
Saat Bobby telah di vonis delapan bulan penjara, kini dirinya mulai menjalani kehidupan sehari - harinya kini di sebuah Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB yang berada di kota tersebut.
Saat pertama kali dirinya memasuki tempat itu, dia langsung di sambut oleh sipir penjara dan mendapatkan pemeriksaan di seluruh tubuhnya untuk mengisi data bagi setiap narapidana yang berada di penjara tersebut.
Setelah melalui proses tersebut, tak ayal Bobby juga menerima perlakuan yang tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan dari setiap sipir yang dia temui.
Setelah melalui portir Lapas, Bobby langsung di sambut oleh dua orang sipir penjara.
Kepalanya langsung di masukkan di sebuah lonceng penjara yang biasa di bunyikan saat jam apel mau pun jam makan tiba.
Telinganya merasa berdengung serta kepalanya merasa pusing saat selesai melalui perlakuan para sipir penjara tersebut.
Tidak hanya itu saja, hampir seluruh tulang kaki dan tangannya juga mendapatkan jatah dari besi pemukul lonceng tersebut serta bogem mentah dari kedua sipir itu.
Setelah melalui hal tersebut, akhirnya Bobby langsung di antarkan di salah satu sel yang terletak di blok B penjara tersebut.
Saat memasuki sel tersebut, dirinya langsung di sambut oleh tiga orang yang sudah mengenalinya saat berada di sel tahanan kantor kepolisian Resort kota tersebut.
"Hei Bob! Ternyata kita bisa ketemu lagi disini!." Tutur seorang di antara ketiganya.
Tidak hanya mereka bertiga saja yang ada di dalam sel tersebut, akan tetapi masih ada juga tiga orang lainnya yang sudah berada di situ.
Ketiga orang tersebut salah satunya berasal dari kota yang sama dengan Bobby.
Sedangkan dua orang lainnya berasal dari dua kota yang berbeda pula.
Lapas tersebut menampung setiap narapidana yang berasal dari beberapa kota serta kabupaten di propinsi itu, sehingga mereka di pertemukan di tempat tersebut.
Bobby pun memperkenalkan dirinya kepada tiga orang lainnya, begitu juga sebaliknya.
Kehidupan keseharian di Lapas tersebut saat pagi, siang dan malam harus mengikuti apel rutin dan jika tidak mengikuti apel rutin tersebut akan memdapatkan hukuman dari sipir yang bertugas saat itu.
Saat pagi mereka di berikan jatah sarapan seadanya serta siang dan malam mendapatkan jatah makan siang dan juga makan malam yang tidak seperti makanan yang biasa di konsumsi oleh orang luar Lapas pada umumnya.
Selain hal itu, didalam Lapas juga ada kegiatan saat hari masih pagi.
Di dalam Lapas itu tersedia bengkel pertukangan, ruang kesenian serta kegiatan keagamaan karena selalu mendapatkan kunjungan dari beberapa golongan agama yang ada.
Karena saat siang hari para nara pidana bebas beraktivitas di area penjara yang telah di tentukan, sehingga Bobby juga melakukan hal tersebut.
Saat dirinya sedang berada di salah satu blok napi di dalam penjara tersebut, seorang napi langsung memarahinya.
Bobby tidak mengerti dengan alasan napi itu sehingga memarahinya.
Saat itu Bobby sedang berada di depan sebuah sel napi yang melakukan tindak pidana khusus, yaitu melakukan korupsi dana pemerintah yang akan di salurkan ke masyarakat.
"Ada masalah apa sehingga kamu memarahiKu?." Tanya Bobby kepada napi tersebut.
"Jangan datang - datang lagi kesini! Sebab dia adalah bagianKu!." Tutur napi tersebut.
"Sejak kapan kamu bisa menentukan hal itu?." Tanya Bobby lagi.
"Sejak saat ini! Kenapa? Apakah kamu ingin menentang keputusanKu? Kamu belum tahu kenapa aku bisa berada di tempat ini? Itu karena aku telah melakukan tindak pidana pembunuhan!." Tutur napi itu untuk menggertak Bobby.
"Kita sama - sama adalah napi di penjara ini! Jadi menurutKu, kamu tidak memiliki hak untuk melarangku berada di tempat ini!." Balas Bobby.
"Jadi kamu ingin menentangKu?." Gertak pria tersebut.
"Iya! Jika kamu mau, mari kita bertarung! Tetapi jika kamu kalah, kamu harus menjadi bawahanKu! Dan tidak ada yang boleh melapor kepada sipir jika mengalami kekalahan! Bagaimana?." Tutur Bobby menanggapi perkataan napi itu.
Pria tersebut langsung diam seakan sedang berpikir.
