BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 32. Keputusan Sintia



Setelah Bobby selesai menceramahi pemuda yang adalah kekasih wanita yang di boncengnya, pemuda itu segera kembali ke tempat dimana sepeda motornya di parkir.


"Apakah aku masih akan mengantarkanmu?" Tanya Bobby kepada wanita yang adalah penumpangnya.


Sebelum wanita itu menjawab, pemuda yang adalah pacarnya langsung mendekati wanita itu dan berkata "Jangan pergi dengannya...kau pulang saja bersama denganku." Sambil menggenggam tangan wanita itu.


Bobby hanya bisa diam dengan tindakan pemuda itu, sebab urusan hubungan keduanya bukanlah urusannya.


Wanita itu hanya terdiam menatap pacarnya, setelah itu menatap ke arah Bobby yang kini sudah standby di atas sepeda motor miliknya.


"Aku sudah memutuskan...mulai saat ini, kita sudah tidak ada hubungan lagi...jangan pernah kau menghubungiku lagi." Ucap wanita itu sambil menarik tangannya agar terlepas dari genggaman pemuda itu.


"Kau urus saja pacarmu itu!" Lanjutnya.


"Dan untuk mu...terima kasih karena telah membuka mataku dan telah mengetahui sifat aslinya itu." Ucapnya lagi sambil menatap ke arah wanita yang bersama dengan pacarnya.


Wanita itu pun segera berjalan mendekati Bobby dan langsung naik ke sepeda motor sambil berkata "Ayo kita pergi!" Dengan nada suara yang datar.


Bobby segera menjalankan sepeda motor miliknya itu menuju ke arah yang sebelumnya di tuju oleh mereka.


Bobby bisa merasakan kesedihan wanita yang diboncengnya itu.


Sebab wanita yang bernama Sintia itu, kini sangat kecewa dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh pacarnya.


Air mata terus mengalir membasahi pipi Sintia sambil sesekali terisak.


Pemuda itu tidak berniat untuk menghibur wanita itu, karena dia berpikir belum memiliki waktu yang tepat.


Namun setelah beberapa waktu kemudian, saat mereka berdua sudah hampir sampai di perbatasan kota itu, wanita itu tidak berbicara sepatah kata pun untuk mengarahkan Bobby ke tempat tujuan mereka.


Akhirnya Bobby pun menghentikan sepeda motor miliknya dan bertanya "Nona...kita saat ini sudah mau meninggalkan kota...apakah tujuan kita masih lanjut lagi?"


Wanita itu pun langsung tersadar dengan pertanyaan yang Bobby lontarkan dan segera menanggapinya "Ohh sorry...sorry! Aku sudah tidak memperhatikannya!" Dengan nada suara merasa bersalah.


"Maaf yah!? Aku terlalu hanyut dalam kesedihanku sehingga tidak memikirkan lagi kemana tujuan kita." Lanjutnya.


"Sebenarnya sebelumnya aku akan pergi ke rumah pacarku itu sebelum pulang ke rumahku...namun karena aku telah melihatnya bersama dengan wanita lain, sehingga kita tak akan pergi lagi kesana." Jelas wanita itu.


"Jadi saat ini, kemana tujuan kita selanjutnya?" Tanya Bobby.


"Karena ini sudah mengarah ke luar kota, bagaimana kalau kita balik lagi...biar aku yang akan memandumu ke tempat yang akan kita tuju nanti." Jawab wanita itu.


Bobby pun segera memutar balik sepeda motor miliknya dan kembali meluncur untuk mengikuti perkataan wanita itu.


Saat dalam perjalanan, wanita itu pun kembali berkata memecah keterdiaman di antara keduanya "Apakah kau tidak marah kepadaku?" Tanya wanita itu.


"Mengapa aku harus marah padamu?" Bobby balik bertanya menanggapi pertanyaan wanita itu.


"Marah karena sudah membuatmu repot." Jawab wanita itu.


"Aku merasa tidak direpotkan olehmu...jadi untuk apa aku marah?" Balas Bobby.


"Bolehkah aku mengetahui namamu?" Ucap wanita itu.


"Namaku Bobby!" Jawabnya.


"Ohh...Aku Sintia!" Ucapnya memberitahukan kepada Bobby.


"Bob...apakah kau mau menemaniku malam ini?" Tanya Sintia.


"Menemanimu? Sepertinya aku tidak pantas untuk menemanimu dengan penampilanku seperti ini." Jawab Bobby.


"Memangnya kenapa dengan penampilan mu itu?" Tanya Sintia penasaran.


"Penampilanku ini tidak serasi dengan penampilan mu itu...apa kata orang nanti saat melihatku bersamamu?" Balas Bobby lagi.


Bobby sendiri saat itu hanya ingin menguji sejauh mana pemikiran wanita itu terhadapnya.


Dan jika wanita itu tidak mempermasalahkan statusnya, Bobby berpikir akan mengambil setiap peluang yang dia miliki.


Apa lagi Sintia menurutnya adalah seorang wanita yang sangat cantik dan melebihi kecantikan Siska, bagaimana mungkin dia akan menolaknya.


