
Setelah selesai dengan keterkejutannya itu, Bobby pun hanya bisa tersenyum dan berkata didalam hatinya.
"Sintia ini benar-benar sangat berani dalam memutuskan apa yang dia inginkan...tetapi sifatnya ini bisa memberikan kerugian bagi dirinya sendiri."
"Jika dipikir dari sikapnya ini, sudah pasti hidupnya terbiasa dimanjakan, sehingga apa yang dia inginkan harus bisa terpenuhi."
"Entah sejak kapan dirinya tiba dan tidur disampingku?"
Bobby hanya bisa membelai rambut wanita disampingnya itu dan mengecup keningnya mengungkapkan rasa sayangnya kepada Sintia.
Tindakan Bobby itu membuat Sintia langsung terbangun dan segera membuka matanya dan menatap wajah pemuda itu.
Setelah menatap Bobby, Sintia kembali menutup matanya dan memeluk tubuh pemuda itu.
Bobby hanya bisa tersenyum dengan tingkahnya itu dan membalas pelukannya serta kembali mengecup keningnya.
Sintia kembali terlelap dan merasa nyaman dengan kehangatan yang diberikan oleh Bobby.
Pemuda itu kemudian kembali menutup matanya dan mencoba untuk bisa tertidur lagi.
Akhirnya Bobby pun terbangun saat dirinya merasakan ciuman Sintia.
"Sin...apakah kau sudah lama bangun?" Tanya Bobby.
Sintia hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Bobby.
"Ini sudah jam berapa?" Tanya Bobby yang segera bangun untuk mengambil ponselnya.
Sintia segera menghentikan menghentikan tindakan Bobby itu dan menariknya kembali ke posisi berbaring lagi.
"Ini baru jam enam pagi." Ucap Sintia memberitahukan kepada Bobby.
"Sin...apakah kau akan pulang pagi ini juga?" Tanya Bobby lagi.
"Memangnya kenapa?" Balas Sintia balik bertanya.
"Sebab aku akan mengantarkan terlebih dahulu langganan ku ketempat kerjanya...setelah itu aku akan kembali pulang jika kau masih mau tinggal di sini." Jawab Bobby.
"Mmmm...baiklah, aku akan menunggumu di sini." Ucap Sintia.
"Kira-kira berapa lama kau akan mengantarkan langganan mu itu?" Tanya Sintia.
"Mungkin hanya 20 menit saja." Jawab Bobby.
"Jika demikian, kau harus mampir terlebih dahulu untuk membeli sarapan untuk kita berdua." Tutur Sintia.
"Sarapan apa yang kau inginkan?" Tanya Bobby.
"Apa saja yang kau mau dan biasa kau makan untuk sarapanmu."
"Ohh...baiklah! Aku bersiap dulu." Ucap Bobby dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai, pemuda itu segera menggunakan pakaiannya dan segera berpamitan dengan Sintia.
Wanita itu pun segera menyerahkan uang kertas seratus ribu kepada Bobby untuk membeli sarapan mereka.
Setelah tiba di depan rumah Om Guntur, terlihat Iin sudah siap untuk berangkat kerja dan sudah menunggu Bobby untuk menjemputnya.
Keduanya pun segera pergi meninggalkan kediaman Om Guntur.
Ditengah perjalanan, Iin pun angkat suara untuk memulai pembicaraan.
"Bob...sebentar malam kau akan pergi kemana?"
Bobby langsung berpikir mengenai Sintia yang terus membayanginya.
"Sebentar malam aku akan mengantarkan ibuku kerumah nenekku, sebab ada pertemuan keluarga." Jawab Bobby.
"Terus kau akan kembali jam berapa?" Tanya Iin lagi.
"Mungkin aku akan tetap menunggu sampai ibuku pulang...dan itu mungkin bisa sampai jam sepuluh malam." Jawab Bobby lagi.
"Bagaimana jika sudah mengantarkan pulang ibumu, kau datang menjemputku dirumah?" Pinta Iin.
"Sepertinya itu tidak bisa, soalnya aku ingin langsung beristirahat saja...bagaimana kalau nanti besok malam saja?" Balas Bobby.
"Besok malam?....baiklah, nanti besok malam saja." Iin menanggapi.
Keduanya pun sepakat untuk bertemu pada malam keesokan harinya.
"Semoga besok malam Sintia tidak datang lagi." Pikir Bobby.
Setelah selesai mengantarkan Iin, Bobby pun segera melakukan apa yang Sintia pesan kepadanya sebelum kembali ke rumah.
Dani yang adalah kakak Bobby saat melihat Sintia merasa sangat terkejut, sebab dia tidak mengenalinya.
"Kamu siapa?" Tanya Dani penasaran.
"Aku Sintia." Jawabannya.
"Apakah kau ini kakaknya Bobby?" Tanya Sintia.
"Iya...aku kakaknya Bobby."
"Aku ini adalah pacarnya Bobby." Jawab Sintia.
Mendengar jawaban Sintia, Dani hanya tersenyum merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar itu.
