BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 29. Rasa Cemburu



Meskipun kecurigaan Bobby terhadap Stenly benar adanya, namun pemuda itu masih tetap tenang dan tidak merasa terusik dengan tingkah rekannya itu.


Dia tidak ingin memarahi Stenly atau pun bertindak kasar kepadanya, sebab Stenly juga adalah teman seperjuangan dalam pergaulan sebelum dirinya sering melakukan tindak pidana.


Setelah melayani dan mengantarkan seorang penumpang, Bobby langsung pulang untuk beristirahat, sebab dia belum tidur sedikit pun semalam suntuk.


Hal itu sangat berbahaya dengan profesinya yang hanya seorang tukang ojek jika dipaksakan untuk tetap menjalankan profesinya itu.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 16:00, Bobby segera bersiap untuk mengantarkan Siska ke kampus dimana wanita itu menimba ilmu.


Pukul 16:45 Bobby telah tiba didepan rumah Selly untuk menjemput Siska.


Jam aktivitas perkuliahan di kampus Siska saat itu karena menerima mahasiswa kuliah sambil kerja dimulai tepat jam 17:00 sampai jam 20:00, sehingga Siska harus tiba di kampusnya sebelum jam 17:00.


Beberapa saat kemudian akhirnya Siska pun keluar sambil tersenyum menatap Bobby.


"Maaf yah karena sudah membuatmu menunggu!?" Ucap Siska.


"Tidak kok...aku juga baru saja tiba." Balas Bobby.


"Ayo naik." Lanjut Bobby.


Siska pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Bobby.


Keduanya segera meluncur untuk menuju ke kampus wanita itu.


"Bob...apakah kau tidak merasa keberatan atau tidak merasa repot selalu mengantarkanku seperti ini setiap hari?" Tanya Siska yang saat itu sedang merangkul pinggang sixpack pemuda didepannya.


"Demi kamu pasti aku akan melakukan apapun itu, yang terpenting kau bisa merasa bahagia." Jawab Bobby.


"Apa benar seperti itu?" Tanya Siska lagi.


"Iya, itu benar." Ucap Bobby untuk meyakinkan.


"Bob, bagaimana kalau sebentar kau menjemputku setelah jam mata kuliah terakhirku selesai?" Ucap Siska.


"Boleh...kenapa tidak?" Ucap Bobby.


"Jadi jam berapa aku akan menjemputmu?" Tanya Siska.


"Jam delapan tepat, kau harus sudah berada di depan kampusku (jam 20:00)." Jawab Siska.


"Oke...aku akan menjemputmu." Ucap Bobby lagi.


Keduanya terus berbincang-bincang sampai tiba di depan pintu masuk kampus Siska.


"Bob...sampai ketemu nanti malam yah!?" Ucap Siska sambil melambaikan tangannya dan berjalan memasuki kampus tersebut.


Bobby hanya balas melambaikan tangannya kemudian pergi untuk menuju ke tempat biasa dia mangkal.


Bagi Bobby, berpacaran dengan seorang anak kuliahan adalah sebuah prestasi yang tinggi sebagai seorang pria yang memiliki ekonomi rendah.


Itulah mengapa dia akan memilih untuk memperjuangkan hubungannya dengan Siska dibandingkan dengan Iin meskipun wanita itu sudah bekerja.


Pada masa itu, seseorang yang melanjutkan bangku pendidikan sebagai mahasiswa adalah suatu kebanggaan bagi mereka.


Apa lagi jika mereka telah menyelesaikan pendidikan mereka dan menyandang gelar sebagai seorang sarjana, itu akan menjadi suatu kebanggaan bagi keluarga mereka.


Dan Bobby yang hanya lulusan program pemerintah Paket C bisa berpacaran dengan Siska, itu menjadi suatu kebanggaan bagi dirinya yang tidak pernah bermimpi untuk bisa berkuliah.


Bobby langsung disambut oleh rekan-rekannya saat memarkirkan sepeda motor miliknya.


"Sepertinya kau baru saja mendapatkan penumpang jauh...apakah bagus bayarannya?" Tanya Adi."


"Tidak juga...aku hanya mengantarkan seseorang ke kampusnya." Jawab Bobby.


"Ohh...langgananmu yang tinggal di rumahnya Selly itu?" Tanya Adi sambil tersenyum.


"Sssstttt...! Jangan keras-keras, nanti ada yang merasa iri." Balas Bobby sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.


Adi langsung mengerti dengan apa yang Bobby maksudkan, sebab dia juga tahu bagaimana Stenly yang ingin mendapatkan hati Iin.


Hanya candaan yang sering menghiasi waktu mereka lakukan saat berada di pangkalan ojek untuk menunggu calon penumpang yang akan mereka layani.


Hingga waktu yang sudah ditentukan, akhirnya Bobby pun pergi untuk menjemput Siska di kampusnya.


Saat semuanya mulai keluar, samar-samar Bobby melihat sosok yang dia tunggu berjalan keluar bersama dengan teman-teman sekelasnya.


Ada seorang pemuda yang terus bercanda dengan Siska, sehingga Bobby bisa melihat kebahagiaan diwajah wanita yang dia cintai itu.