Penampilan Sintia sendiri terlihat seperti berasal dari keluarga yang ekonominya sangat berkecukupan, sehingga kulitnya terlihat sangat terrawat.


"Memangnya aku memikirkan dengan penilaian orang lain? Aku tidak peduli dengan kata orang lain." Sintia menanggapi perkataan Bobby.


"Dan kau juga tidak perlu memikirkan apa yang orang pikirkan setelah melihat kita berdua." Lanjut Sintia.


"Pokoknya kau temani aku malam ini...mengenai bayaran untuk waktumu, pasti aku tidak akan melupakannya...jadi kau tenang saja."


Bobby tetap diam dan hanya menjadi seorang pendengar yang setia.


Sedangkan Sintia terus berbicara sambil memainkan perannya sebagai navigator.


Bobby memang mengetahui tempat tersebut meskipun dirinya belum pernah sekali pun memasuki tempat itu.


Keduanya langsung turun dan memarkirkan sepeda motor milik Bobby.


"Bob...ayo kita masuk!" Ajak Sintia.


"Apakah dia biasa datang kesini?" Pikir Bobby penasaran.


Memang di cafe itu bisa memesan minuman yang berbahan dasar kopi dan susu serta teh, akan tetapi ditempat itu juga menawarkan minuman yang beralkohol.


Kebanyakan anak muda yang datang ke tempat itu, sering juga memesan minuman beralkohol.


Hal itulah yang menjadi buah pikiran Bobby terhadap Sintia.


"Apakah Sintia biasa mengkonsumsi minuman beralkohol?" Pikir Bobby penasaran.


Keduanya pun segera memasuki salah satu cafe yang dipenuhi dengan lampu yang berkedip-kedip serta sebuah panggung dimana ada seseorang yang sedang bernyanyi diatasnya sambil diiringi musik band.


Sintia terus berjalan dan naik ke lantai dua diikuti oleh Bobby dari belakang.


Setelah sampai di lantai dua, suasananya tidak sama seperti apa yang terlihat di lantai dasar cafe itu.


Ruangan itu tidak terlalu bising, sehingga orang-orang di tempat itu masih bisa saling berkomunikasi satu sama lain.


Sintia pun memilih salah satu meja yang terletak tepat disudut ruangan tersebut dan langsung duduk di kursi yang telah tersedia.


"Bob...kau duduk disini saja." Ucap Sintia sambil menunjuk ruang kosong yang tersisa di sofa yang dia tempati.


Bobby pun segera menuruti permintaan Sintia dan segera duduk disampingnya.


Seorang waiters segera mendekati meja dimana mereka berdua berada.


"Apakah ada yang bisa saya bantu?" Ucap pria itu setelah sampai di meja mereka berdua.


Sintia pun segera memesan 2 Tower minuman beralkohol yang memiliki kapasitas tiga liter per towernya.


Bobby belum mengerti dengan jumlah pesanan yang di ajukan oleh Sintia.


Tidak lama kemudian, akhirnya dua orang pria datang mendekati mereka dengan masing-masing membawa 1 tower minuman bir putih dan 1 tower lagi bir hitam.


Bobby langsung merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya itu.


"Jika dilihat dari ukurannya, sepertinya wadah ini memiliki daya tampung sebanyak tiga liter...itu berarti masing-masing berisi lima botol bir." Pikir Bobby.


"Sin...apakah kau memang sering kesini?" Tanya Bobby untuk menjawab rasa penasaran didalam pikirannya.


"Iya...kenapa?" Jawab Sintia dan balik bertanya.


"Ohh tidak...aku hanya ingin tahu saja." Jawab Bobby.


"Apakah kau tidak biasa minum minuman beralkohol?" Tanya Sintia penasaran dengan sikap Bobby.


"Mana mungkin perawakan ku seperti ini tidak biasa minum minuman beralkohol!?" Balas Bobby sambil tersenyum malu.


"Ohh...aku kira kau tidak bisa." Ucap Sintia menanggapi sambil tersenyum.


"Ayo minum." Lanjut Sintia sambil memberikan sebuah gelas kepada Bobby.


Pemuda itu pun segera menerima gelas pemberian Sintia.


"Minuman yang mana yang kau mau?" Tanya Sintia.


"Itu saja." Jawab Bobby sambil menunjuk ke arah salah satu minuman yang berada di hadapan mereka berdua.


Sintia pun segera menarik tower tersebut dan mendekatkan kearah Bobby.


Pemuda itu masih belum menuangkan minuman itu ke dalam gelasnya, sebab dia tidak mengetahui caranya.


Bobby hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum.


"Kenapa? Apa masih ada yang kurang?" Tanya Sintia bingung dengan sikap Bobby.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menuangkan minuman itu ke gelasku." Jawab Bobby dengan senyuman yang malu-malu.


Mendengar jawaban Bobby, Sintia pun tidak bisa menahan tawanya.


Akhirnya Sintia pun segera menunjukkan caranya untuk menuangkan minuman tersebut.


~Bersambung~