BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 40. Mengajak Siska



Muncul pertanyaan dalam benak Siska saat itu setelah melihat Bobby bersama dengan Sintia.


"Siapa wanita itu? Wanita itu terlihat sangat cantik...apakah dia pacar Bobby? Atau apakah dia adalah saudara Bobby?"


"Tidak mungkin dia pacar Bobby...kemungkinan besar dia itu adalah saudaranya." Pikir Siska lagi.


Setelah Sintia turun dari sepeda motor Bobby, ia pun berkata "Bob...bagaimana jika kita pakai mobilku saja? Mengingat jangan sampai sebentar kita kehujanan di jalan."


"Apakah kau punya mobil?" Tanya Bobby penasaran.


"Bukan milikku, akan tetapi milik orang tua ku." Jawab Sintia.


"Terserah kamu saja." Ucap Bobby.


Sintia kembali berkata "Kau temani aku sampai aku mendapatkan angkot yah?"


Bobby hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan Sintia.


"Hai Bob!" Sapa Siska.


"Siska!? Mau kemana?" Balas Bobby.


"Aku mau pergi ke rumah temanku." Jawab Siska.


"Apakah ini pacar baru mu?" Lanjut Siska bertanya.


"Iya, aku pacarnya." Jawab Sintia menanggapi pertanyaan Siska.


"Ohh...aku pikir saudaranya Bobby." Ucap Siska.


"Tidak...aku pacarnya!" Ucap Sintia lagi.


"Apakah kau temannya Bobby?" Lanjut Sintia bertanya.


"Iya, aku temannya Bobby." Jawab Siska.


Situasi itu membuat Bobby merasa salah tingkah, sebab pertemuan kedua wanita itu diluar perhitungannya.


"Aku Sintia!" Sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Siska!" Sambil menyambut tangan Sintia.


"Senang bisa berkenalan dengan mu." Ucap Sintia.


"Aku juga, senang bisa bertemu dan berkenalan dengan mu." Balas Siska.


Angkot yang mereka nantikan akhirnya tiba dan langsung berhenti untuk menawarkan tumpangan.


Karena jalur tujuan angkutan kota itu searah dengan tujuan Sintia dan Siska, akhirnya keduanya pun segera naik.


Tidak lupa Sintia mengecup pipi Bobby sebelum naik ke angkot itu.


Pemandangan itu membuat iri setiap pria yang melihatnya.


Itu dikarenakan kedua insan berlainan jenis kelamin itu terlihat tidak serasi.


Yang satu terlihat bagaikan seorang putri dan yang satunya lagi terlihat seperti seorang pekerja kebunnya.


Sintia melambaikan tangannya saat mobil angkot itu berjalan meninggalkan Bobby di bahu jalan.


Bobby pun hanya bisa membalasnya dengan lambaian tangannya juga.


Saat di angkot, Sintia pun kembali bertanya kepada Siska.


"Sis...sebentar kau mau pergi kemana?"


"Aku setelah pergi kerumah temanku, langsung balik pulang...memangnya kenapa?" Jawab Siska dan balik bertanya.


"Jika kau mau, bagaimana jika kau ikut kami berdua?" Sintia memberikan tawaran.


"Maksudmu ikut kau dan Bobby?" Tanya Siska ingin memastikan.


"Iya! Bagaimana? Apakah kau mau?" Tanya Sintia lagi.


Siska pun menanyakan kemana keduanya akan pergi.


Sintia pun menjelaskan kepada Siska tempat yang akan mereka berdua kunjungi.


"Bagaimana? Apakah kau mau?" Tanya Sintia lagi.


"Jika kau punya pacar, bawa saja pacarmu agar kita makin seru lagi." Lanjut Sintia.


Siska pun sedikit berpikir dan berkata "Baiklah, aku akan menanyakan terlebih dahulu kepadanya jika dia mau."


"Lebih baik secepatnya kau tanyakan saja." Ucap Sintia.


Meskipun dia masih merasa jengkel karena kemarin pacarnya itu tidak menanggapi panggilannya, namun Siska mencoba untuk kembali menghubungi pacarnya itu yang juga adalah teman sekampusnya.


Kali itu panggilannya langsung di tanggapi oleh pacarnya.


"Halo Sis...Sis, sorry yah kemarin aku tidak sempat menerima panggilanmu? Soalnya kemarin aku lagi sibuk dengan urusan keluargaku, oleh karena itu aku tidak sempat balik menghubungi mu."


"Sudahlah, tidak perlu membahas hal itu lagi...Tan, apakah sebentar kau punya waktu senggang?" Balas Siska.


"Memangnya kenapa?" Natan balik bertanya.


Siska pun segera menjelaskan tujuannya menanyakan hal itu kepada Natan.


"Tidak perlu, kita akan menggunakan mobil temanku." Siska memberitahukan.


"Temanmu itu cowok atau cewek?" Tanya Natan.


"Cewek!" Jawab Siska.


"Ohh...baiklah, kalau begitu aku mau." Ucap Natan.


"Sepertinya temannya itu tajir juga, aku harus bisa berkenalan dengannya, siapa tahu dia tertarik dengan ku, aku pasti akan mengembatnya juga." Pikir Natan.


