
Saat ingin menuju ke rumah Bobby, Sintia pun langsung bertanya.
"Apakah kita akan singgah di salah satu toko?"
"Untuk apa?" Bobby balik bertanya.
"Membelikan minuman untukmu." Jawab Sintia.
"Apakah uangmu masih banyak?" Tanya Bobby lagi.
"Uangku masih cukup." Jawab Sintia lagi.
"Jika begitu, belikan saja minuman untukku. Dan jangan lupa untuk membeli rokok serta makanan untuk kita berdua." Tutur Bobby enteng.
Sintia tidak bersuara untuk menanggapi perkataan Bobby, akan tetapi kini matanya mulai memperhatikan setiap sisi kiri dan kanan jalan yang mereka lewati untuk mendapatkan sebuah toko dan sebuah kedai yang menjual makanan.
Saat Sintia melihat sebuah toko, dia segera memarkirkan mobilnya tepat didepan toko tersebut dan segera turun untuk membeli apa yang Bobby inginkan.
Sedangkan Bobby sendiri tidak beranjak dari tempat duduknya untuk turun. Sehingga Sintia meminta bantuan karyawan toko untuk membawakan minuman yang dia beli ke dalam mobilnya.
Setelah itu, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dan singgah lagi di salah satu kedai makanan.
Sintia juga membelikan makanan untuk mereka berdua. Dan kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba dirumah Bobby.
Bobby langsung turun dan membawa dia karton minuman yang dibeli oleh Sintia.
"Apakah dia berniat untuk membunuhku?" Pikir Bobby melihat minuman yang Sintia beli.
Karena setiap kartonnya berisi dua belas botol berisi 600 mililiter minuman yang mengandung alkohol.
Sintia pun mengikuti Bobby dengan membawa cemilan, rokok serta makanan yang dia beli untuk mereka berdua.
Sebelum Bobby lanjut mengkonsumsi minuman yang Sintia beli, dirinya terlebih dahulu menikmati makanan yang dibeli oleh Sintia. Begitu juga dengan yang Sintia lakukan.
Setelah selesai, akhirnya Bobby minum kembali dan didampingi oleh Sintia.
Melihat sikap Bobby yang dingin, akhirnya Sintia memberanikan diri untuk bertanya.
"Bob, apakah kau memang tidak ingin memaafkanku?"
"Apakah kau senang jika direndahkan?" Balas Bobby.
"Iya, aku tahu apa yang telah terjadi itu sangat menyakitkan bagimu, tetapi aku sudah tidak ingin lagi mengenal Natan."
"Apakah kau tahu tujuan Natan yang terus ingin memojokkan diriku?"
"Tidak, memangnya apa tujuannya?" Jawab Sintia dan balik bertanya.
"Dia itu ingin menjatuhkanku agar dirinya bisa memilikimu." Ungkap Bobby.
"Bagaimana mungkin dia berpikir seperti itu? Kau sendiri juga mengetahui jika Natan berpacaran dengan Siska, jadi hal itu tidak mungkin dia lakukan."
"Menurutku, Natan itu hanya ingin bercanda, akan tetapi candaannya memang sudah keterlaluan." Tutur Sintia.
"Aku itu seorang pria, sama seperti dirinya, sehingga aku juga bisa memahami pikiran sesama pria." Bobby ingin menguatkan penilaiannya terhadap Natan.
"Anggap saja benar seperti yang kau pikirkan itu, tetapi aku tidak merasa tertarik dengannya, jadi mengapa kau masih marah kepadaku?" Sintia menanggapi.
"Bob, aku menerimamu apa adanya, dan aku merasa sangat bahagia bisa berpacaran denganmu, untuk itu, aku mohon padamu agar memaafkanku...aku tidak akan lagi memperdulikan orang lain jika bersama dengan mu." Sintia mencoba untuk membuat Bobby tidak marah lagi kepadanya.
"Sin, maafkan aku jika sudah membuatmu merasa sedih, tetapi setelah dipikir-pikir, aku selalu membuatmu di pandang rendah oleh orang lain karena berpacaran denganku, untuk itu, bagaimana jika kita akhiri saja hubungan kita!?"
"Apakah kau sudah gila? Bob, saat ini kau sudah mabuk, jadi jangan berkata seperti itu...bagaimana jika kita bahas lagi saat kau sudah dalam keadaan tidak mabuk!?" Sintia menanggapi.
