BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 33. Menjadi Pacar Sintia



Setelah mendapatkan petunjuk dari Sintia, akhirnya Bobby pun dengan sendirinya bisa menuangkan minuman tersebut.


Sintia pun segera membuka pembicaraan diantara keduanya "Bob...berapa usiamu saat ini?"


"Aku baru berusia 18 tahun...kalau kamu?" Dengan santai.


"Ohh...berarti usiaku lebih tua empat tahun darimu." Ucap Sintia menanggapi.


"Jadi usia mu saat ini sudah 22 tahun?" Tanya Bobby sambil menatap Sintia.


Wanita disampingnya itu hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Bobby.


"Bob...meskipun kau jauh lebih mudah dari mantan pacarku itu, tetapi cara berpikir mu lebih dewasa darinya...aku sangat senang dengan kepribadianmu itu."


"Ahh...kau itu terlalu memuji ku...setiap pria pasti akan melakukan hal yang sama denganku jika melihat ada pria lain yang mau menyakiti seorang wanita didepan mereka." Bobby menanggapi.


"Ternyata kau juga tidak senang di puji yah!? Sikap mu itu semakin membuatku penasaran untuk bisa lebih mengenali dirimu."


"Kau tidak perlu merasa penasaran untuk bisa mengenali diriku...kau akan merasa kecewa jika mengetahui siapa diriku sebenarnya." Balas Bobby.


"Kenapa bisa begitu? Apakah kau adalah seorang pria yang memiliki keburukkan?" Tanya Sintia.


"Iya...itu benar." Jawab Bobby dengan mantap.


"Coba kau katakan apa keburukkan mu itu." Sintia penasaran dan seakan ingin menantang.


"Aku ini sering melakukan perbuatan yang melanggar hukum." Ungkap Bobby jujur.


"Ohhh...jadi itu keburukkan mu? Aku pikir ada yang lain...aku suka dengan pria yang pemberani." Sintia menanggapi.


Bobby langsung menatap Sintia sambil tersenyum setelah meneguk minuman di gelasnya.


"Jadi begitu yah!? Tidak heran jika pacarmu ingin bersikap kasar kepadamu...ternyata kau suka dengan pria seperti itu." Balas Bobby sambil tersenyum menggoda Sintia.


"Bukan seperti itu maksudku...aku tidak suka jika seorang pria hanya berani kepada seorang wanita tetapi tidak berani kepada pria lain." Sintia coba meluruskan.


"Jadi kau lebih suka jika terjadi perkelahian antara aku dan dia?" Tanya Bobby.


"Bukan seperti itu juga...namun faktanya, mantan pacarku itu tidak berani untuk bertindak kasar kepadamu saat kau menghentikan apa yang ingin dia lakukan terhadapku." Sintia kembali menjelaskan agar Bobby mengerti dengan apa yang dia maksudkan.


"Sintia...apakah aku boleh bertanya?"


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Bisa atau tidak?" Tanya Bobby lagi ingin memastikan.


"Oke...silahkan kau tanyakan." Ucap Sintia.


"Apakah kau benar-benar tidak ingin untuk berhubungan lagi dengan pacarmu itu?" Tanya Bobby.


"Iya...mulai saat ini, aku akan mencoba untuk melupakannya." Jawab Sintia dengan penuh keyakinan.


"Apakah kau bisa melupakan saat-saat bahagia yang pernah kau lewati bersama dengannya?" Bobby lanjut bertanya.


Sintia langsung terdiam mendengar pertanyaan Bobby dan seperti sedang berpikir.


Beberapa saat kemudian Sintia pun berkata "Aku akan mencoba untuk bisa melupakan semuanya." Ucap Sintia dengan nada suara yang tidak seyakin seperti sebelumnya.


"Apakah kau memiliki cara untuk bisa melupakan pacarku itu?" Lanjut Sintia balik bertanya.


