
Bobby merasa bingung untuk menjawab pertanyaan Sintia, sehingga membuat wanita itu kembali bertanya.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"
"Aku takut melakukan hal itu..." Jawab Bobby seadanya.
"Apa yang kau takutkan?" Tanya Sintia dengan tatapan penasaran.
"Aku takut apa yang akan kita lakukan saat ini, bisa mendatangkan masalah yang besar dikemudian hari." Ucap Bobby.
"Bob...usiaku ini lebih tua darimu, kenapa kau yang merasa takut?" Balas Sintia.
"Benar juga...mengapa aku yang merasa takut? Benar-benar bodoh." Pikir Bobby sambil menepuk dahinya.
Sintia hampir tertawa dan hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah pemuda yang duduk disampingnya serta langsung bertanya.
"Ada apa denganmu? Mengapa kau menepuk dahimu?"
"Ti...tidak! Aku hanya baru menyadari saja apa yang kau katakan itu." Jawab Bobby sambil tersipu malu dengan kebodohannya itu.
Sintia pun segera mengecup pipi pemuda itu dan berkata.
"Melihat tingkahmu itu, ternyata kau memiliki bakat untuk melawak...karena tingkahmu itu sangat lucu juga." Sambil menahan tawanya.
Karena keberanian Bobby telah kembali, pemuda itu langsung mengecup bibir wanita disampingnya itu dan sedikit memberikan dorongan agar tubuh Sintia kembali dalam posisi berbaring.
Keduanya pun kembali melakukan french kiss.
Tangan kiri pemuda itu menyanggah sebagian berat tubuhnya sambil memegang bagian belakang kepala Sintia.
Sedangkan tangan kanannya mulai berani menjelajahi tubuh indah milik wanita cantik itu.
Kulit putih mulus dan halus itu kini mulai bersentuhan dengan tangan yang sedikit kasar milik pemuda itu, membuat Sintia mulai merasa terangsang dan menikmati setiap sensasi yang dihasilkan dari gesekan tersebut.
Gunung kembar yang masih padat itu pun tidak luput di eksplorasi oleh tangan nakal pemuda itu yang memberikan kenikmatan lebih lagi dari sebelumnya.
Sesaat kemudian, Bobby langsung kembali ke posisi duduk dan kedua tangannya kini bergerak untuk melepaskan kain yang menutupi tubuh bagian atas milik Sintia.
Karena tindakan Bobby itu tidak mendapatkan perlawanan dari wanita tersebut, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama, sehingga kini tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh bagian atas Sintia.
Bobby kembali keposisi semula serta langsung mengecup bibir wanita itu dan segera berpindah ke pipi, telinga, leher dan mulai turun ke bawah.
Tubuh Sintia kini semakin menggelinjang yang diakibatkan oleh perbuatan pemuda itu.
"Bob..." Suara ******* yang keluar dari mulut Sintia yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Pemuda itu langsung mengerti dengan apa yang Sintia inginkan, sehingga salah satu tangannya segera bertindak untuk melepaskan kain yang menutupi tubuh bagian bawah milik wanita itu.
Namun karena pemuda itu telah berfantasi untuk melakukan hal yang lebih berani lagi, sehingga dia menghentikan tindakannya dan berbisik kepada Sintia.
"Sin...ayo kita bersihkan tubuh kita terlebih dahulu." Ajak Bobby.
Sintia langsung mengerti dengan keinginan pemuda itu, sehingga wanita itu segera mengiyakan ajakannya.
Keduanya segera bangkit dan berjalan keluar dari kamar untuk menuju ke kamar mandi yang berada di rumah tersebut.
Saat membersihkan tubuh keduanya, Bobby tidak membiarkan tubuh indah itu.
Dirinya terus menikmati keindahan tubuh sexy Sintia dan tidak henti-hentinya bibir dan tangan pemuda itu menjelajahi setiap sentinya.
Akhirnya keduanya pun menghentikan tindakan mereka di kamar mandi dan mengeringkan tubuh mereka dengan handuk serta selanjutnya kembali lagi ke kamar tidur untuk melanjutkan pertempuran itu.
Setelah sampai di kamar tidur, Bobby pun kembali melakukan apa yang sebelumnya dia lakukan.
Kini Bobby terlihat lebih mendominasi dari pada Sintia.
Wanita itu hanya bisa menikmati setiap permainan pemuda itu yang sudah seperti seorang profesional dalam melakukan hal itu.
Itu karena Bobby sudah beberapa kali menonton film dewasa yang diputar lewat video, sehingga membuatnya mahir dalam melakukannya.
Tangan, bibir dan lidah Bobby terus bekerja untuk menjelajahi setiap bagian tubuh Sintia yang membuat wanita itu merasakan kenikmatan yang sangat.
