BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 19. Ajakan Teman



Setelah selesai mengantarkan Siska, kini Bobby kembali meluncur dengan sepeda motornya untuk menuju ke pangkalan ojek.


Keceriaan kini terpampang diwajahnya setelah merasa senang telah mengantarkan Siska.


Walau pun demikian, mimik muka Bobby kembali normal saat tiba di pangkalan ojek.


Dirinya tidak ingin di goda oleh teman - temannya tentang apa yang baru saja dia alami.


"Ada apa? Kenapa kamu melihatKu seperti itu?." Bentak Bobby saat melihat kearah salah satu temannya yang senyum - senyum menatapnya.


"Tidak, tidak ada apa - apa! Tetapi aku merasa malam ini ada satu hati yang berbunga - bunga!." Balas temannya dengan nada yang serius.


Namun tujuan dari perkataannya itu adalah untuk menggoda Bobby.


"Oh, begitu yah!? Memangnya hati siapa yang berbunga - bunga malam ini?." Tanya Bobby lagi yang sudah mengerti tujuan dari apa yang temannya katakan, namun dirinya juga berpura - pura tidak mengetahuinya.


"Ada, dia itu temanKu! Cuman dia saat ini sedang berpura - pura seperti tidak ada hal spesial yang baru saja terjadi!." Balas teman Bobby.


"Oh, begitu yah!? Siapa temanMu itu? Aku jadi penasaran juga!." Balas Bobby menanggapi perkataan temannya.


"Sudah! Jangan bertingkah bodoh seperti itu! Aku tahu kalau kamu itu sudah jadian sama cewek yang tadi kamu antarin...siapa namanya?." Ujar teman Bobby.


"Sok tahu aja kamu! Memangnya cewek secantik dia itu mau pacaran sama aku?."


"Mungkin itu bisa, tetapi hanyalah didalam mimpi disiang bolong saja! Ha...ha...ha...ha...ha!."


Kata - kata Bobby menanggapi perkataan temannya yang ditutup dengan tertawa yang renyah karena merasa lucu dengan pembahasan mereka berdua itu.


Keduanya terus bercanda yang juga di ikuti oleh rekan - rekan yang lain untuk mengisi waktu disaat menanti datangnya penumpang.


Setelah sudah sekitar jam sepuluh malam, intensitas penumpang yang datang pun kini mulai menurun.


Sehingga mulai muncul ide - ide yang seperti biasa dipikiran mereka untuk kongko - kongko sambil mengkonsumsi minuman keras.


"Bob! Bagaimana kalau kita nongkrong sambil menikmati beberapa paket miras!." Ajak salah satu temannya.


"Sedikit lagi! Aku baru mendapatkan uang untuk belanja besok! Jadi belum ada uang kelebihan untuk kita gunakan miras!." Jawab Bobby yang menolak secara halus ajakan temannya tersebut.


"Sudahlah! Aku punya uang lebih untuk kita berdua! Bagaimana? Kamu mau?." Tanya teman Bobby menawarkan.


"Baiklah! Terus kita mirasnya dimana?." Tanya Bobby.


"Kita miras dirumah Om Guntur saja! Aku lihat disitu ada yang baru saja tinggal, dan memiliki beberapa anak gadis! Mungkin kita bisa menggodanya!."


"Apa benar yang kamu katakan itu?." Tanya Bobby ingin memastikannya.


"Iya! Benar! Masa aku mau berbohong kepadaMu!." Jawab Stenli untuk meyakinkan Bobby.


"Kalau begitu, jika kamu sudah selesai mengantarkan penumpang, kamu langsung tunggu saja aku dirumah Om Guntur!." Ujar Bobby.


"Ok, siip!." Balas Stenli.


Akhirnya Stenli pun mendapatkan giliran untuk mengantarkan penumpang.


Dan tidak lama kemudian intensitas penumpang yang datang pun mulai meningkat lagi.


Hal itu disebabkan karena di kota mereka, para pekerja yang bekerja di toko - toko yang berada di pusat kota pulangnya sekitar jam sepuluh.


Sehingga hal itu berdampak bagi profesi mereka sebagai tukang ojek pangkalan.


Bobby pun mendapatkan giliran untuk mengantarkan penumpang, yang akan diantarkan di salah satu perumahan yang dahulunya pernah terjadi tindakan pidana yang dilakukan oleh Bobby.


Perjalanan untuk menuju ke perumahan itu memakan waktu lima belas menit untuk pergi.


Namun tidak membutuhkan waktu yang lama bagi para tukang ojek jika sudah kembali tanpa ada penumpang.


