BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 28. Niat Stenly



Boby akhirnya mengantarkan Iin untuk pulang saat itu juga dengan senang hati sebab kebersamaan mereka berdua disepanjang malam itu tidak akan terekspos.


Pemuda itu tidak tidur hingga pagi menjelang agar bisa mengantarkan Iin ke tempat kerjanya serta mendapatkan uang yang Iin janjikan kepadanya.


Saat pagi menjelang, Bobby segera pergi untuk mengantarkan Iin ke tempat kerjanya.


Kedatangan pemuda itu langsung disambut oleh ibu Iin "Nak Bobby, Iin sedang bersiap...mohon nak Bobby untuk sedikit bersabar." Ucapnya tulus.


"Iya tante, aku akan menunggunya." Jawab Bobby sekenanya saja.


Stenly yang juga sudah siap untuk melakukan aktivitasnya seperti biasa sebagai tukang ojek, saat melintas hanya bisa tersenyum melihat Bobby dirumah Om Guntur yang sedang menunggu Iin.


Pemuda itu selalu berharap dia bisa menggantikan posisi Bobby untuk selalu mengantarkan Iin serta untuk selalu berada disisi wanita itu.


Namun semuanya hanya menjadi harapan semu karena Iin masih tetap bersama dengan Bobby meskipun juga sudah menjalin hubungan dengan Siska.


"Sial...bukankah aku telah memberitahukan kepada Iin jika Bobby memiliki hubungan dengan Siska?"


"Tetapi mengapa Iin masih tetap tidak menjauh darinya?"


Stenly mengerutu sambil melaju dengan kencang untuk menuju ke tempat biasa mereka mangkal.


Bobby sendiri sempat melihat saat Stenly melintas dengan sepeda motor miliknya, namun pemuda itu tidak memperhatikan perubahan sikap rekan se profesinya itu.


"Bob! Sorry yah, karena sudah membuatmu menunggu." Ucap Iin yang sudah siap untuk pergi bekerja.


"Jika tante tidak membangunkannya, pasti hari ini Iin tidak masuk kerja...tante juga tidak tahu semalam Iin pergi kemana...soalnya dia baru pulang saat sudah subuh." Sambung ibu Iin.


"Apakah nak Bobby mengetahui hal itu?" Lanjut ibu Iin bertanya.


"Sudahlah...ayo kita pergi! Nanti aku terlambat masuk kerja." Potong Iin dan langsung mendorong tubuh Bobby untuk segera pergi.


Bobby pun hanya bisa menuruti keinginan wanita itu dan segera menghidupkan mesin sepeda motor miliknya.


Kedua muda-mudi itu langsung meninggalkan rumah Om Guntur untuk menuju ke tempat kerjanya Iin.


Beberapa saat sesudah meninggalkan rumah Om Guntur, akhirnya Iin segera merangkul tubuh Bobby dari belakang.


Stenly hanya bisa menelan ludahnya saat Bobby dan Iin melintas didepannya.


"Tunggu saja...jika waktunya sudah tepat, aku akan membuat Iin percaya dengan apa yang telah aku katakan kepadanya." Pikir Stenly yang semakin berambisi untuk menghancurkan hubungan keduanya.


"Woi...ada apa denganmu? Mengapa tatapanmu seperti tidak senang melihat kebersamaan Bobby dan Iin? Apakah kau benar-benar menyukai Iin?" Ujar Diksi yang memperhatikan sikap Stenly.


"Tidak...biasa saja...aku hanya sedang berpikir untuk mengejar setoran ku yang masih kurang." Balas Stenly menampik tuduhan Diksi.


"Ohh...jadi begitu yah!? Tidak masalah jika kau menyembunyikan hal itu dariku, tetapi aku ini sudah memiliki pengalaman saat masih muda, jadi aku bisa menilai sikap seseorang..." Ucap Diksi sambil tersenyum.


***


Ditengah perjalanan saat menuju ke tempat kerjanya, Iin langsung menyelipksn sejumlah uang ke saku celana Bobby.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Bobby merasa penasaran dengan apa yang Iin lakukan.


"Itu uang yang telah aku janjikan kepadamu, jadi aku sudah menepati janjiku." Jawab Iin yang kembali merangkul tubuh pemuda itu.


"Ohh...terima kasih yah!?" Balas Bobby sambil tersenyum.


"Ternyata boleh juga...aku bisa mendapatkan uang tambahan darinya." Pikir Bobby penuh kemenangan.


"Aku tidak ingin hubungan ku dengan Siska terbongkar, jika hubunganku dengan Siska terbongkar, aku tidak akan bisa lagi mendapatkan uang tambahan darinya." Pikir Bobby yang ingin memanfaatkan kebaikan hati Iin.


Akhirnya mereka pun tiba di tempat kerjanya Iin, Bobby pun segera kembali ke tempat dimana biasanya mereka mangkal.


"Selamat pagi semuanya!" Seru Bobby saat tiba di tempat mangkalnya untuk menyapa rekan-rekannya.


Senyuman pun langsung tergambar di wajah pemuda itu yang langsung diperhatikan oleh Diksi.


"Kau sepertinya terlihat sangat bahagia hari ini...apakah semalam ada kado istimewa yang kau terima dari seseorang?" Tanya Diksi karena sempat melihat kebersamaan Bobby dan Iin semalam.


