BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 16. Siska



Hari terakhir menjalani masa hukuman penjara selama delapan bulan, kini Bobby langsung menyiapkan diri untuk di panggil oleh sipir yang bertugas dan di bebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan tersebut.


Bobby pun saling berpamitan dengan teman - teman sekamarnya.


Akhirnya namanya pun di panggil untuk menghadap ke petugas penjara tersebut.


Dia dengan rasa senang dan percaya diri yang tinggi langsung menghadap ke petugas Lapas yang sudah di tentukan.


Setelah selesai menghadap petugas Lapas, Bobby pun langsung keluar dari pintu depan Lapas tersebut.


Kini dirinya sudah kembali bebas lagi dan berjalan untuk menuju pulang ke rumahnya.


***


Enam bulan yang lalu.


Vence yang sudah menyelesaikan pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Atas kini mencoba mendaftarkan dirinya untuk menjadi seorang polisi.


Setelah mengikuti tes yang menjadi proses untuk di terima sebagai anggota kepolisian, akhirnya nama Vence pun keluar dan lulus untuk menjadi seorang anggota polisi.


Vence sempat mengunjungi Bobby saat berada di dalam penjara.


Dia pun berpesan agar supaya Bobby berhenti untuk melakukan lagi tindakan pidana yang sering dia lakukan dahulu.


Bobby hanya membalas perkataan Vence.


"Sudahlah! Jika kamu sudah menjadi seorang anggota polisi! Lakukanlah tugasMu dengan benar! Biarkan aku melakukan apa yang menurutKu baik untuk Ku lakukan!."


Itulah perkataan Bobby membalas perkataan Vence tersebut.


***


Saat Bobby telah sampai di sebuah pangkalan ojek yang biasa orang - orang di komplexnya mangkal, Bobby langsung di sambut bak seorang pejuang yang baru saja kembali dari peperangan.


Hal tersebut mereka lakukan karena cara berpikir masyarakat di sekitar tempat tersebut khususnya laki - laki yang biasa bergaul, adalah suatu kebanggaan jika sudah pernah masuk penjara.


Dan jika sudah masuk penjara, orang itu akan selalu di hormati sebagai seorang preman.


Mereka langsung membelikan sebungkus rokok untuk melayani Bobby.


Sedangkan menurut Bobby sendiri, kini dirinya sudah ingin merubah cara hidupnya untuk tidak lagi melakukan tindak pidana.


Setelah itu, Bobby pun kembali melanjutkan tujuannya untuk kembali ke rumahnya.


Dirinya langsung di sambut oleh ibunya.


Sedangkan ayah Bobby acuh tak acuh dengan jalan hidup Bobby yang sudah semrawut tersebut.


Bobby pun menjalani hidupNya dengan tidak terlalu agresif lagi seperti dahulu.


Namun walau pun demikian, Bobby saat itu sudah sangat di hormati dan di segani oleh penduduk sekitar.


Bobby pun mulai melakukan pekerjaannya sebagai tukang ojek.


Karena jalan berpikir Bobby masih muda, sehingga dirinya kini tidak berpikir untuk menyimpan uang hasilnya sebagai tukang ojek.


Hasil sehari hanya dia gunakan untuk membeli minuman keras atau minuman beralkohol.


Hal itu pula yang membuat beberapa kali Bobby masuk keluar sel tahanan di kantor kepolisian sektor mau pun di kantor kepolisian polres di kota tersebut.


Karena emosinya yang belum bisa di kendalikan saat ada seseorang yang membuatnya marah, sehingga dia langsung memukuli orang yang membuatnya marah tersebut.


Walau pun ada banyak juga di antara mereka yang tidak melaporkan perbuatan Bobby ke kantor polisi.


Bobby saat itu sudah tidak lagi membawa senjata tajam di pinggangnya seperti sebelum dirinya masuk penjara.


Sehingga tindak pidana yang dia lakukan hanyalah penganiayaan dengan bogem metahnya saja.


Suatu saat Bobby bertemu dengan temannya Hendra yang tinggal di dekat terminal yang biasa menjadi tempat bergaulnya.


Hendra mengusulkan Bobby untuk bersekolah di sekolah tamatannya.


Bobby pun mulai berpikir untuk mengikuti saran temannya tersebut.


Namun mengingat usianya yang kini sudah 19 tahun, Bobby merasa malu untuk masuk kelas 10.


Dirinya pun di bawah oleh Hendra untuk menghadap kepala sekolah.


Karena Bobby tidak bisa langsung masuk di kelas 12, sehingga kepala sekolah tersebut menyarankan untuk mengikuti program pemerintah yaitu mengikuti ujian paket C.


Bobby pun mengikuti saran tersebut.


Di tahun yang sama, Bobby langsung di nyatakan lulus dari ujian paket C tersebut.


Kini Bobby sudah memiliki ijasah yang setara dengan sekolah lanjutan tingkat atas walau pun itu hanya di dapatkan melalui unjian paket C.


Mengingat latar belakang pendidikannya yang hanya memiliki dua ijasah yang bukan dari sekolah reguler, Bobby merasa minder untuk menggunakan ijasah itu.


Bobby tetap menjalankan aktifitasnya sebagai tukang ojek dan juga terkadang menjadi kuli bangunan.


Gadis tersebut bernama Siska, dia kini sedang berkuliah di salah satu universitas swasta di kotanya tersebut dan mengambil jurusan Ilmu Hukum yang juga tanpa Bobby sadari, kedepannya dia juga akan menjadi alumni universitas tersebut.