Sebab kecepatan lari sepeda motor mereka seperti sedang mengikuti balapan di Grand Prix sepeda motor.


Apa lagi jika pada waktu malam, hal itu akan sering mereka lakukan, sebab salah satu alasannya, banyak yang takut dengan hal - hal yang berbau makhluk halus atau setan yang sering memberi teror di sepanjang jalur yang akan mereka lalui.


Saat selesai mengantarkan penumpangnya, Bobby pun segera mampir di salah satu rumah yang sudah dia tentukan bersama temannya untuk menikmati minuman keras.


Stenli yang sudah terlebih dahulu tiba dirumah tersebut, kini sudah duduk menghadap sebuah meja yang diatasnya telah tersedia sebotol minuman beralkohol.


"Eh..Nak Bobby! Ayo masuk!." Sambut Om Guntur saat melihat Bobby.


"Iya Om! Terima kasih Om!." Ucap Bobby ramah.


Memang Bobby orangnya ramah, akan tetapi jangan berbuat salah kepadanya, sebab kemarahannya akan meledak - ledak dan akan dibarengi oleh pukulan tinju dan tendangan kakinya.


Karena rumah tersebut memiliki beberapa kamar, sehingga dua buah kamar yang ada telah disewakan kepada satu keluarga yang saling mengenal dengan Guntur.


Mendengar Om Guntur menyebut nama Bobby, pria yang berusia sekitar lima puluh tahun pun keluar dari dalam salah satu kamar.


"Eh, Om Harun! Aku kira siapa! Sudah sejak kapan menyewa di rumah ini?." Tanya Bobby yang ternyata saling mengenal dengan keluarga yang menyewa di rumah tersebut.


"Oh, baru beberapa hari ini kok!." Jawab pria tua itu.


"Jadi kamu yang ditunggu - tunggu oleh Stenli!?." Tanya Harun.


"Iya! Kita tadi sudah janjian untuk kesini!." Balas Bobby menanggapi.


"Mari Om Harun! Sedikit saja, anggap itu untuk menghangatkan badan!." Ucap Bobby.


"Oh, iya...terima kasih! Om sudah lama tidak minum minuman keras lagi!." Jawab Harun jujur.


Mendengar perkataan Bobby yang menawarkan minuman keras kepada ayahnya, seorang gadis pun segera keluar dari satu kamar yang lain dan menatap ke arah orang yang menawarkan hal itu.


Keduanya pun saling berpandangan beberapa saat.


Namun gadis itu tidak sanggup untuk terus menatap mata Bobby dan segera memalingkan wajahnya.


Bobby hanya bisa tersenyum menatap kearah gadis tersebut.


Stenli yang sudah mengenali gadis itu pun segera menyapanya.


"Iin (iin)! Kenapa kamu belum tidur?." Tanya Stenli.


"Kenapa kalau aku belum tidur? Apakah pengaruh untukMu?." Iin balas bertanya kepada Stenli.


Bobby hanya melihat kearah keduanya sambil tersenyum.


"Oh, jadi ini yang namanya Bobby!?." Ujar Iin sambil menatap kearah pria yang dia maksud.


"Iya, memangnya kenapa?." Bobby balas bertanya.


"Aku dengar, katanya kamu itu seorang preman dikampung ini!? Apa benar seperti itu?." Ujar Iin lagi bertanya kepada Bobby.


"Menurut yang kamu lihat seperti apa?." Bobby tidak langsung menjawab akan tetapi seakan menyuruh Iin untuk menilainya sendiri.


"MenurutKu biasa saja! Tidak seseram yang aku selalu dengar!." Ucap Iin.


"Baguslah jika menurutMu demikian!." Ujar Bobby menanggapi sambil menuangkan miras didalam gelas.


Pria itu menunjukkan sikap yang dingin kepada gadis tersebut.


"In! Kamu masih kerja di toko yang pernah aku antarkan itu?." Tanya Stenli mencoba menarik perhatian Iin.


"Oh, iya! Kenapa?." Iin menanggapi pertanyaan Stenli.


"Terus kamu biasanya pergi naik apa?." Sambung Bobby.


"Naik ojek!." Jawab Iin singkat.


"Kalau begitu, mulai besok nanti aku yang antarkan!." Ujar Bobby sekenanya saja.


Gadis itu hanya tersenyum dan segera kembali memasuki kamarnya.


Bobby tidak menatap gadis itu, berbeda dengan Stenli.


"Bro! Rupanya dia telah memberikan signal kepadaMu!." Ujar Stenli sambil berbisik.


Bobby hanya menanggapi dengan senyuman sambil sedikit mendorong pundak Stenli.


~Bersambung~