BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 34. Bersama Sintia



Bobby pun segera menuruti keinginan Sintia untuk pergi kerumahnya.


Tiba-tiba Sintia pun bertanya "Bob...siapa saja yang berada dirumahmu saat ini?"


"Ibu, kakak dan adik-adikku." Jawab Bobby singkat.


"Terus ayahmu dimana?" Tanya Sintia lagi.


"Ayahku jarang berada di rumah." Jawab Bobby singkat.


"Bagaimana jika kita mampir untuk membelikan oleh-oleh untuk mereka?" Sintia menawarkan.


"Tidak perlu...jangan lagi membuang-buang uangmu itu." Balas Bobby menanggapi.


"Apakah kau berpikir kita baru saja tiba dari luar kota dan membawakan oleh-oleh untuk mereka?" Lanjut Bobby.


"Bobby!? Ayo mampir sebentar..." Dengan suara manja.


"Jangan khawatirkan mengenai uangku, itu adalah hakku...yang terpenting aku bisa membelikan oleh-oleh untuk keluargamu." Lanjut Sintia.


"Jika kau tidak mau aku melakukannya...itu berarti kau membenciku." Tutup Sintia memaksa.


"Baiklah..." Bobby mengikuti keinginan wanita itu.


Saat melewati pangkalan ojek dimana Bobby biasa mangkal seorang rekan yang melihat dan bisa mengenali Bobby langsung berteriak "sudah lama!?" Kata-kata itu adalah bentuk candaan mereka untuk mempertanyakan hubungan antara seorang pria dan wanita.


"Baru saja!" Teriak Bobby untuk membalas pertanyaan mereka dengan candaan.


"Apa yang kalian maksudkan itu?" Tanya Sintia penasaran.


"Ohh...mereka itu sedang menggoda ku karena melihat sedang berboncengan denganmu." Jawab Bobby.


"Aku kira mereka sedang mengejekmu!?" Sintia menanggapi.


"Tidak..." Balas Bobby.


Beberapa saat kemudian akhirnya mereka tiba di rumah Bobby.


Mendengar Bobby telah pulang, ibunya pun langsung keluar untuk menyambut kedatangan putranya itu.


"Bob...kamu sudah pulang?"


"Iya bu..."


"Apakah kau sudah makan?" Tanya ibunya lagi.


"Sudah bu..."


"Ibuku tidak bisa melihat..." Bisik Bobby kepada Sintia.


"Kau datang bersama siapa?" Tanya ibu Bobby penasaran.


"Aku Sintia tante!" Ucapnya untuk memperkenalkan dirinya.


Kedua adik Bobby yang mendengar suara seorang wanita segera keluar untuk melihat sosok pemilik suara tersebut.


"Apakah dia ini pacar kakak Bobby?" Tanya adiknya.


"Iya...aku pacarnya Bobby." Sintia yang menjawab pertanyaan itu.


"Ini, kakak bawakan sedikit oleh-oleh untuk kalian." Lanjut Sintia sambil menyerahkan apa yang baru saja dia beli.


"Nak Sintia...ayo, mari masuk..."


"Bob...ajak Sintia untuk masuk."


"Iya bu..." Balas Bobby sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nak Sintia...mohon maaf jika rumah Bobby terlihat sangat sederhana seperti ini." Ucap Ibu Bobby lagi.


"Oh...tidak apa-apa kok." Balas Sintia menanggapi.


Tiba-tiba sesuatu berbunyi didalam tas milik Sintia.


Bobby merasa terkejut mendengar suara itu, sebab dia mengetahui sumber dari suara tersebut berasal dari benda apa.


"Sepertinya Sintia benar-benar berasal dari keluarga kaya...sebab suara handphone miliknya sudah tidak sama dengan handphone milikku ini." Pikir Bobby.


Mendapatkan panggilan, Sintia segera meraih ponselnya dan langsung menerima panggilan tersebut.


Sintia sedikit menjauh dari Bobby saat menerima panggilan itu.


"Tidak! Aku dirumah temanku..." Ucap Sintia dan langsung menutup panggilan itu.


"Siapa itu?" Tanya Bobby penasaran.


"Ibuku!" Jawab Sintia singkat.


"Kenapa? Apakah aku harus segera mengantarkanmu pulang?" Tanya Bobby.


"Tidak...aku pulang besok pagi saja." Jawab Sintia.


"Ayo kita masuk." Lanjutnya mengajak Bobby.


"Semoga besok Sintia melupakan pembicaraan kita malam ini...sebab meskipun aku menyukainya, pasti hubungan kita tidak akan direstui oleh orang tuanya." Pikir Bobby.


Mereka pun kini sudah duduk didalam rumah sambil menikmati oleh-oleh yang dibawakan oleh Sintia dan Bobby.


"Sin...apakah kau benar-benar akan tidak akan pulang malam ini?" Tanya Bobby ingin memastikan lagi.


"Iya! Itu benar...apakah kau pikir aku tidak bisa tidur ditempatmu?"


"Baiklah, ayo kita pergi ke kamarku." Ajak Bobby.


"Kita akan pergi kemana?" Tanya Sintia bingung.


"Aku biasa tidur di rumah kakekku itu." Jawab Bobby sambil menunjuk ke arah rumah yang tidak jauh berada di depan rumah Bobby.


"Ohh...jadi kau tidur disana?" Sintia menanggapi.