"Aku tidak ingin hubungan kita ini hancur karena orang lain...sebab aku sendiri yang telah memilihmu." Lanjut Sintia dan langsung memeluk Bobby.
Bobby hanya bisa terdiam dengan sikap yang ditunjukkan oleh Sintia.
"Sin, jangan pernah kau sakiti hatiku lagi yah!?" Bisik Bobby.
Sintia dengan cepat menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang Bobby bisikkan kepadanya dan semakin mempererat pelukannya.
Bobby pun langsung mengecup kening dan pipi wanita didalam pelukannya itu serta membelsi rambutnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Bobby bisa merasakan tetesan air mulai membasahi kain yang menempel di bahunya.
"Pria macam apa aku ini sehingga membuat seorang wanita bersedih seperti ini!?" Bobby membantin didalam hatinya.
"Tetapi aku tidak ingin mendengar lagi perkataanmu untuk mengakhiri hubungan kita." Balas Sintia dengan suara yang senduh.
"Iya, aku janji tidak akan berkata seperti itu lagi." Balas Bobby sambil mengecup pipi Sintia.
Setelah situasi sudah kembali seperti biasanya, Bobby pun bertanya kepada Sintia.
"Sin, tidak mungkin aku sendiri bisa menghabiskan minuman ini, bolehkah aku memanggil temanku?"
"Aku pikir kau mampu menghabiskannya sendiri. Itulah mengapa aku membeli sebanyak ini." Balas Sintia.
"Terus, bisa atau tidak aku memanggil temanku kesini?" Bobby kembali bertanya.
Sintia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum serta langsung mencium pipi Bobby.
"Jangan terlalu sering mencium pipiku, nanti bibirmu bisa sariawan." Ucap Bobby.
"Kenapa bisa sariawan?" Tanya Sintia bingung.
"Karena pipiku tidak sehalus pipimu, jadi, itu bisa membuat bibirmu menjadi sariawan." Terang Bobby dan langsung tersenyum menatap Sintia.
"Sebelumnya tidak ingin direndahkan oleh orang lain, sekarang sudah merendahkan diri sendiri." Sintia menanggapi.
"He...he...he...he...he...mana mungkin aku marah pada diri ku sendiri?" Balas Bobby.
"Apa lagi saat ini, hanya ada kau dan aku, jadi itu tidak mengapa. Lain halnya jika ada orang lain, pasti aku tidak akan merendahkan diri lu sendiri." Lanjut Bobby.
"Tunggu, aku akan menghubungi temanku untuk datang kesini." Tutur Bobby dan langsung mengambil ponselnya.
Sesaat kemudian.
"Hallo! Kenapa Bob?" Tanya sosok yang berada diseberang.
"Datang ke rumahku, ada miras disini." Jawab Bobby.
"Tumben kau mengajakku untuk miras!? Apakah saat ini kau punya banyak uang?" Tanya Mamang.
"Sudahlah, tak usah terlalu banyak tanya, kau datang kesini saja...jangan lupa mengajak Dani" Balas Bobby.
"Oke, ana dan Dani siap meluncur!" Ucap Mamang.
Bobby langsung memutuskan panggilannya dan menanti kedatangan Mamang dan Dani.
***
Sekedar memberitahukan.
Teman-teman Bobby yang sering melakukan tindakan pidana sebelum Bobby masuk penjara kini nasibnya telah berubah.
Dan salah satunya adalah Vence yang saat ini sudah menjadi anggota kepolisian.
Sedangkan yang lainnya hanya menjadi tukang ojek.
Kampri sendiri saat ini juga kesehatan mentalnya sudah mulai terganggu.
Itulah mengapa saat ini Bobby sudah tidak lagi kumpul bareng teman-temannya sebelumnya.
Hanya Mamang yang masih sering bertemu dan nongkrong bareng Bobby selain Dani dan Luter karena keduanya adalah kakak kandung Bobby.
Untuk itu Bobby hanya mengajak Mamang dan Dani untuk datang dan minum bersama dengannya.
Dan keduanya pun tiba di rumah kakeknya Bobby.
Mamang pun merasa terkejut saat melihat Sintia.
"Bob, apakah aku tidak salah lihat?"
"Maksudnya?" Tanya Bobby dengan senyuman.
"Apakah ini pacarmu?" Tanya Mamang.
"Iya, aku memang pacarnya Bobby." jawab Sintia.
Bobby pun segera memperkenalkan mereka. Dan akhirnya mereka melanjutkan aktivitas ditempat itu.
~Bersambung~