
Setelah aktivitas malam itu, Sintia pun segera kembali pulang kerumahnya.
Sedangkan Bobby sendiri kembali beraktivitas seperti biasa sebagai seorang tukang ojek.
Siska sendiri kini mulai tidak nyaman dengan hubungannya yang berpacaran dengan Natan setelah sikap yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.
Karena saat keduanya berpisah dengan Sintia dan Linda, Natan mulai bertingkah dan terus memarahi Siska.
Hal itulah yang membuat Siska semakin tidak nyaman dengan Natan.
Sedangkan terhadap Bobby, Siska merasa sangat bersalah karena telah memandang rendah profesinya yang hanya seorang tukang ojek dan lebih memilih Natan untuk mendapatkan kebahagiaannya.
Hari itu Siska tidak bisa tenang memikirkan hubungannya dengan Natan, sehingga ia berpikir untuk segera mengakhiri hubungan tersebut.
"Sis! Ada apa denganmu? Mengapa kau terlihat murung? Apakah kau sedang memiliki masalah dikampus?" Tanya Selly penasaran.
"Tidak! Aku tidak memiliki masalah dikampus." Jawab Siska.
"Terus, mengapa kau terlihat kusut seperti itu?" Tanya Selly lagi.
"Sel, sepertinya aku harus segera mengakhiri hubungan ku dengan Natan." Jawab Siska datar.
"Memangnya kenapa? Apakah kau sedang bertengkar dengannya?" Tanya Selly mensesak Siska dengan penasaran.
"Iya! Aku sedang bertengkar dengan Natan. Itu karena sikap yang dia tunjukkan kemarin saat kita pergi bersama dengan Bobby dan pacarnya." Jawab Siska.
"Jadi pertengkaranmu dengan Natan itu ada kaitannya dengan Bobby?" Tanya Selly.
Siska hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Selly.
"Mengapa masalah mu itu selalu berhubungan dengan Bobby? Dan bagaimana bisa kalian pergi bareng seperti itu!? Bukankah itu sama halnya seperti mengejar masalah untuk dirimu sendiri!?" Gumam Selly.
"Sebenarnya kemarin pagi, aku tidak sengaja bertemu dengan Bobby di halte, yang saat itu sedang mengantarkan pacarnya..."
"Aku juga tidak menyangka jika Bobby bisa mendapatkan pacar secantik itu serta terlihat berasal dari keluarga dengan tingkat sosial yang tinggi..."
"Dia pun mengajak ku untuk ikut bersama dengan mereka, sehingga aku mengajak Natan juga..."
"Tidak ku sangka, Natan mulai memprovokasi Bobby dan terus merendahkannya, sehingga membuat Bobby meninggalkan kita..."
"Hal itulah yang menyulut permasalahan antara Bobby dan pacarnya." Tutup Siska.
"Terus, apa kaitannya dengan Natan dan dirimu?" Tanya Selly lagi.
"Natan terlihat seperti ingin mendekati pacar Bobby, karena terus menghalang-halangi keduanya untuk bersama serta terus memojokkan Bobby." Jawab Siska.
"Ohh, jadi menurut mu Natan itu memiliki tipikal sebagai play boy? Begitu?" Selly menyimpulkan apa yang Siska pikirkan.
Siska pun mengangguk pelan dan lanjut berkata "Aku juga berpikir dia sedang mempermainkan diriku...dan hal itu sesuai dengan apa yang pernah Bobby ingatkan kepadaku."
"Bobby lagi...Bobby lagi...apakah kau tidak bisa tidak menyebut namanya itu didepanku!?"
"Sepertinya Bobby ini selalu membawa masalah bagi hidupmu."
Selly terus mengeluarkan kata-kata umpatan karena tidak ingin mendengar nama Bobby selalu diucapkan oleh Siska.
"Sel, bukankah Bobby itu adalah teman sekelasmu? Mengapa kau seperti sangat membencinya?" Siska menyela umpatan yang terus dikeluarkan oleh Selly.
"Itu karena kau tidak layak dengannya." Jawab Selly.
"Tetapi aku sudah tidak berpacaran lagi dengannya, jadi mengapa kau terus menyalahkannya?" Balas Siska.
"Itu karena ia terus membawa masalah dalam hidupmu." Jawab Selly.
"Sudahlah, saat ini aku tidak ingin membahasnya lagi, karena aku sedang memikirkan masalahku dengan Natan." Ucap Siska dan langsung berdiri serta meninggalkan Selly.
Melihat sikap Siska, Selly pun segera mengikutinya dari belakang dan terus mengoceh.
"Sel, sudahlah...jangan menambah beban pikiranku lagi...biarkan aku sendiri yang memikirkan mengenai hubungan ku dengan Natan." Tutur Siska agar Selly menghentikan ocehannya.
"Baiklah! Kalau begitu, jangan panggil aku jika kau sudah tidak sanggup lagi untuk menghadapi masalahmu." Balas Selly dan segera berbalik menuju ke kamarnya.
Sedangkan Siska terus berjalan masuk dan menutup pintu kamarnya.
