BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 24. Meluluhkan Hati Iin



Akhirnya Bobby bersama Siska pun tiba di depan rumah tempat dimana Siska tinggal.


Saat sepeda motor yang keduanya kendarai berhenti di depan rumah, Selly segera berdiri dan beranjak untuk melihatnya.


"Oh...jadi Bobby yang mengantarMu?". Sambut Selly dengan nada suara yang datar.


"Dari mana saja kamu...? Kenapa sudah jam segini kamu baru saja pulang?". Tanya Selly menyambut kedatangan Siska.


"Aku...aku...aktivitas perkuliahanKu baru saja selesai, jadi wajarlah jika aku baru pulang". Jawab Siska dengan perasaan yang canggung.


"Oh...aku pikir baru saja selesai jalan - jalan dengan Bobby".


Bobby yang melihat sikap serta mendengarkan kata - kata dari Selly segera berkata.


"Sel...! Jadi menurutMu aku tidak boleh mengajak Siska untuk jalan - jalan?".


"Iya! Karena aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Siska, sebab dia tinggal bersamaKu disini". Selly menanggapi dan segera memasuki rumahnya.


"Oh, begitu yah..!?".


"Terdengar seperti ibunya saja, usianya saja Siska yang lebih tua". Gumam Bobby.


Bobby pun segera memutar sepeda motor miliknya dan kembali meluncur menuju ke tempat yang biasa mereka mangkal.


"Oh, jadi kamu ingin mengetahui siapa diriKu ini?".


"Baiklah! Aku akan membuktikannya". Pikir Bobby terhadap sikap yang Selly tunjukkan.


Saat dirinya baru saja mau melewati rumah Om Guntur, terdengar ada suara yang memanggil namanya.


"Bobby!". Suara Iin.


Bobby segera menghentikan sepeda motor miliknya dan memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah datangnya suara tersebut.


Iin dengan sedikit berlari kini segera mendekati Bobby.


"Dari mana saja kamu? Aku sudah lama sekali menungguMu disini". Tutur Iin sambil mendekati Bobby.


"Aku baru selesai mengantarkan penumpang, kenapa kamu menungguKu?". Jawab Bobby dan sekalian bertanya.


Saat sudah berada di tempat dimana Bobby memberhentikan sepeda motornya, Iin langsung naik dan duduk di boncengan sepeda motor Bobby.


"Ayo jalan!". Ujar Iin menyuruh Bobby.


"Jalan? Terus kita mau kemana!?". Tanya Bobby.


"Sudah, jalan saja, nanti aku yang akan menjadi penunjuk jalannya". Jawab Iin.


"Ada - ada saja, tetapi tidak apa - apa, tidak ada rotan, akar pun jadi'". Pikir Bobby yang kembali menjalankan sepeda motor miliknya untuk menuju ke tempat yang Iin inginkan.


Saat tiba di jalan raya, Iin langsung mengarahkan Bobby untuk berbelok ke arah kiri.


"Kita akan pergi kemana? Mengapa mengarah ke arah luar kota?". Pikir Bobby lagi.


"Sudah, jangan banyak tanya lagi!" Balas Iin dengan nada suara yang ketus.


"Sepertinya malam ini kau sedang merasa tidak enak badan...apakah kau sedang sakit?" Bobby mencoba membuka pembicaraan.


"Iya...memang malam itu aku lagi sakit...tetapi hatiku yang terasa sakit." Jawab Iin.


"Sepertinya dari nada suaramu terdengar kau sedang marah...siapa yang telah membuatmu seperti ini?" Tanya Bobby lagi.


"Tanyakan saja pada dirimu." Jawab Iin lagi.


"Kenapa aku harus bertanya kepada diriku? Apakah aku telah melakukan suatu kesalahan kepadamu?" Balas Bobby seakan merasa tidak bersalah.


Iin tidak mau mengungkapkan alasan mengapa dirinya seperti itu. Karena jika tebakannya salah, pasti itu akan membuatnya merasa malu dihadapan Bobby.


Saat sepeda motor Bobby mulai melewati area yang awalnya di kunjungi olehnya dan Siska, Iin langsung menyuruh Bobby untuk singgah di tempat itu.


Bobby pun seakan tidak mendengarkan perkataan Iin sehingga sepeda motor yang dia kendarai melewati kedai yang baru saja dikunjunginya.


Setelah sudah beberapa meter terlewati, akhirnya Iin kembali berkata "Apakah kau tuli? Aku sudah mengatakan kepadamu untuk berhenti."


"Oh...sorry...sorry...akhir-akhir ini aku terlalu banyak pikiran." Balas Bobby dan segera menghentikan sepeda motornya.


"Ayo kita mampir terlebih dahulu di kedai itu untuk menikmati pemandangan dan udara segar dipantai ini." Ajak Iin.


"Untung saja dia tidak menunjuk di kedai yang baru saja aku kunjungi." Pikir Bobby merasa lega.


"Ayo kita duduk disana." Ajak Iin lagi.


Sebelum keduanya perhi ke tempat yang Iin maksudkan, gadis itu memesan terlebih dahulu makanan yang di jual di kedai itu.