Mereka pun segera menentukan tempat mereka untuk bertemu serta waktu mereka untuk berangkat ke tempat yang akan mereka tuju.


Natan pun segera menyanggupinya hal itu dengan penuh semangat.


"Jika teman yang akan kau kunjungi itu mau, ajak saja dirinya." Ucap Sintia lagi.


"Baiklah, aku akan coba bertanya kepadanya." Balas Siska.


"Pak sopir, didepan saja!" Ucap Siska.


Angkot yang mereka tumpangi pun segera berhenti.


"Sin, aku turun duluan yah!?" Ucap Siska.


"Pak sopir, lanjut saja, biar aku yang akan membayarnya." Ucap Sintia.


"Sis...sampai ketemu sebentar yah!?" Lanjut Sintia.


"Thks yah Sin!? Sampai ketemu juga." Siska menanggapi sambil melambaikan tangannya kepada Sintia.


Sintia pun membalas lambaian tangan Siska.


Setelah tiba dirumahnya, Sintia langsung diberondong dengan begitu banyak pertanyaan dari ibunya.


Dia tidak menanggapinya dan langsung pergi menuju kamarnya untuk bersiap dan hendak kembali pergi lagi.


"Jika aku terus berada dirumah, pasti ibu tidak akan henti-hentinya bertanya serta memarahiku." Gumam Sintia.


"Sintia! Ibu sedang bertanya kepadamu, jangan kau bersikap seperti orang budek...jawab pertanyaan ibu."


"Bu, sudahlah...Sintia sudah besar, jadi ibu tidak perlu mengkhawatirkan ku." Sintia menanggapi.


"Sintia, meskipun begitu, kau juga harus mendengarkan apa yang ibu katakan...itu karena ibu melihat sepertinya pergaulan yang kau jalani tidak baik."


"Bu, aku yang lebih tahu baik buruknya pergaulan yang aku jalani...jadi ibu tidak perlu memutuskan jika pergaulan ku saat ini buruk." Balas Sintia.


"Sintia...ibu juga pernah muda, jadi ibu bisa melihat dari sikap dan tingkah lakumu itu...jika pergaulan mu baik, mana mungkin sudah larut malam kau keluar dari rumah dan baru kembali saat ini? Apakah itu menurutmu pergaulan yang baik?"


"Pokoknya ibu tidak perlu merasa khawatir dengan pergaulan ku, aku sudah bisa menjaga dengan baik diriku sendiri...dan apa yang aku lakukan, pasti aku sudah memikirkan konsekuensinya." Tutur Sintia dengan penuh ketegasan.


Sintia terus bersiap untuk kembali pergi meskipun ibunya terus memarahi serta menasehatinya.


Setelah siap, ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya itu.


"Ini semua salah ku karena terlalu memanjakannya." Pikir ibu Sintia.


"Sintia...sekali-kali kau harus mendengarkan nasihat ibu, sebab apa yang ibu katakan itu adalah untuk kebaikanmu."


"Iya ibu, Sintia tahu itu...tetapi ibu juga harus memberikan keluasan untuk Sintia agar bisa menentukan jalan hidupku." Balasnya dan langsung keluar dari kamar diikuti oleh ibunya dari belakang.


Ditangannya kini telah menggenggam kunci mobil yang biasa di kemudikan.


Ibunya tidak bisa lagi menghentikan keinginan putrinya itu dan hanya bisa melihat dia pergi meninggalkan rumah dengan membawa mobil.


"Mau pergi kemana lagi anak itu?" Kata-kata yang keluar dari mulut ibunya saat melihat kepergian putrinya itu.


Sintia meluncur dengan mobilnya yang bisa untuk menampung lima orang penumpang sudah termasuk sopir seharga 300-san juta itu untuk menuju ke rumah Bobby.


Memang mobil milik Sintia sudah termasuk mobil yang sangat disukai oleh setiap kaulah muda.


Sehingga setiap pria yang melihat Sintia pasti akan merasa tertarik dengan kecantikannya yang dipadukan dengan mobil yang memiliki sedikit desain sporty itu.


Sintia pun segera memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Bobby dan membuat ibu dan kedua adiknya merasa penasaran.


Ibu Bobby segera bertanya kepada salah satu adik perempuan Bobby mengenai siapa pemilik mobil yang berhenti tepat didepan rumah mereka itu.


Saat melihat sosok yang turun dari mobil itu, adik perempuan Bobby langsung memberitahukan jika itu adalah Sintia.


Ibu Bobby pun merasa sangat terkejut setelah mengetahui hal itu.


"Selamat pagi tante!" Ucap Sintia menyapa ibu Bobby.


"Sintia pergi kesebelah dulu yah tante!?" Lanjutnya.


"Iya!" Jawab singkat ibu Bobby.


"Berarti Sintia itu berasal dari keluarga yang sangat mampu, sehingga bisa memiliki sebuah mobil...sepertinya hubungan mereka tidak akan berjalan dengan lancar." Pikir ibu Bobby.


Bobby pun segera keluar dari rumah kakeknya dan berniat untuk menyambut kedatangan Sintia.


Pemuda itu juga merasa sangat terkejut dengan mobil yang dibawa oleh Sintia.


~Bersambung~