"Jika aku mengakhiri hubungan ku dengan Natan, apakah ia akan merasa terpukul dengan keputusanku itu!?" Pikir Siska.
"Bagaimana jika ia tidak merasa terpukul dan merasa sebaliknya? Bukankah perkataan Bobby itu benar adanya?"
Siska terus memikirkan sikap yang akan ditunjukkan oleh Natan setelah dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan keduanya.
Saat dirinya tenggelam dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba handphonenya berdering. Siska segera meraih ponselnya dan melihat ke layar untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Kenapa Sintia menghubungiku? Apakah ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku?" Pikir Siska dan segera menerima panggilan tersebut.
"Hallo! Ada apa Sin?" Ucap Siska setelah menerima panggilan Sintia.
"Kau sedang ngapain?" Tanya Sintia.
"Ohh, aku sedang berbaring dikamar...bagaimana denganmu?" Jawab Siska dan balik melontarkan pertanyaan.
"Ohh, aku sedang duduk nih." Jawab Sintia.
"Sebentar malam apakah kau punya kesibukan?" Lanjut Sintia bertanya.
"Ohh, tidak...memangnya kenapa?" Jawab Siska dan lanjut bertanya.
"Bagaimana jika kita jalan - jalan sebentar... Anggap saja sebagai permintaan maafku kepadamu karena sudah bersikap tidak baik kepadamu." Sintia menawarkan.
"Sebentar aku akan ke kampus dan selesai dari kampus, kira-kira pukul delapan malam, jadi mungkin aku tidak bisa pergi." Jawab Siska.
"Tidak masalah...bagaimana jika aku menjemputmu dikampus mu saja saat kelasmu sudah selesai?" Sintia menawarkan.
"Apakah aku tidak merepotkan mu?" Tanya Siska merasa minder.
"Ohh, tidak...aku tidak merasa itu merepotkan diriku." Balas Sintia.
"Bagaimana? Apakah kau setuju!?" Tanya Sintia penuh harap.
"Baiklah...terus siapa saja yang ikut?" Jawab Siska dan lanjut bertanya.
"Jika Linda mau, kau ajak saja dia." Jawab Sintia.
"Apakah Bobby ikut juga?" Tanya Siska lagi.
"Menurutku, cukup kita bertiga saja." Jawab Sintia.
"Ohh, baiklah...kalau begitu, aku akan menghubungi mu nanti jika mata kuliah terakhir ku tidak lama akan selesai." Ucap Siska.
Keduanya pun segera mengakhiri panggilan tersebut.
***
Di kampus tempat dimana Siska berkuliah, kini terlihat ia sedang berbicara serius dengan Natan.
"Apa katamu!? Ingin mengakhiri hubungan kita!? Oke! Jika itu yang kau inginkan, aku hanya menyetujui saja keinginanmu itu..."
"Tetapi yang perlu kau ingat, sejak saat ini, aku tidak mau lagi berkomunikasi denganmu!" Tutur Natan dengan penuh penekanan.
Siska hanya diam mendengar apa yang Natan ucapkan dan tertunduk tidak mau menatap wajah pemuda didepannya.
Setelah selesai mengatakan apa yang dia pikirkan, akhirnya Natan pun langsung meninggalkan Siska.
Beberapa saat setelah Natan pergi, akhirnya Siska pun kembali memasuki ruang kelasnya dan duduk diam.
Melihat sikap Siska, Linda pun segera mendekatinya dan bertanya "Ada apa denganmu? Mengapa terlihat kusut seperti itu?"
Siska tidak menjawab pertanyaan Linda dan tetap tertunduk diam.
"Apakah kau sedang bertengkar dengan Natan?" Lanjut Linda bertanya.
Siska tetap tidak memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh Linda.
"Sis...sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Mengapa sikapmu seperti ini? Apakah ada hal yang tidak bisa kau katakan kepadaku?" Tanya Linda dengan nada suara penuh harap agar Siska mau menceritakan apa yang sedang dia rasakan saat itu.
"Sudahlah! Jangan kau tanyakan lagi kepadanya, sebab dia baru saja mengakhiri hubungan kami, itulah yang saat ini sedang dia pikirkan!" Seru Natan dengan penuh rasa percaya diri dan terlihat seperti tidak terpengaruh dengan keputusan Siska.
Linda yang mendengar perkataan Natan segera menatap tajam kearah sahabatnya itu dan kembali bertanya "Apa benar yang dikatakan oleh Natan itu?"
Siska mengangguk pelan menjawab pertanyaan Linda.
"Menurutku keputusan mu itu sudah tepat, aku setuju jika kau telah memutuskan hubunganmu dengannya, karena dia itu menurutku adalah pria yang tidak baik." Ucap Linda sambil berbisik.
Mendengar ucapan Linda, Siska pun langsung menatap sahabatnya itu seakan baru saja mendapatkan energi baru bagi tubuhnya.
"Apakah kau setuju dengan keputusan yang ku ambil itu?" Tanya Siska.
Linda langsung mengangguk pelan menjawab pertanyaan Siska dan langsung memeluk sahabatnya itu.
~Bersambung~