Dia mungkin tidak menyangka jika Bobby tidak gentar dengan gertakannya tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya pria itu langsung mengalah dan berkata.
"Awas kamu jika bertemu denganKu lagi, aku akan membuat diriMu menyesali perkataanMu hari ini!." Tutur napi tersebut sambil melangkah pergi meninggalkan Bobby.
Bobby langsung tertawa penuh kemenangan didalam hatinya melihat reaksi pria tersebut.
Seorang pria yang berusia kira - kira lima puluh tahun lebih itu langsung bertanya kepada Bobby.
"Kenapa dengan dirinya? Apakah kalian memiliki masalah pribadi?." Tanya pria yang adalah seorang napi kasus korupsi tersebut.
"Tidak! Kami tidak memiliki masalah! Hanya saja dia ingin mendekati bos untuk mendapatkan jatah setiap harinya!." Jawab Bobby menanggapi pertanyaan pria tersebut.
Pria itu pun langsung mengajak Bobby masuk kedalam sel yang di tempati oleh pria tersebut.
"Apakah kamu sudah makan?." Tanya pria itu.
"Sudah bos! Apa ada yang ingin bos perintahkan kepadaKu?." Tanya Bobby.
"Tidak ada! Kalau kamu sudah makan, ambil ini untuk membeli rokok!." Ucap pria itu sambil memberikan pecahan lima puluh ribu uang kertas.
"Terima kasih bos!." Jawab Bobby dengan senang.
"Sebentar sore sebelum apel masuk, kamu segera datang kesini yah!?." Tutur pria itu.
"Baik bos!." Jawab Bobby sambil meninggalkan sel napi tersebut.
Bobby pun berjalan untuk kembali ke blok tempat dimana sel yang dia tempati berada.
Sebelum menuju kekamarnya, Bobby langsung membeli dua bungkus rokok kepada seorang pemuka blok yang mendagangkan barang tersebut.
Setelah membeli dua bungkus rokok, akhirnya Bobby melanjutkan langkah kakinya.
Saat tiba di depan pintu kamar sel yang dia tempati, Bobby langsung berkata.
"Woi! Kita bisa mengusir nyamuk di kamar kita! Ini aku membawakan rokok!." Tutur Bobby sambil melepaskan dua bungkus rokok di lantai tempat rekan - rekan sekamarnya yang saat itu sedang bermain kartu domino.
"Wow...mantap nih! Hidup kita kini merasa tersambung lagi!." Tutur seorang pria.
"Apakah kamu mendapatkan besukan?." Tanya seorang pria lainnya.
"Tidak! Ini bukan hasil besukan! Tetapi ini hasil dari ATMku Si bapak koruptor yang berada di blok D!." Jawab Bobby.
"Ternyata kamu hebat juga! Apakah tidak ada saingannya untuk mendapatkan Si bapak itu?." Tanya seorang rekan sekamarnya.
"Saingan? Sepertinya pria yang berada di blok A itu adalah sainganKu! Tetapi semua itu sudah aku tangani!." Jawab Bobby sambil tersenyum.
"Apa kasusnya?." Tanya seorang lagi.
"Kasusnya adalah kasus pembunuhan!." Jawab Bobby.
"Kasus pembunuhan!? Terus bagaimana caranya kamu bisa menangani pria tersebut?."
"Dia tadi langsung menggertakKu! Tetapi aku langsung menantangnya untuk duel! Tetapi dia langsung pergi sambil mengancamKu!." Jawab Bobby.
"Berarti, mulai saat ini, kamu harus selalu berhati - hati! Karena jika dia takut untuk berduel denganMu, berarti dia itu hanya biasa menggunakan senjata tajam!."
"Aku tidak takut dengan hal itu! MenurutKu akan lebih baik jika aku menaklukkannya saat dia menggunakan benda tajam! Agar supaya dia tidak lagi bisa untuk berbangga diri dengan kasus pembunuhannya saat aku sudah bisa mengalahkannya!." Tutur Bobby penuh percaya diri.
Mereka pun melanjutkan permainan domino sambil mendapatkan ganjaran berjongkok bagi siapa yang kalah sambil bercerita dan bercanda.
Sedangkan seorang rekan sekamar Bobby yang lain, kini sedang melakukan sesuatu bagi alat kelamin seorang rekan yang lain.
Benda yang terbuat dari gagang sikat gigi yang berbentuk bulat dan lonjong di masukkan ke ruang kosong di antara kulit dan batang ******** pria.
Hal itu bertujuan agar wanita yang akan berhubungan intim dengannya akan mendapatkan kepuasan.
Namun Bobby sendiri tidak merasa tertarik dengan hal tersebut.
Itu di karenakan Bobby hanya mensyukuri apa yang di berikan oleh Sang Pencipta.
~Bersambung~