Keduanya pun segera pergi menuju ke rumah kakeknya.


Meskipun kamarnya hanya berukuran 3x3 meter, namun kamar tersebut tertata rapih meskipun tempat tidurnya hanya beralaskan kasur yang tidak mahal harganya.


"Hmmmphh...boleh juga, pasti aku akan merasa betah untuk tidur disini." Ucap Sintia dan langsung menghamburkan tubuhnya ke kasur.


"Celaka...bagaimana ini? Jika dia sudah betah disini, pasti orang tuanya akan mencari keberadaannya...dan jika mereka mengetahui putrinya tinggal disini, apa yang akan mereka katakan kepadaku!?" Bobby menjadi cemas saat mendengar perkataan Sintia.


Meskipun Bobby adalah pria yang normal, yang pasti akan terpengaruh dengan kecantikan Sintia, namun dia sendiri masih tau diri dengan status ekonominya.


Pemuda itu segera menutup pintu dan berbaring disisi Sintia.


"Apakah kamu takut memelukku?" Tanya Sintia sambil menatap Bobby.


"Tidak, siapa yang takut?" Jawab Bobby.


"Kenapa kau tidak mau memelukku? Apakah kau membenciku?" Tanya Sintia lagi.


"Tidak...mana mungkin aku membencimu!?" Balas Bobby lagi.


"Terus, kenapa kau tidak mau memelukku? Apakah kau pria yang tidak normal?" Tanya Sintia lagi seakan ingin menantang.


"Sin...tidurlah, jangan kau berpikir yang tidak-tidak seperti itu." Balas Bobby.


"Saat ini aku memang ingin tidur, tetapi aku mau kau memelukku." Ucap Sintia.


Dengan berat hati akhirnya Bobby memeluk tubuh Sintia.


Jantung pemuda itu langsung berdegup kencang saat memeluk tubuh Sintia yang sangat harum meskipun dia telah mengkonsumsi minum beralkohol.


Situasi itu membuat pikiran pemuda itu semakin kacau untuk menahan kehendak didalam dirinya.


Akan tetapi Bobby tetap berusaha untuk melawannya agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.


Karena jika hal itu terjadi, mungkin akan membuat masalah mereka semakin rumit. Itu karena Bobby tidak mau berurusan dengan orang kaya.


Pemuda itu pun langsung membelai rambut wanita yang berada di pelukannya itu sambil berpikir bagaimana caranya agar bisa terlepas dari hubungan itu tanpa menyakiti hati Sintia.


Karena sudah mabuk tidak lama kemudian akhirnya Sintia pun tertidur.


Tidak lama kemudian, Bobby pun ikut tertidur.


Disaat subuh, mereka berdua pun saling mempererat pelukan satu dengan yang lain, sebab rasa dingin mulai terasa.


Tidak lama kemudian, simbol kejantanan Bobby seperti biasanya yang sering terjadi bagi kaum pria disaat subuh, mulai mengamuk.


Bobby yang sudah tersadar dan mengetahui hal itu, hanya bisa pasrah dan merasa malu atas kejadian itu.


Namun Sintia tetap memeluk erat tubuhnya, sehingga dirinya hanya bisa menahan meskipun perut bagian bawah miliknya mulai terasa sakit.


Sintia pun terbangun dan menyadari hal itu. Dia hanya memandang wajah Bobby dengan senyuman dan berkata "Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Sintia.


Bobby tidak menjawab pertanyaan Sintia dan terus berpura-pura masih tertidur.


"Sudahlah...buka saja matamu, aku tahu kau sudah terjaga lebih dulu dariku." Ucap Sintia yang sudah mengetahui jika Bobby telah bangun.


Bobby pun hanya bisa tersenyum dan membuka matanya sambil mengecup kening wanita itu.


"Apakah kau masih ngantuk?" Tanya Bobby.


Sintia hanya menggeleng pelan dan berkata "kau belum menjawab pertanyaan ku."


"Pertanyaan yang mana?" Balas Bobby bertanya.


"Apa yang sedang kau pikirkan saat ini?" Tanya Sintia lagi.


"Aku hanya merasa tidak percaya jika wanita secantik dirimu bisa berada di pelukanku." Jawab Bobby.


"Memangnya kenapa?" Sintia bertanya lagi.


"Sebab untuk mendapatkan wanita secantik dirimu, didalam mimpiku saja, aku pasti tidak bisa menemukannya." Ucap Bobby.


"Terus, apa yang junior mu lakukan?" Tanya Sintia lagi.


Wajah Bobby langsung memerah setelah mendengar pertanyaan itu, namun dirinya mencoba untuk bisa terlihat seperti biasa dan berkata "Bagi laki-laki normal, itu biasa saat dingin seperti ini."


Sintia pun hanya tersenyum dan langsung mengecup bibir Bobby.


Bobby pun membalas apa yang dilakukan oleh wanita itu.


Keduanya pun melakukan french kiss yang perlahan kian memanas.


Karena rasa takut dipikiran Bobby akhirnya masih bisa mengalahkan hasratnya saat itu, sehingga ia langsung menghentikan apa yang mereka berdua lakukan.


"Kenapa?" Tanya Sintia.


Bobby langsung bangun dan duduk disamping wanita itu.


Dia tidak menjawab pertanyaan Sintia bdan tetap diam dengan tatapan yang kosong.


~Bersambung~