Karena sebagai seorang tukang ojek yang hanya beroperasi di dalam komplex perkampungannya, sehingga jika di pangkalan penumpangnya lagi sepi, Bobby langsung mencari calon penumpang yang baru saja keluar dari rumah mereka.


Akhirnya Bobby melihat Siska keluar dari salah satu rumah yang dia tinggali.


"Ojek!?." Tanya Bobby saat melihat Siska.


"Iya!." Jawab Siska.


Wanita itu pun memberitahukan tujuannya untuk di antarkan oleh Bobby.


"Kalau boleh tahu, dimana letak kampus tersebut?." Tanya Bobby.


"Oh, jadi kamu belum tahu dimana kampus itu berada?." Tutur Siska sambil bertanya kepada Bobby.


"Iya! Aku baru kali ini mendengar kampus tersebut!." Jawab Bobby jujur.


"Baiklah! Kita jalan saja, nanti aku saja yang menuntunMu!." Tutur Siska sambil duduk di jok bagian belakang sepeda motor yang Bobby kendarai.


Keduanya langsung meluncur untuk menuju ke tempat yang di maksudkan oleh wanita tersebut.


Saat di perjalanan Siska langsung memulai pembicaraan dengan bertanya.


"Apakah nama kamu itu Bobby?." Tanya Siska.


"Iya! Kenapa?." Tutur Bobby yang menjawab sambil balik bertanya.


"Aku hanya mendengar namaMu dari temanKu saja!." Jawab Siska.


"Terus apa yang kamu dengar tentang aku dari temanMu itu?." Tanya Bobby lagi.


"Tidak ada!." Jawab Siska singkat.


"Mana mungkin temanMu menyebutkan namaKu tanpa ada alasannya atau tanpa ada hal yang kalian bicarakan!." Tutur Bobby ingin mengorek penyebab sehingga wanita itu mengetahui namanya.


"Iya! Memang begitu kenyataannya!." Balas Siska lagi yang tidak mau memberitahukan kenapa sehingga dirinya bisa mengetahui nama Bobby.


"Baiklah! Kalau begitu, siapa namaMu?." Tanya Bobby.


"Untuk apa kamu menanyakan namaKu?." Tutur Siska menanggapi pertanyaan Bobby.


"Itu karena kamu sudah mengetahui namaKu! Sehingga aku juga harus mengetahui siapa namaMu!." Balas Bobby.


"NamaKu!? Kamu cari saja di google!." Tutur Siska sambil tertawa geli.


"Begini saja! Sebutkan siapa temanMu yang mengatakan namaKu kepadaMu!." Tutur Bobby mencoba mencari tahu hal apa yang mereka bicarakan sehingga namanya disebutkan.


"Mana mungkin kamu tidak mengetahui siapa temanKu itu! Coba kamu tebak!." Tutur Siska sambil tersenyum ingin mengerjai Bobby.


Bobby pun mulai berpikir siapa gadis - gadis yang tinggal sekomplek dengan wanita tersebut.


Kemudian satu persatu nama - nama gadis mulai di sebutkan oleh Bobby.


Siska pun mengatakan bahwa semua nama yang Bobby sebutkan tidak ada yang benar sambil mengarahkan Bobby jalan yang akan mereka lalui untuk menuju kekampusnya.


"Sudahlah! Aku sudah tidak mau lagi untuk menebak nama temanMu dan juga aku sudah tidak tertarik lagi untuk mencari tahu siapa namaMu! Tetapi aku hanya mau berterima kasih karena kamu sudah berusaha untuk mengingat nama serta wajahKu!." Tutur Bobby sambil tersenyum.


"Siapa juga yang mengingat namaMu dan juga wajahMu?." Balas Siska sambil tersenyum malu - malu karena ingin memungkiri apa yang Bobby katakan.


"Lain di bibir, akan tetapi lain di hati!." Tutur Bobby sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Tidak ku sangka! Ternyata ada juga wanita cantik yang selalu mengimpikan diriKu!." Lanjut Bobby yang bertujuan untuk meledek wanita yang di boncengnya tersebut.


"Hei! Percaya diri betul kamu ini! Siapa juga yang selalu mengimpikan diriMu?." Tutur Siska menimpali perkataan Bobby dengan wajahnya yang kini sudah memerah karena merasa malu.


Bobby pun hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Siska.


Keduanya saling diam hingga akhirnya mereka pun tiba di depan kampus Siska.


Wanita itu pun langsung turun dan menyerahkan uang bayaran biaya ojeknya.


Bobby tidak langsung mengambil biaya ojek tersebut, namun pria itu langsung meraih tangan Siska dan keduanya seperti sedang berjabat tangan sambil berkata.


"NamaKu Bobby! Siapa namaMu!?." Ucap Bobby yang langsung bertanya kepada Siska.


Wanita itu langsung menarik tangannya untuk dilepaskan dari genggaman tangan Bobby sambil meninggalkan uang yang berada di antara kedua tangan mereka.


Siska langsung berjalan dan tidak memberitahukan namanya.


Namun setelah beberapa langkah kemudian wanita itu membalikkan badannya dan berkata.


"NamaKu Siska!." Ucap wanita itu yang kembali langsung membalikkan lagi badannya dan melanjutkan langkah kakinya untuk berjalan memasuki area kampus tersebut.


~Bersambung~