"Kenapa kak Dani tertawa?" Tanya Sintia penasaran.
"Aku hanya berpikir kau seperti sedang membohongiku...bagaimana mungkin Bobby bisa memiliki pacar secantik kau ini?" Ujar Dani.
"Apakah menurut kak Dani ada yang salah dengan hubungan kami berdua?" Sintia kembali bertanya.
"Apakah kau tidak sedang bercanda?" Balas Dani merasa tidak percaya.
"Tidak...Bobby memang berpacaran denganku, dan itu benar adanya." Ucap Sintia menegaskan.
Dani merasa wanita yang berada didepannya itu tidak mungkin adalah pacar Bobby, itu karena sangat terlihat tidak serasi menurutnya.
Memang sifat Dani sangat terbuka dalam segala hal, dia sering langsung mengungkapkan apa yang dia pikirkan tanpa harus memikirkan perasaan orang lain.
Saat keduanya sedang berbincang-bincang di ruang tamu, akhirnya Bobby pun tiba dan langsung menegur Dani.
"Apa lagi yang ingin kau katakan kepadanya?"
Meskipun mereka berdua adalah kakak beradik, namun saat berada di rumah, keduanya terlihat saling bermusuhan.
Sangat jarang terlihat mereka berdua bisa akur jika duduk dalam satu forum bersama.
Namun akan berbeda jika dalam menghadapi suatu masalah, keduanya akan saling membantu satu sama lain.
"Bob, apakah benar dia ini pacarmu?" Tanya Dani ingin memastikan.
"Iya! Kenapa?" Jawab Bobby singkat dan balik bertanya.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan saja." Jawab Dani.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu...selamat bersenang-senang yah!?" Lanjut Dani dan segera meninggalkan keduanya.
"Sin...ini sarapan untukmu." Ucap Bobby sambil menyerahkan sebuah bungkusan.
"Tunggu aku pergi mengambilkan piring dan sendok untuk bisa digunakan." Lanjut Bobby yang segera pergi ke rumah dimana ibunya berada untuk mengambilkan apa yang dia katakan.
Keduanya pun segera sarapan. Dan setelah selesai sarapan Bobby membuka pembicaraan dan bertanya.
"Sin...apa yang akan kita lakukan hari ini?"
Sintia pun segera mengutarakan keinginannya untuk bisa pergi ke salah satu tempat wisata yang terletak sekitar 50 kilometer jaraknya dari rumah Bobby, sehingga membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan.
"Tenang saja, kau tidak perlu mengeluarkan uangmu, sebab aku akan menanggung semua biayanya...termasuk uang setoran mu." Lanjut Sintia sambil tersenyum menatap Bobby.
"Apakah kau memang memiliki uang yang banyak?" Tanya Bobby bercanda.
"Iya, memang aku memiliki uang yang banyak, tetapi itu berasal dari kedua orang tuaku, berbeda denganmu, meskipun memiliki sedikit uang, tetapi itu adalah uang dari hasil jerih payahmu sendiri." Balas Sintia.
"Aku pikir kau akan merasa sombong dengan uang yang kau miliki, ternyata kau tau diri juga." Ucap Bobby bercanda sambil mencubit manja pipi Sintia.
"Apakah kau sedang mengejekku? Hah?" Balas Sintia sambil tersenyum.
Keduanya terus bersenda gurau hingga Bobby pun angkat bicara.
"Apakah kau tidak akan pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaianmu?"
"Iya, aku akan pulang terlebih dahulu...apa lagi ini masih terlalu pagi untuk kita pergi kesana." Jawab Sintia.
"Apakah aku akan mengantarkanmu?" Tanya Bobby lagi.
"Tidak perlu...aku naik taksi saja." Jawab Sintia.
"Mengapa kau seperti tidak ingin aku antarkan?" Tanya Bobby penasaran.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu merasa terbeban saja...itu saja." Sintia menjawab dan memberi alasan.
"Bukan karena kau tidak ingin aku mengetahui alamat rumahmu kan!?" Tanya Bobby lagi.
"Husshh...jangan berpikir seperti itu!" Ujar Sintia menanggapi perkataan Bobby.
"Baiklah, mari aku antarkan kau hingga ke jalan utama." Ucap Bobby menawarkan.
Sintia pun menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan apa yang Bobby tawarkan.
Bobby pun segera mengantarkan Sintia hingga sampai ke jalan raya dimana pangkalan ojeknya berada.
Setelah tiba dijalan raya, Bobby menurunkan Sintia diseberang jalan dan tanpa dia sadari, Siska saat itu juga sudah terlebih dahulu berada di halte untuk menunggu angkot.
Siska pun melihat kedekatan keduanya saat keluar dari lorong dan menyeberang jalan hingga berhenti tepat didepannya.
Sedangkan Bobby sendiri hanya bisa terkejut saat melihat Siska yang duduk di halte setelah Sintia turun dari boncengannya.
Keduanya saling menatap satu sama lain dan tidak ada satu katapun yang terucap dari mereka berdua.
~Bersambung~