"Aku tidak memiliki cara untuk itu...menurutku, semua itu tergantung pada mu...jika hati dan pikiranmu masih terisi kenangan tentang hubungan kalian berdua, semkin kau mencoba untuk bisa melupakannya akan semakin sulit untuk kau bisa melupakan hal itu." Jawab Bobby.


"Akan tetapi jika kau bisa mengisi hati dan pikiranmu dengan suatu hal yang juga sangat penting bagi hidupmu, pasti secara perlahan tanpa kau sadari, kau bisa melupakan hal itu."


"Hal penting seperti apa yang kau maksudkan?" Tanya Sintia penasaran.


"Yah seperti pekerjaan atau mencari sosok lain yang bisa membuatmu bahagia." Jawab Bobby sekenanya saja.


"Jika pekerjaan, memang aku saat ini sedang mencari pekerjaan, karena aku baru saja menyelesaikan kuliahku...tetapi jika mencari sosok yang bisa membuatku bahagia, menurutku hal itu tidak mungkin aku lakukan secara tergesa-gesa, karena nantinya aku akan merasakan kekecewaan lagi." Tutur Sintia menanggapi perkataan Bobby.


Keduanya terus berbincang-bincang sambil meneguk minuman yang berada dihadapan keduanya.


Sintia pun kembali memesan dua tower seperti semula untuk mereka berdua, sebab dua tower sebelumnya telah habis.


Tidak hanya minuman yang dia pesan, melainkan rokok untuk keduanya.


Bobby sendiri, meskipun dia juga sangat tertarik dengan wanita cantik, namun dia tidak mau dengan seorang wanita yang biasa minum minuman beralkohol dan juga wanita yang merokok.


Sehingga melihat Sintia bisa melakukan kedua hal itu, rasa suka dengan wanita itu pun memudar.


Beberapa saat kemudian, Sintia pun kembali berkata.


"Bob...bagaimana jika kau terus bersamaku? Aku pikir, meskipun kita baru saja saling mengenal, namun kau adalah orang yang sangat menarik bagiku, sebab kau bisa dengan mudah membuatku merasa tenang." Lanjut Sintia.


"Ha...ha...ha...ha...ha..." Bobby tertawa setelah mendengar perkataan Sintia dan kemudian menanggapinya "Sin...kau jangan bisa langsung percaya begitu saja kepadaku, sebab sifatku serta kekuranganku kau belum mengetahui sepenuhnya."


"Sintia...jangan bicara seperti itu, sebab saat ini mungkin kau sudah terpengaruh dengan minuman alkohol...aku tidak ingin kau menyesali keputusanmu saat ini." Bobby menolak secara halus.


Sintia pun tersenyum dan berkata "Bob...apakah menurutmu aku terlihat kurang cantik?" Ucap Sintia penasaran.


"Tidak! Menurutku kau seorang wanita yang sangat cantik." Jawab Bobby singkat.


"Terus, mengapa kau tidak mau menjadi pacarku? Apakah karena jarak usia kita?" Tanya Sintia lagi.


"Tidak...aku tidak berpikir seperti itu...jarak usia kita tidak masalah bagiku." Ucap Bobby menjawab pertanyaan Sintia.


"Jadi apa alasannya?" Sintia terus ingin mengetahui alasan yang pasti dari Bobby.


"Sebenarnya aku tidak suka memiliki seorang pacar yang biasa mengkonsumsi minuman beralkohol serta yang biasa merokok." Jawab Bobby jujur.


Sintia pun langsung terdiam dan kembali meneguk minuman yang berada di gelasnya.


Setelah selesai meneguk minuman itu, Sintia pun kembali berkata "Bob...aku semakin tertarik dengan pribadimu itu...ternyata kau menginginkan seorang wanita yang cantik dari dalam juga."


"Bagaimana jika ini yang terakhir kalinya aku minum minuman beralkohol dan merokok? Apakah kau akan menerimaku sebagai pacarmu?"


