
Sintia pun segera melangkah mendekati Bobby yang berdiri didepan rumah kakeknya.
"Itu mobil mu?" Sambut Bobby bertanya.
"Iya...kenapa?" Jawab Sintia dan balik bertanya.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya saja." Jawab Bobby.
Sintia langsung masuk kedalam rumah tanpa menunggu Bobby mempersilahkannya untuk masuk serta langsung duduk di kursi yang telah tersedia.
Bobby pun ikut duduk juga disamping Sintia dan bertanya lagi "Sin...sepertinya kau kembali kesini namun tidak sempat makan...apakah kau sedang terburu-buru?" Bobby menatapnya dengan penasaran.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Balas Sintia.
"Menurutku kau terlalu cepat hingga bisa kembali lagi kesini." Jawab Bobby sekenanya saja.
"Memangnya kenapa jika aku cepat kembali?" Tanya Sintia lagi.
Keduanya terus berbincang-bincang untuk mengisi waktu luang hingga tiba waktunya mereka pergi ke tempat yang akan mereka tuju pada hari itu.
Keduanya pun sebelum pergi, menyempatkan diri untuk mengisi perut mereka berdua terlebih dahulu.
Setelah waktu yang mereka tentukan telah tiba, Bobby dan Sintia pun segera bersiap untuk menjemput Siska bersama dengan dua sosok lainnya.
Siska, Natan dan juga seorang wanita lainnya yang adalah teman sekampus Siska, kini sudah menunggu Bobby dan Sintia di jalan yang tidak jauh dari pangkalan ojek tempat biasa Bobby mangkal.
Ketiganya menjadi pusat perhatian rekan-rekan Bobby yang saat itu sedang mangkal.
"Bukankah itu Siska yang katanya pacar Bobby?"
"Iya yah! Mengapa dia terlihat sangat akrab dengan pemuda itu?"
"Apakah pemuda itu pacar barunya? Ataukah pemuda itu adalah saudaranya?"
Berbagai macam spekulasi mulai bermunculan dipikiran rekan-rekan Bobby saat melihat kedekatan Siska dan Natan.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil pun berhenti tepat didepan ketiga sosok tersebut.
Mata Natan langsung terkesima menatap mobil itu sebelum Sintia mengajak mereka untuk naik dan membuyarkan pikirannya.
"Ayo naik!"
Mendengar suara ajakan itu, telinga Natan merasa sangat sensitif dengan suara seorang wanita cantik, sehingga dia bisa memastikan suara tersebut milik seorang wanita cantik.
Mereka bertiga dengan pun segera naik ke mobil tersebut.
Siska pun langsung berkata "Kenalkan, ini pacarku dan temanku."
"Ohh...jadi ini pacarmu? Ternyata tampan juga." Puji Sintia.
Mendapatkan pujian dari wanita cantik pemilik mobil itu, Natan langsung merasa lebih percaya diri lagi untuk mencoba memilikinya.
"Perkenalkan, namaku Natan!" Ucap pemuda itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya ke arah Sintia.
"Aku Sintia." Sambil menyambut tangan Natan.
"Sangat lembut, berarti dia benar-benar berasal dari keluarga yang tajir." Pikir Natan kemudian menatap ke arah Bobby untuk berkenalan.
Natan sedikit terdiam setelah menatap ke arah Bobby yang duduk didepan bersama Sintia.
"Bukankah kita sudah pernah bertemu sebelumnya?" Ucap Natan.
"Iya, memang kita sebelumnya pernah bertemu di kampusnya Siska." Jawab Bobby sekenanya saja.
"Namamu Bobby 'kan?" Lanjut Natan bertanya.
"Iya, aku Bobby!" Balasnya.
"Namaku Linda! Aku teman sekelas Siska." Ucap wanita yang satunya lagi dan menyalami Sintia dan Bobby.
Setelah saling kenalan, Natan yang ingin memanfaatkan situasi itu segera berkata "Sin...jika tidak keberatan, bagaimana jika aku saja yang menyetir?" Menawarkan dirinya.
"Ohh...jadi kau bisa menyetir?" Tanya Sintia.
"Iya, aku bisa menyetir...tidak enak juga membiarkan seorang wanita menyetir untuk perjalanan yang jauh." Ucap Natan lagi.
"Terima kasih yah sebelumnya." Ucap Sintia.
"Ternyata rencanaku tidak akan sulit untuk mendapatkan perhatiannya." Pikir Natan dengan penuh kemenangan.
"Sepertinya Bobby ini sangat beruntung bisa bertemu dengan wanita secantik Sintia ini... sudah cantik, berasal dari keluarga yang kaya pula." Lanjut Natan yang kini telah turun dan membukakan pintu Sintia.
"Thks yah!?" Ucap Sintia.
Natan berpikir Sintia akan duduk didepan menggantikan posisi Bobby. Dan jika hal itu terjadi, akan menambah kebahagiaan dihatinya.
Mendengar perkataan Sintia, membuat kesempatannya hilang dalam sekejap.
Bobby pun segera menuruti apa yang Sintia katakan dan segera bertukar posisi dengan Siska.
