
Bobby pun segera menaiki sepeda motor miliknya dan menghidupkan mesinnya.
Siska pun langsung naik dan berboncengan disepeda motor yang dikendarai Bobby.
Keduanya pun segera pergi meninggalkan pangkalan ojek tersebut untuk menuju ke tempat dimana Siska tinggal.
Saat ditengah perjalanan Bobby memberanikan diri untuk membuka percakapan.
"Kenapa kamu ingin aku yang mengantarkanMu?."
"Kenapa? Tidak boleh?." Jawab Siska dengan nada suara yang dingin.
"Bukan begitu! Akan tetapi dengan begini, mereka akan selalu berpikir bahwa kita berdua ada apa - apanya!." Jawab Bobby sambil tersenyum.
"Memangnya kita kenapa?." Tanya Siska.
"Yah, menurutKu kita baru kenalan! Itu saja!." Ujar Bobby yang mulai tersenyum lebar.
"Kenapa senyam - senyum? Apa ada yang lucu?."
"Memangnya kamu bisa melihat jika aku saat ini lagi senyum?." Ucap Bobby yang balik bertanya.
"Ya...iyalah! Itu pipiMu lagi mengembung! Jika tidak tersenyum terus apa yang kamu lakukan?." Ucap Siska dengan nada suara yang seperti awal.
"Ternyata walau pun aku jelek seperti ini, akan tetapi ada juga cewek cantik yang selalu memperhatikan wajahKu ini!." Ujar Bobby sambil tertawa namun tidak mengeluarkan suaranya.
"Hei...jangan kegeeran kamu! Siapa juga yang memperhatikan wajahMu itu!?." Balas Siska dengan nada suara yang ketus sembari sedikit mendorong pundak Bobby dengan jari - jari lentiknya.
"Tetapi jika harus bicara jujur, sebenarnya hal apa yang membuatMu rindu untuk berboncengan denganKu!?." Ucap Bobby lagi untuk menggoda gadis dibelakangnya itu.
"Apa kataMu!? Aku rindu berboncengan denganMu!? Apakah aku tidak salah mendengar hal itu!?." Balas Siska dengan nada suara yang sedikit kesal.
"Iya! MenurutKu seperti itu sih...! Apa salah jika aku berpikir seperti itu!?." Ujar Bobby.
"Iya! MenurutKu itu salah besar!." Jawab Siska.
"Jadi menurutMu sudah salah besar karena telah merindukan diriKu? Begitu?." Tutur Bobby lagi yang tetap menggoda Siska.
"Stop! Aku sudah tidak mau lagi kamu terus mengodaKu!." Ujar Siska dengan nada suara yang sedikit membentak.
"Okey! Aku sudah tidak mau menggodaMu lagi!."
"Mungkin karena aku memang tidak pantas juga untuk menjadi pacarMu, jadi kamu berkata seperti itu!." Balas Bobby yang berpura - pura merendahkan dirinya namun sedikit menyindir Siska.
Mendengar perkataan Bobby, Siska sedikit merasa tidak enak hati karena sudah bersuara agak sedikit membentak pria tersebut yang notabene sangat ditakuti oleh para pria sekampungnya.
"Kamu marah kepadaKu?." Tanya Siska dengan nada suara yang lembut.
"Rupanya dia terpengaruh juga dengan kata - kataKu barusan!." Pikir Bobby sebelum menjawab pertanyaan Siska.
"Tidak kok! Untuk apa aku marah kepadaMu bila faktanya memang benar seperti itu!." Jawab Bobby masih tetap berpegang pada apa yang sebelumnya dia katakan.
"Apanya yang benar sesuai dengan fakta?." Tanya Siska penasaran.
"Benar sesuai dengan fakta bahwa aku ini tidak pantas untuk menjadi pacarMu!." Jawab Bobby ceplas - ceplos.
Mendengar perkataan Bobby, Siska tidak bisa berkata - kata lagi.
Sebab dirinya juga tidak ingin salah untuk menanggapinya sehingga bisa terdengar seperti dirinya ingin menjadi pacar pria itu.
Namun tidak lama kemudian mereka pun tiba didepan pintu pagar suatu rumah tempat dimana Siska tinggal.
Bobby segera menghentikan sepeda motor yang dia kendarai dan kemudian menunggu bayaran dari Siska.
Siska pun turun dari jok sepeda motor Bobby dan mulai merogoh sakunya setelah itu segera memberikan pecahan uang kertas kepada pria yang mengantarnya tersebut.
"Terima kasih yah!." Ucap Bobby setelah menerima bayaran dari Siska.
"Iya!." Balas Siska singkat.
Setelah baru beberapa langkah Siska berjalan, Bobby langsung berkata.
Siska yang mendengar perkataan Bobby segera membalikkan badannya dan menatap kearah pria itu.
Namun sebelum Siska menanggapi perkataannya, dengan cepat Bobby langsung memutar sepeda motor miliknya dan langsung kabur.