Bobby tidak langsung menjawab, pemuda itu sedikit berpikir "Mungkin ini karena apa yang baru saja dia alami sehingga ingin melampiaskan rasa kekecewaannya...besok pasti dia akan melupakan hal ini."


"Baiklah, jika kau bisa melakukan hal itu, aku menerima mu sebagai pacarku." Ucap Bobby.


"Apa jawaban mu ini benar-benar keluar dari dalam hatimu?" Tanya Sintia karena belum merasa yakin dengan jawaban Bobby.


"Iya! Itu memang keluar dari dalam hatiku." Jawab Bobby untuk bisa meyakinkan Sintia.


"Terima kasih yah Bob!? Aku sangat bahagia karena kau telah menerima ku untuk menjadi pacarmu." Ucap Sintia dan langsung meraih salah satu tangan pemuda itu dan segera bersandar di bahu Bobby.


"Sin...setelah kita menghabiskan minuman ini, kita langsung balik saja yah!?" Ucap Bobby.


Sintia langsung menyetujuinya dengan menganggukkan kepalanya.


Setelah minuman itu habis, kini Sintia terlihat sudah sangat mabuk dan terus mencium pipi Bobby.


Tindakannya itu dilihat oleh pengunjung lain ditempat itu.


Bobby merasa risih dengan sikap Sintia meskipun dirinya juga sudah terlihat mabuk.


Sintia pun segera memanggil seorang waiters untuk meminta bill tagihan atas pesanannya.


Seorang pria pun segera mendekati dan menyerahkan secarik kertas kepada Sintia.


Setelah melihatnya, wanita itu pun segera menyerahkan sejumlah uang kepada pria itu dan berkata "Sisanya untuk mu saja."


"Bob...ayo kita pergi." Lanjut Sintia.


Keduanya pun segera beranjak dari tempat itu sambil Bobby menggandengnya.


"Sin...apakah kau masih bisa?" Tanya Bobby memastikan apakah wanita itu masih bisa dibonceng olehnya.


"Iya...aku masih bisa...aku akan memeluk erat dirimu." Jawab Sintia yakin.


Keduanya pun segera pergi dengan mengendarai sepeda motor.


"Dimana Aku akan mengantarkan mu?" Tanya Bobby.


"Terserah saja kau akan membawaku kemana." Jawab Sintia.


"Bagaimana ini?" Pikir Bobby dan kembali berkata "Aku akan mengantar mu ke rumahmu, jadi apakah kau bisa menunjukkan dimana alamat rumahmu?" Tanya Bobby.


"Tidak perlu...sebaiknya kita pergi ke suatu tempat saja sebelum kau mengantarkan aku pulang." Balas Sintia.


"Terus menurutmu kita kemana?" Tanya Bobby bingung.


"Bagaimana jika kita pergi saja ke rumah mu?" Ucap Sintia.


"Kerumahku? Bagaimana ini? Apa yang akan di katakan oleh ibuku jika mengetahui aku membawa seorang wanita yang sudah dalam keadaan mabuk?" Pikir Bobby.


"Bob...kenapa kamu hanya diam saja? Apakah kau menyetujuinya?" Tanya Sintia lagi.


"Sin...bukan aku tidak menyetujuinya, namun rumahku sangat sederhana dan mungkin itu terlihat seperti gubuk untuk mu." Jawab Bobby.


"Apakah menurutmu aku terlihat akan mempermasalahkan hal itu?" Sintia kembali bertanya.


"Bukan seperti itu, tetapi aku sendiri yang merasa malu untuk membawamu ke rumah ku...itu karena aku melihat dari penampilanmu, sepertinya kau berasal dari keluarga dengan ekonomi yang cukup baik...sehingga mungkin kau tidak akan merasa nyaman berada dirumahku." Jawab Bobby.


"Demi kamu, aku akan merasa nyaman." Balas Sintia untuk meyakinkan Bobby.


~Bersambung~