Setelah sudah selesai bertukar tempat, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sintia langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Bobby, membuat Natan merasa iri dengan hal itu.
Dirinya terus mencuri pandang lewat kaca cermin yang berada tepat di depannya untuk melihat tingkah Sintia.
Bobby sudah mengetahui hal itu dan tidak menganggap serius.
"Bob...apakah kau tidak bisa menyetir?" Tanya Natan yang ingin menyudutkan Bobby.
"Iya, memang aku tidak bisa menyetir...bagaimana aku bisa menyetir jika mobilnya tidak ada." Jawab Bobby.
"Kenapa tidak pinjam ke temanmu saja?" Tanya Natan lagi.
"Aku tidak mau menggunakan mobil temanku untuk latihan menyetir...itu karena aku tidak mau jika nantinya aku menabrak sesuatu dan membuat mobilnya menjadi rusak." Jawab Bobby lagi.
"Ha...ha...ha...ha...ha...jika kau merasa takut seperti itu, bagaimana mungkin kau bisa menyetir mobil?" Tutur Natan dengan maksud meledek.
"Jika ada kesempatan, aku akan mengajarimu agar tahu mengemudikan mobil." Ucap Sintia.
"Tidak perlu, takutnya mobilmu bisa rusak." Tolak Bobby.
"Berarti untuk seterusnya kau hanya mau menjadi seorang penumpang?" Lanjut Natan lagi.
Bobby pun hanya diam dan tidak mau lagi menanggapi perkataan Natan.
"Saya saja sudah bisa mengemudikan mobil sejak masih sekolah menengah pertama, masa kau sudah segede ini masih belum bisa mengemudikan sebuah mobil?"
"Sebagai seorang pria, sangat tidak pantas membiarkan seorang wanita yang menjadi sopirnya jika kita mengendarai mobil seperti ini."
"Buat aku, itu tidak masalah, sebab aku hanya ingin hidup sesuai dengan kemampuanku saja dan tidak mau memaksakan hidupku sendiri karena gengsi yang dapat mendatangkan kerugian bagi orang lain." Balas Bobby.
"Itu berarti kau tidak memiliki ambisi untuk berkembang didalam hidupmu." Natan menanggapi perkataan Bobby.
"Menurutku, jika hidupku miskin, aku akan berusaha untuk bisa berkembang lagi agar selamanya tidak hidup didalam kemiskinan." Lanjut Natan.
"Apakah kau saat ini sudah memiliki penghasilan sendiri?" Tanya Bobby.
"Memang saat ini aku belum bisa menghasilkan uang sendiri, tetapi saat ini aku tetap berusaha untuk meningkatkan taraf hidupku dengan menuntut ilmu agar nantinya aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang memuaskan...jauh dari penghasilan sebagai seorang tukang ojek." Jawab Natan.
"Kau seharusnya bersyukur karena orang tuamu memiliki ekonomi yang cukup sehingga kwu bisa berkuliah...bagaimana jika ekonomimu sama seperti ku? Pasti kau juga tidak pernah bermimpi untuk bisa berkuliah." Balas Bobby.
"Jika keluargaku memiliki ekonomi yang bisa menyekolahkan aku hingga ke bangku perkuliahan, pasti aku juga bisa seperti dirimu." Lanjut Bobby.
"Aku dengar-dengar, kau juga sempat masuk penjara...apa benar seperti itu?" Tanya Natan.
"Iya, itu benar...terus kenapa?" Jawab Bobby dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Sudahlah, sebaiknya ganti saja topik pembicaraannya." Sintia menyela.
Bobby pun kini hanya bisa terdiam dan tidak mau berkata-kata lagi disepanjang perjalanan hingga mereka tiba di tempat tujuan.
Sedangkan keempat sosok yang lain sangat nyambung saat berbincang-bincang yang sesekali terdengar canda dan tawa yang renyah.
Setelah Natan memarkirkan mobil yang dia kendarai, mereka pun segera turun dari mobil untuk menuju ke tempat yang nyaman untuk mereka tempati.
Terlihat Bobby tidak mau lagi berkomunikasi dengan yang lainnya dan hanya bisa diam.
Hal itu karena keempat sosok yang lain begitu saling nyambung dalam berkomunikasi satu dengan yang lain.
Apa lagi membahas mengenai aktivitas perkuliahan mereka.
Sedangkan Bobby sendiri tidak pernah berkuliah sama seperti mereka.
Itulah yang membuat Bobby merasa tersisi.
Melihat kegembiraan mereka, Bobby pun segera berpura-pura ingin melihat-lihat dan menikmati pemandangan disekitarnya tanpa memperdulikan keempat sosok yang datang bersama dengannya.
Sintia yang menyadari perubahan sikap Bobby segera berpikir untuk mendekati pemuda itu.
Saat Sintia hendak berdiri, tindakannya langsung di hentikan oleh Natan.
"Sin...biarkan saja dia menyendiri, mungkin dia ingin menikmati sendiri keindahan alam disini tanpa diganggu oleh siapa pun."
Mendengar perkataan Natan, semuanya langsung tertawa sehingga itu menjadi seperti sebuah lelucon.
~Bersambung~