Tidak sampai satu menit, tindakan Bobby itu langsung membuat tubuh Sintia mengejang dan kedua tangannya langsung menjambak rambut pemuda itu.
"Sepertinya Sintia sudah mencapai puncak kenikmatan untuk yang pertama kalinya." Dengan perasaan penuh kemenangan.
Bobby pun segera melanjutkan ke tahap yang biasa dilakukan oleh sepasang suami istri dalam membentuk keluarga kecil mereka.
Setelah mencapai kenikmatan yang keduanya inginkan, pemuda itu pun kembali mengecup bibir Sintia selanjutnya berkata.
"Ayo kita bersihkan tubuh kita." Ajak Bobby lagi.
Keduanya pun kembali pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka.
Saat membersihkan tubuh mereka, Bobby tidak melewatkan kesempatan untuk kembali melakukan apa yang sebelumnya dia lakukan namun dengan posisi yang berbeda.
Keduanya pun kembali melakukan hubungan layaknya suami istri di tempat itu.
Sintia kembali bisa mencapai puncak kenikmatan untuk yang kesekian kalinya, bersamaan dengan Bobby.
Mereka berdua kembali mengeringkan tubuh dengan handuk milik Bobby dan kembali lagi ke kamar.
Setelah mereka berdua telah mengenakkan kembali pakaian mereka masing-masing, Bobby langsung meraih handphone miliknya dan melihat waktu digital di benda tersebut.
Kini waktu telah menunjukkan pukul setengah lima pagi.
"Sin...sepertinya tidak lama lagi fajar akan menyingsing...jam berapa kau akan aku antarkan?" Tanya Bobby.
Sintia pun segera melihat waktu di jam tangan miliknya dan berkata.
"Mungkin sekitar jam tujuh pagi ini dan aku akan kembali lagi kesini saat sore nanti." Ucap Sintia santai.
"Berikan nomor ponselmu itu." Lanjut Sintia dan segera meraih smartphone miliknya.
Bobby pun merasa terpanah dengan benda yang dipegang oleh wanita disampingnya itu.
Sebab telepon pintar tersebut memiliki harga yang tidak murah dan saat itu masih sulit untuk bisa dibeli oleh Bobby dengan pendapatannya yang hanya sebagai seorang tukang ojek itu.
Setelah menyimpan nomor telepon Bobby, Sintia pun segera mencoba untuk menelepon agar nomor miliknya bisa disimpan oleh Bobby.
Bobby pun segera menyimpan nomor milik Sintia.
"Aku akan menelpon mu jika aku akan kembali kesini." Ucap Sintia.
Akhirnya Bobby mengantarkan Sintia sampai di jalan raya dimana dia akan naik taxi untuk pulang.
Sintia sendiri tidak ingin Bobby mengantarkannya pulang, sebab jika pemuda itu melihat rumahnya, pasti akan membuatnya lebih merasa minder lagi.
Saat Bobby mengantarkan Sintia, ada beberapa rekan se profesinya yang melihat hal itu.
Bobby tetap menunjukkan sikap yang tenang, meskipun salah satu tangan Sintia merangkul pinggangnya.
Setelah selesai mengantarkan Sintia, Bobby memarkirkan sepeda motornya untuk menunggu giliran agar mendapatkan penumpang.
Diksi yang lebih dulu sudah berada di pangkalan dan melihat kebersamaannya dengan Sintia langsung bertanya.
"Ehh...Bob, bukankah wanita itu yang berboncengan denganmu semalam?" Sambil menatap Bobby penuh selidik.
"Ohh...iya, memang dialah orangnya." Jawab Bobby sekenanya saja.
"Apakah itu salah satu pacarmu?" Tanya Diksi lagi sambil tersenyum menggoda Bobby.
"Achhk...tidak...mana mungkin wanita secantik itu mau denganku!? Yang ada dia akan meludahi wajahku." Jawab Bobby menepis tuduhan Diksi.
"Tetapi tadi aku lihat salah satu tangannya merangkulmu, itu tandanya dia sangat dekat denganmu." Balas Diksi.
"Mungkin itu karena dia merasa takut terjatuh dari sepeda motor ku." Ucap Bobby yang masih tetap menghindar.
"Ada-ada saja alasanmu itu...bilang saja jika kau ingin menyembunyikan hubunganmu dengannya karena takut di ketahui oleh pacarmu yang lain." Ucap Diksi lagi yang ingin agar Bobby mengakui hubungannya.
"Sudahlah...perkataan mu itu mengingatkan saat diriku diinterogasi oleh seorang penyidik pembantu di kantor polisi." Balas Bobby sambil tersenyum.
Bobby menganggap perkataan Diksi hanyalah suatu candaan yang biasa mereka lakukan diwaktu senggang.
~Bersambung~