Rasa cemburu mulai hinggap di pikiran pemuda itu saat melihat pria yang sedang berjalan di samping Siska lebih tampan dan terlihat juga memiliki ekonomi yang lebih baik darinya.


"Sial...apakah pemuda itu juga menyukai Siska? Sepertinya ini bukanlah hal yang baik bagiku...apa yang harus aku lakukan?" Pikir Bobby.


"Hai Bob! Kenalkan, ini Natan, teman sekelasku." Ucap Siska.


Pemuda tampan itu langsung menyodorkan tangannya untuk berkenalan.


Bobby pun melakukan hal yang sama sambil berkata "Namaku Bobby!"


"Nama ku Natan!"


"Senang bisa berkenalan denganmu." Lanjutnya.


"Siska sering menceritakan tentang mu, jadi terima kasih yah karena selama beberapa bulan ini sudah menjaganya." Ucap Natan sambil tersenyum.


Siska juga hanya tersenyum disaat pemuda itu mengatakan hal tersebut.


Hati Bobby bagaikan disayat-sayat setelah mendengar ucapan pemuda yang berdiri disamping Siska.


"Apakah aku harus membunuhmu hari ini?" Pikir Bobby ingin berontak.


Meskipun demikian, Bobby masih tetap berusaha untuk menahan emosinya saat itu dan berkata "Apakah kau akan balik bersamaku atau..."


"Aku akan balik bersama dengan Michael, sebab masih ada tugas yang harus kami kerjakan bersama malam ini." Siska langsung memotong dan menjawabnya.


"Oke...terus kau akan pulang jam berapa? Apakah aku akan menjemputmu?" Tanya Bobby lagi.


"Natan akan mengantarku pulang." Jawab Siska sekenanya saja.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Bobby dan langsung pergi dengan sepeda motor miliknya.


Suatu rasa yang tidak bisa dijelaskan kini mulai menguasai hati, pikiran dan perasaannya.


Tubuhnya terasa akan meledak dengan apa yang dia rasakan.


"Apakah mereka berdua memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman?" Pikir Bobby.


"Apakah ini rasanya dikhianati?" Pikir Bobby lagi.


"Aku harus mencari waktu yang tepat untuk bertanya kepada Siska...dia harus menjelaskan semua ini kepadaku."


Bobby saat itu merasa sangat frustasi dengan situasi yang telah dia alami.


Saat tiba di pangkalan ojek, Bobby langsung memanggil Mamang pergi kerumah Pasla untuk pesta miras.


Berhubung dirinya memiliki uang yang diberikan oleh Iin kepadanya, sehingga itu bisa di pakai untuk membeli minuman keras.


Mamang pun langsung menghidupkan sepeda motor miliknya dan mengikuti Bobby dari belakang.


Keduanya tiba dengan cepat ditempat tujuan mereka yaitu dirumah Pasla.


Bobby pun segera morogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa uang kertas untuk membeli apa yang mereka butuhkan.


Meskipun usia Mamang lebih tua darinya, namun karena tingkah laku Bobby yang tidak bisa disinggung disaat serius seperti itu, sehingga Mamang sendiri yang pergi untuk membelikan apa yang mereka berdua butuhkan.


Pasla yang melihat sikap Bobby langsung berkata "Sepertinya saat ini kamu memiliki masalah...boleh aku tahu masalah apa yang sedang kau hadapi?" Tanya Pasla dengan gaya khasnya.


Meskipun usia Pasla bisa di kategorikan hampir seumur dengan orang tua Bobby, namun pemuda itu sudah terbiasa memanggil pria itu dengan namanya.


"Sla...sudahlah, aku tidak mau membahasnya." Balas Bobby dengan nada ketus.


"Jika ada masalah, lebih baik kau ungkapkan saja kepada orang lain yang bisa membantumu untuk memberikan solusinya, jangan kau mencoba untuk menyimpan didalam hatimu, sebab itu bisa membuatmu semakin tertekan dengan masalah tersebut." Tutur Pasla lagi.


"Sla...sudahlah, saat ini aku belum siap untuk membahasnya." Ucap Bobby masih tetap berpegang pada pendiriannya.


"Baiklah jika itu pilihanmu...sebenarnya aku hanya mencoba untuk meringankan sedikit beban pikiranmu itu."


"Sebab untuk mencintai seseorang, kita tidak boleh memaksanya agar kita bisa memilikinya, biarkan saja dia terbang bebas untuk menikmati kebahagiaannya, karena seharusnya kita merasa bahagia jika orang yang kita cintai merasa bahagia." Pasla menasehati.


Perkataan Pasla langsung terngiang di pikiran Bobby "Memang Siska terlihat sangat bahagia disaat bersama dengan pemuda itu, seharusnya aku juga merasa bahagia dengan hal itu." Pikir Bobby.


"Tetapi bagaimana mungkin kekasihku merasa bahagia dengan orang lain? Itu berarti dia tidak menghargai hati dan perasaanku!?" Pikir Bobby lagi.


"Untuk apa aku menjalin hubungan dengannya namun tidak bisa memilikinya? Aku tidak bisa diam dengan hal ini."


Pikiran Bobby terus diisi dengan rasa cemburu yang semakin besar karena mengingat kejadian di depan kampus malam itu.


~Bersambung~