"Mungkin juga..." Jawab Bobby yang di ikuti dengan senyuman.


"Apakah kado itu diberikan oleh seorang wanita?" Tanya Diksi lagi yang bertujuan untuk membuat Stenly merasa cemburu.


"Itu sudah pasti!" Jawab Bobby lagi.


Mendengar jawaban Bobby, Stenly langsung menghidupkan mesin sepeda motor miliknya dan tanpa berkata sepatah kata pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


Bobby tidak memikirkan sikap Stenly itu, akan tetapi berbeda dengan Diksi, pria yang kini sudah berusia tiga puluh tahun lebih itu memang bertujuan untuk membuat pemuda itu merasa cemburu.


Diksi pun segera mendekati Bobby dan berkata "Apakah kau tidak memperhatikan sikap Stenly?" Tanya Diksi sambil berbisik.


"Untuk apa aku memperhatikan dirinya?" Bobby balik bertanya.


"Bob...saat kau menjawab setiap pertanyaanku, sikap Stenly langsung berubah drastis seakan dia tidak ingin mendengarkan hal itu." Ucap Diksi menjelaskan.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Bobby merasa penasaran.


"Itu karena dia menyukai Iin...aku melihat dia tidak senang saat melihatmu bersama dengan Iin." Jawab Diksi.


"Ohh...jadi begitu? Biarkan saja dia berpikir seperti itu...yang terpenting adalah Iin tetap masih bisa mempercayai diriku." Balas Bobby tidak ingin mempermasalahkan pemikiran Stenly.


***


Di depan rumah Selly, kini Stenly sedang nongkrong untuk menunggu penumpang di lingkungan tersebut.


Pemuda itu kini sedang merencanakan sesuatu agar bisa bertemu dengan Siska dan bisa berbicara dengannya.


"Aku harus memberitahukan kepada Siska mengenai hubungan Bobby dengan Iin...supaya semua hubungannya akan berantakan."


"Entah apa yang membuat mereka menyukai Bobby? Wajahnya saja hanya biasa saja...menurutku tidak ada yang istimewa dari dirinya itu."


"Yang ada hanya kekurangannya saja...sedangkan aku tidak pernah melakukan tindak pidana seperti yang sering dia lakukan."


Saat Stenly sedang berpikir, tiba-tiba dirinya di kejutkan dengan suara seorang wanita dari belakang "Kau mau narik atau hanya duduk diam disini?" Ucap Meyna sedikit bercanda.


"Ehh...Meyna! Jelas aku mau narik...memang disini aku sedang menunggu penumpang." Jawab Stenly.


"Ayo antarkan aku." Ucap Meyna lagi.


Keduanya pintu segera pergi dari situ dan Meyna kembali angkat bicara "Sepertinya aku melihatmu seperti sedang menghayal...apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Meyna penuh selidik.


"Sudahlah...jangan terlalu memikirkan hal itu, sebab apa yang kau katakan itu tidak benar." Balas Stenly.


"Mey...apakah Bobby masih memiliki hubungan dengan Siska?" Tanya Stenly seakan tidak mengetahuinya.


"Iya...memangnya kenapa?" Jawab Meyna dan kembali bertanya.


"Apakah kau mengetahui jika Bobby juga sedang berpacaran dengan wanita yang lain?" Ungkap Stenly.


Tujuan Stenly untuk memberitahukan hal itu kepada Meyna karena dia berteman dengan Siska.


Jika Meyna mengetahui hal itu, pasti dia akan memberitahukan hal itu kepada Siska.


Dan sudah bisa dipastikan hubungan Bobby dan Siska akan berantakan.


"Tidak! Aku tidak mengetahuinya...siapa pacar Bobby yang lain?" Jawab Meyna dan balik bertanya.


"Ada...pacarnya itu tinggal di rumahnya Om Guntur." Jawab Stenly.


"Apa benar yang kau katakan itu?" Tanya Meyna untuk memastikan lagi.


"Itu benar...tetapi informasi ini jangan kau katakan berasal dari ku." Lanjut Stenly.


"Baiklah...aku akan merahasiakannya." Ucap Meyna.


"Sudah berapa lama mereka berpacaran?" Lanjut Meyna bertanya.


"Yang aku ketahui hubungan mereka berdua bersamaan dengan hubungan Bobby dan Siska." Jawab Stenly.


"Ohhh...jadi seperti itu? Aku harus memberitahukan hal itu kepada Siska, biar dia mengetahui bagaimana sikap Bobby yang sebenarnya." Tutur Meyna.


Keduanya pun tiba di jalan raya dimana tempat mangkal Stenly dan yang lainnya berada.


Bobby yang melihat sosok yang turun dari boncengan sepeda motor Stenly langsung bisa mengenali sosok wanita itu.


"Hai Meyna!" Panggil Bobby.


Meyna pun menatapnya dan hanya membalas dengan sedikit senyuman.


"Tumben sikap Meyna seperti itu kepada ku? Apakah dia sedang ada masalah?" Pikir Bobby.


Setelah membayar jasa ojek kepada Stenly, Meyna pun segera berlalu dengan naik angkot.


Bobby pun langsung teringat dengan apa yang dikatakan oleh Diksi kepadanya "Apakah Stenly sudah mengungkapkan hubunganku dengan Iin kepada Meyna?" Pikir Bobby.


~Bersambung~