sehingga sudah sering bertemu.
Bobby pun langsung bertanya kepada sang sopir.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Alex yang adalah sopir bus tersebut.
Jiwa preman Bobby langsung bangkit dan segera turun dari bus untuk menyambangi siapa sosok yang berani menghentikan mereka.
Hal itu karena Bobby belum melihat mobil yang telah menghentikan mereka, sehingga dia begitu percaya diri untuk turun.
Alex juga segera turun dari tempatnya untuk menyambut siapa yang akan turun dari mobil yang menghentikan mereka.
Saat Bobby menginjakkan kakinya ditanah, dia merasa terkejut setelah melihat mobil itu dan segera kembali naik ke atas bus untuk bersembunyi.
Sedangkan Alex sendiri segera berjalan untuk mendekati mobil tersebut.
Sosok wanita cantik langsung turun dari kursi sopir mobil berjenis Hatchback itu.
Sontak saja amarah Alex yang awalnya membara, kini langsung menjadi redup dan menjadi salah tingkah.
"Sial! Mengapa seorang wanita? Apa yang harus aku lakukan?" Alex membantin.
Sintia segera melangkah mendekati Alex dan langsung berkata.
"Sorry Om atas tindakanku barusan...tujuanku untuk menghentikan bus ini sebenarnya hanya ingin bertanya."
"Tetapi tindakanmu tidak harus seperti itu...sebab kau hampir membuat kami celaka." Balas Alex.
"Terus, apa yang ingin kau tanyakan?" Lanjut Alex bertanya.
Sintia pun segera menyampaikan apa yang dia inginkan.
Setelah mendengar penyampaian Sintia, Alex langsung terdiam dan berpikir.
"Bukankah ditempat itu hanya Bobby yang menghentikan ku?"
"Memang aku telah dihentikan oleh seseorang ditempat itu, tetapi mungkin dia bukan orang yang nona cari."
"Orang itu juga sangat ku kenal...dan namanya adalah Bobby."
"Benar! dialah yang aku cari!" Tutur Sintia.
"Terus dimana dia?" Sintia lanjut bertanya.
Alex baru menyadari mengapa Bobby yang awalnya terlihat bersemangat turun dari bus, tetapi saat ini tidak kunjung terlihat.
"Ohh...sepertinya dia sudah mengenali mobil ini, sehingga dia tidak bisa melanjutkan tindakannya." Pikir Alex yang langsung berbalik dan melangkah ke arah bus.
"Tetapi bagaimana mungkin wanita secantik itu mau dengannya?" Pikir Alex merasa tidak percaya.
Sintia pun segera mengikuti pria itu dari belakang agar bisa bertemu dengan Bobby.
"Bob, ayo keluar! Ternyata kejadian ini disebabkan oleh mu." Ujar Alex sambil menggelengkan kepala dan tersenyum menatap Bobby.
"Huuuuu..."
Sorakan pun terdengar berasal dari penumpang bus.
Sintia langsung berdiri tepat di ujung lorong pintu masuk bus.
Wanita itu langsung menjadi pusat perhatian semua penumpang didalam bus tersebut dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Sangat cantik, mengapa dia mencari pria ini?"
"Apakah dia adalah pacar pria itu?"
"Mungkin wanita ini hanya saudara pria itu."
"Tidak mungkin dia pacar pria itu."
Berbagai macam penilaian yang muncul di pikiran setiap penumpang yang ada.
"Bob, aku minta maaf karena telah mengabaikanmu...ayo kita kembali ke kota bersama." Ucap Sintia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sin, pergilah, aku merasa tidak pantas bersama dengan kalian." Balas Bobby.
"Ternyata dia sadar diri juga." Pikir seorang penumpang pria.
"Bob, aku akan menjelaskannya setelah kita tiba nanti dirumah mu...jadi saat ini aku mohon untuk pergi bersama dengan kami." Pinta Sintia lagi.
"Sin...antarkan mereka, nanti kita bicara lagi." Balas Bobby dengan nada suara yang datar.
"Apakah kau ingin aku menurunkan mereka disini agar kau bisa ikut bersama denganku?" Tanya Sintia dengan hati yang sangat sedih.
Air mata mulai membasahi pipinya saat meminta Bobby untuk ikut dengannya.
Pemandangan itu membuat seluruh penumpang didalam bus merasa tidak percaya dengan sikap Sintia dan Bobby.
"Sin, yang menumpang di bus ini bukan hanya aku saja, melainkan ada banyak orang lain juga, sehingga tindakanmu ini telah menghambat perjalanan mereka juga...untuk itu, lebih baik kau antarkan saja mereka terlebih dahulu, baru kita bicara." Bobby mengingatkan.
"Apa benar kau akan bertemu dengan ku untuk bicara?" Tanya Sintia merasa ragu.
"Iya, aku janji!" Jawab Bobby.
Akhirnya Sintia merasa yakin bisa bertemu lagi dengan Bobby, sehingga ia segera mengikuti apa yang Bobby perintahkan.
~Bersambung~