Keduanya pun segera duduk di salah satu tempat duduk yang telah tersedia dan Iin pun mencoba untuk memulai percakapan dengan Bobby.


"Bob...siapa yang kau bonceng tadi? Sepertinya aku melihat kalian berdua begitu akrab." Mencoba untuk memancing pemuda itu.


"Oh...dia itu cuma penumpang yang tinggal berdekatan dengan rumah ku." Jawab Bobby.


"Jadi begitu yah? Tetapi meski sepintas, aku melihat dia cantik juga." Ujar Iin berpendapat.


"Biasa saja...menurutku kau yang lebih cantik darinya." Balas Bobby menggoda.


"Jangan mencoba untuk menggodaku." Iin menanggapi.


"Tidak...aku tidak sedang mencoba untuk menggodamu...tetapi yang aku katakan itu memang adalah faktanya." Bobby ingin membenarkan apa yang dia katakan.


"Hmmmphh...kau pikir aku bisa langsung begitu saja untuk percaya dengan kata-kata mu itu?" Tutur Iin lagi masih tetap menolak pujian Bobby.


"Yah...kalau kau berpikir seperti itu...berarti cewek yang aku bonceng tadi itu yang lebih cantik darimu." Bobby mencoba untuk membuat Iin merasa tersaingi.


"Pasti kau suka padanya karena dia lebih cantik dariku...benar begitu kan?" Ujar Iin.


"Jika dibilang suka, sudah pasti aku menyukainya...tetapi sangat disayangkan, dia tidak menyukaiku." Balas Bobby merendah.


"Dusta! Aku melihat dia menyukaimu dari sikap yang dia tunjukkan." Iin menanggapi.


"Itu menurutmu, tetapi menurut dia tidak begitu...meskipun dia menyukaiku...aku akan tetap memilih dirimu untuk menjadi kekasihku." Tutur Bobby sambil tersenyum menggoda gadis disampingnya.


Iin langsung mencubit manja pinggang Bobby karena merasa tersanjung dengan perkataan pemuda itu.


Sikap Jutek sebelumnya langsung memudar setelah mendengar perkataan Bobby.


Keduanya pun larut dalam suasana romantis malam itu.


Meskipun keduanya belum membuat kesepakatan untuk menjadi sepasang kekasih, tetapi Bobby mencoba untuk menggenggam tangan Iin dengan penuh kasih sayang.


Gadis itu tidak memberikan perlawanan saat pemuda itu meraih dan menggenggam tangannya.


Karena malam sudah semakin larut, akhirnya mereka berdua segera kembali untuk pulang.


Bobby pun sudah mengetahui sikap Iin itu menggambarkan jika gadis itu menyukainya, sehingga pemuda itu memberanikan dirinya untuk mengecup kening gadis itu saat ingin berpisah.


Iin hanya bisa tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan dari Bobby dan langsung berkata "Bob...besok pagi jangan lupa untuk menjemputku."


"Siap bos...besok pagi aku pasti akan datang menjemputmu tepat waktu." Balas Bobby sambil tersenyum.


Saat keduanya sedang berbincang sebelum berpisah, Stenly pun lewat dengan sepeda motornya dan langsung berhenti di samping sepeda motor Bobby.


"Cie...cie...apakah ini pertanda ada sesuatu diantara kalian berdua?" Ucap Stenly menggoda keduanya.


"Jaga mulutmu! Jangan sembarang bicara." Bentak Iin.


"Tumben malam ini kau menjadi galak? Apakah Bobby telah melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan?" Balas Stenly menanggapi.


"Sudahlah...Iin sudah mau masuk...lebih baik kita berdua kembali ke pangkalan saja." Bobby menyangga keduanya.


"Masuk saja...nanti bertemu besok pagi." Lanjut Bobby berkata kepada Iin.


Iin pun segera pergi tanpa menghiraukan keberadaan Stenly dan langsung memasuki rumah yang dia tinggali.


Sedangkan Bobby dan Stenly segera bergegas menuju ke pangkalan ojek untuk narik.


Setelah tiba di pangkalan ojek dan memarkirkan sepeda motor, Stenly pun langsung angkat bicara "Bob...sebenarnya siapa diantara mereka berdua yang akan kau pilih untuk menjadi pacarmu?" Tanya Stenly penasaran.


"Kenapa? Aku lihat sepertinya kau sangat menyukai Iin! Apakah dugaanku itu benar?" Balas Bobby.


"Iya sih...tetapi dia tidak menyukaiku dan terlihat sangat menyukaimu." Jawab Stenly jujur.


"Santai ajah, aku belum nembak dia kok..." Ucap Bobby.


"Woi...! Jangan terlalu memberi harapan kosong kepada setiap wanita...belakangnya pasti kau akan pusing mengurus mereka." Sambung Diksi bergurau.


"Tidak juga...aku merasa tidak memberikan harapan sedikitpun kepada setiap wanita yang dekat dengan ku...melainkan mereka sendiri yang sering memberi harapan kosong kepadaku." Balas Bobby menanggapi dan langsung diikuti dengan tawa renyah rekan-rekannya.


~Bersambung~