Akan tetapi sebelum dia kabur, dirinya sempat menebarkan senyumannya saat bertatapan dengan Siska.
Melihat tingkah pemuda itu, Siska hanya bisa tersenyum karena Bobby sudah mengerjai dirinya.
Wanita cantik itu pun kembali melanjutkan langkah kakinya untuk memasuki rumah yang dia tinggali.
Saat baru saja mau membuka pintu rumah tersebut, dirinya langsung disambut oleh beberapa wanita yang adalah sahabat - sahabatnya.
Rumah tempat Siska tinggal itu adalah rumah milik saudaranya.
Dirumah itu hanya dia dan juga sepupu perempuan yang bernama Selly yang tidak lain adalah anak dari pemilik rumah itu dan juga adalah teman sekelas Bobby semenjak masih duduk disekolah dasar.
Sehingga Siska banyak juga menggali informasi dari Selly tentang kehidupan Bobby.
"Sis! Siapa tadi yang mengantarkan kamu?." Tanya Meyna.
"Oh, tukang ojek!." Jawab Siska seadanya saja.
"Iya! Tukang ojek! Tetapi suaranya itu seperti aku kenal!." Lanjut Meyna.
"Yah, iyalah! Kamu itukan sejak kecil sudah tinggal dikampung ini, jadi para tukang ojek disini banyak yang kamu kenal!." Ujar Siska sambil melanjutkan langkahnya untuk menuju kekamar.
"Iya! Memang benar apa yang kamu katakan itu! Tetapi suara cowok tadi sepertinya itu suara milik Bobby!." Tutur Meyna.
"Mey, Mey, Mey! Sudahlah! Mungkin Siska tidak mau lagi untuk membahasnya! Xi...xi...xi...xi..xi!." Ujar Meylan menyela perkataan Meyna sambil menggoda Siska.
"Sudah, sudah! Jangan menggodanya terus, nanti sebentar saat dia tidur, bisa mengigau dan memanggil nama Bobby!." Sambung Selly sambil tertawa menggoda Siska.
Setelah masuk kekamar untuk menaruh tas miliknya, Siska pun kembali ke ruang tamu untuk duduk ngerumpi bersama sahabat - sahabatnya.
"Apakah kalian ini tidak bosan - bosan menggodaKu!? Terus bagaimana dengan urusan kalian?."
"Ingat yah! Aku yang paling tua dari kalian, jadi jangan selalu membullyKu!." Ujar Siska menanggapi perkataan sahabat - sahabatnya.
"Eh, menurut kalian, aku boleh tidak pacaran sama Bobby!?." Tanya Siska melanjutkan perkataannya ingin mendapatkan tanggapan.
"MenurutKu, semua itu terserah kamu! Sebab tidak mungkin jika aku mengatakan tidak boleh! Tetapi jika kamu menyukainya, sama juga boong! Begitu juga sebaliknya." Ujar Selly menanggapi perkataan Siska.
"Sebenarnya, setelah dua kali aku bertemu dengan dia dan berbincang - bincang dengannya, aku merasa orangnya asik juga!." Ujar Siska.
"Merasa asik, apa merasa nyaman!?." Ujar Meylan menggoda Siska.
"Jangan bercanda! Aku ingin kalian serius!." Balas Siska.
"Kenapa kita juga harus serius? Bukannya diriMu yang akan berpacaran dengan dia!?." Ucap Selly menanggapi perkataan Siska sambil tertawa.
"Benar juga kata Selly! Masa dia yang mau pacaran dengan Bobby, terus kita yang harus serius! Ha...ha...ha...ha...ha!." Sambung Meyna yang langsung menertawai Siska.
"Mey...Sel! Serius dong...! Jangan bercada terus!." Ucap Siska memohon agar sahabatnya serius menanggapi pertanyaannya.
"Baiklah! Sudah...sudah! Kita harus serius sekarang!." Ujar Selly yang usianya lebih tua dari Meyna dan Meylan.
"Sis! MenurutKu kamu harus memikirkan juga kekuarangan yang Bobby miliki! Sebab dia itu orangnya tidak suka jika seseorang melakukan kesalahan kepadanya!."
"Kan kamu sudah tahu bahwa dia itu adalah preman dikampung kita ini! Jadi sudah pasti itu adalah salah satu kekurangannya!." Tutur Selly memberikan masukan kepada Siska.
"Iya! Aku tahu itu! Akan tetap saat sedang berbincang - bicang dengannya! Aku merasa Bobby orang yang tidak sesuai dengan apa yang kalian ceritakan!." Balas Siska menanggapi perkataan Selly.
"Iya! Memang benar apa yang kamu katakan itu! Akan tetapi aku juga tidak ingin jika kamu di kasarin sama dia!." Ucap Selly menyangga perkataan Siska.
"Yah sudahlah! Kalau begitu, biarkan waktu saja yang menjawabnya!." Ujar Siska.
~Bersambung~